Category: Telkom (Page 7 of 9)

Lomba Karya Jurnalistik

Tahun ini, Telkom memperluas Lomba Karya Jurnalistik-nya, dengan ditambahi lomba tingkat daerah. Untuk Jawa Barat, penyelenggaranya tentu Divre III. Dan karena semua orang Telkom (selain aku) itu terlalu sibuk, maka aku kebagian tugas sebagai salah satu juri. Dewan Juri terdiri dari tiga orang, yaitu dari kalangan akademis, kalangan pers, dan dari Telkom. Tulisan para peserta harus dimuat di media daerah antara September hingga awal November tahun ini. Dan pada pertengahan November, amplop besar berisi kumpulan artikel itu sampai di mejaku. Aku rada serius dengan tugas ini. Artikel2 itu aku bawa ke mana2, termasuk ke rapat di Puncak segala. Dibaca, direview, baca lagi, dan akhirnya diberi skor berdasarkan empat kriteria. Laporan ditulis di suatu pagi ditemani Kopi Toraja tanpa gula (hidup itu pahit, kawan — tapi wangi).

Sidang Dewan Juri dilangsungkan tanggal 17 November. Anggota Dewan yang lain adalah Sahala Tua Saragih dari Fikom Unpad, dan M Ridlo Eisy dari Kelompok Pikiran Rakyat. Berbincang tentang kriteria, kemudian menyetarakan skor, dan akhirnya menyusun skor akhir. Artikel yang aku pilih sebagai Rank 1 harus dicoret, karena sudah telanjur menag di lomba yang tingkat nasional (whew, aku memang nggak salah pilih). Dan akhirnya, tugas selesai. Berita acara dibuat. Kopi (Indocafe) dihabiskan. Dan hari ditutup dengan jalan ke Toko Buku Togamas di Supratman.

Hasil penjurian? Baca deh di media2 daerah di Jawa Barat hari2 ini. Berbincang dengan juri yang lain, kita juga sepakat untuk menyelenggarakan Editor Gathering secara rutin.

NGN Conference

NGN-conf.jpg

Atau NGNGN — Next Generation NGN. Kita memperbincangkan soal ini akhir abad lalu di Bid Network Divre III, dalam bentuk protocol bernama Megaco. Dan kemudian nama yang agak fancy di awal abad ini: Softswitch. Akhirnya mereka menemukan bentuk bernama NGN, dan diulas secara teknis di jurnal-jurnal IEEE, dan sempat aku bikin whitepapernya. Whitepaper ini kemudian dibuat versi non-Telkom dan dipasang di IlmuKomputer.com. Namun setelah itu NGN berevolusi. Ia kemudian distandarkan oleh ITU-T. Konferensi TPE (Telkom Pre-Eminence) tahun 2003 khusus membahas NGN. Waktu itu titik beratnya lebih pada hal2 teknis, seperti standardisasi, interoperabilitas. Kemudian forum yang lebih kecil, yang aku lupa namanya. Dan tahun ini, Telkom menyelenggarakan Konferensi NGN.

Atau NGNGN itu. Karena pengkajiannya sudah selangkah ke arah implementasi nyata.

Yang dibahas bukan lagi soal standardisasi, tetapi bagaimana Telkom bersama bangsa ini akan memulai langkah2 awal menyusun service dan network masa depan, yang diharapkan benar2 akan merevolusi service infokom yang ada saat ini. Service diharapkan akan lebih efisien dan fleksibel, yang artinya adalah aneka ragam layanan efektif dengan harga yang jauh lebih rendah daripada jaringan saat ini. Jangkauan layanan akan meliputi juga layanan mobile dan wireless. Everything Telkom 3G lah.

NGN-mug.jpgKerjasama disusun dengan berbagai vendor, konsultan, dan operator lain yang lebih dahulu melangkah. Mudah2an sih, industri dan kalangan akademi bangsa ini mau mulai bangun. Agak susah bikin segalanya murah kalau kita masih segalanya impor. Nggak perlu kelas dunia dalam arti gemerlap. ZTE yang acak2an itu saja sudah berani, dan diterima dengan baik, dengan improvement yang sambil jalan. Masa kita yang lebih beradab ini nggak berani? Cumab perlu kemauan untuk mulai terjun, aku kira, daripada sibuk bikin forum sana sini.

Di luar konferensi, ada pameran. Menarik juga. NGN dan non NGN. Telkom sendiri, selain memiliki booth Telkom bernuansa NGN, juga punya booth Flexi dan Speedy yang bernuansa network masa kini. Masa kini gitu loh. Padahal di Network Divre III, kita udah mendiskusikan ADSL ini jauh di pelosok tahun 1996. 10 years bo! Makasih buat temen di Siemens/Juniper, Softrecom, untuk diskusinya yang hangat. Dan makasih sekali untuk Alcatel untuk perbincangan yang tak kalah panasnya dengan hidangan kopi panas dan donatnya mantap!

Telekomunikasi Selular Indonesia

Satu komentar di site ini menyebut bahwa sumber kekuatan Telkomsel pada pasar selular di Indonesia didukung oleh statusnya sebagai pemain perdana. Statement ini sebenarnya tidak benar. Sebelum era GSM, di Indonesia sudah ada Komselindo (milik Bimantara, yang sekarang terjun mengoperasikan Fren melalui Mobile-8). Operator GSM pertama di Indonesia pun bukan Telkomsel, melainkan Satelindo (sekarang bagian dari Indosat). Telkomsel adalah pemain GSM kedua. Pun pada masa2 awal, ia tidak diperkenankan memasuki Jakarta — memberi kesempatan tumbuh dulu untuk pemain awal. Jadi Telkomsel memulai dengan gerilya berkeliling Indonesia sebelum akhirnya boleh memasuki Jakarta.

Kini, Telkomsel masih memiliki proporsi customer yang merata di seluruh Indonesia, dibandingkan Indosat yang customernya basih terpusat di sentra kemakmuran ekonomi (=Jawa). Hampir separuh customer Telkomsel ada di luar Jawa, dibandingkan Indosat yang hanya kurang dari seperlimanya. Telkomsel memang punya hak menamai diri Telekomunikasi Selular Indonesia.

tselisat-may061.png

Untuk per-HP-an, aku sendiri masih pakai 3 kartu: Kartu Halo, Flexi, dan XL bebas. Urutan bukan berdasar favoritism, tetapi berdasar besarnya pemakaian bulanan dalam rupiah, dari terbesar ke terkecil. Ada juga yang lain sih, buat iseng2 :).

Business Week Lagi

Seperti tahun sebelumnya dan sebelumnya, Telkom masuk lagi ke 100 Besar of Perusahaan IT Dunia versi Business Week. Tahun ini masuk ranking 12. Dan seperti tahun2 sebelumnya, hal2 seperti ini cuman disebut sekilas dalam keseharian kantor. Tak lebih dari 5 email. Dan tak pernah disebut dalam perbincangan lisan. Pada sibuk. Banyak kerjaan. Dan sebenernya nggak perlu aku sebut2 juga di sini. Cuman aku lagi di Puncak, dan hampir waktu Maghrib, dan aku lagi jenuh. Ya udah, gitu aja.

Top-100-IT-Companies.png

Sabuga

Semalam bikin presentasi bertema Internet Goes To School, buat dipresentasikan hari ini. Tugas kantoranku nggak meliputi yang kayak2 gini sih, sebenernya. Cuman, melarikan diri ke yang kayak2 gini menarik juga.

Yang berpresentasi bukan aku, tapi Mas Sony (a.k.a. SBW). Aku happily jadi asrot di tepi panggung, sambil mejet2 touch pad dan tentu memainkan Pentax. Contoh aplikasi2 Internet yang kita paparkan a.l. weblogging (dan beberapa aspeknya, termasuk agregasi) dan beberapa service seperti Google Earth.

Sebelum kami, yang berpresentasi adalah Mas Khairul Ummah. Ini yang penulis buku Sepia itu, dan suka berkelompok Sharing Vision bersama Dimitri Mahayana. Trus … udah ah … bersambung. Susah bener cari waktu buat nulis weblog sampaoi selesai yach.

Telkomnet

Di mail list mus-lim@isnet.org, Mas Fahmi bercerita tentang Koran Tempo yang memelintir berita, seolah2 Gusdur diusir dst, dst. Bantahan itu sendiri dirilis oleh Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia. Lepas beberapa hari, Mas Harry Sufehmi memasang salinan rilis itu di weblognya: harry.sufehmi.com. Aku tentu udah lama kehilangan minat sama dunia Pergusduran. Atau JIL :). Nggak tau juga, kenapa kawan Harry yang cerdas ini masih doyan membahas JIL. Tingkah mereka yang cuman cecentilan itu nggak sepantasnya mendapat perhatianmu, kawan Harry :).
Yang aku lihat tadinya bahwa Mas Fahmi masih pakai alamat email di telkom.net. Hari gini? — gitu kali pikiran kita. Tapi aku mikirnya lain. Tokoh yang setia menggemakan suara Hizbut Tahrir ini tentulah lebih suka memakai produk lokal Indonesia, daripada pakai produk Amerika macam Yahoo, Gmail, Hotmail. Aku jadi lebih yakin lagi waktu baca di bagian bawah rilis, sang jubir juga menyediakan alamat kontak di telkom.net, selain di domain hizbut-tahrir.or.id sendiri. Yang ada, aku jadi malu: kok aku malah doyan pakai Gmail yach?

Tentu, Gmail menyediakan 2GB, sama dengan Yahoo dan Hotmail, sementara Telkomnet hanya bisa memberi recehan. Tapi, to be honest, mail2 penting sebenernya aku download ke harddisk, dan yang tertinggal di server2 itu, hilang pun tak masalah. Tinggal mengembalikan kebiasaan kuno untuk rajin menghapus mail, kita bisa mulai menunjukkan kemandirian kita kembali. Dan memulai penghematan bandwidth, biarpun nggak seberapa dibanding keterlanjuran kita menghosting web di luar negeri (gratis atau berbayar) dan menggunakan mail list di Yahoo atau Google juga.

Mail kuncoro@telkom.net masih aktif, btw.

StarOne

Kereta api menembus rembang malam. Gerbong kami kosong. Perempuan berambut oranye berselonjor di kursiku. Aku memilih duduk di belakangnya, dan belajar berselonjor juga. Nggak terlalu nyaman, soalnya nggak biasa. Dipaksain aja. Trus baca2 mail dan web2 dengan Nokia 6235 ber-Flexi, sampai sinyalnya dibatasi regulasi di daerah Karawang. Sejujurnya, sebagian besar mail dibaca dengan cara kayak gini, di kereta, di taksi, di angkot, di kasur. Dan dijawabnya nunggu ketemu komputer, soalnya ngetik jawaban serius dengan HP imut gini sungguh melelahkan. Mendingan mikirin mekanisme lompatan tupai, misalnya.
Di seberang, seorang lelaki berwajah ramah, utak-atik Nokia 9500. Hmm, kapan terakhir kali aku lihat orang baca buku di kereta? Semuanya baca di HP atau PDA. Dekat Bandung, dia menyapa, dan memperkenalkan diri. Mahasiswa S2 dari Hamburg. Cerita tentang lingkungan kampus, suasana Jerman, keharusan belajar bahasa Jerman dan Portugis, dll. Dia tanya di mana aku sekolah dan dapat beasiswa dari mana, dan entah kenapa dia bertepuk tangan (beneran) waktu aku jawab soal Chevening. Dan cerita perlu akses Internet flat rate dari Bandung. Aku cerita tentang Speedy yang 1 April ini bakal diluncurkan (soft launching). Tapi dia cerita belum punya line telefon. Trus dia tanya tentang StarOne. Dan kaget waktu sadar bahwa StarOne belum ada di Bandung. Aku kenalin ke Flexi, tapi tentu saja Flexi belum ada feature Internet flat rate-nya.

Akhirnya kami bertukar kontak. Dengan pesan minta dihubungi kalau StarOne udah dipasarkan di Bandung. OK :). Sahabat adalah sahabat, biarpun artinya seorang profesional di Product Management di Telkom harus punya fungsi marketing communication bagi kompetitornya: Indosat, StarOne. The show must go on :).

Cerita Teknologi

Dari zaman di Network, di Sisfo, jadi Analis Teknologi, sampai sekarang di Product Management, salah satu job yang aku harus sering lakukan adalah bercerita tentang teknologi. Audiencenya sering tapi tidak selalu dari kalangan tech-aware. Yang menarik, tentu, justru kalangan di luar itu. Boss Telkom punya spektrum dari techno-geek sampai PHB, lengkap, plus para underling-nya. Customer, kadang. Forum2. Dan kadang frontliner juga.

Susahkah cerita teknologi ke frontliner? Nggak. Pernah cerita  kenapa langit berwarna biru secara ilmiah ke anak berusia 5 tahun? Aku pernah. Tapi mulainya nggak gampang. Cerita ke frontliner pasti lebih mudah. Bahkan nggak sesulit menceritakan perbedaan operator * dan & ke C-newbie.

Misalnya, kita ingin menceritakan ke seorang frontliner, bedanya produk (Telkom) VPN Gold, Silver, dll, yang perbedaan utamanya adalah bahwa satu menggunakan LC, satu Frame Relay, dan satunya MPLS. Pertama, yakinkan ke mereka bahwa mereka nggak perlu tahu kepanjangan semua istilah. IP, MPLS, FR, ATM, ISDN, CDMA, DID, DFI, DLU, dll, itu adalah kumpulan nama, kumpulan konsep, bukan singkatan yang ada kepanjangannya. Modem dan Laser bisa hidup tanpa kita harus tahu kepanjangannya. Kedua, teknologi sejenis bisa dicarikan analogi semacam. Bandingkan misalnya teknologi network dengan transportasi kereta. LC itu mirip kita menyewa rel untuk kita sendiri, FR mirip menyewa satu rangkaian kereta untuk kita sendiri tetapi di atas rel yang dipakai bersama kereta lain, dan VPN-IP tentu mirip mengirimkan paket via kereta yang tidak perlu kita sewa. Konsep layer OSI sudah masuk di sini. Konsep QoS bisa masuk menjelaskan paket yang pakai reservasi berlangganan dan yang tidak, paket ukuran seragam atau paket berbagai ukuran, dll. Dan ketiga, berharaplah bahwa di akhir cerita, mereka masih ingat bahwa kita bercerita tentang PT Telkom, bukan PT KAI.

Menakjubkan melihat rekan2 frontliner jadi lebih mudah memahami. Kita bisa meneruskan membahas, misalnya, kenapa VoIP lebih murah daripada telepon biasa, tapi kenapa ada delaynya. Bagaimana CDMA berbeda dengan TDMA. Bagaimana teknologi ADSL bekerja. Apa yang dimaksud dengan redaman 65 dB dan SNR 25 dB. Asyik deh.

Dari Esia ke Excel

Kalau CSR Telkom ditanya tentang kompetitor Flexi, biasanya mereka menjawab dengan beberapa operator. Biasanya, kalau di Bandung, dimulai dengan Esia. Kemudian Fren, produk2 Indosat, dan Excel. Urutannya suka berubah, tapi biasanya dimulai dengan Esia dan diakhiri dengan Excel. Jadi aku bikin kunjungan ke Esia dan Excel, Bandung. Naik angkot.

Esia, dari Bakrie Telecom, menempati sebuah rumah klasik berdinding tembok tebal di Dago. Tempatnya nyaman, dan mirip rumah atau kantor konsultan, nggakmirip tempat penjualan atau service, dan bikin ragu. Satpam-1 masih mengobrol, dan aku harus tanya “Beli Esia bisa di sini, Pak?” baru mereka menjawab. Di dalam satu lagi Satpam-2 ngobrol dengan CSR-1. Aku harus menginterupsi “Saya mau beli kartu Esia tapi bukan paket.” Satpam-2 mengulangi ke CSR-1 di sebelahnya, dan CSR-1 menelepon rekannya di dalam. Aku diminta menunggu sambil berdiri. Agak lama, CSR-2 keluar membawa telepon CDMA tanpa kartu. Aku ulangi permintaanku, dan dia mengambilkan kartu antrian, menyuruhku masuk ke ruang tunggu, dan meninggalkanku tanpa pesan lain. Minta maaf misalnya. Ada 3 loket buka. Dua untuk kartu pascabayar dan satu untuk kartu prabayar. Display nomor antrian di tembok mati. Di meja hidup. Aku hanya nunggu 2 orang. Tapi lama, hampir 1 jam, dan membosankan. Loket 1 dan 3 ternyata diandel 1 CSR yang bergantian. Pantes lama. Satu orang pengunjung masuk, tanpa antri, untuk beli voucher. CSR dari loket pascabayar melayaninya. Hmmh, kalau aku tahu di sini nggak perlu antri, aku langsung tembak aja tadi. Akhirnya aku dipanggil. CSR-3 menerimaku dengan keramahan yang alami dan profesional. Aku minta kartu perdana, dan dia mau lihat HPku. Sekilas aku tunjukkan, dan dia mengangguk. OK, dia tahu Nokia 6235. CSR-3 memberiku daftar noor untuk dipilih, tapi terus meninggalkan meja. Padahal aku sekalian pingin chatting tentang feature Esia yang baru. Nggak ada kesempatan. Dia balik waktu aku sudah memilih nomor. Masih simpatik. Aku tanya soal Internet. Dia jawab: Esia prabayar tidak bisa dipakai Internet dan WAP, dan tidak ada rencana untuk itu. Dia menawarkan voucher isi ulang, dan aku setujui. Trus aku diminta ke kasir (tempatnya terpisah) untuk melakukan pembayaran. Kasirnya pendiam, dan tidak customer-oriented. Visa bisa dipakai di sini. Trus balik ke loket. CSR-3 menawari registrasi (wajib). Aku iyakan. Dia mengeluarkan formulir panjang dan minta KTP. Trus dia mengisikan formulir (di kertas) sambil terus menanyaiku. Sampai selesai. Trus dia membuka aplikasi registrasi di komputernya, dan mengetik ulang semua data dari kertas di komputernya. Prosesnya lama. Tapi simpatik. Sementara kursi di sebelahku (di loket ini juga) diduduki seorang Bapak berseragam TNI yang masuk tanpa antri. CSR-3 melayani kami berdua sekaligus. Selesai, aku keluar. Satpam-3 sedang mengatur parkir. Melihat aku mau menyeberang, dia ke luar, menghentikan mobil di Jl Dago, dan mempersilakan aku menyeberang.

Excel, dari Excelcomindo, menempati bekas Bank Bali di perempatan Riau-Purnawarnan. Gedungnya khas pelayanan, berdinding kaca jernih yang memudahkan melihat dari luar. Tak ada Satpam menyambut buat diisengi. Masuk, aku nggak menemukan karcis antrian. Jadi langsung ke loket. CSR-1 menyuruh antri dan menunjukkan tempat karcis antrian. Aku ambil. Di kejauhan tampak beberapa Satpam bercakap, acuh. Ruang tunggu luas, warnanya menarik. Loket jumlahnya banyak, dan dibagi untuk berbagai urusan. Menuggu tidak membosankan, karena — coba tebak — ada dua terminal Internet gratis buat customer yang sedang menunggu. Layar datar dan jernih, dioperasikan dengan keyboard dan mouse sambil berdiri. Menunggu 2 jam pun nggak bakal bosan. Aku bisa download file dan save (ke harddisk), trus dikirim ke mail kantor :). Trus nomorku disebut. Ke CSR-1 lagi. Aku menanyakan bedanya XLFun, XLBebas, XLJempol, dan dia menjelaskan. Aku menyatakan mau beli, dan dia menginformasikan bahwa di luar ada stand promo. Kalau aku beli kartu prabayar di luar, aku dapat merchandise. Di dalam nggak. Menarik. Tapi aku keukeuh di dalam, dan dia menerima. Milih kartu, mirip di Esia, tapi sambil ngobrol dengan CSR-1 tentang feature-feature. Satu nomor diambil. Aku minta disetting Internet di HP-ku. Dia minta lihat HP-nya. Aku tunjukkan XPhone, dan CSR-1 bilang bisa. “Yakin bisa?” aku rada kaget. XPhone udah nggak terlalu umum. Dia memastikan. Trus aku serahkan XPhone. Si CSR-1 mulai melakukan setting. Agak lama. Tapi dia nggak minta bantuan apa pun dari aku. Padahal menu XPhone udah aku customise. Hebat. Trus aku penasaran, dan mulai melirik layar monitor si CSR. “Sambil baca ya?” Dia mengiyakan. Tapi aku masih kagum. Selesai akhirnya. Aku coba baca mail ke Gmail. Gagal. Aku tanya kenapa masih gagal. CSR-1 minta aku cek ke alamat lain. Hotmail. Berhasil. OK. Aku mengingatkan bahwa aku belum bayar. CSR-1 ketawa (CSR ini jarang ketawa sebenernya. Serius melulu). Trus dia mengurus pembayaran. Dia yang ke kasir. Sebelum pergi, dia nyuruh aku ngisi formulir registrasi. Di kertas. Ngisi sendiri. Selesai, dia ambil formulir, dan bilang nanti akan diurus. Selesai. Keluar, masih nggak ketemu Satpam.

Setiap perusahaan punya policy sendiri, punya tantangan sendiri, dan jelas punya approach sendiri. Tapi entah kenapa, aku kayaknya harus bilang ke CSR Telkom, bahwa lebih baik menganggap Excel merupakan kompetitor yang bakal lebih tangguh daripada Esia. Kecuali kalau kompetisinya di bidang kesatpaman.

Trus, gimana dengan Flexi? Haha :). Aku bakal dibilang bias kalau nulis soal Flexi. Biar weblog lain aja yang membahas soal Flexi.

ATM dan ATM dan ATM

Abis bikin komentar sok culun di webnya Idban (tentang ATM), aku jadi inget zaman aku masih di Dalnet (=Pengendalian Network). Waktu mulai musim ISO-9000, semua perangkat apa pun dilabeli, termasuk laci-laci. Salah satu laci dilabeli ATM. Dijamin deh para network consultant yang umumnya expat (beberapa diantaranya pakai visa turis, huh) pada kagum: Wow, orang Bandung udah mempersiapkan ATM Network Engineering.

Kagum? Nggak lah. Aku nggak yakin para consultant itu ngerti teknologi ATM. Consultant itu cuman expat, bukan expert. Bule oon yang nggak bisa menginterpretasikan deretan angka yang dipaparkan di depan muka mereka. To consult just to con and to insult. Paling mereka pikir label ATM itu isinya kartu ATM milik para karyawan Telkom, yang dipakai buat gajian.

Tapi mereka bakal lebih keki lagi waktu akhirnya tahu apa ATM itu. Alat Tulis Menulis. Plissss deh.

Refensi: Definisi2 ATM yang lain ada di sini: en.wikipedia.org/wiki/ATM. Tahukah kamu bahwa HP sudah memproduksi HP? Dan tahukah kamu, bahwa IP kamu bisa jelek kalau kamu nggak paham IP?

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑