Ke Far Gosford lagi, mau kirim kartu pos bergambar pus lompat-lompat. Di pet shop, keliatan si pus gemuk itu lagi. Ngeliatin aku aja. Abis aku tau bahwa kantor pos Gosford jauh lebih dekat daripada city-centre, kayaknya aku bakal sering-sering lewat pet shop itu. Kali-kali lama-lama si pus gemuk itu apal sama aku. (Ralat: si pus belum bakal apal, soalnya waktu aku lewat sana dulu kan dia masih bobo. –Red)
Author: koen (Page 104 of 123)
Romania, negara di Eropa Tenggara, yang bener-bener khas Eropa Tenggara. Indah, kaya budaya, tapi miskin secara ekonomi. Lelah diduduki kekaisaran Austo-Hungaria dan komunisme Russia, negeri ini masih gamang menyusun visi masa depannya. Kayaknya secara virtual aku mau jadi warga negara sini. Soalnya pasti lucu kalau aku punya domain kayak gini:
kun.co.ro
Mana yang lebih dulu: DNA atau protein? Ini lebih rumit. DNA direplikasi oleh protein, dan protein direplikasi oleh DNA. Tapi DNA tidak lebih hanya pembawa informasi. Protein cuman zat kimia yang bisa jadi katalis. Jawabannya akhirnya: mungkin DNA. Tapi jawaban nggak boleh berhenti di sini. Soalnya sebenernya kita melupakan RNA.
Di kebanyakan makhluk hidup (selain virus), RNA seolah hanya kurir pembawa pesan waktu DNA membentuk protein, dan waktu DNA direplikasi. Padahal, barangkali justru biang dari segalanya justru RNA itu.
Kayak yang pernah didiskusikan di Isnet, ‘nenek moyang’ makhluk hidup adalah senyawa yang bisa bereaksi dengan katalisasi diri. Dengan sifat itu, senyawa ini menarik molekul di sekitarnya untuk membentuk senyawa yang mirip dengan dirinya, terus menerus. Mungkin ini RNA, atau setidaknya bentuk primitif dari RNA yang kelak memperbaiki diri menjadi RNA. Masalahnya umur RNA tidak panjang. Jadi mekanisme evolusi membuat salah satu RNA menemukan DNA yang bisa hidup lebih lama dan menyimpan informasi, sekaligus menemukan mekanisme replikasi DNA dengan protein, sehingga umur ‘organisme’ yang berupa siklus reaksi DNA-RNA-protein-RNA-DNA itu bisa panjang.
Bisa cukup panjang untuk meneruskan rantai evolusi membentuk kehidupan yang kompleks dan luas mengisi bumi.
Cukup panjang untuk menyimpan kecerdasan dalam organisme bernama manusia yang bisa memahami proses yang panjang itu — dan mungkin juga bisa memahami kasih sayang agung yang menyusun skenario yang indah itu.
Mana yang lebih dulu: telor apa ayam? Telor donk. Sejak evolusi makhluk belum menciptakan ayam, telor sudah terbentuk. Nenek moyang ayam, yang tingkat keayamannya belum memungkinkan untuk disebut ayam, sudah punya telor. Dan kelak dari salah satu telor itu, menetaslah makhluk yang tingkat keayamannya sudah cukup untuk disebut sebagai ayam.
Essay tentang telecommunications’ strategic issue selesai, akhirnya. Mestinya bisa dirayakan dengan jalan-jalan ke Waterstone’s. Cuman temen-temen yang belum selesai lagi pada panik, minta bantuan ini itu. Jadi merasa egois kalau ngabur sendirian. Lagian kalo ngabur ke toko buku, siapa sih yang mau diajak?
Suntuk sama assginment, terus nyoba main-main ke Waterstone’s. Tapi masih tutup. Jadi main ke Waterstone’s Online aja. Wah, kalau tiap suntuk terus belanja buku, serem juga nih. Pelarian kok buku lagi buku lagi.
Demo mahasiswa menyelimuti Jakarta untuk menurunkan presiden Abdurrahman Wahid. Presiden panik, menyusun pertemuan kabinet, tapi membubarkannya beberapa menit kemudian. Massa PKB didatangkan untuk membela presiden.
Aku bener-bener nggak care dengan para politisi Indonesia. Tapi kapan sih rakyat boleh hidup tenang dari gangguan para politisi?
“Sayangnya, bangsa Indonesia ini suka lari ke fisik. Kalau otaknya tidak kerja maka yang kerja okol. Inilah yang merusak ukhuwah itu. Padahal, penyadaran ukhuwah itu penting untuk saling menghormati,” kata ustadz Nurcholish Majid.
Kali-kali bangsa Indonesia bakal dikenang sebagai bangsa okol. Apa-apa pakai adu fisik: dari urusan partai, urusan sepakbola, urusan ras, bahkan urusan agama. Masa sih urusan agama bisa dijalankan dengan kebiadaban?
Kalau Allah menghendaki, disebutkan di Quran, maka semua manusia akan berjalan lurus di jalan yang dikehendaki. Soalnya adalah bahwa Allah memang menyusun semesta dengan kompleksitas yang menarik seperti ini, sehingga manusia tertantang untuk memaksimalkan potensinya untuk memecahkan masalah-masalah.
Tapi manusia Indonesia malas memanfaatkan potensi kecerdasannya. Maunya sih asal tubruk, satu arah, dan akhirnya jadi bangsa okol.
Terusir lagi dari Q122. Dan memang udah suntuk bener di depan komputer. Jadi iseng jalan-jalan sepanjang Far Gosford Road. Di pinggirnya banyak ruko-ruko kecil. Ngintip etalase-etalase, pingin tau apa sih yang biasanya dicari orang Coventry. ATM, toko buku kecil, supermarket kecil, kantor pos kecil, toko komputer kecil. Nggak beda jauh sama Antapani ;). Ada semacam pet shop. Banyak kandang burungnya. Ada kucing belang hitam putih gemuk lagi bobo di atas kandang burung. Keliatannya nyaman, hangat. Jadi pingin balik ke rumah mungilku di Bandung. Rumah yang hangat dan nyaman. Dan ada makhluk manisnya. Duh, masa sih aku iri sama si pus ?
Di Q122 aku punya tempat duduk favorit. Dekat pintu, jadi kalau haus bisa cepat keluar; dan dekat printer, jadi nggak harus capek kalau mau ngeprint. Asiknya, teman-teman aku suka nanya-nanya ke aku kalo punya masalah dengan printer. Kali-kali soalnya aku duduk paling dekat sama printer. Tapi lama-lama mereka konsultasi soal-soal lain, termasuk komputer yang nggak bisa login, cara bikin account email, dan bahkan cara bikin presentasi dengan PowerPoint (kayak aku pernah pakai PowerPoint aja). Dan yang menarik, lama-lama yang nanya-nanya bukan temen aku aja, tapi orang-orang yang nggak aku kenal juga.
Masalahnya adalah bahwa ruang ini nggak pernah ada adminnya. Kali-kali akhirnya aku bisa mendaftarkan diri jadi admin di ruang Q122.
