Page 185 of 211

2801942

Akhirnya, cara ngilangin sakit kepala adalah dengan Wagner lagi. Kali-kali sebenernya yang diperlukan adalah istirahat yang cukup dan makan yang baik. Tapi makan juga susah kalau masih pusing. Jadi istirahat aja dibanyakin. Tapi mau bobo aja susah. So di sini Wagner mengambil peranan. Satu set Der Ring dari Berliner Philharmonik, cukup untuk memaksa otak berhenti berpikir dari keseharian, dan memusatkan pikiran pada ide yang dicoba ditransferkan Wagner. Selalu tentang dilema antara nilai-nilai yang memaksa manusia melepas sebagian nilai kemanusiaannya untuk …. terus bisa bobo deh. Dua hari kayak gini, sakit kepala nyaris ilang. Cuman assignment nggak dibikin-bikin. Kacau deh.

Asal Usul Kopi

Mood suka kacau balau. Persis yang diramalkan di buku panduan British Council. Cuman produktivitas harus tetap tinggi. Jadi mulai akrab lagi dengan kopi. Decaffeinated coffee, biar ramah buat perut dan jantung. Sedap.

Di Intisari tahun 1980-an, Slamet Soeseno pernah cerita tentang asal-usul kopi. Kopi ditemukan oleh domba di Arab. Penggembala jadi kesal, soalnya dombanya berkicau, eh mengembik terus-terusan sepanjang malam, tidak bisa tidur. Jadi dia lihat itu domba, ternyata mereka sedang mengunyah daun dan biji tanaman kahwah. Penggembala mengusir dombanya menjauh, lalu sambil agak emosional dia membakar tanaman kahwah itu. Tapi saat dibakar, tercium aroma menarik. Ternyata aroma sedap itu datang dari biji yang terbakar. Si pengembala penasaran, dia ambil biji yang sudah hangus itu, dan langsung digigit.

Wadow, kerasnya.

Tapi kita tahu, orang Arab itu gigih. Dia ambil biji-biji hangus itu, lalu dia rendam di air, kemudian airnya direbus, agar bijinya melunak. Tapi para biji ternyata lebih keras hati, kurang berkenan untuk melunak biarpun direbus lama-lama. Malah airnya yang ikutan jadi menghitam dan harum.

Dasar si Arab suka penasaran, dia mau coba rasa airnya. Diminumlah itu air. Wow, enak dan segar. Namun kemudian situasi berubah — sekarang dia ikutan tidak bisa tidur.

Namun tentunya, jauh setelah masa itu, untuk menikmati sari kahwah (café, coffee, kopi) orang tidak harus bakar pohonnya. Gilé apé? Cukup petik bijinya, baru dibakar. Kadang difermentasikan dulu sih.

OK, satu cangkir lagi ah. Yang decaf sih … Kopi is oke, tapi bobo juga oke.

Indonesia: Living Dangerously

National Geographic bulan ini menyajikan Indonesia: Living Dangerously.

Diawali dari pengungsi Ternate, “The Muslims burned our house.” kata pensiunan tentara; disambung seorang guru “We were living in peace. We never experienced religious hatred before.” Lalu orang Bandung bilang, “We sympathise with the Acehnese people, but I worry what will happen if Aceh leaves.” Lalu cuplikan dari HB-X “You can’t run a modern country like Indonesia by tradition.

We don’t have to kill the Madurese,” timpal seorang Dayak dengan rokoknya, “We’re civilised people.

Dan Sabam Siagian menutup dengan, “If we’re holding together after five years, that’s the miracle.

2772042

Kesusahan kalau harus pakai Linux. Program-program aplikasi dan instrumentasi yang dipakai semuanya over Windows (CEMeNT) sih. Di rumah sih bikin dual book Linux dan Windows. Tapi lama-lama yang Linux cuman dipakai buat main-main sama eksperimen aja, nggak bisa dipakai kerja kantoran. Lain kali pakai Linux deh, kalau kantor-kantor dan universities udah pada pakai Linux untuk kegiatan sehari-hari.

2761945

Akhirnya, sampai juga kiriman Presario 1200-nya. Cuman mesti kerja tambahan buat install driver-driver tanpa CD, bahkan tanpa petunjuk sepotong pun. Wuih, maen tebak-tebakan lagi.
Jadi inget Bu Ani zaman NAP dulu. Waktu minta printer berwarna ke logistik, dibilang printernya ada tapi drivernya nggak ada. Terus kata Bu Ani: “Nggak pa-pa, di sini ada Koen kok. Apa pun jadi bisa kalau ada Koen.” Wah, Bu Ani harusnya tahu kalo aku juga suka panik waktu harus installasi driver dalam kegelapan. Kegelapan donk, orang yang diinstal drivernya display. Gelap melulu layarnya.

2755913

Tapi nama Zarathustra sendiri suka diculik semena-mena. Pertama, Nietzsche menculik nama itu dari nama dewa Persia. Kedua, Strauss menculik nama itu dari Nietzsche. Ketiga aku culik dari cuplikan Strauss dari Nietzsche buat dipasang di meja kerja (dulu): you great star, what would your happiness be had you not those for whom you shine. Keempat, nama itu diculik di buku The Collapse of Chaos dari Ian Stewart (orang Warwick tuh) sebagai nama planet buat menggambarkan inkompatibilitas komunikasi akibat selisih diskursus. Misalnya, di planet Zarathustra, suara itu digital, nggak analog kayak telinga kita. Jadi kita dan mereka nggak bisa saling menikmati musik masing-masing. Buat mereka, selisih satu oktaf itu nggak harmonik kayak yang didengar telinga kita.
Jadi inget juga salah satu diskusi beberapa waktu yang lalu: telinga kita itu receiver analog, tapi mata kita itu receiver digital atau analog ? Bisakah itu dijawab tanpa melibatkan dualitas cahaya sebagai materi dan gelombang ?

Sore Musik Romantik

Side A Richard Strauss, side B Edvard Grieg dan Frans Liszt. Mereka umumnya dari zaman musik romantik, waktu orang berusaha menggambarkan ‘nilai-nilai’, antara lain dengan simbolisme.

Kadang bentuknya kegagahan seperti Richard Wagner, kadang kelembutan seperti Frederick Chopin. Tapi yang menarik adalah bahwa Wagner bisa membawakan kelembutan dengan megah (misalnya Liebestod), dan Chopin bisa menggambarkan kekuatan dengan lembut (aku kurang hafal nomor-nomor simponi Chopin —sorry).

Richard Strauss itu penerus Wagner dalam arti bahwa Friedrich Nietzsche itu penggemar Wagner, dan Strauss itu penggemar Nietzsche. Dari musik ke musik melalui filsafat. Namanya juga romanticisme. Liszt, Wagner, dan Hector Berlioz diakui sebagai genius musik masa itu, sementara Chopin jadi tukang merayu, haha.

Kalau Johann Strauss itu alirannya beda, itu musik klasik dengan gaya waltz. Enak juga buat lompat-lompat kaki. Tapi kepala lagi suka nyeri sih, gimana yah. Kali perlu tambahan dosis Wagner.

2740268


Ah, ternyata Strauss’ Zarathustra kebawa juga, biarpun tanpa cover. Tapi aku inget, covernya kayak yang di sebelah ini. Ssst, ini nyolong dari Amazon, jan bilang-bilang yach.
Strauss, ditambah terrific headache. Malam yang menarik.

2728476

Ivan: “Saya juga tidak mengerti teknologi telepon.”
Pyotr: “Itu sederhana. Mirip anjing yang badannya sangat panjang. Kamu tarik ekornya di sini, dan dia meyalak di ujung sana.”
Ivan: “Oh begitu. Sekarang saya mengerti. Lalu bagaimana dengan telepon tanpa kabel?”
Pyotr: “Sama saja. Hanya, sekarang tidak ada anjingnya.”

2728279

Ribuan tahun yang lalu, Zeno dari Elea mengumumkan paradoks Achille dan kura-kura. Achille tidak bisa mengejar kura-kura yang berada di depannya. Ini karena setiap saat Achille berada hanya dalam satu posisi, yaitu pada posisi antara posisi awal Achille dan posisi kura-kura. Namun kalau Achille berada dalam satu posisi, maka dia tidak bergerak dan tidak mungkin mengejar kura-kura. Zeno pasti tahu bahwa ini tidak benar, tapi pertanyaan Zeno: di mana kesalahannya?

Akhir abad lalu (tahun 1990-an), orang melakukan pembuktian terhadap pernyataan mekanika kuantum bahwa posisi kuantum suatu partikel tidak akan berubah kalau kita melakukan pengamatan terus menerus. Dilakukan pengukuran terhadap sekelompok ion berilium yang dieksitasi sehingga berpindah dari level energi 1 ke level energi 2 yang lebih tinggi. Pengamatan dilakukan dengan foton. Dalam 256 milidetik, semua ion sudah berpindah. Itu kalau pengamatan dilakukan pada waktu 0 dan waktu 256 milidetik. Pengamatan kemudian dilakukan pada waktu 128 milidetik, dan ternyata setengah dari ion sudah berpindah. Tapi kalau pengamatan dilakukan setiap 4 milidetik, maka tidak ada ion yang berpindah level, walaupun pengamatan dilakukan sampai 256 milidetik. Tidak satu pun. Yang terjadi adalah: pada pengukuran pertama semua ion belum berpindah, karena probabilitas bagi tiap ion untuk berpindah terlalu kecil. Tapi karena diukur, maka setiap ion memiliki kepastian posisi pada level satu. Tidak ada satu ion pun yang ‘mungkin’ ada di level 2. Maka pengukuran kedua jadi sama dengan pengulangan pengukuran ke satu, di mana tidak ada ion yang berpindah karena probabilitiasnya terlalu kecil. Sampai waktu 256 milidetik, tidak ada ion yang berpindah, karena semua ion memiliki kepastian posisi pada level 1 pada saat diukur, dan memiliki probabilitas sangat rendah untuk berpindah pada pengukuran berikutnya. Ion seperti “tahu” kapan dia diamati dan tidak mau berubah, kecuali kalau kita menghentikan pengamatan.

Zeno bakal senyum riang mengetahui bahwa sampai awal milenium ketiga, orang masih menghadapi teka-teki yang sama.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑