Aku tadinya menunda baca Kundera gara-gara ada satu buku yang lebih menarik: Effective STL, dari Scott Meyers lagi.
STL, Standard Template Library, adalah kepustakaan standar buat C++, yang berisi hal-hal semacam iterator dan algoritma, sehingga pemrograman dengan C++ bisa lebih terstandarkan. STL sendiri sifatnya kayak C++: maunya menstandarkan dan mempermudah. Dan resource-nya cukup kaya. Tapi seperti juga C++, kekayaan STL sering membingungkan: kita masuk dari mana, pakai tools yang mana, dengan pola pikir gimana.
Dan tepat di titik kayak gini, aku perlu buku ini.
Lalu yang ada bukan debat panjang. Tapi kesunyian.
Kesepian, baik bagi Nietzsche maupun buat Iqbal, adalah hal yang melekat pada diri manusia. Bagi Nietzsche, kesepian bersifat esensial bagi manusia. Manusia mewujud dalam keadaan sepi, dan mengembangkan ketinggian manusiawinya tetap dalam keadaan sunyi, sunyi yang asali, sunyi yang asasi.
Tapi buat Iqbal kesepian bukan bersifat final. Ia bisa terhindarkan oleh kehangatan kekeluargaan, persaudaraan, dan kemasyarakatan ? oleh kegiatan-kegiatan yang merupakan nilai manusiawinya.
Iqbal dan Nietzsche, dua eksistensialis dari zaman yang berbeda. Orang bilang Iqbal banyak terpengaruh Nietzsche. Memang, bagaimana mungkin menyangkalnya? Terlalu banyak tulisan-tulisan Iqbal yang seolah-olah ditulis untuk berbincang dengan Nietzsche: untuk memetakan kembali wacana Nietzsche ke dunia timur, maupun untuk menanggapi pola-pola pikir Nietzsche yang dirasa terlalu jauh berlari. Dan seperti juga Nietzsche, Iqbal tidak mau repot-repot membuat buku-buku filsafat serius ? kata-kata lebih banyak memenjarakan daripada membebaskan. Aforisme, kisah-kisah, dan bahkan puisi, dipandang lebih bisa menyampaikan nuansa-nuansa.
Misalnya, misalnya Nietzsche masih hidup untuk menanggapi Iqbal, apa yang bakal dia sampaikan?
«Semangatmu hebat?» begitu barangkali, «Tapi kamu terlalu takut untuk membunuh tuhan kamu. Kamu malahan menggeser konsep chaosku menjadi konsep akan sang mahakuasa.»
«Aku menarik konsep sang mahakuasa ke konsepsi Islamku,» begitu barangkali jawab Iqbal, «seperti juga kamu menarik konsep sang mahakuasa ke diskursus sekularisme Eropa abad ke-19, bukan ke fitrah manusia»
Tokoh-tokoh Kundera, seperti kehidupan nyata, bukanlah tokoh yang suci,
atau yang memiliki sifat kepahlawanan. Kalaupun Tomas menulis artikel
yang menohok orang komunis dan para penjilatnya, itu karena dia terus
terobsesi oleh ide itu. Dan kalaupun Tomas tidak mau menulis permintaan
maaf serta bersumpah setia pada Soviet, itu karena dia merasa setiap
orang bakal memberinya senyum kepalsuan. Tomas menikahi Tereza karena
Tereza bersifat memaksa pada awalnya. Dan waktu Tereza kembali dari
tempat pelarian di Zurich ke Praha, Tomas menyusulnya karena hatinya tidak
merasa tenang, bukan karena romantisme.
Tereza memang selalu membayangkan Tomas sebagai intelektual yang acuh pada
keluarganya, sementara ia mati-matian memperhatikan Tomas. Baru di akhir
buku, Tereza menyadari bawa Tomas mengorbankan karirnya sebagai dokter
bedah terkemuka di Zurich, kembali ke Praha untuk terpaksa mundur dan menjadi
pembersih jendela (dia menikmatinya untuk alasan yang salah, btw), lalu akhirnya
mengikuti Tereza lagi mengasingkan diri ke desa kecil menjadi sopir traktor.
Baru dia sadar bahwa kasih sayang adalah hal yang lebih besar daripada sekedar
romantisme. Regarder ensemble dans la même direction? Nunggu
sampai hampir akhir hayat :)
Abis tertunda lagi, akhirnya berhasil ditamatin juga buku Milan Kundera
ini, The Unbearable Lighness of Being in Bahasa Indonesia.
Menarik. Kalau nggak, aku nggak bakal repot-repot baca sampai tamat.
Alur waktunya maju mundur seenak penulis. Dan untuk efek yang lebih dramatis,
aku bacanya juga maju mundur seenaknya.
Ceritanya apaan sih?
Ceritanya nggak penting, sebenernya. Soalnya kayaknya Kundera lebih suka
mentransferkan nuansa-nuansa ide, baik nuansa dengan huruf biasa, huruf
miring, maupun huruf tebal. Huruf tebal? Yup, maksudnya bukan sekedar
nuansa, tapi bener-bener paradoks ide-ide dari sebuah fakta yang sama.
Misalnya apa ya … Ugh … Misalnya waktu tokoh Sabina sedang bersama
para mahasiswa Perancis berpawai menentang invasi Russia ke Ceko. Tangan
dikepalkan, slogan dikumandangkan mengutuk imperialisme Soviet. Tapi
Sabina sungguh terkejut, mendapati bahwa ia justru sedang berada di dalam
apa yang selama ini dimusuhinya dari para imperialis, baik fasisme maupun
komunisme, yaitu kejahatan yang merembes yang tergambarkan dalam bentuk
pawai dan barisan dengan kepalan tangan dan slogan-slogan.
Mengingatkanku sama sebuah pertanyaan sekitar tahun lalu: Kok pasukan
GAM juga bikin upacara bendera?
Beberapa hari abis diskusi itu, aku dapat e-mail. Isinya kira-kira kayak gini:
«Mas Koen lebih pantas jadi Nietzsche daripada jadi Foucault, soalnya Mas Koen lebih pantas menghadapi kematian sambil menertawai orang, daripada menghadapi kematian sambil ditangisi orang.»
Dunia rasanya jadi rada bergeser … sekitar 15 derajat.
Ngobrol berlarut-larut — nggak keren amat. Ganti aja namanya jadi serial diskusi bipartit multitematik. Hmm, segala akhiran dipakai: -al, -it, -ik.
Pernah terjebak dalam tema kayak gini berhari-hari, dari soal filsafat berat kayak Calvin & Hobbes (which, as you have recognised presently, are not referred to John Calvin of Geneva and Thomas Hobbes), sampai yang lucu-lucu kayak Nietzsche dan Foucault. Trus «Kok nggak pada happy ending ya. Nietzsche mati sebagai orang gila, Foucault mati kena AIDS. Aku pantesnya jadi Nietzsche apa Foucault?»