APCC 2013

Alhamdulillah, akhirnya APCC 2013 terselesaikan. Ini proses panjang yang bikin sempat bergejolak antara semangat dan ketegangan yang sama tingginya. Ini adalah kelanjutan COMNETSAT 2012, saat Prof Byeong Gi Lee menyarankan IEEE Comsoc Indonesia Chapter menjadi tuan rumah APCC; lalu APCC 2012, saat kami memenangkan bidding untuk menjadi tuan rumah APCC 2013; disusul koordinasi kegiatan, baik event organising maupun paper management. Sebagai general chair, sidang IEEE Comsoc Indonesia Chapter memilih Dr Wiseto Agung sebagai General Chair APCC 2013. Langkah strategis lain yang dilakukan adalah menggaet ITTelkom (sekarang Universitas Telkom) sebagai co-organiser kegiatan ini, baik event maupun teknis-akademis. Seperti pada conference lain, kami harus tegang juga karena jumlah paper yang masuk sangat sedikit, hingga hari-hari terakhir. Tapi beberapa hari sebelum deadline, ratusan paper masuk melalui EDAS. Dari seluruh penjuru dunia, sebagian besar umat manusia yang terdidik sekalipun memilih mengirim materi pada detik-detik terakhir. Total terkumpul 309 paper. Technical Program Committee diketuai Dr Arifin Nugroho, dengan beberapa vice. Vice yang paling aktif-dinamis dalam proses pengolahan paper adalah Dr Rina Puji Astuti. Sementara itu konstelasi IEEE di Indonesia sedikit bergeser. Aku memegang posisi Chair di IEEE Indonesia Section, dan harus berbagi resource waktu dengan banyak kegiatan IEEE lain. Comsoc Chapter Chair (Satrio Dharmanto) dan para Past Chairs (Muhammad Ary Murti, Arief Hamdani) meneruskan perjuangan mensukseskan APCC 2013. Dengan seleksi yang ketat, APCC 2013 meluluskan 163 paper (53% dari total paper yang masuk).

APCC

APCC, Asia-Pacific Conference on Communications, adalah konferensi regional yang sangat bergengsi di Asia Pasifik sebagai salah satu kawasan dengan pertumbuhan teknologi IT tertinggi di dunia. Selain disponsori oleh IEEE Comsoc, APCC juga didukung oleh KICS di Korea, IEICE Communications Society di Jepang, dan CIC di Cina. Nama2 anggota ASC juga cukup mendebarkan: tokoh-tokoh besar yang merupakan pionir dunia ICT. APCC diselenggarakan pertama kali tahun 1993 di Taejon, Korea. APCC ke-18 tahun lalu juga diselenggarakan di Korea, tetapi di Jeju Island. Tahun ini, APCC ke-19 diselenggarakan di Bali Dynasty Resort di Pantai Kuta, 29-31 Agustus 2013. Aku memang sudah di Bali sejak 26 Agustus demi TALE 2013. Rekan-rekan dari Universitas Telkom (Bandung) didukung Universitas Udayana (Denpasar) mulai menyiapkan semua proses pada 28 Agustus.

image

Kamis, 29 Agustus, APCC dibuka. Dengan technical sponsor yang cukup banyak, cukup banyak juga speech yang disampaikan pada acara pembukaan. Tapi masing-masing memakan sekitar 5 menit saja. Opening speech disampaikan Dr Wiseto Agung (GC APCC  2013), Satriyo Dharmanto (Chair, IEEE Indonesia Comsoc Chapter), Dr. Ali Muayyadi (Universitas Telkom), Prof. Zhen Yang (Chair of APCC Steering Committee; Chair of the CIC), Dr. Ishikawa Yoshihiro (Chair, IEICE Communications Society), Prof. You-Ze Cho (Vice Chair, KICS), dan Koen (Chair, IEEE Indonesia Section). Dalam hal ini, IEEE Indonesia Section mewakili IEEE yang merupakan technical endorser kegiatan.

image

Paparanku cuma menyampaikan bahwa Asia Pasific memiliki arti besar dalam pengembangan ICT. Selain bahwa kawasan ini merupakan pusat industri ICT yang paling kompetitif, penduduk kawasan ini juga termasuk yang paling adaptif pada budaya digital lifestyle yang baru. Kekayaan budaya juag mendukung  pengembangan teknologi komunikasi, yang akan memahami dan mendukung bentuk interaksi yang sangat kontekstual dan sangat manusiawi. Namun masalah sosial kawasan ini juga mengkhawatirkan. Teknologi membuka akses informasi, tapi mendorong konsumerisme, tapi juga memungkinkan pelestarian alam, tapi juga meningkatkan polusi, tapi juga menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga mempercepat urbanisasi, dst, dst. Tugas para insinyur adalah merancang dan mengembangkan teknologi yang akan mengatasi berbagai masalah kemanusiaan dan mencerdaskan kehidupan manusia. Pada konteks sosial inilah, kami memilih tema APCC 2013 ini: Smart Communications to Enhance the Quality of Life.

Kuncoro Wastuwibowo APCC

Sesi keynote speech diisi berturut-turut oleh Prof Byeong Gi Lee (Past President, IEEE Communications Society; Past President, KICS), yang tetap bersedia berkunjung ke Indonesia meramaikan APCC; Prof. Adnan Al-Anbuky (Director of Sensor Network and Smart Environment (SeNSe) Research Lab, School of Engineering Auckland University of Technology, Auckland – New Zealand); Mr Indra Utoyo (CISP, Telkom Indonesia; Chairman, MIKTI), dan Ichiro Inoue (Network Systems Planning & Innovation Project, NTT).

APCC Telkom Indonesia

Kegiatan berikutnya cukup padat; tapi khas untuk setiap international technical conference. Sesi special speech, sesi tutorial, sesi presentasi paralel, sesi poster, dll. Di sesi tutorial, aku menghindar dari hal mainstream macam mobile network dll; dan memilih jaringan sensor yang merupakan salah satu elemen buat Internet of Things (IoT). Tutornya kebetulan sepasang profesor dari Coventry University. Hey, ini universitas modern (bukan universitas seangkatan universitas klasik) yang tahun ini banyak memperoleh appresiasi dan penghargaan di mana-mana loh. Acara rutin lain adalah Gala Dinner, tempat beramah-tamah dalam suasana semi formal, tapi boleh tertawa keras-keras; termasuk sesi-sesi penyerahan Paper Award dari APCC Steering Committee.

image

Sesi poster, yang diselenggarakan di hari terakhir, biasanya paling sepi pengunjung. Jadi aku justru menyempatkan diri datang ke sesi poster, dan secara serius menanyai setiap pemapar poster satu-satu. Sambil belajar banyak hal baru, sambil menambah network. Perbincangan di sesi poster bisa lebih dalam dan lebih menarik daripada sesi presentasi yang waktunya sangat terbatas.

Kerja keras yang luar biasa dari para organiser, di sisi teknis, perencanaan, dan pelaksanaan. Di sesi review di Sabtu sore, aku menyampaikan bahwa biarpun para organiser selalu merasa ada banyak kekurangan, namun dari APCC Steering Committee dan para peserta, kita justru secara personal menerima appresiasi dan feedback yang sifatnya positif. Luar biasa! IEEE, Unitel, Unud, dan semua. Luar biasa. Tahun ini akan masih banyak event-event dari IEEE Indonesia Section. Mudah-mudahan semua memberikan dukungan seperti saat ini, dan memberikan hasil yang lebih luar biasa :). Thanks, all.

TALE 2013

TALE, yaitu IEEE International Conference on Teaching, Assessment and Learning for Engineering, adalah salah satu dari tiga konferensi kunci dari IEEE Education Society. Tahun ini TALE diselenggarakan di Bali Dynasty Resort, sebuah resort di tepi Pantai Kuta, Bali, tanggal 26-29 Agustus 2013. Indonesia menjadi tuan rumah TALE atas rekomendasi Prof Michael Lightner (ex IEEE Education Society President), yang merasa IEEE Indonesia Section cukup serius dalam menyelenggarakan IEEE CYBERNETICSCOM 2012, tempat beliau hadir sebagai keynote speaker. Tentu, walau memperoleh rekomendasi, tim Indonesia tetap harus melakukan bidding pada TALE 2012 di Hongkong. Waktu itu konon Indonesia mengalahkan Malaysia pada bidding final.

Bidang teknis konferensi ini dilaksanakan oleh IEEE Education Society. Jadi IEEE Indonesia Section hanya direpoti untuk event organising. Penyelenggaraan dipimpin oleh Dr Ford Lumban Gaol, sebagai General Chair. Beliau juga adalah wakil ketua (vice chair) dari IEEE Indonesia Section. Dukungan datang dari beberapa kampus, terutama Universitas Bina Nusantara, Jakarta. TALE berjalan secara serial (bukan paralel) dengan APCC; jadi kami berbagi perhatian: Pak Ford di TALE dan aku di APCC. Aku cukup datang ke TALE dalam keadaan sudah disiapkan penuh oleh komite :).

Aku mendarat di Bali Senin siang, 26 Agustus. Bandara Ngurah Rai masih dalam proses renovasi yang intensif. Dari airport ke Bynasty Resort hanya diperlukan waktu sekitar 10 menit. TALE hari pertama ini penuh dengan kegiatan tutorial dan workshop. Sempat menyimak satu sesi workshop, aku menghabiskan sore dengan biking menyusuri Pantai Kuta, sampai matahari tenggelam. Sepedanya dipinjamkan gratis, btw :). Malam, ada acara Welcome Party, berisi pengenalan para VIP dan komite. Hadir dalam event TALE ini, Prof Manuel Castro (IEEE Education Society, President), Dr Alain Chesnais (ACM, Past President), Prof. Sorel Reisman (ex IEEE Computer Society President). Aku menghabiskan banyak waktu berdiskusi dengan rekan-rekan dari Bangalore.

TALE 2013

 (Sesi foto TALE 2013 setelah Acara Pembukaan: All in Batik)

Opening ceremony dilaksanakan 27 Agustus pagi. Opening speech dari Pak Ford sebagai General Chair, Prof. Gerardus Polla (ex Rektor Binus University) mewakili Binus sebagai co-organiser, lalu aku mewakili IEEE Indonesia Section. Seperti concern yang sering aku sampaikan dalam event uang mengkaji soal education, aku mengawali dengan paradoks bahwa walaupun nyaris seluruh kemajuan teknologi ICT diawali dari kalangan pendidikan, namun ICT justru belum banyak merevolusi bidang pendidikan (dibandingkan misalnya bidang komunikasi, transportasi, industri, dll). Infrastruktur ICT untuk ini sebenarnya sudah cukup siap. Namun sekedar mendigitalkan konten dan interaksi akan jauh dari memadai untuk mencapai harapan bentuk mendidikan yang mencerdaskan siapapun, pada umur berapa pun, dari kalangan manapun, di manapun, dengan cara yang tetap manusiawi dan tak memisahkan manusia dengan lingkungan alaminya. Diperlukan paradigma baru atas proses pendidikan manusia yang berkelanjutan, dengan dukungan infrastuktur ICT yang bersifat pervasive. Ini sebenarnya hanya pembukaan buat diskusi :). Konferensi sendiri dibuka Prof Gerard Polla dengan dentuman gong Bali. Bmmm-bmmm-bmmm.

Keynote speech disampaikan oleh Prof. Manuel Castro dari IEEE Education Society, Prof. Ken Kawan Soetanto, dan Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro dari Binus Advisory Board. Bidang education itu menarik, mendorong, dan memiliki dampak luas. Diskusi pada sesi keynote pun cukup panas, dari berbagai visi. Pro dan kontra pada setiap aspek dari e-learning, digital education, dan lain-lain. Berbeda misalnya dengan sesi serupa dari konferensi bidang telekomunikasi. Tapi justru battle of the titan macam ini yang membuat sebuah konferensi jadi jauh lebih menarik daripada sekedar membaca tumpukan paper :).

image

 (Prof Reisman berbincang dengan Prof Castro dan M Chesnais)

Aku berbagi tugas cukup baik dengan Pak Ford. Jadi selepas acara pembukaan, kerjaku cuma iseng-iseng menjenguk sesi-sesi paralel presentasi paper dan melarikan diri ke pantai-pantai. Ini buat membuktikan tesis Wahyu Sardono alm, bahwa “Katanya pulau Bali dikelilingi pantai.” Tapi tugas ceremonial lain, tetap jalan.

image

 (Berfoto dengan Prof Castro dan Prof Ken Soetanto)

Hari terakhir, 29 Agustus (hari yang sama dengan pembukaan APCC). Bali konsisten dengan cuaca yang segar tapi panas. Para peserta sudah bergaya informal. Konferensi ditutup dengan penyerahan award oleh Alain Chesnais. Aku memberikan sambutan penutup, lalu menutup konferensi. Kali ini tidak ada gong. Jadi konferensi internasional keren ini aku tutup dengan mengetukkan pisau roti pada cawan putih. Tinq-tinq-tinq, TALE 20133 ditutup.

image

(Foto spesial dengan Alain Chesnais dan Alain Chesnais)

Konferensi IEEE Indonesia 2013

Tahun 2013 ini, akan mulai cukup banyak konferensi yang akan diselenggarakan IEEE Indonesia Section, baik sebagai aktivitas yang dipelopori Section, maupun yang diselenggarakan dengan skema technical sponsorship.

Permintaan technical sponsorship dari luar Indonesia secara umum akan didukung, namun dengan kehatihatian. Ada cukup banyak organiser konferensi dari luar yang hendak sekedar memanfaatkan reputasi IEEE (sebagai penyedia wacana ilmiah dengan tingkat sitiran tertinggi di dunia) untuk kepentingan jangka pendek; dan menganggap negeri-negeri seperti Indonesia sebagai tempat yang tepat untuk maksud semacam itu. Namun jaringan kerja yang sudah dibentuk Section bersama Region dan Society beberapa tahun terakhir sudah cukup kuat, sehingga kita dapat melakukan verifikasi atas organisaser semacam ini.

Sebaliknya, untuk perguruan-perguruan tinggi dan lembaga akademis lain di Indonesia, IEEE Indonesia Section justru memberikan dorongan dan dukungan untuk dapat membentuk atau meningkatkan konferensi-konferensi yang bertaraf internasional, dengan technical sponsorship dari IEEE.

Pada IEEE Region 10 Meeting Maret lalu di Chiang Mai, telah disampaikan bahwa sponsorship, baik dalam aktivitas verifikasi, approval, hingga quality assurance, diserahkan kepada ujung-ujung organisasi, yaitu Society, Region, hingga Section. Unit yang lebih kecil, semisal Chapter dan Affinity Group, dapat melakukan approval atas sponsorship; namun approval ini harus mendapatkan penguatan dari Section.

Maka Section dan Chapter di Indonesia menugaskan diri untuk menjadi pembimbing bagi perguruan-perguruan tinggi dan lembaga akademis dalam penyiapan konferensi, termasuk penyiapan dan verifikasi berbagai persyaratan (requirement), hingga aktivitas untuk menjaminkan kualitas konferensi. Termasuk di dalamnya adalah verifikasi pemilihan reviewer, proses review paper, pemeriksaan plagiasi. Diharapkan, ini akan memudahkan setiap konferensi untuk memperoleh MOU dan LOA dari IEEE HQ, dan proceeding dapat mudah lolos proses assessment untuk dimasukkan ke IEEE Xplore. Ini ternyata tidak mudah :). Section dan Chapter tidak dapat lagi dalam posisi menunggu kelengkapan persyaratan, dll; tetapi justru harus aktif menghubungi organiser, memberikan saran dan advice lain, hingga kadang harus menghubungi administrasi konferensi di HQ.

Di bawah ini beberapa konferensi yang tengah disiapkan untuk 2013.

Juni

Agustus

September

October

November

December

Bagi akademisi dan peneliti Indonesia, banyaknya konferensi ini membuka banyak peluang. Tentu approval atas paper tidak akan lebih mudah, karena proses reviewing akan sama ketatnya dengan konferensi IEEE lain. Namun paper dapat dipresentasikan dengan biaya lebih murah, karena transportasi dan akomodasi lokal, dan karena umumnya ada potongan harga khusus buat warga Indonesia. Konferensi ini juga bersifat internasional, sehingga point kredit akademis akan lebih tinggi dibandingkan konferensi lokal. Hmmm, akademisi pun suka hitung-hitungan yah? Wkwkwk. Yang menarik tentu adalah peluang networking dan kolaborasi dengan para akademisi dan researcher bertaraf internasional, yang akan membanjiri konferensi-konferensi ini. Berdasar experience sebelumnya, justru yang akan banyak hadir adalah para researcher dari mancanegara, khususnya Asia Pasifik, dan hanya sedikit yang dari Indonesia.

Tahun-tahun lalu, tokoh-tokoh IEEE seperti Prof Byeong Gi Lee, Prof Michael Lightner, dll hadir dan aktif dalam konferensi. Alih-alih sekedar memberikan keynote speaking, mereka hadir dalam setiap ruang diskusi, aktif bertanya, dan aktif bernetworking. Tahun ini, akan hadir a.l. President dari IEEE Education Society, President dari IEEE Communication Society, dan Director dari IEEE Region 10 di beberapa konferensi di atas. Tentu Chairman dari IEEE Indonesia Section yang terkenal jail dan badung itu akan hadir juga.

Chiang Mai

IEEE Region 10 Meeting tahun ini diselenggarakan di Chiang Mai. Acara ini bersifat tahunan, dan sebelumnya diselenggarakan di kota Lapu Lapu, Yogyakarta, dan Kolkatta. Selain semua Section Chair di Asia Pacific, dan para Officer dari Region 10, hadir juga beberapa VP dari IEEE HQ. Beberapa wajah sudah cukup kukenal, terutama dari meeting sebelumnya di Lapu Lapu dan Yogya. Kali ini IEEE President tidak hadir. Tak apa. Kan sudah jumpa beliau di Tanjung Benoa minggu lalu.

Pada tahun ini, IEEE Indonesia Section mendapatkan undangan khusus untuk memperoleh Section 25 Years Banner. Saat undangan itu diterima, M Ary Murti yang saat itu masih menjabat Section Chair memutuskan mengajak semua previous Section Chair untuk hadir di Chiang Mai. Dan semua mantan ketua yang masih hidup menyatakan bersedia hadir. Kebetulan kemudian leadership berpindah dari Ary ke aku (tentu via election). Jadi kali ini, aku jadi primary delegation dari Indonesia, dan para mantan ketua jadi secondary delegation.

Penerbangan yang kami gunakan adalah Garuda Indonesia untuk Jakarta – Bangkok, dan Thai Airways untuk Bangkok – Chiang Mai, pada 1 Maret. Kami mendarat di Chiang Mai saat malam telah jatuh, dan langsung ke tempat pertemuan sekaligus tempat menginap: Le Méridien. Region 10 Meeting baru diawali pada Sabtu pagi, 2 Maret 2013.

Day-1

Pertemuan resmi IEEE menggunakan protokol “Robert’s Roles of Order” yang digunakan di beberapa parlemen di dunia. Ini adalah protokol yang menarik, yang memungkinkan pengambilan keputusan bersama secara efektif. Pada hari pertama, Region 10 mengevaluasi Budget 2012, Strategic Planning, kemudian menampilkan rencana-rencana kerja unit-unit, serta support dari HQ dan Region 10 kepada Section-Section. Ditampilkan pula best practice dari berbagai Section dan unit-unit kerja lainnya. Highlight diberikan khusus untuk aktivitas GOLD, student, dan WiE. Beberapa insentif juga ditawarkan untuk mengaktifkan kegiatan-kegiatan khusus dalam Section. Sore, pertemuan dihentikan.

ChiangMai Region 10 Meeting

Malamnya, diselenggarakan gala dinner. Pada dinner ini, diserahkan berbagai award, kepada Section teraktif, Section kecil teraktif, volunteer terbaik, dan lain-lain. Banner “25 Years Anniversary” juga diserahkan kepada Indonesia Section pada acara ini. Banner diserahkan dari Ralph M Ford (VP MGA) ke aku sebagai Indonesia Section Chair, kemudian diestafetkan ke semua previous chairs dari Indonesia Section. Aku minta tolong Dr Wahidin Wahab untuk memberikan sambutan singkat. Pak Wahidin membahas sedikit tentang sejarah Indonesia Section dan ucapan terima kasih kepada pihak yang banyak membantu pengembangan Indonesia Section.

IEEE Indonesia Section Silver Anniversary

Hari kedua diawali petisi untuk memberikan penghargaan kepada Prof Marzuki, salah seorang pimpinan di Region 10 yang meninggal tahun lalu karena sakit yang cukup lama. Di tengah sakitnya, beliau tak berhenti melakukan tugas-tugas organisasi, termasuk mendukung banyak kegiatan Indonesia Section. Indonesia Section khusus menyatakan duka buat beliau juga malam sebelumnya. Kemudian dikaji rencana Budget 2013, laporan Tencon 2012, dan rencana Tencon 2013, serta R10 Congress 2013 (Hyderabad).

Talk sebentar dengan Region 10 Director, Prof Toshio Fukuda; mengundang beliau ke IEEE Cyberneticscom di Yogyakarta tahun ini.

Day-2

Berikutnya, penyampaian informasi dan policy tentang penyelenggaraan Section dan unit-unit di bawahnya. Terdapat beberapa hal baru, dan beberapa pengulangan hal penting. Seperti yang telah dilaksanakan dengan keren tahun ini di Indonesia Section, semua peralihan kepengurusan harus dilakukan dengan election, baik di Section, Chapter, AG, dan SB. Election dilakukan 1 atau 2 tahun sekali, sesuai kesepakatan. Ketua (Section / Chair / AG) tidak dapat diperpanjang lebih dari itu. Pengurus lain tidak boleh pada posisi yang sama lebih dari 6 tahun. Laporan wajib dikirimkan setiap tahun secara online. Seperti di Indonesia, ada juga Chapter yang tidak aktif dan tidak pernah berubah kepengurusannya selama bertahun-tahun. Kami saling belajar.

Acara berakhir setelah tengah hari. Setelah itu, wisata singkat di sekitar Chiang Mai. OK, berhenti blogging dulu. Siap-siap jalan-jalan :D.

IEEE Academic Gathering

Baru lewat sehari dari pengumuman IEEE Indonesia Section Election di tengah Januari lalu, Fanny Su dari IEEE Asia Pacific Office sudah semacam memberi tugas. Akhir Februari, tanggal 24-25, IEEE akan menyelenggarakan IEEE Academic Gathering di Tanjung Benoa, Bali, dengan mengundang 20 universitas terbesar (yang memiliki jurusan/bidang elektro atau IT). Tapi acara ini sudah direncanakan jauh hari, jadi IEEE Indonesia Section tak perlu ikut repot, selain diminta datang dan beramah tamah dengan para undangan.

Acara ini sendiri akan dihadiri Presiden IEEE, Prof Peter Staecker, dan mengundang Mendikbud Muhammad Nuh. IEEE menghubungi Pak Nuh via Prof. Gamantyo. Namun pada minggu terakhir sebelum acara, Prof Gamantyo berada di Kualalumpur. Beliau memintaku meneruskan jadi penghubung ke Sekretariat Kemendikbud. Sebetulnya komunikasi berjalan baik. Namun sayangnya di saat terakhir Mendikbud diminta menghadap Presiden RI pada Hari H. Tapi tak apalah :).

Serah terima kepemimpinan IEEE Indonesia Section sendiri baru sempat berlangsung 23 Februari. Dan tanggal 24, aku sudah terbang ke Bali, menghadiri acara resmi pertama sebagai Section Chair yang baru. Acara bertempat di Conrad Hotel, Benoa.

Conrad Hotel Benoa

Membuang lelah, aku rehat dengan jalan ringan dulu di pantai. Menjelang jam 19, baru aku balik ke hotel, pakai batik, dan bergabung ke Welcome Dinner.

Waktu registrasi, para panitia dari IEEE dan United Technology ternyata cukup kenal namaku. “Am I that famous?” tanyaku. Ternyata Fanny memforward semua korespondensi dari dan ke Sekmendikbud dan IEEE APO ke para panitia, sampai ke Prof Staecker sendiri, yaitu President dan CEO IEEE untuk tahun 2013. Jadi mereka beberapa hari ini sudah baca namaku. Sebelum dinner, aku jadi punya kesempatan berbincang panjang dengan Prof Staecker. Namun, aku meluangkan waktu panjang untuk temu kangen dengan Pak Sholeh, Pak Sutrisno, dan Pak Arief dari Univ Brawijaya; dan masih banyak lagi.

20130326-215458.jpg

Usai dinner, kami luangkan waktu untuk rapat persiapan APCC 2013, dengan Pak Ali Muayyadi dan Pak Ary Murti. Intinya, karena IEEE Communications Society Indonesia Chapter (OK, kita singkat Comsoc Chapter) memiliki HR yang tak banyak, maka kita meminta ITTelkom dapat melakukan penyelenggarakan conference APCC ini, on behalf of Comsoc Chapter. Pak Ali dalam hal ini mewakili ITTelkom (biarpun beliau juga pernah jadi Vice Chair di Comsoc Chapter), dan Pak Satriyo sebagai Chair Comsoc Chapter akan memeriksa kemudian. Syukur malam itu soal APCC terselesaikan. Tinggal eksekusi :).

Senin pagi, 25 Februari, acara resmi Academic Gathering ini dimulai. Mewakili Mendikbud, Prof. Achmad Jazidie memberikan paparan atas kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia. IEEE Senior Director menyampaikan arah IEEE dalam memberikan benefit bagi universitas demi tujuan akhirnya mengangkat harkat kemanusiaan melalui teknologi.

Prof Staecker sendiri memberikan sambutan singkat, kemudian memanggil tim Dongskar Pedongi. Tim ini adalah mahasiswa Teknik Informatika ITB yang tahun lalu memenangkan IEEEXtreme Programming 6.0. Menggunakan bendera IEEE ITB Student Branch, mereka mengalahkan hampir 2000 tim dari seluruh dunia, dan menjadi juara. Sungguh membanggakan. Nama Dongskar Pedongi sendiri cukup lama digunakan oleh tim ini; diambil dari gaya mahasiswa cupu yang suka mengubah “La(h)” menjadi “Dong” :D.

Dongskar Pedongi

Dalam break, Prof Staecker kembali berbincang dengan tim Dongskar Pedongi dan dengan Indonesia Section. Kali ini aku lebih banyak mendengarkan interaksi yang menarik ini :).

Tentu, sesuai pesan Fanny, aku banyak melakukan perbincangan dengan wakil-wakil kampus yang hadir; khususnya memperbincangkan pengelolaan paper, jurnal, conference, dan hal-hal yang berkait dengan transaksi akademis. Kampus-kampus cukup meminati kemungkinan menyiapkan fasilitas untuk publikasi internasional melalui indeks-indeks paper dunia. Hal lain yang dianggap menarik adalah kuliah jarak jauh (semacam MOOCS), dan e-Learning.

Acara ditutup dengan makan siang bersama. Dan foto bersama di bawah matahari terik. Tapi sambil becanda-canda :). Duh, tradisi yang ini :).

20130313-062527.jpg

 

APCC 2012

Duet konferensi IEEE Comnetsat dan IEEE Cyberneticscom di Bali bulan Juli lalu ternyata meninggalkan efek panjang. Walau kami para organiser menganggap segala sesuatunya masih jauh dari sempurna, namun kedua keynote speaker kami memiliki kesan berbeda. Prof Lightner (Presiden IEEE tahun 2006) dalam pertemuan di Hongkong memuji Cyberneticscom dan Comnetsat sebagai konferensi yang sepenuhnya memenuhi persyaratan dan bakuan IEEE, bahkan termasuk hal2 kecil seperti visual design; lalu mengusulkan Indonesia mengajukan proposal menjadi tuan rumah IEEE TALE 2013. Prof Byeong Gi Lee (Presiden IEEE Comsoc tahun 2010-2011), dalam komunikasi sesudah Comnetsat, juga mendorong Indonesia menjadi tuan rumah di APCC 2013. Kebetulan Prof Lee adalah General Chair untuk APCC 2012. Maka kami diundang untuk mengajukan proposal, melakukan bidding, pada APCC 2012 ini. Prof Lee orangnya sangat cerdas dan lembut, namun tegas. Jadi biarpun nadanya lembut, itu agak kami artikan sebagai perintah.

APCC, Asia-Pacific Conference on Communications, adalah konferensi regional yang sangat bergengsi di salah satu kawasan dengan pertumbuhan teknologi IT tertinggi di dunia. Untuk level internasional, IEEE Comsoc memiliki ICC dan Globecom. Untuk level general, IEEE Region 10 Asia Pacific memiliki Tencon (yang dituanrumahi Indonesia tahun 2010). APCC semacam irisan bagi keduanya. Namun karena bidang ilmunya spesifik, hubungan personal dan profesional di kalangan Steering Committee-nya (ASC) sangat erat. APCC, selain disponsori oleh IEEE Comsoc, juga didukung oleh KICS di Korea, IEICE di Jepang, dan CIC di Cina. Nama2 anggota ASC juga cukup mendebarkan: tokoh2 besar yang merupakan pionir dunia ICT. APCC diselenggarakan pertama kali tahun 1993 di Taejon, Korea. APCC ke-18 tahun ini juga diselenggarakan di Korea, tetapi di Jeju Island.

Comsoc Indonesia (IEEE Communications Society Indonesia Chapter) mulai bergerak. Pertemuan penjajagan dilakukan sejak Ramadhan tahun ini. Namun officer di Comsoc Indonesia, selain jumlahnya sedikit, juga sangat sibuk. Sangat! Jadi kami hanya membuat proposal yang sifatnya brief, bukan proposal lengkap. Justru, sambil mengajukan proposal, kami akan banyak minta masukan dari APCC Steering Committee. Walau beberapa kali menyelenggarakan konferensi internasional dengan hasil patut dibanggakan; tapi kami bahkan belum pernah datang ke APCC. Setelah melakukan negosiasi internal beberapa putaran, yang juga melibatkan IEEE Indonesia Section, diputuskan Indonesia akan mengirimkan aku (sebagai Past Chair Comsoc Indonesia), M Ary Murti (sebagai IEEE Indonesia Chair, tapi sebenarnya Past Chair Comsoc Indonesia juga sih), dan Agnes Irwanti (sebagai Sekretaris Comsoc Indonesia).

Karena kesibukan yang memang luar biasa, kami bahkan tidak bisa berangkat bersamaan. Visa Korea pun diuruskan. Aku memilih terbang dengan Garuda, berangkat dari dari Jakarta tanggal 13 Oktober malam, dan tiba di Incheon 14 Oktober. Berkeliling sejenak di Seoul, perjalanan diteruskan dengan Korean Air dari Incheon ke Jeju. Jeju adalah pulau wisata yang terletak lepas di selatan Semenanjung Korea. Kalau ada waktu, aku tulis rincian perjalanan di blog TravGeek deh. Tapi gak janji :p

APCC 2012 dibuka tanggal 15 pagi. Pembukaan dilakukan berturutan oleh Prof Jinwoo Park, Presiden KICS; Prof Byeong G Lee, dari IEEE; lalu Prof Yang Zhen, Vice Chair dari CIC. Plenary session dibawakan oleh Prof Tomonori Aoyama, yang juga salah satu pelopor APCC, dengan tema New Generation Networking (NWGN) and Inter-Cloud Computing to Handle Big Data. NWGN, atau disebut juga Future Internet, bukanlah sekedar pengembangan dari suite TCP/IP; melainkan rancangan arsitektur network baru yang bisa jadi berdasarkan Post-IP Network.

Break, foto2 dulu dengan beberapa peserta dari Indonesia, yang merupakan mahasiswa & mahasiswi di Korea dan Jepang.

Setelah break, ASC mengadakan sesi terpisah, untuk membahas penyelenggaraan APCC ini. Termasuk di dalamnya adalah pembahasan tuan rumah APCC berikutnya. Jadi delegasi Indonesia harus bergabung dengan ASC, dan gagal ikut sesi pembahasan industri bertema Advanced Multi-Screen Services and Future Smart TV.

ASC menempati ruang seminar saja. Anggota ASC, para titan itu, berkomunikasi dengan budaya yang menarik: lembut, tegas, dan memancarkan kecerdasan. Selain anggota ASC, hadir delegasi Indonesia dan Thailand yang mengajukan bidding. Thailand tampil dengan presentasi yang excellent, detail, sambil tak lupa membawa souvenir dari negerinya. Presentasi delegasi Indonesia disampaikan Mr Koen Clumsy yang seperti biasa berpresentasi dengan gaya gugup alaminya. Lebih banyak berfokus ke pemilihan tema, waktu, situasi.

Sesudah presentasi, diantara berentetan pertanyaan, Ketua Sidang sempat menanyakan, apakah Indonesia tidak berkeberatan jika diberi kesempatan sesudah Thailand saja. Aku menjawab bahwa kita tidak punya keberatan soal waktu dan tempat. Tapi memang keren kalau kita menyelenggarakan APCC di tahun yang sama dengan anniversary ke 25 dari IEEE Indonesia dan ke 10 dari Comsoc Indonesia. Ada beberapa pertanyaan lain tentu saja. Tapi kami bisa menunjukkan bahwa kami punya plan dan komitmen yang baik. Bernegosiasi dengan manusia-manusia yang cerdas tak pernah sulit :). Tak lama, kami diminta keluar.

Beberapa belas menit kemudian, kami diminta masuk lagi, dan diberi ucapan selamat. Sidang ASC telah menetapkan Indonesia jadi tuan rumah untuk APCC 2013, dengan Comsoc Indonesia sebagai organizer. Kami juga diminta menyampaikan pidato singkat pada banquet esok harinya.

Tanggal 16 pagi, aku masih ikut Plenary Session. Prof Zhisheng Niu menyampaikan tema Rethinking Cellular Networks – A Novel Hyper-Cellular Architecture for Green and Smart ICT. Siang, baru kelelahan terasa mengganggu. Kami menyempatkan menyegarkan diri dengan jalan-jalan ke pantai di depan hotel.

Malam itu, kami diundang ikut Banquet dari APCC. Sebagai calon tuan rumah tahun 2013, kami diminta duduk di salah satu meja VIP di depan. Tentu di acara semacam itu, toast jadi kegiatan rutin. Syukur ada yang meletakkan sebotol Coca Cola di meja; buat kami2 yang masih istiqomah tak mau menenggak khamar. Kempai! Aku minta Bu Agnes yang memberikan sambutan dari Indonesia; daripada aku clumsy lagi dan pasti dan tampak lelah. Deretan VIP bergantian mengajak berbincang tentang rencana APCC tahun depan.

OK, rencana APCC 2013 akan kita paparkan juga di blog ini; tapi di waktu lain.

Pagi tadi, aku bangun pagi2, dan langsung kabur dari hotel. Hampir tak ada taksi di Jeju sepagi itu. Tapi ada satu orang Korea sudah pesan taksi ke airport. Jadi aku boleh ikut. Dari Jeju Airport, Korean Air menerbangkanku ke Gimpo, dalam waktu 1 jam. Disusul jalan cepat 500 meter, aku masuk ke Arex (Airport Express). Arex adalah kereta yang menghubungkan Gimpo dengan Incheon, dengan waktu sekitar 40 menit. Di Incheon, aku langsung checkin di Garuda, jalan cepat ke imigrasi, jalan cepat ke kereta penghubung terminal, dan sampai di Gate 107 tepat waktu para penumpang diminta boarding. Wow, nyaris :).

Tujuh jam kemudian, aku sudah sampai Jakarta.

SM IEEE

Baru semalam aku menghadiri pertemuan pengurus IEEE Indonesia Section, di Binus University, Syahdan. Dipimpin Pak Lukas Tanutama, pertemuan itu membahas program Membership Development 2012-2013; termasuk upaya meningkatkan status para insinyur anggota IEEE di Indonesia, yang terlalu sibuk riset atau bekerja, dan pasti lupa urusan kecil macam peningkatan status keanggotaan :). Sambil buka puasa (“Menu tesis,” kata Pak Ford Lumban Gaol) kami juga membahas rencana konferensi kembar Cyberneticscom dan Comnetsat 2013, serta rencana Indonesia menuanrumahi APCC 2013.

Pagi ini IEEE menyapa lagi. Satu paket sampai di rumah. Isinya plakat, yang mensertifikasi peningkatan engineering level-ku ke level IEEE Senior Member, ditandatangani Presiden IEEE, Gordon Day, dan sekretaris, Celia Desmond. Gordon Day ini yang tahun lalu hadir di IEEE Region 10 Annual Meeting di Yogyakarta, waktu itu masih sebagai President-Elect. Beliau ini juga yang sempat gak sengaja ketemu di Tokyo bulan Juni 2011.

Pemberitahuan via mail memang sudah masuk 15 Juni lalu. Keputusan pengangkatan (tercetak di plakat) ternyata malah tanggal 2 Juni. Hmm, aku lagi di Bayreuth atau Berlin waktu itu.

Menurut situsnya, IEEE Senior Member adalah tingkat tertinggi yang dapat diajukan oleh anggota IEEE. Level yang lebih tinggi, IEEE Fellow, hanya dapat diajukan melalui nominator. Untuk mencapai level ini, kandidat haruslah:

  • Menjadi insinyur, ilmuwan, pendidik, eksekutif teknis, atau pelopor dalam bidang yang didalami IEEE
  • Memiliki pengalaman yang menunjukkan kematangan profesional
  • Menjalani pekerjaan profesional selama setidaknya 10 tahun
  • Menunjukkan kinerja luar biasa setidaknya 5 tahun

Bidang yang didalami IEEE:

  • Engineering
  • Computer science & IT
  • Physical sciences
  • Biological and medical sciences
  • Mathematics
  • Technical communications, education, management, law & policy

Tidak dipungut biaya untuk proses ini. Namun kandidat — tentu saja — harus jadi anggota IEEE dulu. Dan, kita tahu, keanggotaan IEEE memang tidak gratis. Selain itu, akan diperlukan testimoni dari para Senior Member sebelumnya.

Aku cukup beruntung, memiliki para senior yang bersedia memberikan testimoni, entah macam apa, tapi yang jelas membuat komite cukup cepat memberikan keputusan pengangkatan. Terima kasih buat:

  • Prof. Dr. Dadang Gunawan, Universitas Indonesia
  • Arnold Ph Djiwatampu, TT Tel
  • Lukas Tanutama, Universitas Bina Nusantara
  • Dr. Wahidin Wahab, Universitas Indonesia

Oh, ya. Dari kecil memang cita2ku jadi Insinyur :). Dan aku masih cukup konsisten untuk terus mengasyiki dunia engineering. Jadi karyawan di perusahaan yang dinamis memang memungkinkan kita mendapati proyek engineering yang menarik. Tapi keacakan keputusan HRM kadang memaksa kita bekerja di bidang non-engineering. IEEE justru membantu aku di masa2 itu untuk tetap bisa bekerja sebagai Insinyur, dengan menyediakan ruang diskusi dan kerja di bidang engineering, dan dengan memungkinkan aku memberikan pelatihan, seminar, dan networking di bidang engineering.

Hal2 itu justru akhirnya membuat aku jadi volunteer dan officer di IEEE Indonesia Section, termasuk di IEEE Communications Society Indonesia Chapter. Namun pekerjaan dan minatku tetap di engineering. Industry. Bukan di akademis.

Dunia riset dan akademis memang bagian sangat critical di engineering. Kita beroleh pengembangan paling maju terutama dari hasil riset. Namun game dalam dunia kampus, terkait terkait urusan point, kum, gelar, nilai, dan seperangkat aturan periferalnya, bikin aku kadang merasa agak tak nyaman dengan kampus. Jiwaku anarkis kayaknya. Tapi pekerjaan engineering tetap memerlukan insight yang membuat kita akrab dengan paper, serta dokumen dan komunikasi teknis lain. Jangan khawatir, aku gak akan alergi paper :). Addicted malah.

Aku masih terus cari peluang untuk lebih banyak menciptakan kegiatan koordinasi engineering dalam kerangka IEEE yang tak terlalu banyak bersifat akademis. Sekali lagi, bukan karena soal akademis kurang penting; tapi justru karena selama ini kegiatan IEEE dan organisasi serupa justru lebih banyak berfokus ke soal akademis.

Memang, ini akan perlu terobosan dan ide baru. Juga akan perlu lagi meluangkan waktu dan dana yang sebenarnya juga tidak berlebihan tersisa. Tapi, buat komitmen “advancing technology for humanity” … apa sih yang nggak? :)

%d bloggers like this: