Garis Kabut

Jarang-jarang aku mengarah ke timur di Bandung sepagi ini. Kilau matahari tajam menusuk mata. Aku geser penutup kepala ke depan. Debu, asap, campur kabut tipis berpendar sepanjang Cicadas. Pepohonan berdaun jarang-jarang menapis sinar matahari, memola gemaris bersudut pada kabut jalan. Kendaraan segala dimensi berdesing tanpa ampun sepanjang jalan yang belum sempat macet.

Seorang lelaki setengah baya, berhenti dan memunguti sisa-sisa sampah di pinggir jalan. Segenggam kulit jeruk dan sisa isinya. Didekatkannya ke mulutnya, lalu sambil meneruskan berjalan, ia mulai mengeratnya. Bajunya tidak terlalu kotor — mungkin belum terlalu lama menggelandang.

Hmmm … aku bener-bener masih di Bandung.

%d bloggers like this: