Author: Kuncoro Wastuwibowo (Page 73 of 88)

My Bro

Happy b-day, big bro. Sekali-sekali kita mèjèng bareng di web yach. Lagian negatifnya pic yang ini belum ketemu lagi.

Yang Terkenal Itu

Yang ini aku tulis di weblog di komunikasi.org awal tahun 2001:

Domain di Internet dipegang oleh ICANN yang berdiri tahun 1988. TLD yang dikelola dibagi atas TLD generic dan TLD negara. Dari delapan TLD generic, lima dikontrol oleh pemerintah AS atau IANA, induk dari ICANN. Tiga sisanya menjadi kontroversi domain dunia: .com, .net, dan .org. Di atas 20 juta domain menggunakan TLD com. Sulit sekali mencari nama yang masih bisa dipakai dengan TLD itu. Konsumen domain pun akhirnya menggunakan .net (biarpun mereka bukan network provider) dan .org (biarpun mereka bukan non-profit). Negara-negara tertentu melihat peluang untuk menawarkan TLD negara mereka untuk siapa saja tanpa memandang kewarganegaraan dan kepentingan. Domain-domain negara dipelesetkan sehingga memiliki arti baru. Yang paling terkenal tentu Tuvalu, yang domain .tv nya dipopulerkan untuk situs-situs TV, dan mendatangkan income $4 juta per tahun untuk 10 ribu penduduknya.

Di bawah itu ada tabel. Trus … kita inget … di tahun 2001 itu web komunikasi.org masih punya komunitas. Dan tahun 2001 itu aku baru dapet domain kun.co.ro yang sempat jadi bahan candaan di komunitas komunikasi.org. Jadi aku tutup artikelnya dengan:

Beberapa negara lain pun, tanpa perlu pelesetan, menyediakan domainnya untuk digunakan siapa pun yang membutuhkan. Domain kun.co.ro yang terkenal itu diambil dari Romania, www.nic.ro, seharga €35 per tahun.

Alkisah, artikel domain ini dijiplak mentah2 pada website hastu.com. Ini bukan hal yang aneh. Site komunikasi.org juga penuh berita jiplakan. Tapi yang dijiplak biasanya website berita, bukan ulasan. Tapi kemudian sekelompok orang BPPT melaksanakan misi BPPT untuk menjadi agen pembangunan dan mitra industri yang terpercaya, dengan memberikan kontribusi bagi pengembangan Iptek pada umumnya serta teknologi informasi dan komunikasi pada khususnya (dikutip seperti aslinya –red), yaitu dengan cara menyusun buku berjudul Indikator Teknologi Informasi dan Komunikasi. Untuk bahasan soal domain, mereka menjiplak dari hastu.com. Akibatnya halaman 22 dari laporan tahun 2001 itu betul-betul menuliskan bahwa domain kun.co.ro yang terkenal itu diambil dari Romania, www.nic.ro, seharga €35 per tahun.

Laporan tahun 2002 mengulangi menulis kalimat ini, pada halaman 25. Mudah-mudahan di laporan tahun 2003, candaan ini sudah di-phase-out dari dokumen yang seharusnya resmi dan serius itu.

Nietzsche: Post Mortem

«There are no facts, only interpretations.» — gitu ditulis Nietzsche. Kata-kata ini, dan banyak tulisan lain, tidak sempat dilantik sebagai buku, hingga akhir hayat Nietzsche. Akhir hayat yang mana — gitu kali pikir kita. Akhir hayat waktu pikirannya tidak lagi kompatibel dengan pikiran mayoritas manusia, atau akhir hayat waktu jasadnya akhirnya tidak berfungsi lagi sekian tahun kemudian.

Tulisan-tulisan Nietzsche yang tidak terpublikasi, konon, memaparkan ide yang lebih tentatif, spekulatif, dan kontroversial. Buku-buku Nietzsche (atau tulisan terpublikasi lain) sudah dipoles dengan berbagai pertimbangan (dan itupun masih …), dan dianggap tidak seotentik yang tidak terpublikasi. Bagaimanapun tidak mungkin sebenarnya mengukur tingkat keotentikan atau tingkat ketepatan teks dengan pikiran, karena di mana pun pikiran selalu dinamik, dan teks selalu tergantung pada interpretasi yang juga dinamik.

Sebagian tulisan tak terpublikasi yang sudah berbentuk manuskrip, kemudian diterbitkan saudarinya setelah Nietzsche wafat, dengan judul Kehendak Berkuasa: Upaya Menilai Kembali Nilai-Nilai.

Kalau Anda merasa baru saja membaca kalimat semacam itu dekat2 sini, Anda nggak salah. Sekian tahun kemudian, ide Nietzsche umwertung aller werte itu diekspans besar-besaran oleh para filsuf Perancis. Dan yang mereka dukung adalah upaya menemukan kembali kehidupan, vivre c’est reinventer la vie, begitulah, kayak yang tertulis di bagian bawah halaman-halaman web ini, dan ditulis di bagian kiri halaman depan: reinventing life.

Anyway, dengan alasan yang cukup rumit dan cukup menghabiskan waktu untuk dipaparkan di sini, aku mau bilang: «Danke, Nietzsche»

Keseimbangan Masalah

«Don’t carry the world upon your shoulder.» — begitu dia bilang, waktu matahari nyaris terbit, dan aku belum juga merasa bisa memecahkan banyak hal.

Yeah, anyway … apa bener semua masalah itu ada untuk dipecahkan? Sekali lagi, hidup adalah soal optimasi dan penggunaan kecerdasan dan seluruh potensi manusiawi kita untuk menjalani hidup, dan di dalamnya ada hal yang cukup penting dan menarik, yaitu menemukan kembali hidup. Dan soal optimasi selalu meliputi pilihan-pilihan yang banyak, yang harus secara cerdas kita amati dan kita pilih: mana yang harus benar-benar dipecahkan, dan mana yang harus diabaikan, dan mana yang sama sekali bahkan tidak perlu dipikirkan.

Kalau mau jujur, sebenernya bahkan masalah orang lain seharusnya tidak boleh kita pecahkan ;), kalau kita tahu artinya memecahkan masalah orang lain. Kita semua yang sempat hidup memang selalu dikaruniai masalah yang kompleks dalam ruang lingkup kita masing-masing, untuk kita hadapi, untuk membuat kita belajar menghadapi hidup dan
mengasah kecerdasan serta kearifan, dan akhirnya untuk membuat jiwa kita jadi lebih baik.

Memecahkan mentah-mentah masalah orang punya dua implikasi yang sering kita lupakan. Pertama, memberikan masalah lain pada si orang itu. Bagaimanapun, masalah tidak berkurang walau diambil berapa pun — itu sudah merupakan bagian instrinsik hidup kita. Yang kedua, dan lebih penting: mengambil masalah orang lain membuat kita melepaskan
masalah kita sendiri.

Sialnya, kita sering memecahkan masalah orang lain justru sebagai pelarian dari kewajiban kita memecahkan masalah kita masing-masing.

Kembali, ayo rayakan kehidupan, nikmati masalah-masalah kita, dan nikmati cara kita menghadapi masalah-masalah itu, dan jangan pernah berusaha membawa beban seluruh dunia di atas pundak kita.

Bintang Terang, Bintang Gelap

Kembali, kenapa malam itu gelap? Dan kenapa bintang bersinar terang? Sekilas tidak ada yang aneh. Malam gelap karena sebagian besar semesta terdiri atas ruang hampa, dan sebagian kecilnya adalah bintang-bintang serta materi gelap, dan bintang-bintang menyala karena tumbukan partikel akibat gravitasi yang besar mengakibatkan terjadinya pembakaran luar biasa. Tapi masalahnya, sekian ribu tahun setelah big bang, sebenarnya semesta berbentuk mirip sop panas yang homogen. Kenapa kemudian justru terjadi ruang hampa dingin dan bintang panas? Ini pelanggaran hukum termodinamika! Di mana-mana justru benda panas dan benda dingin yang dicampurkan akan membentuk kesetimbangan yang makin lama makin homogen, seperti yang sedang terjadi sekarang: bintang memberikan cahaya, kehilangan energi, sementara semesta dingin sisanya menerima cahaya dan suhunya meningkat. Ajaib bahwa di zaman dulu, pernah terbentuk bintang panas dan malam-malam dingin dari homogenitas.

Sop kita itu, yang terdiri dari radiasi-radiasi dan ion-ion yang terlalu panas untuk membentuk atom, sebenarnya tidak sepenuhnya homogen. Secara global memang homogen. Tapi di dalamnya selalu terjadi fluktuasi-fluktuasi lokal. Sementara semesta mengembang, kerapatan energi di dalamnya terus menurun, sampai suatu saat terjadi suhu yang cukup rendah yang memungkinkan terjadinya rekombinasi dan terbentuknya atom-atom. Fluktuasi yang terakhir tercetak sebagai bentuk semesta saat ini.

Kayak apa sih fluktuasinya? Sebenarnya kita tidak bisa menebaknya. Bisa isotermal (fluktuasi pada materi tapi tidak pada energi, sehingga energi/suhu tidak berubah), atau bisa juga adiabatik (fluktuasi pada materi dan energi). Yang mungkin adalah keduanya. Tapi mana yang dominan?

Ilmuwan Russia dan Eropa berbagi tugas soal ini. Orang Russia melakukan perhitungan dengan menganggap fluktuasi bersifat adiabatik, sementara orang Eropa menganggap fluktuasi bersifat isotermal.

Hasilnya: kalau fluktuasi bersifat isotermal, akan terbentuk inti pembentukan bintang yang sangat besar, lalu meledak menjadi jutaan inti yang jauh lebih kecil, lalu meledak lagi, dst … membentuk pola yang kita kenal masing-masing sebagai superkluster, galaksi, dan bintang. Super-superkluster, kalau ada. Sementara, kalau fluktuasi bersifat adiabatik, terbentuk ledakan yang tidak bersifat hirarkis, sehingga terbentuk galaksi dalam jumlah besar, tapi bersifat paralel. Jadi, melihat kondisi sekarang, nampaknya fluktuasi pada fase sop itu bersifat isotermal.

Ada hal lain yang mengejutkan dari perhitungan soal-soal galaksi ini. Galaksi itu mirip gunung es: bagian yang tampak hanya 10%-nya. Jadi kalau kita melihat galaksi sebagai kumpulan bintang cerlang, well, itu baru 10%. 90% anggota galaksi adalah bintang-bintang gelap yang mengelilingi bintang-bintang cerlang itu.

Gelap Malam

Gelapnya langit konon menyimpan berjuta rahasia. Masa? Dari kacamata ilmiah, gelapnya langit justru mengungkap banyak rahasia.

Waktu Isaac Newton menurunkan formulasi mekanika gravitasi, orang mulai bertanya: kenapa gravitasi tidak membuat bintang2 saling menarik dan saling menumbuk? Newton berkilah dengan berbagai asumsi-asumsi ajaib, termasuk bahwa besarnya semesta tak terhingga, sehingga semesta tidak terpusat, dan tidak memiliki pusat gravitasi tempat mereka seharusnya runtuh. Salah satu penerus Newton berkilah juga bahwa pada jarak dekat memang gravitasi bersifat saling menarik; tapi pada jarak jauh dia bisa berubah jadi saling menolak.

Fakta bahwa malam itu gelap membuka rahasia yang satu ini: semesta mengembang. Dengan kecepatan tinggi pula. Kalau semesta tidak mengembang, seluruh cahaya bintang dari segala arah akan mencapai mata kita di bumi, dan malam jadi terang benderang. Fakta bahwa semesta mengembang menghasilkan kesimpulan yang niscaya: semesta memiliki awal pada ruang kecil tempat segalanya berasal. Didukung fakta-fakta “geseran sinar merah” dan “radiasi latar belakang”, akhirnya kita mengenali sejarah semesta, yang kemudian dinamai dengan “big bang”.

Tapi kalau big bang benar terjadi, dan semesta mengembang dengan kecepatan tinggi, kanapa sampai tercipta bintang gemintang dan galaksi hingga supercluster?

Kembali kita meminta jawaban pada gelapnya malam.

On Atheism

Dari sekian banyak bukti tentang skenario yang menyusun semesta ini, dari skala terkecil, hingga skala terbesar, kenapa atheism masih jadi mode di kalangan ilmuwan?

Aku nggak mempermasalahkan kalau atheism jadi mode di kalangan para ignoramus, baik yang sok cuek maupun yang sok keren — mereka tetap ignoramus dan induhvidual.

Atheism pada para ilmuwan didorong kenyataan penting bahwa tokoh tuhan tidak bisa dibuktikan dengan sains. Benarkah? Ha-ha :). Aku pikir memang benar. Allah begitu adilnya pada manusia dari berbagai bangsa dan berbagai era: Allah selalu memberikan hanya tanda-tanda yang jelas tapi tidak pernah berupa pemaksaan “ilmiah”, agar manusia dari era manapun selalu sama-sama bisa memilih untuk merasakan atau untuk tidak merasakan kehadiran-Nya, tapi juga sama-sama tidak bisa melihat dengan cara apa pun kehadiran-Nya. Tapi … sambil menyusun keadilan itu sebagai skenario, Allah juga tidak pernah membiarkan manusia percaya diri akan apa yang disebut “kebenaran ilmiah”. Setiap era, selalu ada yang diragukan dari kompilasi metafora yang kita namai sebagai “metode ilmiah” itu. Bahkan ilmu fisika pun belum selesai mendefinisikan diri secara pe-de.

Hmmm, aku tahu Stephen Hawking bilang “memang belum selesai, tapi framenya jelas, dan tinggal perlu sedikit detail lagi”. Tapi kalimat serupa juga abad lalu diucapkan Maxwell, dan di abad sebelumnya diucapkan Newton, dan entah barangkali pernah diucapkan Aristoteles sekalian :). Feynman lebih jujur, dan selalu mengatakan “masih jauh dari solusi tunggal”, dan karena itu bukunya jadi tidak selaris Hawking :), biarpun Hawking belum pernah memperoleh hadiah Nobel.

Tentang tanda-tanda sendiri? Adanya skenario pengaturan semesta akan terbaca kalau kita mau mengamati semua ilmu-ilmu sekaligus tanpa melakukan pra-asumsi atheistik (yang sering mengaibatkan filtering fakta dengan menganggapnya invalid). Trus apa yang mau kita lakukan, btw? Memulai gerakan mnyusun wacaran lengkap untuk membuat orang-orang terbuka untuk mengenali tanda-tanda itu, lalu mengakui kehadiran Tuhan, lalu memeluk agama, dan mulai saling membunuh dengan mengatasnamakan agama? Kayaknya nggak deh. Kalau Allah berkehendak, semua orang di dunia akan beroleh hidayah. Tapi ternyata bukan itu yang dikehendaki-Nya.

Well … rayakanlah kehidupan apa adanya :).

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑