
Daun-daun kayak pelangi aja …

Daun-daun kayak pelangi aja …

Daun-daun kayak pelangi aja …
“What’s the name of that Kaboom city again?”
“It’s Kabul, Mr President. That’s the capital of Afghanistan.”
“It’s like Kaboom for me. Send something kaboom to the city! I want to be on that doohickey box again.”
“TV, Sir.”
Duh, nomornya kok harus 6166666 sih.
Rekomposisi dokumentasi tesis lagi. Bagian project management sekarang dipecah-pecah ke dalam chapter-chapter yang lain. Biar alur logikanya lebih halus lagi.
Musik latarnya masih Petrushka, menandakan pikiran yang asik melompat-lompat.
Barangkali ini menjelaskan, kenapa catatan lepas ini dimulai dengan Herriot. Biarpun nggak sengaja :).
Jadi pada suhu dan tekanan berapakah, blackbox pesawat bisa rusak total tapi passport bisa ditemukan utuh? Kita tanya Galileo …
Tapi mbah buyut Thatcher malah memaki-maki: kenapa para pendeta (priest) Islam tidak mengutuk keras? Bah, kurang keras kali ya. Di sini aja udah keberisikan. Lupa kali doi kalau di dalam Islam semua muslim itu pendeta (hehe).
Mantan menhan Inggris sendiri berkomentar: kalau intelijen itu nggak canggih-canggih amat buat mendeteksi adanya serangan 11 September, bagaimana Anda bisa yakin mereka tiba-tiba jadi canggih untuk memberikan bukti yang “meyakinkan” itu?
Dan Jepang mengingatkan: terus gimana rasanya kota yang jauh dari medan perang dilelehkan dengan bom atom tanpa ampun. Berapa juta anak terbakar hidup-hidup (dan terus hidup dengan luka bakar dan kanker). Sama seperti New York, itu bukan daerah perang, tidak ada yang berpikir untuk mengungsi atau menyerah. Baru 5000 orang aja udah panik.
Eh, 5000 mah bukan ‘baru’ atuh. Itu barangkali udah seperempatnya korban kerusuhan Kalimantan.
Efek dari omongan Thatcher: Masjid di Edinburgh dibom!
Nasihat Lukman kepada anaknya: Teruskanlah bekerja demi kepentingan mulia itu hingga selesai. Janganlah hiraukan orang lain. Janganlah dengarkan tanggapan-tanggapan mereka, tapi maafkanlah mereka. Tidak ada jalan untuk memuaskan mereka semua.
Lalu Lukman mengambil keledai dan keluar bersama anaknya. Lukman menaiki keledai. Tak lama terdengar seseorang berkomentar, Orang tua tak tahu diri, membiarkan anaknya berjalan sementara ia enak-enak naik keledai.
Maka Lukman turun dan mengangkat anaknya ke atas keledai. Mereka meneruskan perjalanan. Tak lama terdengar komentar lain, Anak tak tahu diri, membiarkan orang tuanya berjalan sementara ia enak-enak naik keledai.
Lalu Lukman ikut naik keledai, dan meneruskan perjalanan. Namun terdengar komentar lain lagi, Orang-orang kejam, menaiki keledai malang itu berdua, padahal mereka tidak sakit dan tidak lemah.
Akhirnya Lukman turun, dan menurunkan anaknya, dan berjalan pulang. Masih juga orang berkomentar, Orang-orang bodoh, mereka berjalan kali, padahal memiliki keledai, dan keledai itu tidak sakit dan tidak lemah.
Di rumah Lukman meneruskan: Sekarang engkau mengerti maksudku, anakku.
Email dari West Faust 29/07/99 di is-lam@ :
Membuang satu orang (dan satu orang lagi dan satu orang lagi dan satu orang lagi) itu mudah. Tapi benarkah itu memecahkan masalah. Apakah setiap orang yang gelisah harus kita usir ? Apakah setiap orang yang ragu harus kita tinggalkan ? Apakah setiap orang yang marah harus kita ludahi ? Apakah kita, baik sebagai pribadi-pribadi
maupun sebagai kelompok, sudah boleh mengklaim diri sebagai pemegang kebenaran ?
Beberapa subscriber milis ini manja. Cerewet. Pemarah pula. Dan orang-orang yang empatik semacam Anda jadi mudah simpati pada mereka. Padahal … benarkah akidah Anda berkurang akibat beberapa e-mail sampah ? Saya tidak yakin kok.
Email dari West Faust 25/06/99 di is-lam@ :
Tapi bukankah kita juga belum tahu, bagaimana hidayah itu akan
dianugerahkan kepada seorang manusia. Barangkali saja, musik yang
kita mainkan di depan kerbau itu justru akan membuka pintu
hidayah bagi sang kerbau sehingga ia mampu mengubah diri menjadi
manusia yang cerdas.
Jadi … mari kita main musik di depan kupu-kupu, di depan burung
kenari, di depan kucing bobo, di depan kerbau, di depan banteng.
Apa lah.
Abis itu dia nulis tulisan panjang, berjudul Siegfried #2.
Email berusia 30 tahun, katanya. Penemunya juga ragu. Pokoknya, dia bilang, email diuji coba pada musim gugur tahun 1971. Berbeda dengan telegram dan telepon pertama yang dicatat tanggal dan jam dan pesan pertamanya, email pertama ini sama sekali tidak tercatat. Uji coba aja buat beberapa alamat, terus kirim pesan-pesan singkat ke alamat-alamat itu, kata si penemu. Trus dia bilang, mungkin pesan pertama bunyinya QWERTYUIOP. Baru di tahun 1972, tanda @ dipakai di email-email.
Jadi siapa sang penemu itu ? Buat menghargai semangat hidup dia, nama dia nggak usah kita catat juga deh :) :).
Tumben amat langit cerah malam ini. Jarang bener keliatan bintang sebegitu banyaknya. Bulan purnama pula. Jadi ngobrol sama bulan lagi.
© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑