Terombang-ambing. Tanpa kepastian. Kayaknya kali-kali aku keluar dari Telkom aja sebentar yach, ngurusin satu urusan. Kapan-kapan masuk lagi. He-he, bukan berarti aku setia hanya pada Telkom yach (emang apaan), tapi inget kata Pak Eko Setio Sadewo. “Telkom itu kayak kaleng krupuk. Kamu masuk, langsung kecewa. Terus kamu tinggal pilih: mau memperbaiki apa mau langsung keluar?” Si Pak Eko udah di Telkomsel sekarang. Aku masih merasa harus ngebetulin kaleng krupuknya.
Dan buat yang cuman bisa maki-maki Telkom, here you are: “Bekerjalah dengan betul. Kalau kamu bekerja dengan sungguh-sungguh (real work), kamu kehilangan keinginan untuk mengumbar kata-kata jorok buat para pekerja.” Ini berlaku juga buat so-called experts. Who cares.
Page 208 of 211
[Tadinya di tempat ini ada tulisan tentang kasus Ariawest. Tapi daripada mereka bertindak macam-macam juga ke site ini, mendingan aku hapus aja dech. Rakyat menyerah. Rakyat menyeraaaaaaaah.]
Bandung – Jakarta – Cirebon. Enaknya aku ke mana yah. Keliatannya kebanyakan yang menark-narikku. Kali-kali nanti aku bakal terbelah tiga sebelum hari ini berakhir. Ada call dari British Council bahwa aku harus ikut 8 weeks pre departure English course, commencing today (!). Tapi surat tugas ke Cirebon udah dikeluarin. Dan orang-orang HRD nggak ada yang bisa dihubungi.
Aku punya keponakan satu lagi. Tadi malem Dewi melahirkan cowok 3,4 kg. Sekitar jam 22.40. Semua dalam keadaan baik. Alhamdulillâhirrabbil`âlamîn. Kapan ya aku bisa ke Jakarta. Malah disuruh jalan ke Cirebon tiga hari pula.
Site www.ariawest.f2s.com bakal diminta ditutup, dan mungkin dituntut ke pengadilan, kata Dipo Negoros di milis YLKI. Padahal aku lihat sih, isinya cuman cuplikan dari koran dan majalah publik. Kayaknya, alih-alih memecahkan masalah, orang lebih suka menutup pintu informasi.
Weekend. Have I done the right things ?
Huh, aku tadi pagi nulisnya jam 7:08 ? Jam di Blogger ini kacau bener. Jam segitu tadi aku lagi di Cisarua, jalan-jalan naik turun bukit ramé-ramé. Acara Dintek. Dan untuk membuka sejarah, pertama kali aku dapet door prize: Akari Portable Component System. Too much for me.
Dan inilah kisah sang spesialis “pikun” dan “nggak pede” dari Pentas Indosat Galileo Challenge Off Air di Horizon Bandung kemarin sore. Di penyisihan, lomba-nya tertulis. 200 peserta memperebutkan 37 kursi semifinal (1:5). Hup, lolos. Di semifinal lombanya masih tertulis. 30 peserta memperebutkan 3 kursi final (1:10). Ajaib, lolos lagi. Nah, final harus di atas panggung dengan kamera dan semacamnya. Kambuh deh penyakit “demam panggungnya”, hé-hé. Yeah, kali ini dapet tempat kedua aja. Yang penting kan … dapet maskot Galileo !!!
Siap-siap ke Hotel Horizon buat ikutan Indosat Galileo. Style-nya kayak koboi dengan baju kotak-kotak. Tapi hari ini ada undangan dari Serikat Karyawan Divre III. Lucunya, tempatnya di Horizon juga. Kayaknya aku memang ditakdirkan harus ke Horizon sore ini.
Kemarin bom setara 50 kg TNT diledakkan di gedung BEJ. Selalu terulang lagi penghinaan atas kemanusiaan di negeri ini. Doa dan duka yang dalam buat para korban terluka maupun yang meninggal.
BTW, aku lunch di gedung BEJ kemarin, sekitar jam 12.30, abis talk dan beberapa kegiatan lain di British Council. Waktu bom meledak, jam 15.20, aku masih antre tiket Jakarta-Bandung di Gambir. KA Parah-yangan.
