Page 139 of 211

9998906

Kita berlari melintasi lapangan. Si makhluk lembut hati tahun ini memaksa mau melihat kurban kita. Sampai memaksa lari. Syukurlah belum terlambat. Kurang beberapa detik. Si domba yang cakep itu sudah direbahkan. Dia melirik sebentar ke kita, terus memejamkan mata dengan tenang. Dan tetap tenang.

Beberapa tahun lalu, aku memang pernah maksa si lembut hati untuk melihat acara kurban. Waktu itu di Papakmanggu, di atas pegunungan di selatan Bandung. Domba kita putih dan cantik. Ketenangan domba-domba kurban itu kayaknya bikin si lembut hati takjub (sampai memaksa lari hari ini). Tetap tenang mereka menjalani upacara penuh kasih ini.

Tetap tenang mereka menunggu kita kelak, menghantarkan kita ke alam abadi yang penuh keceriaan asasi.

Logika Kurban

Melaksanakan kurban, dan mengenang kisah Ibrahim secara umum, setiap tahun digunakan sebagai upaya memaksa kita menggugat logika linear kita; dan sejenak memahami kebesaran Allah dan kebesaran manusia yang nyaris tidak pernah kita sadari. Ketika Allah berkenan melakukan komunikasi yang nyaris verbal, kita dipaksa melihat realita yang dicoba untuk dilupakan oleh tata wacana kita.

Tapi hari ini kita dipaksa menyaksikan. Orang-orang yang paling dikasihi Allah justru adalah orang yang batinnya paling banyak disiksa. Para penegak kebenaran memang dipaksa diceraiberaikan. Semesta tidak dibuat untuk ditata rapi dengan mudah, tetapi justru untuk menyaksikan sejauh mana kita mau menjalankan kehidupan ini dengan tanggung jawab yang diberikan pada kita.

Dan akhirnya, untuk menunjukkan rasa kasih kita, kita harus menumpahkan darah.

9957492

Seberkas kertas melayang ke sebelah mug kopi. Dari Corporate. SK Pembentukan Tim Pengembangan Aplikasi Manajemen Fraud Terpadu.
Sekilas terbayang benda yang belum juga ketemu di ruang ini: map yang penuh dengan koleksi SK itu, dari ISDN, network architecture plan, R&D, interkoneksi, persiapan ISO-9000, auditing ISO-9000, PDT, NSCS, dan segala macam nama-nama ajaib (cukup buat bikin Dilbert mati ketakutan).
Tapi yang terakhir ini bener-bener nggak masuk akal: apa hubungannya Sigmund Fraud sama network ?

9950897

Pagi-pagi buta gini, telepon berdecit menyanyikan klimaks Innuendo dari Queen. Pijatan di tombol hijau membunuh Queen. Suara di ujung sana tak mengenal ampun. “Koen … ngajar ya … hari Senin … di Balikpapan.”

Balikpapan ? Senin ? Memang aku kayaknya perlu dilarikan sebentar dari tempat ini. Tapi mempersiapkan pelatihan seminggu dalam waktu dua hari (hari libur pula). Ummmm … harus jawab apa nih ya … instant insanity ?

9925236

You can be anything you want to be

Just turn yourself into anything you think that you could ever be

Be free with your tempo be free be free

Surrender your ego be free be free to yourself

Innuendo, Queen

9916991

20/02/2002, 9916991. Trus kenapa ?

Di atas teras rumah, tergeletak IEEE Personal Communications.
Desember 2001. Eh. Aku kan mulai subscribe tahun 2002, bukan 2001.
Tapi jadi menggelitik. Soalnya ini edisi terakhir sebelum majalah
ini mengubah namanya jadi Wireless Communications. Temanya sekilas
nggak terlalu istimewa, European R&D. Tapi *gah* kan memang justru
di Eropa, bukan di AS (jantung IEEE), tempat sistem-sistem mobile
yang beroperasi itu dirisetkan.

Balik-balik jurnal itu, memang jadi kayak megang harta karun, yang
entah dengan kesalahan apa, bisa dilempar ke teras rumah.

Baca-baca lagi. Ummmm … alih profesi enak juga kali ya …

Eh, malah ngelantur ke alih profesi. Aku emang lagi kayak layang-layang
lepas kali.

9879238

Di tengah jalan Supratman, musik imajiner dari Wagner kembali
terdengar. Siegfried. Bukan lambang dari kemenangan yang datang
disertai pengorbanan yang luar biasa dari tokoh Siegfried yang
tak putus dirundung malang (haha) itu. Tapi lebih jadi lambang
kekhusukan Wagner memulai karya yang luar biasa itu waktu di depannya
tidak tampak ada harapan sama sekali. Yang jadi pemicu kemanusiaan
sejati justru bukan sesuatu yang tampak, yang terproyeksikan,
tetapi sesuatu yang lebih ada dari itu.

9879228

Supratman 66 tampak kehilangan semangat kerja yang dinamik kayak
yang aku kenal sebelum Ariawest mengacaukan semuanya. Sekarang
yang tertinggal cuma koleksi cubicle mimpi buruk Dilbert. Konon
aku harus menampakkan diri di sini, di calon kantor baruku. Tapi
nyaris nggak ada mata yang bisa dijadikan sasaran menampakkan diri.
Konfigurasi-konfigurasi network mengikuti kerutinan. Plus sisa-
sisa logo Ariawest yang kayak salah tempat, sekedar tampil
menyisakan rasa tidak enak.

Nggak beda jauh dengan bulan kemaren waktu aku ke lantai yang lebih
atas, mencoba ke sarang Catbert, dengan keramahan yang tidak
memberikan harapan.

Aku rasa aku memang perlu belajar lagi, bagaimana berubah jadi
orang yang namanya nyaris selalu diingat orang, jadi orang yang
bukan apa-apa, selain cuma bisikan yang mengganggu tidur-tidur
lelap di kursi-kursi malas.

Dan di ujung cerita, si tokoh badung memutuskan bahwa di dunia ini
tidak ada penghalang apa pun. Semuanya adalah peluang, kesempatan,
dan terutama tantangan, untuk dihadapi, dipecahkan, dan diarifi
satu demi satu demi satu demi satu demi satu.

(Bisa nggak sih?)

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑