


Aku menatap matanya, trus … “Don’t worry, my friend. Please just tell me your problems. I’ll pretend to concern, and I’ll try very hard.”
Dan Chahidi jadi tertawa keras.
Sebenernya aku lagi serius apa lagi becanda sih?
Kayak ada bedanya aja, buat aku :).
Rasanya aku lagi banyak bersalah sama orang-orang di sini. Hari-hari terakhir tesis, plus assesment, plus acara packing yang rumit bener, bikin aku jadi agak acuh. Masih care untuk ngebantuin temen-temen yang kebeneran belum kapok minta bantuan, tapi nggak sepenuh hati. Solve the problem, leave it, forget it. On ne peut pas bon en tout, n’est pas?.
Barangkali aku kurang banyak cerita tentang Waterstone’s. Waktu pertama masuk Waterstone’s di Coventry, aku kagum bener dengan penataan interior toko buku satu ini. Mirip taman bacaan untuk pecinta buku, lengkap dengan sofa dan rak-rak dan penunjuk posisi buku. Tapi Waterstone’s di Leamington lebih bagus lagi. Trus jadi ketagihan membandingkan Waterstone’s di setiap kota. Yang terbagus sampai sekarang masih yang di Nottingham, dengan koleksi buku yang bikin Waterstone’s lain terkesan miskin :). Plus sofa yang tertata dengan konsisten, jadi gampang dicari, plus café dan kamar kecil yang bersih sekali. Yang juga unik adalah resensi buku dari pemilik toko, dengan tulisan tangan cakar ayam khas Inggris, di depan beberapa buku. Waterstone’s Picadilly London yang sering dibanggakan pun nggak sebagus ini.
Tapi hari ini aku ketemu Waterstone’s lain lagi di Birmingham. Ada dua sebenernya. Satu terkesan kecil, tapi di dalamnya luasss sekali. Agak berantakan, tapi koleksinya barangkali selengkap Nottingham. Satu lagi tepat di depan pintu New Street Station, tinggi menjulang. Cara penataan bukunya sama sekali tidak mempermudah pencarian buku. Tapi banyak hal khas di dalamnya. Ada beberapa ruang tematis, kayak satu ruang khusus untuk The Ring dari Tolkien, lengkap dengan pensuasanaan ruang. Di sebelahnya, ada gallery khusus musik klasik. Hey, kenapa aku baru ke tempat ini di minggu terakhir di negara ini? Banyak koleksi prima ditawarkan dengan harga relatif murah. Lengkap sekali. Wagner aja menempati beberapa deret rak. Untung aja aku nggak kemaruk, jadi cuman ambil 3 CD, dan bukan Wagner.
Memang nggak semua Waterstone’s jadi istimewa sih. Yang di Edinburgh misalnya, ditatanya sama jeleknya dengan toko buku Gramedia di Matraman. Yang punya bukan pecinta buku kali. Atau kotanya terlalu bagus, jadi orang lupa menata toko buku.
Luis Filippe de Lucas bergegas naik bis di depan Skydome. Agak kaget ngeliat aku duduk di kursi agak ke belakang.
Aku menyambut, “Surprising, huh?”
“I thought you went to Birmingham,” katanya, masih dengan nada heran.
“Indeed. But it’s frozen outside. It’s better to spend 1 hour on the bus than 20 minutes walking.”
“Exactly, my friend. And you can accompany me too. Listen, I just saw the examination board. You have passed with merit.”
“Really? It’s surprising too, isn’t it?”
Hari ini tiket daytripper tak terlalu banyak dipakai. Banyak jalan kaki saja sampai sore.
Berbuka puasa di Leicester Square (langganan amat sih). Mengelilingi semua sudut di putaran Picadilly. Dan baru akhirnya naik bis ke Trafalgar (nonton choir di tengah lapangan), dan naik Tube ke Victoria, jalan setengah berlari ke terminal Leuwipanjang, dan menghempaskan badan yang kelelahan di bis nomor 422.
Si sopir bermuka serius. Dia menerima tiket dengan kaku. Kesannya kayak lagi main teater. Tadi di dalam bis, aku berubah pikiran. Mungkin saja dia mantan DJ. Announcementnya aneh-aneh, dengan gaya setengah rap.
Aku paksa mata untuk terpejam. Tapi kelelahan menghalangi. Jadi diam aja menikmati kegelapan motorway ke arah Midlands. Waktu mata akhirnya mulai terpejam, si sopir teriak lagi “Ladies and gentlemen, we’re now in Coventry. WAKE UP! What’s the matter with you?” Duh, DJ asli.
Apa yang dilakukan orang waktu dalam kesulitan? Tentu saja minta tolong. Kan kita bermasyarakat. Ada beberapa cara untuk minta tolong. Yang paling mudah, tentu, dengan bilang “tolong”. Tapi ada cara lain, misalnya dengan kata “sialan!” — yang kadang cukup efektif.
Ada kata lain yang juga sering dipakai, ialah kata “analisis”. Itu yang jadi terpikir waktu baca tulisan berjudul analisis mendalam tentang agama, tuhan, dan negara. Judulnya pakai analisis mendalam nih — jadi terharu. Isinya tentang something-something yang berujung pada pendapat penulis bahwa religiositas tertentu akan lebih hakiki daripada agama-agama formal. Jadi lebih terharu juga nih dengan model penghakikian pendapat sendiri seperti itu.
Sekilas tulisan itu berkesan menyerang orang-orang yang menggunakan kaidah-kaidah agama formal dalam kehidupan bermasyarakat. Kesannya terluka sekali hati penulis itu dengan perilaku masyarakat beragama di Indonesia.
Sebenernya tak penting benar membahan mengapa orang memilih kata “analisis” atau bahkan “sialan” dan bukan kata “tolong”, waktu mereka sedang terluka. Yang penting adalah: bagaimana agar kita peka bahwa orang yang berteriak di sana itu sebenernya sedang dalam kesusahan dan perlu bantuan. Sayangnya, umumnya kita malah ikutan menambah luka dengan menyerang balik secara frontal. Reaksi yang konon wajar, soalnya barangkali kita juga bisa luka.
Tapi orang beragama seharusnya lebih tahan pada luka, karena hidupnya diabdikan untuk sesuatu yang lebih dari kefanaan perasaan. Dalam kelukaan pun, kita seharusnya menyembuhkan luka, bukannya ikut menjerit. Agama juga mendidik untuk bertindak arif, bukan mengikuti reaksi sekejap yang seringkali bersifat transien. Kearifan ditunjukkan dengan mencoba memahami apa yang disampaikan orang lain, apa yang sebenarnya benar-benar ingin disampaikan di baliknya, apa sebabnya, dan akhirnya … langkah strategis apa yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah secara tepat, dan bukan sepotong-sepotong.
Justru karena tradisi seperti inilah agama-agama formal bisa bertahan jauh lebih kuat daripada ideologi manusia yang umumnya berusia seumur jagung saja.
Abis nerima mail dari Mr Bídgood, rasanya lebih lapang dikit. Trus meluangkan waktu bikin script PHP buat curi baca berita dari detik·com, buat dipasang di www·kibar·org·uk. Starting from the scratch, setengah jam lebih dikit. Fungsional lah, biarpun rada lucu. Laen kali aja dibenerin.
Satu per satu delegasi FCO4/Chev-2001 mendatangi dapur Claycroft 1 Flat 1 di Warwick University, kediaman Surya Tjandra dan Wina. Plus dua dari FCO2. Edwin dan Bibip dari Warwick. Koen dan Kamto dari Coventry. Ari dari Canterbury. Bahan perbincangan utama meliputi lamb soup, bayam rebus, ayam panggang, bakwan jagung, dan benda-benda serius lainnya. Plus hal-hal kecil semacam dekonstruksi Derrida, proliferasi nuklir, dan ah lupa … semuanya kalah asik sama hal-hal serius tadi sih. Udah agak lama nggak ‘berbincang ‘ se-‘serius’ itu :). Cable&Wireless nggak pernah menyajikan diskusi yang bermutu. Nasinya aja selalu kering, beda sama nasi segar yang dipaparkan oleh Wina. Fajar dari Birmingham University datang terlambat, tetapi membawakan argumentasinya dengan cukup berhasil: cokelat buat dessert.

Pepatah lama mengatakan bahwa satu-satunya yang lebih baik dari seorang sahabat terbaik adalah sahabat terbaik yang membawa cokelat.
Tapi seminar yang meriah ini berlangsung singkat. Abis itu kita harus antar Ari ke Pool Meadow (seminar berikut di Leeds), dan antar Fajar meninjau museum transportasi di Coventry. Tapi hari ini terlalu cepat gelap, dan kelelahan tiba-tiba menggigit.
Walküre (obat tidur manjur) mengisi kamar yang digelapkan. Dua jam secara efektif memulihkan badan. Mandi, shalat gabungan Maghrib-Isya, dan duduk dengan segar tapi masih agak lelah di depan komputer. Dan baru sadar bahwa aku udah kangen sekali suasana Indonesia. Tod und Verklärung mengisi ruang, diiringi raungan mesin pesawat terbang di luar jendela.

Aku ngegeser buku, sebuah buku lain jatuh, dan di atasnya ada gunting yang jadi ikutan jatuh. Di tengah keberisikan buku dan gunting jatuh, pesawat TV jadi hidup. Aku cari remote control, kali dekat gunting. Eh, remote controlnya ada di ujung ruangan (dibikin jauh biar nggak tergoda buat pasang TV).

Alternatif penyebab:
Kayaknya teori terakhir yang paling valid, soalnya kan beberapa minggu y.l. aku kejar-kejaran sama tupai. Aku bongkar aja deh TV-nya. Kasihan tupainya.
Duh, cara aku mengambil kesimpulan kok sama sama pemerintah AS yah.

© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑