Category: Telkom (Page 1 of 9)

Strategi Pengembangan Ekosistem

Pour ce qui est de l’avenir, il ne s’agit pas de le prévoir, mais de le rendre possible.

Tulisan di Complexity Center tentang Padi UMKM sebagai case sebuah strategi bisnis berbasis complexity mengundang beberapa rekan mengajukan pertanyaan menarik, khususnya dalam bridging dari perspektif tentang complexity yang dianggap sangat teoretis dan rumit ke implementasi real di dunia bisnis dan teknis. Kebetulan aku sedang tulis paper berkait hal itu, yang fokusnya bukan ke produknya, tetapi ke strategi perusahan dalam mengembangkan ekosistem: bagaimana ekosistem ini dikawal, oleh siapa, dan dengan modal apa.

Saat pengembangan awal Padi UMKM di tahun 2020 (masa awal pandemi Covid-19), pengembangan ekosistem bisnis di Telkom Group dipimpin oleh Subdit Sinergi, bagian dari Dit Strategic Portfolio (DitSP). Platform dan bisnis Padi UMKM sendiri dipegang oleh Divisi Digital Business & Technology (DBT), bagian dari Dit Digital Business (DitDB). Ini bukan redundancy atau kesalahan rencana koordinasi, melainkan desain yang dibuat saat DitDSP dipecah jadi DitSP dan DitDB. Dalam case Padi UMKM, Div DBT berfokus pada platform, produk, dan bisnis; termasuk pembangunan, pemeliharaan, pengembangan, dan ekspansi. Kualitas, kapasitas, experience, inovasi, dll dll. Subdit Sinergi bekerja di lapisan lain: membentuk dan menumbuhkan ekosistem.

Sepenting apa strategi ekosistem? Padi UMKM bukan marketplace. Telkom baru membunuh marketplace Blanja.com saat Padi UMKM dirancang. Platform baru ini dirancang sebagai arsitektur koordinasi, tempat BUMN yang memiliki operasi pengadaan, UMKM di berbagai tingkatan dan sektor, lembaga keuangan, komunitas pembina UMKM, kementerian, dan lembaga regulasi dapat berinteraksi di level policy, strategi, bisnis, dan teknis. Setiap agent yang berbeda ini tentu memiliki concern yang sangat berbeda. Perspektif Complexity Economics dari WB Arthur menunjukkan bahwa dalam sistem seperti ini para agen beroperasi dalam ketidakpastian fundamental: mereka tidak memiliki rasionalitas seperti yang dibayangkan dalam perspektif ekonomi klasik; melainkan bersifat adaptif dan tunduk pada irasionalitas kolektif, volatilitas, dan disrupsi yang tidak dapat diprediksi dari perilaku setiap agent. Nilai keseluruhan sistem (synergy value) merupakan emergence yang muncul dari interaksi dinamis antar agent, bukan dari value setiap agent, termasuk agent kunci seperti pemilik platform. Para BUMN yang dikoordinasikan oleh Kementerian BUMN secara kolektif diposisikan sebagai pemilik simbolik ekosistem ini. Platform dimiliki Telkom, tetapi ekosistemnya dimiliki bersama. Apa inovasi yang diciptakan dari kebersamaan ini? Saat pandemi Covid-19 baru melanda, aku baca buku Christensen tentang Prosperity Paradox: pertumbuhan bisnis yang sesungguhnya, yaitu market-creating innovation, bukanlah soal mendatangi dan mengembangkan pasar yang ada, melainkan justru dari menciptakan pasar baru dari nonconsumption, dalam hal ini dari jutaan UMKM yang sebelumnya aksesnya sangat lemah ke industri nasional termasuk BUMN. Dalam bahasa HBR: strategi follow the money itu kuno dan bodoh, dan harus digantikan oleh follow where the money goes, atau create the environment where the money will have to go. Kembali ke Christensen, ini yang disebutnya paradoks kemakmuran: keberpihakan pada ekonomi rakyat adalah strategi bisnis yang paling efektif.

Di Telkom, Subdit Sinergi menjalankan tugas ini nyaris tanpa otoritas pada unit produksi dan unit bisnis, tanpa team dan anggaran yang besar, dan tanpa kendali internal atau eksternal. Modalnya adalah tuntutan visi dan strategi perusahaan, kepemimpinan yang suportif, keterlibatan yang dalam dan detail dalam lanskap kelembagaan, dan kemampuan membangun jejaring lintas unit dan institusi, melalui pengembangan konteks, komunikasi dan negosiasi, hingga approach pada regulasi. Dalam praktiknya, kami mengkoordinasikan para BUMN, termasuk via PMO Padi dan via kepemimpinan KBUMN, untuk mengkonversi operasi procurement menjadi demand engine; bernegosiasi dan berkolaborasi di level policy, strategy, hingga event dalam kerangka BBI (Bangga Buatan Indonesia), PBJP (Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah), dan P3DN (Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri) yang saat itu dipimpin Kemkomarves bersama K/L/PD terkait; mengawal koordinasi program ekspor bersama berbagai kementerian untuk mendorong UMKM menembus pasar internasional; membangun dan merawat hubungan dengan komunitas pengembang UMKM, termasuk Pemprov, Pemkab, ormas, dan marketplace, agar suplai UMKM berkualitas terus mengalir; serta menstrukturkan kesepakatan dengan bank dan lembaga keuangan seperti BRI Group (termasuk Pegadaian, PNM, Bank Raya) untuk memastikan UMKM punya akses pembiayaan yang akan memperbesar volume pasar. Ini tidak bisa menggunakan akses komando, melainkan melalui yang dalam istilah CAS disebut interaction architecture: membangun konteks di mana para agent terdorong untuk berkoordinasi secara sukarela demi kepentingan masing-masing.

Karena hal-hal ini merupakan implementasi dari complexity, banyak hal yang tampak kontraintuitif saat dilihat dari perspektif manajemen konvensional. Walau memiliki produk, platform, dan brand Padi UMKM, Telkom tidak mengklaim kepemilikan ekosistem. Padi UMKM diposisikan dalam narasi kepentingan nasional, bukan narasi korporat. Saat pemerintah pusat, dalam forum BBI/P3DN/PBJP meminta Padi UMKM diekspansi ke seluruh K/L/PD, Telkom mengusulkan agar pengadaan K/L/PD tetap dipegang entitas pemerintah, yaitu LKPP, dengan Telkom berlaku sebagai pengembang platform yang merupakan ekspansi dari Padi UMKM. Ini adalah ecological thinking: menjaga keberagaman dan modularitas agar sistem tetap adaptif, tidak terjebak dalam rigidity trap, di mana konektivitas yang terlalu tinggi tanpa keberagaman yang cukup membuat sistem justru menjadi rapuh. Telkom juga membangun path dependence: titik di mana ekosistem dapat tertanam dalam di berbagai lapisan institusional sehingga tak mudah dihentikan, kecuali oleh perubahan struktur yang massive oleh seluruh stakeholder. Ini adalah desain yang matang untuk keberlanjutan sistemik: memanfaatkan mekanisme increasing returns yang Arthur gambarkan, di mana setiap BUMN baru yang bergabung meningkatkan nilai platform bagi UMKM, dan setiap UMKM yang sukses bertransaksi memperkuat legitimasi politik ekosistem secara keseluruhan. Hasilnya terlihat nyata: per akhir 2024, ratusan ribu UMKM B2B terdaftar, 74.000 pembeli B2B, hampir 300.000 transaksi dalam setahun, dan GMV kumulatif melampaui IDR 28 triliun sejak peluncuran.

Dari sisi manajemen strategis, aku coba formulasikan narasi ini dalam paper Ecosystem Stewardship as Organisational Capability (masih ditulis). Hal yang dilaksanakan oleh Subdit Sinergi dalam kerangka Padi UMKM adalah sebuah kapabilitas organisasional yang nyata dan unik. Strategi di level ekosistem belum secara serius masuk ke dokumen strategi para BUMN. Ecosystem stewardship ini bukan platform management, bukan stakeholder management, dan bukan sekedar synergy program; melainkan sebuah kapabilitas untuk mengkatalisasi, mendukung, dan mengadaptasi sistem multi-aktor lintas batas kelembagaan, dimana para agent memiliki interdependensi dalam bentuk otoritas penuh untuk mengarahkan sistem secara sepihak. Tentunya cukup banyak narasi akademis yang mengimplementasikan CAS pada transformasi organisasi, supply chain, kesehatan, dan lain-lain. Namun bahkan belum banyak ditemukan narasi berisi formulasi eksplisit dan kohesif yang menyatukan complexity economics (Arthur), teori CAS (Holland), market ecology, dan kerangka ekosistem digital, lalu menerjemahkannya ke dalam desain dan implementasi kapabilitas organisasional lintas-institusi dalam skala nasional; dan kemudian bukan saja dijadikan kerangka teoretis, melainkan benar diimplementasikan dan menghasilkan dampak ekonomi yang terukur. Dalam pengertian itulah Padi UMKM, dan ecosystem stewardship sebagai kapabilitas yang menopangnya, menjadi inovasi yang layak mendapat perhatian lebih dari sekadar kisah sukses digital.

Ekosistem dalam konteks ini juga tidak selalu merujuk pada hubungan dengan pihak eksternal. Untuk perusahaan dengan grup yang besar, seperti holding, afiliasi, dan anak perusahaan, termasuk seperti Telkom Group, kita meyakini bahwa koordinasi dan kolaborasi yang paling efektif justru lahir ketika kita mengadopsi perspektif kompleksitas dan memperlakukan hubungan dalam grup sebagai ekosistem itu sendiri. Entitas-entitas dalam grup yang berbeda bukan sekadar unit yang perlu disinergikan secara administratif, tetapi dipandang sebagai agen-agen heterogen dengan visi misi, kapabilitas, dan dinamika adaptasi yang beragam. Mengelola mereka dengan prinsip ecosystem stewardship, bukan dengan pendekatan top-down yang mekanistik, adalah cara yang jauh lebih tepat untuk menciptakan nilai bersama. Dalam dunia yang semakin kompleks dan volatile, kemampuan semacam ini bukan kekenesan intelektual, melainkan telah menjadi prasyarat untuk bertahan dan tumbuh.

Navigasi di Edge of Chaos

Dalam profesi keuangan global, CIMA (Chartered Institute of Management Accountants) berperan sebagai penyusun standar kompetensi akuntansi manajemen yang berorientasi pada strategi bisnis. Beraliansi dengan AICPA, CIMA memfasilitasi gelar profesional CGMA (Chartered Global Management Accountant) yang memastikan para praktisi memiliki bahasa bisnis universal dalam mengelola kinerja organisasi. Country manager CIMA di Indonesia adalah Mas Dwi Putra, alumnus Coventry University yang pertama kali mengenaliku sebagai anggota Order of the Phoenix gegara layar Aifon-ku menampilkan logo klasik Coventry University.

Atas undangan CIMA, tanggal 12 Februari 2026 ini di Gedung Cyber 2 aku mengisi sesi CIMA Strategic Leaders Breakfast Talk dengan judul “Leadership in the Age of Disruption — Strategic Leadership for Modern Finance Professionals”. Plan awal, aku jadi pembicara tunggal. Namun kemudian ditambahkan Bapak M Fahmi El Mubarak, CEO BUMN School of Excellent. Wow, a real honour for me untuk sepanggung beliau.

Sesuai briefing dengan CIMA, aku mendetailkan disrupsi dari perspektif kompleksitas. Bahasan diawali dengan dekonstruksi terhadap model ekonomi neoklasik, dan membuka wawasan atas ekonomi kompleksitas. Keseluruhan bisnis ditinjau sebagai Complex Adaptive System (CAS), yaitu sistem yang terdiri atas agen otonom yang saling berinteraksi dan beradaptasi tanpa kontrol terpusat yang kaku. Ekosistem dipandang sebagai interaksi dinamis yang menghasilkan nilai-nilai baru secara non-linier melalui proses emergence.

Dari perspektif ekonomi kompleksitas, disrupsi bukanlah gangguan, melainkan mesin evolusi yang menandai pergeseran rezim ekonomi secara kualitatif. Strategi kini berpindah dari sekadar optimisasi model lama menuju desain ulang arsitektur bisnis yang mengutamakan kecepatan belajar dan co-evolution dengan ekosistem. Keunggulan kompetitif tidak lagi ditentukan oleh skala atau efisiensi statis, melainkan oleh fleksibilitas arsitektural dalam merespons umpan balik internal dan eksternal secara konstan.

Disrupsi juga merupakan titik optimal terjadinya inovasi. Kita menyebutnya the Edge of Chaos, yaitu zona transisi antara keteraturan (order) dan ketidakteraturan (chaos). Pada zona ini, sistem memiliki keseimbangan yang tepat untuk memicu inovasi tanpa terjatuh ke dalam anarki. Keteraturan yang terlalu kaku hanya akan membawa organisasi pada stagnasi, sementara kekacauan total akan berujung pada kegagalan sistemik. Tugas leadership adalah menjaga organisasi tetap berada di ambang ini untuk memastikan keberlanjutan melalui eksperimentasi yang adaptif.

Dalam model ekosistem, peran leadership adalah sebagai ecologist. Pemimpin tidak lagi mendikte output secara mikro, melainkan bertugas memfasilitasi budaya dan ekosistem agar tim bisa mengorganisir diri secara mandiri. Pendekatan ini menggunakan aturan-aturan sederhana (simple rules) untuk memandu pengambilan keputusan otonom, menggantikan SOP yang seringkali terlalu rapuh menghadapi ambiguitas. Pemimpin harus berani melakukan safe-to-fail probing: meluncurkan berbagai eksperimen kecil secara simultan untuk mendeteksi peluang strategis yang mungkin terlewatkan oleh model analisis tradisional.

Kembali ke CIMA yang berfokus ke management accounting (MA). MA memiliki peran krusial dalam mengendalikan perencanaan strategis di era eksponensial ini melalui kerangka SPX dari IEEE. MA harus mampu melakukan Strategic Cost Management untuk memantau horizon masa depan, menggunakan Real Options Analysis untuk menilai investasi sebagai opsi strategis, serta menerapkan Agile Capital Budgeting. Dengan meninggalkan anggaran tahunan yang kaku dan beralih ke Rolling Forecasts serta Throughput Accounting, MA memastikan bahwa alokasi sumber daya didasarkan pada umpan balik real-time dan kecepatan konversi nilai.

Sebagai penutup, disampaikan bahwa disrupsi harus dikelola sebagai katalis untuk mencapai keberlanjutan dan kualitas hidup yang lebih baik. Kita harus berhenti memandang bisnis sebagai mesin yang harus dikontrol secara mekanistis, dan mulai mengelolanya sebagai ekosistem hidup yang memiliki kapasitas untuk terus memperbarui dirinya sendiri. Juga, inovasi terbaik adalah inovasi yang mampu menciptakan pasar baru dan memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi masyarakat.

Market-Creating Innovation

Ternyata aku pernah mèjèng di Instagram @TelkomIndonesia yang terkenal itu. Bagian kecil dari banyak kisah keberhasilan Padi UMKM di diprakarsai Telkom Indonesia dan ditumbuhkan para BUMN di bawah kepemimpinan Kementerian BUMN.

Cuplikan pada gambar di IG itu diambil dari sambutanku pada Padi Business Matching beberapa waktu lalu, yang juga sekaligus melaporkan interim report dari pencapaian total peran Padi UMKM memberikan transaksi sebesar 6 triliun rupiah selama 2024. Kutipan lengkapnya lebih jail dari yang tertulis: “Inovasi penciptaan platform itu soal kecil. Serahkan saja pada Telkom, pasti beres. Inovasi yang betul-betul hebat adalah inovasi penciptaan market, yang sudah dilaksanakan para BUMN dengan mengubah operasi procurement jadi kapabilitas penciptaan market, dan diakui sebagai inovasi yang berhasil.”

Fotonya sendiri diculik team Corcom dari foto bersama the Coventry Gang di TEMSCON ASPAC 2024 di Sanur.

Sambutan dalam kegiatan itu agak impromptu, disiapkan hanya beberapa menit sebelum naik, karena ternyata opening speech kegiatan ini dilakukan Telkom, bukan dari Kementerian BUMN. Jadi di dalamnya malah masuk teori kompleksitas, teori ekosistem, dan tentu inspirasi Clayton Christensen tentang inovasi.

Dalam bukunya yang terakhir sebelum beliau wafat, yaitu The Prosperity Paradox, Clayton Christensen menjelaskan bahwa inovasi penciptaan pasar (market-creating innovation) adalah jenis inovasi yang tidak hanya meningkatkan efisiensi atau mengoptimalkan pasar yang sudah ada, tetapi menciptakan pasar baru yang sebelumnya tidak ada. Inovasi ini berfokus pada penciptaan bisnis yang mengubah non-konsumen menjadi konsumen dengan membuka akses baru dan memberikan nilai bagi masyarakat. Konsep ini berbeda dengan inovasi efisiensi atau inovasi yang berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek. Dalam konteks BUMN seperti di atas, mengubah operasi procurement menjadi kapabilitas penciptaan market sejalan dengan bagaimana perusahaan dapat menyusun inovasi lebih dari strategi pertumbuhan yang dangkal seperti follow the money dan low hanging fruit, atau hanya pada efisiensi biaya; tetapi justru dengan menggiring atau bahkan menciptakan pasar baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan inklusi.

Padi UMKM diluncurkan sebagai bagian dari Gernas BBI di tahun 2020, pada saat negara sedang mendorong berbagai pihak menciptakan program untuk menghidupkan kembali ekonomi rakyat yang tenggelam akibat krisis Covid. Tahun itu, kami sempat dipanggil KSP. Di sana, disampaikan bahwa dari sekian proposal program pengembangan ekonomi berbagai K/L pada tahun krisis 2020 itu, hanya Padi UMKM (Telkom / Kementerian BUMN) yang betul-betul jalan dan memberikan nilai yang cukup besar. Banyak yang lain masih terhambat berbagai faktor. Program Bela Pengadaan di jalan, tapi valuenya kecil. Sepanjang 2021, kami kampanyekan Padi UMKM dalam arus utama program pemulihan ekonomi nasional melalui Gernas BBI. Dan pada tahun 2022, sebagai ekspansi program ini, negara memberikan kepercayaan kepada Telkom untuk menyiapkan platform pengadaan publik baru yang dikelola LKPP.

BBI Papua

Gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) edisi Agustus 2022 dilaksanakan di Provinsi Papua, dengan campaign manager Kemkominfo. Seperti tahun 2021 lalu, Kemkominfo menggelar aktivitas pembinaan UMKM sebelum menyelenggarakan acara perayaan (a.k.a. harvesting). Peran Telkom — selain tentu saja menyediakan infrastruktur, platform, dan layanan digital berkualitas terbaik di dunia (xixixi) — adalah membina para UMKM.

Ini tentu memang bagian dari strategi perusahaan untuk mengembangkan strategi bisnis berbasis ekosistem yang berfokus pada pengembangan ekonomi masyarakat, sesuai panggilan Clayton Christensen dalam The Prosperity Paradox.

Kickoff dilaksanakan di Jayapura, 14 Juli 2022. Team Telkom tiba di Jayapura 13 Juli 2022 dan mengawali kegiatan dengan koordinasi dengan BRI sebagai pengelola pembinaan UMKM Jayapura (via Rumah BUMN Jayapura). Kegiatan pembinaan telah berlangsung rutin, dan kami memastikan bahwa komersialisasi B2B melalui Padi UMKM telah dijalankan di Jayapura. UMKM binaan RB Jayapura ini diundang juga dalam kickoff BBI Papua.

Kickoff dilaksanakan dalam bentuk digitalk yang menghadirkan PIC dari Kemkominfo, Telkom, dan Bank Indonesia (plus beberapa brand pendukung lain yang cuma hadir secara online). Hadir juga perwakilan UMKM dan komunitas pengembangan UMKM.

Kegiatan pembinaan UMKM berikutnya dilaksanakan bulan Agustus 2022 di kota Merauke. Team Telkom mendarat di Merauke (dengan Garuda Jakarta–Jayapura–Merauke) pada 3 Agustus 2022. Kegiatan di hari itu meliputi kunjungan ke Rumah BUMN Merauke yang dikelola oleh Telkom Indonesia.

Kegiatan pelatihan digelar di Coreine Hotel, dengan konten komersialisasi dengan (sekaligus onboarding di) Padi UMKM, serta pendanaan UMKM yang menghadirkan Pimpinan Cabang Pegadaian Merauke. Kegiatan memakan waktu hampir sehari penuh karena minat yang tinggi dari para UMKM.

Kemkominfo juga menyelenggarakan Digitalk di Merauke yang menghadirkan Wakil Bupati Merauke, ditambah PIC dari Kemkominfo, Telkom, dan Bank Indonesia (plus beberapa brand pendukung lain yang cuma hadir secara online) — jadi semacam reuni.

Usai Digitalk, kami menyempatkan diri meninjau perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini: titik KM0 dari Merauke ke Sabang, kalau kita ikuti arah bumi berputar. Tempatnya di Distrik Sota, Merauke.

Sempat berbincang juga dengan beberapa warga Papua Nugini di balik pagar perbatasan. Anak-anak kecil PNG ini lucu-lucu tapi bandel. Suka sekali bermain-main dengan rambutku. Mereka cakap berbahasa Indoenesia dan bahasa Inggris.

Tak hendak memubazirkan waktu yang sangat singkat di Merauke, kami juga mengunjungi titik pembinaan UMKM yang dilakukan oleh komunitas setempat.

Acara puncak Gernas BBI Papua dilaksanakan kembali di Jayapura, 24 Agustus 2022. Dari Telkom, hadir GM Witel Papua (Pak Agus Widhiarsana) dan team dari RMU, Corcom, dan Synergy; serta tentu dari Telkomsel (GM: Pak Agus Sugiarto). Selain memastikan kelancaran kegiatan (incl infrastruktur) dan turut merayakan kolaborasi pembinaan UMKM, kami juga mengkampanyekan virtual expo.

Pemerintah diwakili Kemkomarves (Deputi Koordinasi Parekraf, Bapak Odo Manuhutu), Kemkominfo (Dirjen IKP), Kemdagri, etc. Selain BI dan Telkom, brand pendukung lain kini hadir secara onsite juga. Demo virtual expo dilakukan oleh perwakilan dari kementerian-kementerian, dipandu PIC dari Telkom. UMKM yang hadir meliputi UMKM binaan Telkom dan komunitas pembina UMKM lain (incl BI, Pemprov, Pemkab, Dekranas etc).

Intinya, kegiatan-kegiatan di Papua ini berjalan cukup baik; dan tentu saja memerlukan komitmen, kapabilitas, dan kolaborasi lebih kuat untuk keberlanjutan program demi mencapai tujuan memakmurkan rakyat Papua melalui ekonomi digital.

Lalu kita lanjutkan pekerjaan lain seraya menanti rembang petang saat matahari terbenam; di tepi Teluk Cendrawasih, Jayapura.

Ternate & Tidore

Kerajaan Ternate dan Tidore adalah bagian penting dari sejarah Indonesia. Dua kerajaan di dua pulau kecil di barat Pulau Halmahera ini memiliki kekuasaan di nyaris seluruh Indonesia Timur. Ternate menguasai hingga Mindanao, Sulawesi utara dan tenggara, Papua barat, Halmahera utara; sementara Tidore menguasai Halmahera selatan hingga Papua. Bersama Makian dan Moti, wilayah ini dikenal sebagai Moloku Kie Raha (Persatuan Empat Kerajaan) yang kemudian disebut Maluku.

Gunung Tidore tampak dari Pulau Ternate

Maluku, bersama dengan berbagai wilayah nusantara lain, terlibat dalam perdagangan internasional sejak awal milenium pertama. Jalan sutra serta perdagangan lintas Samudera India hingga Yaman, ke negeri Syam, lalu ke Eropa, memiliki ujung timur di kepulauan ini, dengan berbagai rempahnya yang mewarnai budaya dunia. Didudukinya Konstantinopel oleh Kekhalifahan Utsmany mendorong bangsa Eropa mencari jalan ke ujung rantai perdagangan ini, dengan Portugal berlayar jauh ke timur dan Spanyol jauh ke barat, hingga mencapai wilayah Maluku. Sempat Ternate bersekutu dengan Portugal, sementara Tidore bersahabat dengan Spanyol — namun akhirnya semuanya jatuh ke penguasaan keji VOC. Di abad ke-21 ini, kita mendapati bahwa wilayah ini, yang kini dipersatukan dalam Provinsi Maluku Utara, memiliki tingkat ekonomi yang cukup rendah dibandingkan banyak wilayah lain di Indonesia.

The Sultanate of Ternate in the era of Sultan Baabullah.

Aku mendarat dengan GA648 di Sultan Baabullah Airport, Ternate, hari ini pukul 7:45 WIT. Sebetulnya sempat mengharapkan ada waktu untuk diskusi ringkas tentang rencana perluasan program pembinaan UMKM Maluku Utara dengan rekan-rekan Telkom di Ternate dan Halmahera. Telkom telah memiliki UMKM binaan yang produknya dapat diunggulkan, dan aku sudah dapat list-nya dari Bang Lonely Baringin, GM Witel Sulut & Malut — namun seluruh manajemen Telkom di Indonesia bagian Timur sedang menghadiri rakor di Kepulauan Maluku Tengah :).

Sultan Baabulah Airport dengan Latar Gunung Gamalama di Ternate

Sebagai bagian dari misi memperkuat kembali ekonomi wilayah Maluku Utara, khususnya ekonomi UMKM, kami berkunjung ke Ternate dan Sofifi (Ibukota Provinsi Maluku Utara, di Pulau Halmahera). Kementerian Desa PDTT memperoleh tugas sebagai campaign manager Gernas BBI di Maluku Utara, didukung berbagai top brands pendukung BBI, termasuk Telkom. Kegiatan diawali dengan kickoff hari ini, dengan acara puncak bulan September.

Kickoff dilaksanakan di Kantor Gubernur Maluku Utara yang terletak di lereng bukit di Sofifi, Pulau Halmahera. Seluruh rombongan dari Jakarta dan Ternate bertolak dari Pelabuhan Ternate ke Sofifi dengan speed boat dengan waktu ±40 menit.

Kickoff hanya berisi statement tentang visi dan lingkup program, diikuti komitmen para stakeholder program atas aktivitas yang akan dilaksanakan. Sederhana dan efektif. Diskusi selanjutnya dilaksanakan dalam waktu yang tersisa secara informal; baik dengan Kementerian Desa & PDTT sebagai campaign manager, maupun dengan stakeholder lain. Harvesting BBI Maluku Utara akan dilaksanakan September tahun ini — didahului BBI Kalimantan Selatan bulan Juli ini dan BBI Papua bulan Agustus.

Pulau Messa

Latepost: 06-10-2019

Mesa, Messa, atau Messah — pulau renik antara Pulau Flores dan Pulau Komodo yang dihuni suku Bajo. Pulau ini dihuni ±400 keluarga atau ±2000 penduduk. Suku Bajo memang secara tradisional dikenal sebagai manusia laut, jadi skala hidup mereka menyeberangi batas pulau; dan mereka juga kurang menyukai hidup di pulau besar bersama manusia daratan. Kota Labuan Bajo di Pulau Flores — sebelum jadi tujuan wisata utama seperti kini — sebelumnya adalah pelabuhan tempat masyarakat Flores dan masyakarat nusantara lain bertemu dan berdagang dengan suku Bajo (hence the name).

Pulau Messa, tampak di Apple Maps. PLTS tampak di bagian utara pulau.

Pemerintah Indonesia sedang memberi perhatian lebih ke daerah terpencil semacam ini. Maka PLN diminta membangun pembangkit listrik tenaga surya di Messa. Adanya listrik membuka peluang lain. Telkomsel juga membangun eNodeB untuk 4G mobile, dan Telkom siapkan dukungan digital untuk pendidikan. Terdapat satu SMP di pulau itu, dan kami akan menempatkan 20 komputer dengan akses Internet di sana.

Aku belum menyelesaikan sarapan waktu Pak Hery dari CDC Telkom meminta kami berangkat. Sebuah perahu kayu berwarna pirus (hijau turki) tengah dimuati 20 box komputer. Bergegas kami melintasi jarak 10km dari Dermaga Ujung ke Pulau Messa.

Di kapal tidak ada makanan, haha. Tapi kopi manis dan cuaca cerah bikin pikiran cerah dan badan segar. Kemarau panjang membuat pulau di sekitarnya tampak gersang, namun justru menampilkan warna tanah dan batuan nan eksotik. Dan ada awan putih memanjang yang unik.

Hampir pukul 09:00, kami tiba di dermaga Pulau Messa. Tampak belasan anak kecil tertawa riang dan saling mengganggu. Satu per satu kotak komputer kami pindahkan ke dermaga. Dan anak-anak itu langsung lari membawa kotak itu. Kami ikut tertawa. Aku tertinggal di dermaga hanya dengan papan keterangan program yang kami siapkan, dan dua putri cilik. Papan itu pun mereka minta. Aku serahkan sambil bilang: “Tapi saya jangan ditinggal. Saya belum tahu sekolahnya.”

Jadilah aku dikawal dua putri cilik ini menyusuri rumah-rumah kayu bertumpuk-tumpuk yang rapi di jalan kecil yang sangat bersih dan rapi di Pulau Messa ini. Penduduk memberi salam sewajarnya. Sampai di SMP, aku lihat kotak-kotak komputer sudah mulai dibongkar, dan dipasang di meja-meja yang sudah tersedia. Aku istirahat sejenak dengan … kopi lagi. Segar.

Usai komputer, akses Internet, dan aplikasinya terpasang, murid-murid SMP Pulau Messa hadir ke sekolah. Ini hari Minggu, namun mereka hadir dengan seragam lengkap dan antusiasme yang tampak jelas dari mata cerah mereka. Kami mulai bergantian mengajari mereka cara mengoperasikan komputer, menggunakan keyboard dan mouse, memahami menu Windows, serta masuk ke aplikasi Pustaka Digital. Aplikasi Pustaka Digital (PADI) ini bersifat semi-online — hanya perlu online untuk mengunduh dan memperbaharui konten, namun kemudian tidak harus selalu online untuk digunakan oleh user — sehingga hemat pemanfaatan kuota digital.

Di sini keajaiban mulai terjadi. Anak-anak ini, beberapa menit sebelumnya sangat canggung memegang mouse. Lompat ke mana-mana, sampai diangkat ke mana-mana. Tapi setelah masuk aplikasi, mereka mulai asyik melihat materi pelajaran. Satu anak kecil berkerudung mencobai tes bahasa Inggris, yang merupakan gabungan dari kosakata dan tata bahasa. Di pertanyaan pertama, ia ragu akan jawaban yang ia pilih, dan minta aku memeriksa. Aku meminta dia memeriksa sendiri: kenapa dia pilih satu kata dan bukan kata lain. Dia ragu memilih satu jawaban. Dan riang sekali waktu jawabannya benar. Terulang di pertanyaan kedua. Riang lagi waktu dia benar. Dia jadi percaya diri, dan melanjutkan tanya bertanya. Dan, percayalah, semua jawaban dia benar. Score 100% pada percobaan pertama. Pulau unik dengan anak-anak jenius.

Di belakang, kepala sekolah (yang sebelumnya turut menginstalasi dan turut mengajar) berdiri diam melihat anak-anaknya asyik mencobai aplikasi ini. Ia ceritakan bahwa bertahun-tahun dia mengajukan proposal permintaan komputer ke Dinas Pendidikan. Setelah beberapa tahun, ia hanya mendapatkan satu komputer untuk administasi saja. Wajahnya menjadi keras, senada batik biru lengan panjangnya. Lirih ia lanjutkan: “Bapak lihat, dengan komputer-komputer ini, anak-anak ini tidak akan kalah maju dengan anak-anak Jakarta.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

Cukup banyak yang bisa dilakukan dengan komputer dan akses mobile. Jadi aku berikan kesempatan pada para siswa untuk menanyakan apa saja. Mereka sungguh cerdas, dan menanyakan tentang berbagai hal, termasuk soal-soal sains. Haha. Di tengah kegiatan ini, kami sempatkan berfoto-foto lagi.

Menjelang sore, Menteri BUMN (waktu itu masih Bu Rini) datang ke Pulau Messa untuk meresmikan PLTS di ujung utara Pulau Messa. Beliau juga menyempatkan diri hadir ke SMP untuk melihat aplikasi pendidikan yang telah dapat digunakan oleh para siswa. Hadir juga para VIP BUMN, termasuk Dirut Telkom.

Kepala Sekolah, Menteri BUMN, Dirut Telkom, dan Siswa SMP Pulau Messa

Setelah para VIP kembali ke Labuan Bajo, Kepala Sekolah mengundang kami makan siang yang terlambat di rumahnya. Kami tak bisa menolak, walaupun matahari mulai tenggelam. Lauk yang disajikan a.l. berbagai jenis ikan, udang, dan satu lobster besar (“Di sini sangat murah. Di Labuan Bajo bisa 500ribu itu,” — yang artinya di Jakarta dll bisa jutaan rupiah).

First sunset

Perahu kami lepas tambang dari dermaga tepat saat matahari terbenam. Pemandangan yang luar biasa. Lapis mendung di ujung langit memberikan pengalaman matahari terbenam dua kali. Langit bernuansa merah ungu yang elegan.

Second sunset

Namun kemudian langit menjadi gelap, angin menjadi kencang, dan ombak makin liar meninggi. Kapal dan perahu besar yang melintas di kejauhan menambah hempasan ombak liar. Kelelahan, kami tidak sempat becanda lagi. Kopi juga sudah habis. Kami hanya diam, diiringi bunyi mesin perahu, dan kelap-kelip lampu hijau yang jadi penanda hadirnya perahu kami di tepi samudra luas.

Bukittinggi

Satu kota di Indonesia yang wajib dikunjungi adalah Bukittinggi. Jadi, begitu disebutkan bahwa Gernas BBI bulan ini akan diselenggarakan di Bukittinggi, aku langsung siap2 berangkat. Ini kota mungil, terletak di tengah Pegunungan Bukit Barisan, diapit gunung berapi Marapi dan Singgalang. Mungil tapi bersejarah besar buat negeri ini. Selain sebagai tempat kelahiran Bung Hatta, kota ini juga pernah menjadi ibukota darurat Republik Indonesia, saat Yogyakarta (ibukota darurat sebelumnya) diduduki secara ilegal oleh Kerajaan Belanda.

Perjalanan dari Minangkabau Airport ke Bukittinggi memakan waktu ±2 jam. Tak membosankan, dengan view pegunungan dan lembah yang luar biasa di daerah Padang Pariaman dan Padang Panjang. Di Bukittinggi, kunjungan pertama langsung ke Jam Gadang. Di pelataran menara jam kota inilah akan dilaksanakan kegiatan Gernas BBI.

Telkom menyiapkan virtual expo (VE) dalam bentuk visualisasi booth secara interaktif, berisi UMKM unggulan dari 12 provinsi lokasi BBI tahun ini. Aplikasi VE ini baru saja siap, dan sekaligus akan diresmikan Wakil Presiden RI di Bukittinggi ini. Kami melakukan persiapan secukupnya, tidak berlebihan, untuk kegiatan yang sederhana namun menyimpan berjuta arti ini :).

Usai berbuka puasa di rumah makan khas Minang di Ngarai Sianok, aku menyempatkan Shalat Tarawih berjalan kaki. Kota ini sejuk, mirip kota Malang atau Bandung dua puluh tahun lalu. Tarawih di Bukittinggi jadi bawa banyak kenangan dari masa-masa tinggal di kota-kota sejuk. Usai tarawih, aku jalan kaki kembali ke pelataran Jam Gadang untuk melihat persiapan akhir event.

Event berlangsung 12 April 2022. Wakil Presiden membuka Gernas BBI Sumatra Barat, kemudian menyempatkan diri menyaksikan demo VE Gernas BBI di Booth Telkom. Demo dipandu Direktur Strategic Portfolio Telkom, Mr Budi Setiawan.

Para peserta kemudian mengunjungi dan berbincang dengan para UMKM. Kami berbincang dengan Mr Odo Manuhutu, Deputi Koordinasi Parekraf di Kemkomarves; serta secara terpisah dengan para Asdep beliau, Mr Sartin dan Mme Hermin.

Sayangnya kurang panjang kunjungan ke Bukittinggi ini. Masih banyak tempat yang harus dijelajahi di sekitar kota ini, untuk menggali inspirasi segar dan baru buat memperkuat negeri ini.

Flobamora

Eposide di Q2 2021 ini berjudul Gernas BBI Flobamora: tiga buah singkatan yang kepanjangannya bisa digoogle. Pada Q1 2021 vaksinasi Covid-19 telah dimulai; dan aktivitas pengembangan ke wilayah sudah dapat dilanjutkan kembali. Kami beroleh tugas di provinsi NTT. Di awal, fokus hanya pada sebagian Flores dan Sumba, namun kemudian diperluas ke seluruh NTT. Aktivitas sangat diwarnai keterbatasan akibat berbagai pembatasan masa krisis; plus sempat juga ada topan Seroja di NTT bulan April.

Kegiatan diawali di pertengahan Maret dengan pre-event yang dilaksanakan oleh Kemkominfo, Telkom, Dekranas, dan Bank Indonesia di Labuan Bajo. Telkom mengajukan tema Kilau Digital Permata NTT, yang oleh Staf Khusus Menkominfo, Pak Phillip Gobang, diubah menjadi Kilau Digital Permata Flobamora. Kegiatan direncanakan berupa piloting integrasi berbagai ekosistem digital yang mendukung ekonomi rakyat, termasuk UMKM, pertanian, perikanan, pariwisata, hingga layanan kesehatan dan pendidikan. Pelatihan awal dilakukan dalam bentuk training-for-trainers di RB Labuan Bajo — sebuah fasilitas milik para BUMN yang memang ditujukan untuk memberikan pembinaan dan layanan lain untuk UMKM.

Talkshow di Pre-Event Gernas BBI Flobamora di Labuan Bajo

Sempat terhenti akibat terpaan Seroja, kegiatan ini dilanjutkan di Kabupaten Sikka, Pulau Flores. Di Maumere, kegiatan dilakukan dengan penyelenggaraan pelatihan untuk UMKM, serta beberapa kunjungan pada UMKM yang memiliki keunggulan atau keunikan. Termasuk yang kami kunjungi adalah Workshop Tenun Lepo Lorun di Kecamatan Nita.

Talkshow Gernas BBI Flobamora di Maumere

Diasuh oleh Ibu Alfonsa Horeng, Lepo Lorun (yang dalam bahasa Indonesia berarti Rumah Tenun) ini memungkinkan penduduk di Nita bekerja menghasilkan kain tenun tradisional Maumere yang berkualitas. Bahan-bahan serba alami. Bahkan kapas pun ditanam di sana. Ibu-ibu berusia lanjut memintal kapas menjadi benang dengan pintal kayu kecil serta uliran dari tangan. Benang kemudian ditarik pada sebuah papan, dan didesain pola warna tenunnya, dengan cara diikat dengan batang alang-alang kecil. Benang kemudian diwarnai dengan pewarna alam dari bahan yang ditanam di tempat pula: kunyit untuk kuning, nila untuk biru, mengkudu untuk merah, kayu-kayu untuk coklat, dll. Proses ini diulangi hingga tersusun benang berwarna-warni. Dengan alat tenun tradisional, benang-benang ini ditenun menjadi kain tenun ikat dengan berbagai corak yang indah. Kapasitas produksi yang kurang memadai membuat Lepo Lorun dan banyak lokakarya setempat harus membeli benang jadi juga dari pasaran.

Pemintalan Benang di Lepo Lorun
Proses Mengikat Benang Tenun di Lepo Lorun
Proses Tenun di Lepo Lorun

Di hari berikutnya, kami kunjungi Desa Wisata Watublapi di kecamatan Hewokloang. Desa ini juga merupakan sentra industri berbasis komunitas yang terdiri atas puluhan keluarga, yang berkolaborasi untuk menghasilkan kain tenun berkualitas dengan cara tradisional. Di sini, proses produksi dipaparkan lebih lengkap, karena kami hadir bersama beberapa pejabat dari Kemkominfo, Kem-KUKM, dan Pemkab Sikka.

Bahan-Bahan Pewarna Kain Tenun di Desa Wisata Watublapi
Proses Tenun di Desa Wisata Watublapi
Upacara Pengenaan Kain di Desa Watublapi
Memberikan sambitan / sambutan di Watublapi

Di Maumere, ibukota kabupaten Sikka, team ekosistem pertanian juga menyiapkan kerjasama digitalisasi offtaking produk perikanan dan pertanian, yang didukung Pemkab Sikka.

Setelah Maumere, kunjungan berikutnya adalah Kupang, Ibukota Provinsi NTT, di Pulau Timor. Pelatihan UMKM di sini dilaksanakan oleh team dari Witel NTT; sedang talkshow dilakukan di Hotel Aston Kupang.

Talkshow Gernas BBI Flomabora di Kupang

Selain pelatihan untuk UMKM, kami juga mengunjungi pusat produksi tenun Inda Ndao. Walaupun terletak di Kupang, Ina Ndao banyak menampilkan motif dari Ndao, salah satu pulau kecil paling selatan di Indonesia, bersebelahan dengan Rote. Pemiliknya, Bu Dorce, pernah mendapatkan pembinaan dari Telkom dan BI, namun kini telah dapat membina UMKM lain, termasuk memiliki komunitas UKM Naik Kelas di Kupang.

Bersama Bu Dorce dan Pak Yus di Sentra Produksi Rumah Tenun Ina Ndao, Kupang
Jadi model di Ina Ndao

Di Kupang, kami juga ke La Moringa. Ini bukan kunjungan pembinaan dll, haha. Tapi memang cari tempat lunch yang bersuasana riang di Kupang. AM Telkom yang merangkap fasilitator UMKM di Kupang, Leevenia, menganjurkan ke La Moringa. Selain berupa resto & café, La Moringa juga memproduksi kuliner oleh-oleh yang bahannya diambil dari daerah setempat, terutama daun kelor. Pelopor dan pemilik La Moringa ini seorang dokter; namun berbagai koordinasi dipercayakan pada PIC-nya, Edyth Coumans.

Bersama Ey Coumans di Booth La Moringa, Komodo

Sayangnya, akibat sempat terjadi topan Seroja, kegiatan-kegiatan ini sempat tertunda, jadi kami belum punya waktu untuk menjalankan program di Pulau Sumba. Bulan Juni sudah hadir, dan kami siapkan kegiatan puncak di Labuan Bajo. Pada kegiatan ini, dipercepat kembali kegiatan2 digitalisasi ekosistem di NTT, termasuk pembayaran digital di pasar di Kupang dan Labuan Bajo, offtaking di Sikka yang diperluas ke seluruh NTT, serta promosi produk UMKM NTT melalui Virtual Expo Flobamora. Juga dilakukan evaluasi kembali atas kegiatan yang tengah dilakukan di NTT. Salah satunya adalah dengan pemeriksaan kondisi di Desa Wisata Liang Ndara, binaan dari Telkom Indonesia.

Ditemani Bapak Kristo dalam kunjungan ke Desa Wisata Batu Cecer, Liang Ndara

Sebagai acara puncak, dilaksanakan ceremony yang dilaksanakan di Puncak Waringin, Labuan Bajo, pada 18 Juni 2021 ini. Ceremony dihadiri Menkomarves Luhut Panjaitan, Menkominfo Johny Plate, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Direktur Strategic Portfolio Telkom Indonesia Budi Setyawan, serta representative dari beberapa kementerian dan Bank Indonesia. Beberapa UMKM yang telah kami temui di Maumere, Kupang, dan Manggarai kami jumpai kembali di Puncak Waringin ini.

Beberapa UMKM Mitra Kerja Gernas BBI Flobamora

Kembali ke Jakarta, kegiatan Virtual Expo diperkaya dengan beberapa webinar yang menampilkan para pimpinan dari gerakan nasional ini, termasuk dari Dekranas, Bank Indonesia, Kemkominfo, BPOLBF, dan tentu dari Telkom Group sendiri. Para UMKM peserta Virtual Expo juga mulai diberikan akses ke pasar B2B ke para BUMN melalui PADI UMKM untuk memastikan kontinuitas transaksi.

Diskusi keberlangsungan program dengan Staf Khusus Menkominfo, Bapak Phillip Gobang, di Puncak Waringin
Bahas Rencana Lanjutan dengan Dir Pemasaran BPOLBF, Bu Raisa Lestari

Secara umum, kegiatan ini berhasil membentuk rantai ekosistem, membentuk jejaring antar komunitas yang memiliki berbagai bentuk komitmen dan kapabilitas untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi rakyat, khususnya UMKM dan pertanian di provinsi NTT; untuk kemudian pola serupa digunakan dalam ekspansi ke provinsi lain yang tentunya memiliki keunggulan dan keunikan masing-masing — dan menyimpan berbagai potensi menakjubkan yang hanya dapat dipahami saat kita turun dan melihat langsung ke berbagai pelosok Indonesia ini.

Tim kecilku, bagian dari Satgas BBI Flobamora: Haekal, Andien, Ervina, & special agent Leevenia

Oh, kami masih punya hutang untuk pergi ke Pulau Sumba.

Transformasi di Masa Krisis

Aku mem-WFH-kan diri di awal Maret tahun ini karena mendadak kena flu, baru bergabung dengan WFH resmi yang berlangsung panjang hingga menjelang Juli. Pun di hari-hari awal, sambil melihat yang terjadi di RRC dan Eropa, aku mulai mencatat prediksi-prediksi yang tidak optimis, termasuk bahwa (a) virus ini tidak akan pergi, dan kita yang harus menyesuaikan diri, serta (b) andaipun wabah menghilang, perilaku orang sudah berubah, setelah mengalami bahwa banyak aktivitas sebenarnya dapat didigitalkan. Dilengkapi beberapa kajian paper tentang transformasi di level ekosistem dll, sebenarnya aku siap memaparkan pada IEEE Leadership Summit: Engineering in Covid-19 Crises beberapa bulan lalu. Namun, ternyata aku lebih mengasyiki jadi moderator daripada jadi speaker :).

Beberapa bagian dari rencana presentasi itu akhirnya dimanfaatkan hari ini. Atas undangan Mr Ford, hari ini aku bergabung sebagai salah satu speaker dalam diskusi meja bundar (Round Table) dengan judul Business Development in the COVID-19 era: Challenges and Opportunities. Diskusi diselenggarakan Southern Federal University (SFedU) di Rostov, Russia. Narasumber diskusi ini berasal dari kalangan bisnis dan akademisi dari Jepang, Italia, Thailand, Indonesia, dan tentu saja Russia sendiri.

Roundtable dengan MS Team

Paparanku dimulai dengan fakta bahwa dalam beberapa dekade terakhir, sebenarnya perusahaan global dan / atau perusahaan digital memiliki kecenderungan untuk mengembangkan bisnis dengan menumbuhkan ekosistem; dan hal ini mau-tak-mau telah mengubah perilaku dan budaya masyakarat. Jadi, bahkan tanpa krisis dan pandemi pun, transformasi digital dan ekosistem bisnis sudah menjadi keniscayaan. Pandemi hanya mempercepat.

Tahap Transformasi Yang Didorong Krisis

Krisis yang terjadi secara serba mendadak mengharuskan masyarakat untuk mempertahankan aktivitasnya dengan teknologi atau apa pun yang dapat dilakukan. Kantor tutup, tapi orang dapat berkoordinasi dengan teks atau vicon. Rapat dan koordinasi lain jalan terus. Sekolah pun berpindah ke kelas vicon. Ini adalah tahap emergency, saat masyarakat sekedar memanfaatkan teknologi untuk memindahkan aktivitas yang telah ada. Ini segera diikuti dengan fase adaptasi, saatu terjadi perbaikan atau perubahan yang saling adaptif, baik di sisi teknologi maupun di sisi perilaku. Rapat dan koordinasi dianggap wajar dari tempat dan waktu yang tidak harus berdekatan. Informasi yang terbaharui dan kompehensif dapat digunakan bersama untuk mengambil keputusan tanpa harus benar-benar bertemu. Terjadi perubahan yang lebih filosofis. “Mengapa harus rapat? Karena kita ingin semua informasi yang updated dan komprehensif dari berbagai pihak dapat dipertimbangkan dengan berbagai feedback untuk menghasilkan keputusan terbaik. Nah, sekarang, dapatkah ini dilakukan tanpa rapat?” Disiplin pembaharuan data, disiplin pengambilan keputusan dengan informasi komprehensif, serta sistem feedback — yang semuanya sebenarnay dapat dilakukan dengan teknologi informasi yang telah ada sekarang. Maka masuklah kita ke fase transformasi, dengan model aktivitas bisnis, pendidikan, perdagangan, logistik, dievaluasi kembali, dan ditransformasikan memanfaatkan teknologi digital. Ini akan menghasilkan kapabilitas-kapabilitas dan peluang-peluang baru, yang menariknya justru menjadikan krisis ini sebagai pemicu terjadinya ekspansi.

Dan justru di masa krisis semacam ini, dengan keterbatasan yang luar biasa dalam pengembangan kapabilitas serta semakin rumitnya mencari peluang-peluang baru; maka secara pragmatis masyarakat dan bisnis mulai terbuka untuk saling memanfaatkan kapabilitas dan peluang dari pihak lain — terbentuk kolaborasi yang tidak harus bersifat formal, atau dengan kata lain: terbentuk model pertumbuhan melalui ekosistem.

Proses Pengembangan Ekosistem (?)

Ekosistem sendiri dapat tumbuh secara alami, atau tetap dapat ditumbuhkan melalui perencanaan. Ekosistem seperti media sosial, proliferasi aplikasi mobile, dan lain-lain sebagian dipengaruhi oleh strategi yang dirumuskan pengembang platform, sebagian besar diatur oleh para pemakai, termasuk yang menambahkan berbagai feature yang dapat berpeluang menjadi platform yang berbeda. Misalnya, siapa yang lebih platform: Android (yang bisa ditumpangi banyak media sosial) atau Facebook (yang dapat memanfaatkan berbagai sistem operasi)? Namun secara teknologi dan bisnis, tetap perlu dan dapat dilakukan perencanaan pengembangan ekosistem, seperti saat kita mengembangkan bisnis yang bersifat sangat adaptif dan agile. Ekosistem harus dirancang untuk bersifat sangat dan sangat-sangat adaptif sejak awal.

Imagine | Focus | Action

Di dinding sasaran, tertulis mantra besar ini: Imagine, Focus, Action. Ini adalah satu bagian dari kerangka corporate culture Telkom Indonesia, yaitu Key Behaviours as the Practices to be The Winner. Di setiap pelatihan kepemimpinan, practices ini ditanamkan dalam bentuk praktek (hrrrr), i.e. berlatih menembak.

Ini menarik, karena di negara Indonesia yang amat sangat sipil ini, kesempatan warga untuk belajar menembak sangat kecil. Belajar menembak di Kampus Gegerkalong (Le Campus Guerlain) jadi bonus yang dinantikan di pelatihan-pelatihan kepemimpinan. Kans untuk jadi the winner pun merata, karena tak banyak yang pernah berlatih sebelumnya.

Dalam waktu singkat, para peserta dilatih memegang senapan, mengokang, mengintai sasaran, dan sisanya …. “Coba praktekkan yang tertulis di dinding itu. Bayangkan saat peluru mencapai sasaran. Atur posisi senapan tepat pada fokus. Pastikan tepat. Pastikan akurat. Begitu fokus sudah tepat, action! Tembak. Kalau tidak segera action, fokus akan lepas. Silakan dicoba.” Kira-kira cuma seperti itu teorinya.

Hasilnya? The winner!

Itu praktek yang harus dijalankan di dunia bisnis. Di samping hal-hal yang lebih fundamental, hal-hal praktis memerlukan kedisiplinan pemikiran dan tindakan. Tentukan target, pastikan ketepatan, dan segera ambil tindakan setelah dipastikan. Indecisiveness dan kelambatan bertindak adalah kunci kegagalan.

Einmal ist Keinmal

Lesson learnt lain? Saat menembak, hanya ada kita dan sasaran. Tidak ada hal lain. Tidak ada musuh, tidak ada kompetitor. Menembak memerlukan fokus pikiran ke diri sendiri dan ke target, bukan ke hal-hal lain. Keinginan, harapan, kekhawatiran, kebergegasan, semua jadi musuh. Menang tidak dapat dilakukan dengan mengalahkan orang lain — karena orang lain tidak ada, tidak boleh dipikirkan. Untuk menang, kita hanya bisa mengalahkan diri sendiri.

Sekali lagi, untuk menang, kita harus mengalahkan diri sendiri.

« Older posts

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑