ASEAN ICT Awards 2015

ASEAN ICT Awards (URL: http://aseanictaward.com) – atau disingkat AICTA – adalah prakarsa dari TELMIN, yaitu kelompok kerja Menteri-Menteri Telekomunikasi dan IT di lingkungan ASEAN. Tujuannya adalah mempromosikan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan komunitas untuk pengembangan inovasi IT di kawasan Asia Tenggara. Salah satu bentuknya adalah dengan kompetisi inovasi dan kreasi IT.

Tahun ini Telkom Group mengirimkan proposal belasan produk ke AICTA, baik dari inovasi internal maupun dari kolaborasi komunitas. Namun yang lolos ke babak final hanya QJournal, di kategori Digital Content.

Finalis harus mempresentasikan inovasinya di Ninh Binh, 15-17 September 2015. Ninh Binh adalah kota kecil di daerah Vietnam Utara, sekitar 100 km dari Hanoi. Di sana, tengah dilaksanakan juga Workshop TELMIN. Jadi, sekalian para expert di bidang ICT jadi juri babak final AICTA. QJournal memberangkatkan Bang Anto, Aip, dan aku sendiri.

Kami berangkat terbang dari Jakarta ke Hanoi, dan menghabiskan setengah hari untuk mengeksplorasi ibukota Vietnam ini. Hanoi masih bersuasana tenang dan agak tradisional. Sekilas melihat beberapa situs budaya di Hanoi, kami langsung diantar dengan bus ke Ninh Binh.

Ninh Binh benar-benar kota kecil. Kota ini diharapkan jadi sentra wisata baru di Vietnam, dengan kontur alam yang sungguh indah. Bukit-bukitnya mirip Halong Bay atau kawasan Cina Selatan. Sayangnya, Ninh Binh sedang masuk musim hujan bulan September itu. Jadi tak banyak yang bisa dilihat dan dikunjungi.

IMG_8244

Final AICTA berlangsung mirip ujian kuliah, haha. Tidak ada semacam acara pembukaan. Finalis langsung diarahkan ke ruang-ruang presentasi. Presentasi dan tanya jawab dilakukan dengan para juri dari seluruh negara ASEAN di ruang tertutup. Dilarang bikin foto, kecuali bandel. Selesai presentasi, langsung acara bebas. Malam, ada gala dinner, welcome speech, dan tari-tarian. Mirip acara IEEE, haha. Para nerds yang gagap entertainment. Gue bangets.

Pemenang AICTA baru diumumkan resmi 2 bulan kemudian. QJournal memperoleh Silver Awards. Alhamdulill?h.

Karena Bang Anto sedang sangat sibuk, aku dan Aip mewakili Telkom di awarding night. Awarding dilaksanakan bersamaan dengan TELMIN Summit di Danang, Vietnam Tengah, pada 26 November 2015. Penyerahan award dilakukan secara bergantian oleh para Menteri ICT negara-negara ASEAN. Untuk kategori Digital Content, kebetulan award diserahkan oleh Menkominfo Indonesia, Chief Rudiantara.

HLZS0026

Selesai acara, kami menyempatkan diri berbincang dengan Chief Rudiantara, tentang pengembangan inovasi digital di Indonesia, dengan pendekatan komunitas.

AZTB5388

Selesai. Social visit dulu ke Hoi An, sebuah kawasan yang terjaga keaslian ekonomi dan budayanya, masih di kawasan Vietnam Tengah. Trus kami terbang kembali ke Jakarta via Ho Chi Minh City. Kunjungan yang sangat singkat.

IMG_1719

AICTA Silver Award ini diserahkan kepada Telkom Indonesia sebagai pemilik inovasi dan produk. Telkom sendiri kemudian memberikan award para inovatornya dengan Penghargaan Inovasi Khusus yang diserahkan CEO Alex Sinaga dan Direktur HCM Herdy Harman di acara puncak HUT Telkom.

IMG_0278

 

OK, cerita selesai.

Indigo Apprentice Awards

Sejak akhir dekade lalu, tim kami memprakarsai beberapa aktivitas Telkom untuk pengembangan karya kreasi digital nasional, di bawah platform program Indigo. Salah satu program awal saat itu adalah Indigo Fellowship. Program ini berevolusi, terus dilengkapi dengan komitmen-komitmen pengembangan produk dan bisnis startup digital, dan kini dinamai Indigo Incubator (URL: s.id/4sm). Fokusnya pada pemilihan produk kreatif, untuk dijajagi potensi pengembangan produk dan pasarnya, dan kemudian untuk dikembangkan bersama secara intensif di ruang kerja bersama, termasuk Bandung Digital Valley dan Jogja Digital Valley.

C2C Concept

Sejak akhir 2014, Telkom lebih memperkuat lagi komitmennya dengan mengubah struktur Divisi Konvergensi Solusi (DSC) menjadi Divisi Bisnis Digital (DDB). Salah satu tugasnya adalah menjadi akselerator bagi bisnis-bisnis digital nasional, agar memiliki kekuatan untuk persaingan global. Misi jangka panjangnya tentu adalah menumbuhkan ekonomi berbasiskan kreativitas dan budaya digital, serta mengurangi ketergantungan pada produk digital impor.

Sebagai akselerator, DDB menyusun kerangka kerja yang disebut Indigo Accelerator. (URL: IndigoAccelerator.com) Berbeda dengan Indigo Incubator, akselerator ini menerima produk dan bisnis digital dari para startup yang sudah memiliki traction, dalam bentuk revenue, customer base, atau user engagement lain, yang memiliki potensi untuk bertumbuh, walaupun mungkin saat ini nilainya belum significant. Dalam akselerator ini, digunakan fasilitas bersama untuk memperkuat pengembangan produk dan bisnis; termasuk penggunaan common service enabler, marketing channel, dan sinergi pengembangan lain. Indigo Accelerator bersarang di Jakarta Digital Valley (@Jakdiva) di Menara Multimedia, Jakarta.

Startup Accelerator Facitilites

Pintu masuk ke akselerator ini dapat berupa keluaran dari Indigo Incubator, dari bisnis digital yang diajukan proposalnya ke Indigo Accelerator, atau dari bisnis yang dipilih tim Riset dari ekosistem digital di Indonesia. Namun agar proses ini lebih cepat dan terbuka, DDB mulai menyelenggarakan Indigo Apprentice Awards (URL: s.id/4bE). Ini adalah kompetisi yang terbuka bagi para startup Indonesia, untuk diakui sebagai bisnis yang memiliki potensi pengembangan terbaik, dan untuk memperoleh fasilitas pengembangan bisnis dari Indigo Accelerator.

Indigo Apprentice Awards

Juri untuk Indigo Apprentice Awards, selain dari Telkom, diambil juga dari komunitas-komunitas yang merupakan stakeholder pengembangan startup nasional, semisal Startup Lokal dan Founder Institute.

Founder Institute Jakarta

Pendaftaran dan informasi lain tentang Indigo Apprentice Awards bisa diperoleh dari site berikut: http://s.id/4bE atau via account Twitter @ddbAccelerator.

Q-Learning

Lama-lama ada semacam Koen’s Birthday Lecture. Tanggal 19 Juni jadi sering terisi kegiatan presentasi, kuliah, atau seminar, baik dalam soal-soal engineering, social media, atau yang berkaitan dengan Telkom. Tahun ini, tugas presentasinya kecil saja: cerita tentang platform produk Telkom untuk higher education, di booth Telkom di CommunicAsia. Padahal sudah bertahun2 aku berhasil menghindari tugas mengunjungi CommunicAsia dan BroadcastAsia. Tapi kan ini bukan kunjungan :).

Senin malam, 17 Juni, aku baru sempat terbang ke Singapore. Sampai lewat tengah malam. Penjaga hotel di East Coast mengeluhkan asap yang kian tebal mengotori udara Singapore — hasil pembukaan lahan kebun sawit di Sumatera Timur, yang sebagian justru dimiliki pengusaha dari Malaysia dan Singapore sendiri. Aku bisa tidur lelap. Dan paginya langsung mengeksplorasi Marina Bays Sands. Booth Telkom ada di Exhibition Hall E.

20130623-232426.jpg

Booth Telkom tampak mencolok di bagian tengah hall. Telkom Indonesia sudah menggunakan logo baru, dengan nuansa merah putih. Booth ini juga dishare dengan seluruh anggota Telkom Group: Telin, Metra, Telkomsel, dll. Hari itu kami juga menggunakan seragam batik parang merah putih.

20130623-232507.jpg

Booth Telkom dibuka oleh CIO Indra Utoyo. Kebetulan, pembukaan ini juga dihadiri oleh Ministry of ICT dan beberapa tamu. Pak Indra menjelaskan ekspansi bisnis Telkom ke arah TIMES. Maka booth-pun dibagi atas stand T, I, M, E, dan S. Di bagian depan, kami juga memasang kesenian tradisional Sasando Rote, seni sketsa wajah dari Pak Priadji Kusnadi, dan techno-illusion dari Galih.

20130623-232911.jpg

Aku sendiri baru menyampaikan presentasi mengenai platform dan produk Education dari Telkom Group, di hari kedua, 19 Juni 2013. Seragamnya bukan batik merah lagi, tetapi suite dengan dasi merah :). Wkwkwk, memang harus merah. BTW, sekalian bikin foto perdana dengan logo baru dari Telkom Indonesia.

20130623-232621.jpg

Tak jauh dari yang sering dibahas di blog ini, aku menceritakan pengembangan platform Telkom di bidang higher education applications. Fokusnya ke Q-Learning, Q-Journal, dan Qbaca. Setelah presentasi, ada beberapa MOU juga yang ditandatangani oleh EGM DSC Telkom, Achmad Sugiharto, dan para partner yang berminat dengan bidang-bidang kerja kami.

Sebenernya, tugasku satu2nya hanya memberikan presentasi :). Tapi ternyata cukup banyak pengunjung, peserta CommunicAsia, atau sesama Exhibitor yang berminat berdiskusi tentang platform dan produk education dari Telkom. Jadi tiga hari penuh itu, aku menghabiskan waktu di booth untuk berdiskusi dengan para partner dan calon partner.  Hari ketiga (pakai batik merah putih lagi, tapi bukan parang), justru makin banyak calon mitra kerja yang sangat prospektif. Ada yang benar-benar punya produk yang aku rasa matching dengan platform yang tengah kami kembangkan. Wah, macam dapat harta karun.

20130623-232717.jpg

 

Hari Jumat pagi, aku balik ke Jakarta. Bawa segepok kartu nama, dan banyak catatan rencana kerja sama. Hmm, bakal makin menarik nih platform, produk, dan program Education kami :).

Talkshow Seribu Jurnal

Pengembangan Q-Journal memasuki tahap akhir. Maka kami berencana mulai memperkenalkan produk ini ke publik. Aku mulai merancang mini seminar untuk memperkenalkan pengelolaan paper, jurnal, dan platform Q-Journal ke universitas dan institusi akademis lainnya. Tapi EGM DSC, Achmad Sugiarto (a.k.a. Pak Anto) punya ide lebih keren: acara dikemas dalam bentuk talk show yang ringan dan hangat, diakhiri makan siang dengan musik. Maka, dengan perencanaan yang cepat, ketat, dan rapi jali, Kamis pagi ini talk show akhirnya berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta. Tema: Seribu jurnal anak bangsa memenangkan dunia. Eh, gak boleh protes ;)

Event ini dihadiri sekitar 60 kampus. CIO Telkom Indonesia, Indra Utoyo, membuka event ini dengan gayanya yang selalu riang namun serius. Teknologi pada bidang pendidikan dinilai sebagai disruptive innovation, yaitu inovasi yang akan melakukan perombakan pada skala besar di tahun-tahun mendatang ini. Telkom, selain menyiapkan diri di sisi infrastruktur, juga menjadi pioneer dalam pengembangan inovasi pendidikan. Kita tengah menyiapkan dukungan atas pembelajaran jarak jauh, penyiapan pustaka digital, konten video digital bermuatan pendidikan, hingga produk pamungkas ini, Q-Journal, yang ditujukan untuk mengangkat para peneliti dan akademisi Indonesia, melalui karya2nya memenangkan dunia. Diharapkan para akademisi Indonesia dapat memanfaatkan peluang baik ini, untuk bisa lebih dinamis mengembangkan riset dan mempublikasikan paper dan karya ilmiah lainnya ke kancah dunia.

Indra Utoyo

Berikutnya, talkshow menghadirkan Prof. Dr. Riri Fitri Sari, dan Dr. Priyantono Rudito. Bu Riri adalah CIO Universitas Indonesia. Mengambil PhD di University of Leeds, beliau pernah melakukan riset bersama CERN di Geneve dan UNESCO di Australia. Tentu ini Bu Riri yang juga tahun lalu memperoleh gelar IEEE Region 10 Most Inspiring Women in Engineering Award. Pak Priyantono adalah Direktur HCGA Telkom Indonesia. PhD beliau diperoleh dari RMIT Australia. Di Telkom, beliau juga pernah menjabat VP Corporate Strategic Planning Direktorat IT Solution & Strategic Portfolio, dan juga pernah memperoleh penugasan akademis di ITT Bandung. Moderatornya, aku.

Bu Riri menyampaikan bahwa sebenarnya Indonesia tak jauh tertinggal dibandingkan negara2 tetangga. Namun memang belum banyak institusi akademis yang mulai secara optimal menggunakan tools untuk mengkolaborasikan riset dan mempublikasikan karya ilmiahnya ke dunia. Peningkatan kualitas dan kuantitas karya ilmiah dapat dikembangkan dengan mengimplementasikan metode berpikir dan berkarya ilmiah justru sedini mungkin. Gairah masyarakat Indonesia akan media sosial misalnya, dapat diarahkan menjadi semangat untuk berkolaborasi menggagas dan mengeksplorasi wacana ilmiah yang didukung kerjasama riset. Kebiasaan saling memberikan citation misalnya, harus dikembangkan. (Mungkin dengan semangat yang sama dengan saling mention di Twitter, hahaha). Tak lupa Bu Riri memberikan banyak best practice dalam pengelolaan paper dan jurnal, termasuk publikasinya ke indeks internasional.

Pak Priyantono, justru mengawali dengan menyampaikan tesis Karl Popper atas falsifabilitas, yang kemudian dieksplorasi beliau ke pengembangan yang dilakukan Telkom Group untuk meningkatkan value dan potensinya justru dengan pendidikan formal. Pun bisnis Telkom diarahkan antara lain untuk mendukung pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Ini unik, karena tidak banyak perusahaan komersial yang mau terjun ke dunia serius dan kurang populer ini. Namun, Telkom meyakini bahwa bidang ini akan tumbuh cepat melalui pembentukan ekosistem bersama untuk pengembangan platform-platform pendidikan.

20130326-193741.jpg

Minat para peserta cukup tinggi. Lebih dari 20 MOU segera ditandatangani pada event ini. Hingga hari berikutnya, masih cukup banyak permintaan review maupun MOU dari kampus-kampus.

Q-Journal sendiri merupakan suite layanan untuk mentransaksikan wacana-wacana ilmiah di Indonesia. Di tahap awal ini, Q-Journal memiliki beberapa feature. Feature “Global Publishing” memungkinkan paper dari jurnal-jurnal dari kampus dan institusi akademis lainnya terpublikasi ke indeks paper internasional dengan harga sangat terjangkau. Feature “Global Discovery” memberikan akses ke paper-paper internasional dengan harga terjangkau. Feature yang juga akan dikembangkan dalam waktu dekat adalah personal cloud, dan integrasi dengan aplikasi Kuliah Jarak Jauh dari Aptikom.

Screen Shot 2013-03-18 at 11.10.24 AM

Web Q-Journal ada di QJournal.co.id, Komunikasi juga bisa dilakukan via facebook page QJournal atau Twitter account @Q_Journal.

 

The Phoenix Project

Payment system buat Qbaca mendadak tak berfungsi. Dan ini bukan kali pertama di tahun 2013 ini. Ada yang tampak tak bisa dimatchkan antara application developer dan platform manager. Aku coba melakukan mediasi, via mail, voice call, sampai akhirnya melakukan pertemuan fisik. Tapi, sambil terus melacak apa yang salah di Qbaca, weekend lalu aku jadi berkunjung ke Kindle. Mungkin kerna aku lekat pada nama Phoenix, atau aku sedang dalam tergalau urusan IT, Kindle merekomendasikan buku The Phoenix Project. Dan intuisiku mengharuskanku seketika beli buku itu. Cuma US$ 9.99, dia seketika terunduh ke Aifon.

Phoenix CoverSebuah novel umumnya tak dilabeli kata novel dalam judul atau subjudulnya. Tapi buku ini memang digayakan berbentuk novel, dengan kelincahan ketegangan dan keceriaan yang menarik. Bill Palmer, mendadak harus menghadap CEO, Steve Masters. Pagi itu CIO dan VP IT Operation dipecat. Steve merangkap posisi CIO, dan Bill harus jadi VP of IT Operation. Ini bukan tugas menarik. Perusahaan sedang berkinerja amat buruk. Auditor berseliweran. Media menyoroti dan menyebarkan kabar buruk nyaris tanpa klimaks. Tugas pertama Bill adalah memberesi sistem pembayaran gaji yang mendadak kehilangan seluruh data karyawan sebelum sore. Jika gagal, serikat karyawan memberontak, dan media menyerbu. Dalam investigasi, Bill menemui para direktur bawahannya dan para engineer. Bawahan Bill, yaitu bekas rekan sepantarannya, adalah Director of IT Service Support, Patty McKee; dan Director of Distributed Technology Operation, Wes Davis. Brent Geller, seorang engineer serba bisa, melihat catatan bahwa sistem gaji kacau saat upgrade SAN. Maka upgrade dikembalikan. SAN justru mati total, membawa kerusakan lebih parah. Bill mencari tahu perubahan apa yang dilakukan beberapa saat terakhir. Dari Information Security diperoleh info bahwa mereka melakukan perubahan pada data karyawan, yaitu melakukan tokenisasi pada SSN lalu menghapus field SSN yang dianggap tidak aman dan rawan audit. Sumber kesalahan dilakukan, tapi perbaikannya baru selesai malam hari. Sementara itu gaji sudah diproses manual, dengan tingkat kesalahan tinggi. Dan SAN masih mati. Hari pertama berisi kegagalan. Tapi ini bukan kegagalan terakhir.

Tugas utama Bill, dan seluruh SDM di Parts Unlimited adalah mensukseskan peluncuran Phoenix; yaitu platform lengkap untuk bisnis Parts Unlimited. Platform ini telah dirancang 3 tahun sebelumnya, dan memakan waktu development yang panjang. Brent ditugaskan untuk menjaga proyek penting ini. Namun, sebagai engineer serba bisa, Brent selalu direpoti ratusan gangguan dari direktur hingga staf yang memerlukan berbagai hal dari IT: server yang mati, aplikasi yang berjalan tak semestinya, database yang sering lambat. Brent bekerja keras sepanjang waktu, mengikuti siapa pun yang berteriak paling keras, atau yang punya backing paling tinggi. Sarah Moulton, SVP Retail Operation, yang paling berkepentingan atas Phoenix, terus mengecam Bill yang dianggap mengorbankan Phoenix dengan tak mengerahkan Brent hanya untuk Phoenix. Sementara itu, auditor datang dengan segudang temuan. Ini audit SOX 404. Jika mengikuti persyaratan mereka, Bill harus mengerahkan semua engineer selama setahun penuh.

Pada saat ini Bill harus menjumpai Erik Reid, seorang kandidat komisaris. Ini adalah tokoh yang kemudian jadi mentor Bill. Sepanjang buku ini, Erik terus memberikan clue kepada Bill, dengan berbagai contoh. Namun contohnya selalu mengambang dan mengesalkan Bill. Bill harus berpikir keras untuk dapat memahami apa yang Erik harus sampaikan. Erik memang nyentrik. Tapi hanya itu satu-satunya cara mengajar Bill. Bukan dengan nasehat atau advice saja; melainkan memaksa Bill memecahkan masalah, mengalami kegagalan besar, menumbuhkan semangat kelompok, dan membuat revolusi. Hal-hal yang, menurut Erik, bahkan tak dapat dilakukan Erik sendiri.

Atas teka teki Erik, Bill mulai merumuskan beberapa macam pekerjaan: proyek bisnis, proyek infrastruktur IT, lalu proyek penanganan perubahan, dan satu lagi. Proyek penanganan perubahan cukup jadi lingkaran setan. Semua orang melakukan pekerjaan IT dengan gaya “Just Do It” sambil mengabaikan rantai IT yang panjang. Perubahan pada satu sistem hampir selalu mengakibatkan kerusakan pada sistem lain. Manajemen perubahan memang diabaikan, karena dianggap mengganggu jadwal kerja, jadwal peluncuran produk dan feature, jadwal audit dll. Wow, aku rasa itulah yang salah dengan Qbaca.

Maka peluncuran Phoenix, yang dipaksakan pada tenggat waktu dari Sarah, gagal total. Sistem yang dikembangkan tim Developer di bawah Chris Allers, berjalan baik pada server development, tapi hancur pada server produksi. Sistem baru tidak bisa hidup, dan sistem POS lama tidak berfungsi. Transaksi di seluruh negeri dilakukan manual. Transaksi kartu kredit difaxkan ke kantor pusat. Wow, ini pelanggaran, dan rawan audit. Tanpa dibobol, Phoenix memamerkan nomor kartu kredit customer. Waktu-waktu berikutnya, semuanya memburuk. Semua orang harus menambal dan mengatasi akibat kegagalan Phoenix. Audit, proyek IT, semua berhenti. Mendadak Bill sadar, inilah jenis pekerjaan keempat: pekerjaan yang tak direncanakan. Unplanned work. Pemadam kebakaran. Disebut juga anti-pekerjaan, karena ini jenis pekerjaan yang membuat pekerjaan lain, yang terencana, gagal dilaksanakan.

Secara bertahap, Bill, Patty, Wes melakukan pengelolaan pada penanganan perubahan. Satu hal lain adalah pengelolaan contraint, atau bottleneck. Salah satunya adalah Brent. Brent tidak lagi boleh diperintah semua orang. Ada prosedur bertingkat yang harus dilakukan untuk mengkaryakan Brent. “Semua perbaikan yang dilakukan di luar titik bottleneck pastilah semata ilusi.” Mulai muncul saling percaya pada tim IT. Kerja tim mulai jalan, dengan koordinasi, dan tanpa saling menyalahkan. Bill mulai punya waktu lagi buat keluarga. Tapi saat sistem Bill mulai jalan untuk secara wajar mengatasi situasi gawat, Steve sang Big Boss turut campur, memaksa semua orang punya “sense of crisis” dan melakukan akses komando langsung ke engineer, dan berakibat kekacauan. Bill minta mundur.

Erik turun tangan lagi. Steve, Bill, dan tim IT (Chris, Wes, Patty) membuat pakta saling percaya. Bill mulai mengikuti teladan Erik, memperbaiki struktur kerja IT seolah itu pabrik barang biasa, dengan inventory, work-in-progress. Tim development (Chris), IT operation (Wes, Patty), dan bahkan kemudian IT security (John) mencari titik lemah proses kerja yang terbesar. Lalu membuat terobosan untuk mengubah secara revolusioner. Salah satunya seperti ini. Dilakukan sinkronisasi pada lingkungan development (testing), Q&A, dan deployment (production), sehingga settingnya selalu akan sama. Kemudian program tidak lagi diberikan sebagai source code dari Development, tetapi sebagai sebuah pack yang mencakup semua setting dan data. Masalah deployment dapat ditekan: nyaris semua yang berjalan pada server development akan berjalan sama baiknya pada server produksi. Test dilakukan pada project Unicorn, yang kemudian berhasil gemilang.

Project Unicorn sendiri diambil setelah tim menyadari bahwa “IT bukanlah sebuah departemen, melainkan kecakapan yang harus dimiliki sebuah perusahaan.” Maka tim IT (Development dan Operation) bergerak bagai detektif, menyelidik bidang-bidang lain, hingga ke CEO dan CFO sendiri. Semua requirement dan KPI diterjemahkan menjadi IT requirement. Komunikasi dan feedback dilakukan setiap saat. IT Security menguji sistem terus menerus. Saat Unicorn berhasil meluncur, program promosi bisa diluncurkan, transaksi dapat dilakukan. Server jatuh karena beban yang tinggi. Namun prosedur kerja yang telah diperbaiki memungkinkan hal semacam itu jadi mudah diatasi. Ini jadi titik balik. Setelah itu keberhasilan demi keberhasilan datang pada departemen dan pada perusahaan.

Sekali lagi, sebuah novel umumnya tak dilabeli kata novel dalam judul atau subjudulnya. Jadi ini memang bukan novel. Di dalamnya terdapat banyak prinsip-prinsip, guidance, dan best practice bagi pengelolaan dan pengembangan IT di perusahaan besar; termasuk jebakan-jebakan yang sering terjadi. Tokoh Erik yang digambarkan sangat eksentrik itu pun terlalu sering memberikan petuah yang  mirip kuliah — hal-hal yang tidak mudah disampaikan dalam bentuk cerita. Tapi, seperti novel, buku ini dipadati dengan ketegangan, intrik, kehangatan persahabatan, plus candaan. Dan penuh istilah IT, wkwkwk. Mencerahkan deh.

Dan jauh sebelum buku ini aku tamati, krisis transaksi di Qbaca sudah terselesaikan. Hukum Murphy memang ada. Semua sistem selalu akan bisa salah. Tapi jika kita dapat mengatasi dengan elegan, itu justru jadi hal yang positif buat semuanya. Terima kasih, rekan-rekan di ISC, DSC, dan Access. Kalian keren.

Qbaca: Buku Digital Indonesia

Catatan “Humor Klasik Buat Bisnis” tentu saja memang dibuat dalam masa pengembangan Qbaca. Di awal pengembangan, negosiasi yang menarik — yang menyangkut bentuk produk dan platform — telah dilakukan dengan beberapa kandidat developer, para publisher, hingga para senior di corporate. Sedikit mirip dengan si “calon besan Bill Gates” :). Bahkan di masa awal pembentukan prototype produk (dan platform), kami telah menerima berbagai masukan yang sesungguhnya semuanya bagus dan ideal, namun saling bertolak belakang. Mirip petani dan  anaknya yang membawa keledai. Tapi kami harus memastikan bahwa produk ini bisa menjejakkan kaki di kondisi Indonesia saat ini, sekaligus punya peluang untuk tumbuh ke depan dan menumbuhkan pengembangan konten dan aplikasi digital lain di Indonesia. Yang justru tidak mudah adalah memastikan misi dan strategi produk ini tersampaikan dengan baik, hingga ke ujung senior leader di atas, ke developer yang memiliki standard tersendiri, ke komunitas, ke publisher, dan ke dalam tim sendiri. Agar tak terulang kisah Goh Chok Tong, kita harus benar-benar memastikan misi dan strategi ini tersampaikan ke semua stakeholder. Tapi memang tidak mudah.

Qbaca sendiri dinyatakan resmi diluncurkan pada 9 November 2012, di Teluk Jakarta, bersamaan dengan penyerahan penghargaan Indigo Fellowship 2012. Acaranya sederhana, sesuai bentuk produk yang tidak gemebyar, tapi diharapkan tumbuh dari kecil untuk berkembang membesar melalui aktivitas komunitas.

Event perdana bagi Qbaca adalah di Indonesia Book Fair di Senayan Jakarta, 17-25 November 2012. Dua talk show digelar di panggung utama.

Talk show tanggal 19 November menampilkan Dewi “Dee” Lestari yang didampingi EGM DMM Achmad Sugiarto, mengulas e-Book dari berbagai sudut pandang. Dee sebagai pembaca mengharapkan e-Book bukan hanya sebagai buku yang didigitalkan, tetapi harus diperkaya dengan enhancement yang meningkatkan pengalaman membaca dan berinteraksi. Dee sebagai penulis mengharapkan platform e-Book yang dilengkapi dengan digital security untuk menjamin terjaganya hak penulis dan penerbit buku.

Talk show tanggal 21 November menampilkan CIO Telkom, Indra Utoyo, dalam bedah buku “Manajemen Alhamdulillah” karya beliau yang juga tersedia di Qbaca. Sebetulnya tak ada permintaan khusus untuk memasang buku pejabat Telkom di Qbaca. Kami hanya meminta penerbit (a.l. Mizan Group) untuk memasang beberapa buku best seller mereka ke dalam Qbaca. Ternyata salah satu yang dikirimkan adalah buku “IU” ini. Waktu kami sampaikan terima kasih bahwa buku “IU” ikut dimasukkan, pihak penerbit Mizan juga surprised, karena mereka tidak merasa sengaja memilih buku yang berkaitan dengan Telkom. Bedah buku ini menghadirkan perwakilan dari Mizan Group, IKAPI Pusat, dan MUI. Surprised. IU sendiri menyampaikan paparannya tidak dengan gaya Telkom (hahaha), tetapi sebagai penulis professional yang memiliki passion pada karyanya. “Telkom punya direksi sekelas ulama,” komentar ustadz Irfan Helmi dari MUI Pusat.

Selama pameran, beberapa masukan, dan komentar diterima oleh Tim Qbaca. Mungkin aku akan memberikan komentar satu-per-satu di sini, sekaligus buat bahan diskusi buat menerima lebih banyak masukan lagi buat perbaikan produk milik bersama ini.

EPUB3

Qbaca bukan saja akan memigrasikan buku ke bentuk digital, namun juga akan menjadi platform bagi konten dan aplikasi digital interaktif skala mini untuk dapat dikemas dalam bentuk e-Book, dan didistribusikan dalam Qbaca bookstore. Format yang mutakhir, terbuka, terstandardisasi, dan paling memungkinkan untuk ini adalah EPUB3. EPUB3 memungkinkan konten berupa teks, gambar, animasi, video, suara, dan aplikasi interaktif untuk dimasukkan ke dalam e-Book secara relatif mudah. Dalam konteks buku-buku sekolah, kita dapat menciptakan LKS digital, laporan, eksperimen, tes kemampuan, dll, dalam e-Book berformat EPUB3 ini.

EPUB3 juga, sebagai format standard, dipilih untuk memudahkan para publisher mempersiapkan e-Book sendiri sebelum disubmit ke dalam sistem Qbaca. Berbagai program (mis Pages di Mac) dapat melakukan ekspor ke EPUB. Program gratis seperti Calibre dapat melakukan konversi ke EPUB. Program Sigil dapat digunakan untuk membuat dan mengedit file EPUB.

Namun, file akan dikirimkan ke user dalam bentuk file EPUB3 terenkripsi. Jadi hak-hak penerbit tetap dijaga.

Digital Right

Qbaca harus memastikan bahwa para penerbit dan penulis di Indonesia bersedia bekerja sama, dan menyumbangkan buku untuk didistribusikan di Qbaca. Salah satu hal yang diminta semua penerbit besar saat ini adalah dijaganya digital right. Memang ini jadi melanggar prinsip pribadi yang menyukai konten terbuka. Secara pribadi, semua whitepaper, materi lecture & seminar, dan presentasi, selalu aku bagikan free via web atau jalur lain. Tetapi kita tidak hidup di lingkungan tempat para penulis berpikir seperti penulis O’Reilly (yang sering aku jadikan contoh dalam distribusi buku tanpa DRM), dan pembaca publik di Indonesia pun belum seluruhnya berperilaku seperti sebagian besar segmen pembaca buku-buku O’Reilly. Survei-survei menunjukkan bahwa publik di Indonesia lebih suka mencari konten gratis (termasuk Internet gratis dan listrik gratis, jika memungkinkan), plus suka berbagi konten gratis yang bukan milik mereka sendiri. Belum ada kesadaran menjaga copyright atau copyleft.

Jadi, sampai budaya kita bisa agak berubah, atau sampai para penerbit/penulis bersedia bekerja sama dengan model bisnis tanpa DRM, kita terpaksa masih akan memberlakukan DRM.

Platform

Qbaca akan tetap diarahkan sebagai platform. Bukan hanya berarti Qbaca dapat menampung berbagai konten dan aplikasi yang berbeda sebagai konten yang dijual dan didistribusikan di atasnya, tetapi juga Qbaca akan dikembangkan untuk memungkinkan transaksi dilakukan tidak hanya di sistem Qbaca. Setelah sistem teruji oleh pasar, kita akan mengajak para developer untuk menciptakan aplikasi reader yang terhubung dengan sistem Qbaca, membuat toko digital yang dapat digunakan untuk membeli konten di Qbaca, membuat lini produksi yang dapat langsung melakukan submit konten (e-Book dan konten lain) ke Qbaca, menghubungkan aplikasi dan web dengan Qbaca, dan masih banyak kemungkinan lain.

Kompatibilitas

Pada versi terkini (2.0.0), Qbaca tidak dapat dijalankan pada Jelly Bean (Android 4.1 dan 4.2). Ini memang mengecewakan, terutama bagi kami. Aku sendiri menggunakan Flexi di Samsung Galaxy S3 dengan Android 4.1.1, jadi masih ikut mengalami crash ini. Tim developer menjanjikan  bahwa versi yang berjalan baik di Jelly Bean akan diterbitkan sesegera mungkin.

Versi iOS tetap dijadwalkan terbit pada bulan Desember. Waktunya memang mendesak, sementara Apple approval memerlukan waktu tak sedikit. Mohon kesabaran sedikit dari para penganut “Think Different” :).

Versi Blackberry masih di luar rencana. Tapi kami berharap RIM benar-benar mewujudkan harapan kita semua untuk memungkinkan aplikasi Android dijalankan di atas OS Blackberry 10.

User Interface

User Interface Qbaca masih jauh dari memuaskan. Kami masih terus memperbaikinya. Kami telah meminta masukan dari para blogger dan anggota komunitas pembaca buku serta komunitas penggemar gadget. Ada banyak masukan, dan beberapa di antaranya bertolak belakang. Misalnya, ada yang memilih halaman depan hanya diisi cover tanpa deskripsi, namun banyak yang juga mengharapkan deskripsi tetap ditampilkan. Tim kami terus memilah, melakukan eksperimen, dan memperbaiki user interface ini.

Buku Yang Terbatas

Sebagian besar penerbit yang telah memiliki perjanjian kerja sama dengan Qbaca masih memerlukan waktu lebih panjang untuk mempersiapkan konten EPUB. Umumnya mereka melakukan layout dengan In-Design atau program lain yang belum dapat menyimpan hasil seperti yang diharapkan, dalam format EPUB3. Tapi konten-konten baru saat ini terus-menerus ditambahkan.

Penulis Indie

Sebagai corporate yang memang masih mengemban sisa-sisa masa lalu, Telkom belum cukup luwes untuk bekerja sama dengan individual. Revenue sharing baru dapat dilakukan dengan badan hukum :). Namun Qbaca akan membuka kerjasama dengan pihak ketiga untuk menerima naskah dari penulis indie; sehingga naskah dapat diformatkan menjadi EPUB3, dan disubmit ke sistem Qbaca, plus dilakukan revenue share dengan cara yang tetap memenuhi persyaratan bagi semua pihak.

Tambahan

Beberapa situs / news / blog yang mengulas Qbaca:

News / Journal: Daily Social | Tempo | TribunTelkom Speedy | Mizan
Blog: Nike Rasyid | Fera Marentika | Bambang TrimHindraswari EnggarDaily Andro
Qbaca: Site | Twitter | Facebook | Google Playstore | Mail

Workshop Buku Digital

Kota Bandung akan mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat Ibukota Buku Dunia (World Book Capital) di tahun 2016. Ini salah satu point terpenting yang disampaikan Bapak Mahpudi, Wakil Ketua IKAPI Jawa Barat, pada kegiatan Workshop Pengembangan Buku Digital tanggal 27 September kemarin.  Workshop ini diselenggarakan di Mabes IKAPI Jabar di kawasan Ciateul, Bandung. Di workshop ini, aku mempresentasikan “Eksplorasi Buku Digital” buat para penerbit buku se-Jawa Barat. Tapi sebelumnya, GM Unit Business Service Telkom Regional III Gunawan Rismayadi berbincang dulu dengan peserta workshop tentang strategi Telkom menumbuhkan bisnis digital, termasuk dengan partnership dan inkubasi UKM (Usaha Kecil Miliaran).

Presentasiku sendiri berfokus ke salah satu project bottom-up di Telkom, yaitu pengembangan ekosistem buku digital (e-Book). Project ini belum diberi nama resmi :). Tapi kami sudah menyelesaikan business plan. Dari sisi teknis, bakuan sudah ditetapkan. Untuk pengembangan, kami telah memilih partner yang terpercaya. Para penerbit sudah dilibatkan sejak awal, bukan saja untuk memberikan content buku digital, tetapi juga untuk merumuskan bentuk produk e-Book itu. Dan, tentu saja, komunitas-komunitas pecinta buku, penulis, penggemar gadget, kami ajak berbincang asik untuk membahas pengelolaan produk.

e-Book sendiri bukan sekedar buku yang dipindahkan ke komputer dan gadget. Seperti surat berpindah ke email dan TV berpindah ke IPTV, e-Book akan mendapatkan banyak nilai tambah saat bermigrasi ke dunia digital. e-Book bukan saja berisi teks dan gambar, tetapi dapat memuat berbagai konten multimedia, seperti animasi, video, hingga interaktivitas. Untuk mendukung ini, kami memilih standard EPUB3, bukan PDF atau semacamnya. Developer kami terpaksa mengubah desain asli mereka untuk mengikuti standard yang kami tetapkan ini. Tentu konten ini harus dikunci dengan mekanisme DRM yang kuat, untuk memastikan buku hanya dibaca oleh user yang memiliki hak untuk membaca.

Sementara ini, aplikasi client disiapkan hanya untuk Android dan iOS. Versi Mac, PC, web, Blackberry, Windows Phone, dll, bisa menyusul, tapi belum ditetapkan prioritasnya. Tapi kami sadar bahwa pemakai smart phone dan tablet di Indonesia umumnya menggunakan Android; dan pemakai Android umumnya gemar barang gratisan. Jadi, konten-konten buku ini, selain juga dijual, juga dapat dimungkinkan untuk diberikan secara gratis, asalkan ada dukungan iklan. Iklan ini berasal dari advertiser, yang seolah-olah mentraktir pembaca buku, sehingga mereka bisa mengunduh buku secara gratis. Iklan dipasang sebagai in-content advice, bukan sebagai banner advertising atau semacamnya. In-content artinya iklan berada di dalam buku, mirip iklan di majalah saat ini; dan advice artinya iklan bersifat kontekstual, sesuai dengan tema buku dan kebutuhan pembaca. Infomedia, satu perusahaan dari Telkom Group, sudah memiliki barisan advertiser yang siap memasang iklan. Tentu, keputusan memasang iklan dan jenis iklan tetap menjadi keputusan penulis buku dan penerbit.

Feature-feature lain masih terus ditambahkan. Workshop IKAPI ini juga sekaligus jadi ajang menerima masukan dari para publisher untuk menyiapkan produk yang betul-betul memenuhi kebutuhan pembaca, penulis, penerbit, dan pemakai gadget. Salah satu yang sering diminta oleh para publisher adalah interaktivitas, khususnya buat buku sekolah. Ini juga tengah kami siapkan, namun mungkin belum dapat selesai di versi awal dari produk ini. Akan diperlukan integrasi terbatas dengan database sekolah dan siswa juga nantinya; tetapi ini akan dipermudah karena ada SIAP Online.

Project e-Book ini sendiri dimulai dari keinginan rekan-rekan buat menyediakan produk e-Book yang membuat buku digital bisa membudaya di Indonesia. Amazon Kindle, Apple iBook, B&N Nook, dll belum banyak berisi Buku Indonesia, dan masih mempersulit transaksi dari Indonesia (kecuali user menggunakan jalan samping, seperti jailbreak, memalsu alamat, dan semacamnya). e-Book yang ada di Indonesia umumnya masih menggunakan PDF atau semacamnya; jauh tertinggal dari aplikasi serupa yang justru tampil menarik menayangkan konten majalah, misalnya. Kami berkomitmen agar hobbi dan gaya hidup membaca buku plus gaya hidup digital, bisa dipenuhi secara legal dan nyaman. Publisher bisa memperoleh jalur distribusi buku yang baru, sekaligus mendapatkan alternative business model yang berbeda.

Yang juga sangat penting buat aku adalah bahwa kesukaan kami membaca tidak perlu mengorbankan pohon-pohon, hutan-hutan, dan lingkungan hidup. Wangi kertas yang dulu harum, kini sudah tercampur rasa bersalah bahwa kami terlau banyak mengorbankan lingkungan buat kecintaan kami membaca. Dengan buku digital, aku berharap bisa beli buku lebih banyak; bisa bawa ratusan buku ke mana-mana setiap saat; dan tidak lagi banyak mengorbankan hutan hijau. Sekarang sih Kindleku memang terisi ratusan buku, tapi hampir tidak ada Buku Indonesia di dalamnya.

Komitmen semacam ini memang memerlukan kerja keras. Jadwal hidup beberapa minggu ini jadi agak tergeser dan terganggu akibat banyaknya bagian-bagian dari produk yang harus direncakanan dengan baik dan dipastikan dapat diimplementasikan sesuai rencana. Kontrak-kontrak, cara-cara pembayaran, user experience, dan masih banyak lagi.

Syukurlah, seperti para penerbit yang tergabung di IKAPI Jawa Barat ini, banyak pihak-pihak lain yang sudah menyatakan dukungannya atas project ini. Misalnya beberapa penerbit besar di Jakarta dan Bandung. Juga komunitas pecinta buku, penggemar gadget, penyuka komik. Komunitas pengembang konten digital sudah mulai tertarik membayangkan media baru untuk aplikasi interaktif mereka, termasuk saluran buat pemasarannya. Komunitas penyayang lingkungan, ada yang mau bergabung?

Satu lagi. Satu lagi. Ada usulan buat nama produk ini? Bikin usulan yang kreatif ya :)

%d bloggers like this: