Category: Wagner (Page 4 of 4)

Mild und Leise

Tristan & Isolde mengilhami hampir semua musisi setelah Wagner. Ceritanya sendiri aku aku pikir mengesalkan, kisah romantik yang salah asalnya dan kacau ujungnya. Nggak aplikatif buat aku kayaknya. Wagner yang konon anti asing itu mengambil cerita bukan dari bangsa Nordic, tapi dari Celtic. Kisah diawali dari kapal yang datang dari Irlandia ke Cornwall, dengan prelude yang bisa dipertimbangkan sebagai simponi terindah sepanjang sejarah. Cerita ini melibatkan ramuan ajaib, dan perkelahian, tapi justru tidak terlalu berfokus pada perebutan Isolde sendiri (khas Celtic ala Asterix). Cerita diakhiri waktu Tristan yang sudah terluka parah dan dibuang di Brittany (negerinya Asterix beneran) menunggu kedatangan Isolde dari kapal. Tapi keburu mati Tristannya. Dan Isolde cuma bisa menemui mayat Tristan. Mild Und Leise Wie Er Lachelt katanya dalam bahasa Jerman (abisan yang nulis Wagner sih) yang terjemahan Inggrisnya jadi how gently and quietly he smiles. Aku udah pernah ngebahas bagian yang dijuduli Liebestod ini. Prelude T&I nggak akan lengkap kalau nggak digabung dengan bagian ini.

Asterix bisa dendam nih kalau tahu bahwa kisah bangsa dia dibikin ngetop sama orang Goth yang suka jadi musuh bebuyutannya.

Liebestod

Tokoh Isolde (Celtic: Iseult, Italia: Isotta) menyanyikan Liebestod di atas kematian Tristan. Bagian ini selalu memaksa kita berhenti dari kegiatan keseharian, dan diam beberapa menit menikmati cara Wagner menggambarkan jenis kedekatan manusiawi yang penuh kegamangan. Pagi ini bentuknya agak beda. Orkestrasi nyaris dihapuskan, dan digantikan dengan permainan piano yang sederhana. Jadi fokusnya lebih pada vokal solo tokoh Isolde. Tapi, really, bagian ini sama indahnya dengan waktu orang memainkan Isolde dengan orkestrasi penuh, tanpa vokal (i.e. versi Liebestod yang aku dengar pertama kali, sekian tahun y.l.).


Oh ya, aku nggak pingin cerita tentang kisah Tristan & Isolde, selain bahwa ini adalah kisah cinta dua manusia, yang tak pernah terselesaikan. Kegamangan dari ujung ke ujung. Nuff.

On Masterpiece

Nyetel Wagner di tempat ini memang sebenernya pas. Kita ingat, Der Ring dibuat Wagner di pengasingan, dalam kondisi seadanya, waktu tidak ada harapan sama sekali untuk bisa menyusun performa yang sesungguhnya. Tapi Der Ring justru diciptakan untuk menunjukkan bahwa nilai (romanticism, balik lagi ke nilai) kemanusiaan bukan terletak pada sumber dari luar dan penghargaan dari luar, tetapi dari pemenuhan potensi. Maka terciptalah masterpiece yang dikagumi selama satu abad lebih dikit.
Aku nggak pernah merasa Der Ring itu bagus, tapi aku selalu bisa menikmatinya sepenuhnya, setiap saat. Dan aku nggak tau rahasianya. Dari segi artistik, pasti aku lebih milih Debussy. Jadi di mana sih Wagner menyimpan puncak keunggulannya ?
Refer: Richard Wagner

1232849

Feel down, Koen?
So did Wagner when he composed his masterpiece Der Ring des Nibelungen. Fled from his country after being involved in political movement, had no money but much amount of debts, and faced several personal problems. But his masterpiece is one of the best composition ever created on the Earth.
I have no suggestion. You may just have to try to ignore your feeling. Further, you could use that feeling to boost your performance.

Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑