Ke rumah Asep sebentar. Kelihatannya syegar sekali dia. Kebanyakan diinfus katanya. Duh. Mudah-mudahan cepetan baik, melalui tahap-tahap yang tidak terlalu sulit dan tidak terlalu sakit.
Ke bengkel lagi, iseng beresin si Tornado dikit, ada setelan yang nggak pas. Kayaknya di bengkel aku selalu punya banyak waktu buat …. hehehe …. apa yah, bukan merenung apa ngelamun, tapi untuk mempertentangkan ide-ide lama antara idealita dan realita. Aku suka sekali kalau sampai di titik di mana idealita nampaknya cuman realita yang dibatasi secara sempit, sementara realita jadi idealita yang tak sampai. Di atas kemacetan, kita jadi berfungsi penuh. Dan si Tornado juga jadi berfungsi penuh. Selesai deh lamunannya.
Page 209 of 211
Daftar Klub Linux Bandung.
Mulai kapan yach aku maen Linux. Kalau bertelnet di Isnet (using Debian) dihitung sih, kayaknya mulai 1997. Kalau diitung mulai instalasi Redhat di rumah, baru mulai 2000.
Cerita dikit tentang Roger Garaudy. Lulusan Sorbonne Paris dan Akademi Sains Soviet Moskva, jadi professor di Poitiers. Sekaligus masuk Kristen Protestan (untuk orientasi dan makna hidup) dan Partai Komunis Perancis (untuk perspektif menghadapi persoalan sosial). Mencapai posisi anggota CC, kemudian politbiro. Berusaha mengadakan dialog Marxis antara Non-Marxis. Juga melibatkan diri dengan strukturalisme. Mengkritik Soviet, dan dikeluarkan dari partai. Akhirnya ia masuk Islam.
Katanya: Venir à l’Islam n’est pas pour moi renier Jesus ni Marx, mais trouver ce point que j’ai toujours cherché, où l’acte de création artistique, et la foi, ne font qu’un, et, au-delà des sarcasmes et des menaces, atteindre, comme je l’ai écrit, à la plus haute joie: celle d’être resté, à près de 70 ans, fidèle au rêve de mes 20 ans.
Artinya kira-kira: Memeluk Islam bukan berarti menyangkal Yesus dan Marx. Saya menemukan titik pencarian, di mana kreativitas artistik, gerakan politik, dan keimanan, bisa menyatu. Walaupun ada makian dan ancaman, yang jelas saya bisa mencapai (seperti yang telah saya tulis) kegembiraan terbesar, yaitu bahwa dalam usia hampir 70 tahun saya masih setia pada cita-cita usia 20 saya.
“Engineers rule!,” kata Mas Budi Rahardjo. Tapi konon engineer kita suka nggak mau/mampu memimpin orang. Kayaknya aku termasuk engineer yang tipe itu. Suka nggak pédé.
Tanggal 14 ini bakal ada Tes Pédé. Aku diperintahkan untuk mewakili Kandatel Bandung ikut acara Indosat Galileo Off Air, di Hotel Horison. Hayo, bisa pédé nggak ?
Baca Time, tentang fitnahan Ariawest terhadap Telkom. Aku ambil positifnya aja: di situ dia mengakui bahwa Telkom selalu menghambat upaya-upaya yang sering diajukan para mitra KSO kepada pemerintah untuk menaikkan tarif telepon. Bisa aku pakai jadi bahan buat chat di YLKI-L.
Udah lah, aku jenuh juga sama intrik bisnis kayak gini. Aku lebih suka jadi manusia yang gini-gini aja.
Weekend, ngebengkelin si Tornado. Dapet hacker yang masih muda. Trampil bener dia bongkarin satu-satu komponennya, mengamati satu-satu, ngetes, sambil ngasih hasil evaluasi. Terus balikin satu-satu, dan keseluruhan sistem Tornado berfungsi baik.
Hacker asli.
Aku pikir, hacker Windows atau Linux pun kalah sama anak ini. Cuman dia tetap rendah hati gitu gayanya. Memang intan itu indah sampai ke dasar-dasarnya. Maksudnya ilmu dan keterampilan yang hebat memantul ke sikap yang santun.
Biar pas sama dunia nyata, gimana kalau ini kita kaitkan dengan VoIP dan tuduhan-tuduhan jorok ke Telkom ? Hé-hé-hé …
Yang menarik adalah: (1) setiap peristiwa dapat dinyatakan dalam pernyataan yang berlawanan, dan (2) setiap pernyataan bisa diinterpretasikan secara berlawanan. Lebih lucu lagi, barangkali semuanya valid.
Aku lebih suka menempatkan diri sebagai scientist dan engineer, daripada philosopher. Jadi coba pernyataannya aku sesuaikan dengan kondisi aslinya, tanpa ekstrapolasi ke sistem sosial.

Mekanika kuantum yang diperlengkap, akhirnya mendorong Bohr mengambil kesimpulan bahwa jika dua pernyataan nampak bertentangan, bukan berarti salah satu harus salah. Relativitas menyatakan bahwa hasil pengamatan tergantung pada pengamat. Sementara implikasi awal Heisenberg menyatakan bahwa hasil pengamatan selalu terpengaruh oleh pengamat. Dualitas, yang sebelumnya hanya teramati pada gelombang elektromagnetik, oleh De Broglie dibawa menjadi pada seluruh materi, dan lebih jamak daripada sekedar dualitas. Konsep sum over histories Feynman menunjukkan bahwa banyak hal yang mungkin untuk mendeskripsikan suatu peristiwa dan meramalkan hasil — hasil akhirnya bisa jadi hanya tergantung pada probabilitas. Ini pas dengan implikasi lain dari Heisenberg: selalu harus ada keacakan dalam setiap eksistensi. Kemudian konsep penyatuan medan yang dicita-citakan Einstein justru diperlengkap oleh Abdussalam dkk menjadi penyatuan seluruh materi-energi. Dan berikutnya, dengan superstring dll, kita bisa mengamati bahwa sesungguhnya materi-energi (eksistensi) pun berpadu dengan formula.
OK. Implikasi soal-soal ini akan kita ulas satu-satu, bersamaan dengan hidup yang mengalir.
Ke Dunia Baru. Ambil MySQL dari Randy Jay Yarger, dan Core PHP Programming dari Leon Atkinson. Namanya juga lagi belajar.
Wah, kalau Afianto++ tahu, bisa marah-marah lagi dia. Dia kayaknya beneran pingin menarik aku ke dunia Microsoft, dengan Visual-DamnThing. Ah, selain Excel, mana ada produk Microsoft yang bisa dipakai?
Oh ya, malem ini ada undangan buat meeting BHTV, dari Mas Budi Rahardjo. Tapi kayaknya nggak bisa ikutan juga. Jadwalnya nggak pas gitu sih.
