Page 54 of 211

Belajar Hidup

“Apa sih hidup itu menurut Anda?”

Pertanyaan lucu. Seolah kita bukan orang yang menjalani hidup :). Tapi serius, pertanyaan semacam itu sering masuk ke site ini. Sebenernya nggak salah juga sih, berhubung emang site ini ditajuki “reinventer la vie.” Cuman kebayangnya yang bertanya pasti bukan orang yang jatuh bangun dan mengalami kesakitan dalam menjalani hidup ini.

Waktu ditanya tentang apa yang paling sulit dalam hidup, Nazaruddin menjawab: “Memberi ide kepada orang seperti Anda tentang realita.” Nazaruddin disimbolkan memang sebagai tokoh yang hidup. Arif, tapi tidak muluk2 seperti para sufi karbitan. Menjalani hidup apa adanya, dan demikian merasakan hikmah tanpa harus repot merumuskannya.

 

“Saya mau belajar hikmah,” kata salah satu calon muridnya.
“Perlu 10 tahun,” kata Nazaruddin.
“Saya akan belajar keras, siang malam, membaca semua buku, dan banyak merenung.” tambah si calon murid.
“Kalau demikian, jadi perlu 20 tahun,” balas Nazaruddin.

Hidup dipelajari dengan menjalani kehidupan, bukan dengan mengulasnya. Hidup bisa seperti Tannhauser, di mana sang pahlawan ditolak oleh otoritas kepemimpinan, tapi tetap melanjutkan hidup. Hidup bisa seperti Tristan und Isolde, di mana manusia secara sukarela berhenti memperjuangkan apa yang paling penting dalam hidup pribadinya, demi berjalannya tata masyarakat. Hidup bisa seperti Siegfried, di mana sang pahlawan tak lebih merupakan manusia terpojok yang tak mengerti perannya dalam tata dunia. Dan kenapa aku ngasih contoh dari Wagner, bukan dari Q&H, soalnya orang suka berdebat soal agama, serem. Mendingan ngasih contoh dari Wagner, nggak ada yang mau bikin ribut, selain Parlemen Israel.

Apakah hidup berarti pengorbanan diri? Boleh, asal Anda melakukannya dengan hati yang jernih dan integritas yang matang, bukan oleh keterpaksaan.
Apakah hidup berarti terus belajar? Tentu, asal belajarnya sambil menjalani hidup.
Apakah hidup berarti perjuangan? Pasti, kecuali perjuangan yang tanpa visi.
Tapi kan hidup itu karunia tuhan? Memang, asal tidak sedang menghadap tuhan yang salah.
Kok bingung sih mendefinisikan hidup? Aku kira karena hidup itu bukan untuk dimainkan
dengan kata-kata.

ACCU

Sebenernya sih aku udah nggak sering-sering bikin program. Dan barangkali dalam situasi praktis, bergabung dengan ACCU udah nggak memberikan benefit terlalu besar lagi. Tapi lucunya, dari tahun 2003 kemaren aku masih jadi satu-satunya anggota ACCU yang berposisi di Indonesia. Menghentikan keanggotaan di ACCU bakal menghapus bukan saja namaku, tapi juga nama Indonesia dari ACCU :). Not a big deal, memang. Tapi sayang aja.

Jadi, akhirnya dikorbankanlah beberapa poundsterling buat bergabung kembali dengan himpunan penggemar C dan C++ ini.

Tapi sebenernya, kenapa sih orang Indonesia (lainnya) nggak ada yang berminat jadi anggota ACCU? Kemungkinan besar sih karena harus bayar. Boro-boro ACCU yang sangat spesifik di C++. IEEE yang bidangnya cukup luas aja nggak terlalu banyak diminati para engineer Indonesia. Mungkin kalau digratiskan, baru organisasi itu (atau organisasi dan fasilitas mana pun) akan dipenuhi orang Indonesia.

Alasan lain, barangkali, karena organisasi ini rada serius, dan nggak directly applicable ke kegiatan yang menghasilkan doku. Belajar Visual C++ bisa menghasilkan doku. Tapi memainkan Aspect-Oriented Programming, hmmmm.

Alasan yang lain … pakai kaos berbordir ACCU nggak keren. Dikirain gratisan dari pabrik aki.

God Fearing

Aku masih sering baca bahwa takwa diterjemahkan sebagai “God Fearing” — penterjemahan yang nggak masuk akal bahwa takwa identik dengan takut. Memang kita selalu diingatkan bahwa “Jangan takut pada apa pun, selain kepada Allâh.” Tapi ini adalah guidance internal, yang barangkali nggak salah juga kalau ditulis ulang misalnya jadi “Takutlah pada diri sendiri” atau “Takutlah hanya pada hati nuranimu” yang arti implisitnya hanyalah: jangan takut pada faktor di luar sana. Tuhan tidak di luar sana.

Setiap hari, berulang kita menyebut Allâh sebagai Sang Mahakasih Mahasayang. Di antara satu makhluk dengan makhluk lainnya memang ditumbuhkan juga rasa sayang, rasa kedekatan, rasa kasih. Tapi jarang ditemukan (dan sebenarnya, aku bener-bener belum pernah merasakan) adanya unconditional love yang sebenarnya dari manusia atau makhluk yang mana pun. Kita coba sayangi manusia, dan selalu kita harus menghadapi kekecewaan karena yang kita sayangi ternyata memang cuma manusia. Itu manusiawi — jangan mengharap lebih. Unconditional Love yang sesungguhnya hanyalah Rabb yang mengasuh kita, membimbing kita, menghangatkan hati kita, menguatkan kita, dan selalu menyayangi kita; bahkan setelah sebesar apa pun kedurhakaan yang telah kita lakukan. Unconditional — tidak menghilang, bahkan tidak pernah berkurang sedikit pun.

Takwa, lebih tepat diterjemahkan menjadi keberanian hakiki, karena kita bisa merasakan adanya Unconditional Love yang selalu mengisi kita. Kita berani benar, karena Allah menemani kita selalu. Kita berani mengambil resiko melakukan kesalahan dalam menjalani apa yang kita yakini harus dilakukan, karena sayang Allah selalu dilimpahkan pada kita, tanpa kecuali, tanpa syarat.

Rapuh Kaca

Tajam menatap aku pada matanya.
Tak dapat rapuh kaca itu pisahkan hujam mataku pada sukmanya.
Ini?
Yang selalu menggangguku?
Dengan ejekan dan fluktuasi spekulasi logikanya?

Absurd dan Sinting

Baca catatan tadi malam, suka merasa ajaib juga: kenapa sih aku selalu memaksa menyatakan bahwa hidup itu absurd?

Semesta itu fana, dibentuk dari proses fisika biasa, menghasilkan dunia fana yang berjalan dengan proses fisika biasa. Allah maha pencipta, tetapi mengajarkan manusia untuk hidup dengan mengenali dan mengikuti proses. Malam dan siang diciptakan bukan dengan membuat gelap dan terang, tetapi dengan merakit bumi yang bulat dan berputar dekat matahari pada jarak yang tepat. Makhluk hidup yang beraneka diciptakan dengan mekanisme evolusi genetika yang sepenuhnya matematis semata. Kepribadian dan kemasyarakatan disusun dengan meme yang juga hanya replikator yang menggandakan diri secara matematis, tak beda dengan gen. Aku lebih mempercayai para ilmuwan sinting daripada manusia yang mengandalkan kepercayaan buta semata.

Tapi hidup jadi nggak absurd karena hidup adalah ciptaan. Ada Kasih Sayang Agung yang tersenyum di belakang semua proses ajaib itu. Dan betapa keras pun para ilmuwan sinting itu meyakinkan bahwa Kasih Sayang Agung itu tidak ada; aku tidak akan mengkhianati mata dan hatiku yang selalu melihat-Nya setiap saat. (Dan itu menjelaskan kenapa mereka aku namai ilmuwan sinting). Ah, visi juga bagian dari meme, mereka bilang. Tapi apa yang salah? Visi bukan jatuh dari langit, tetapi dibentuk juga dengan proses. Dengan meme, apa salahnya. Hatiku tetap melihat Senyum Yang Agung itu.

Dan keabsurdan jadi keindahan.

Bukan berarti kita bisa selalu ceria. Tetep aja kepala suka pusing. Hati suka resah, menggapai jiwa yang terus mengembara. Memang absurd.

Hidup Itu

Salah satu yang paling menarik kalau lagi membahas hidup, tentulah, Mite Sisifus (The Myth of Sisyphus), yang pernah dikaji oleh Camus. Barangkali pernah aku tulis juga. Males recheck ah.

Sisifus, seperti juga kita, dikutuk para dewa. Dia hidup dengan terus menerus mendorong batu besar ke puncak sebuah gunung, lalu membiarkan batu besar itu menggelinding ke lembah yang dalam, untuk kemudian harus didorongnya lagi ke puncak gunung, terus menerus, tanpa mengenal lelah, dan barangkali juga tanpa bisa mati. Hidup yang absurd, seperti juga kita, di mana kita tak bisa berlepas dari takdir yang mengikat dan memasung keceriaan kemanusiaan kita.

Tapi dalam keabsurdan, kita masih manusia, yang punya kemampuan kemanusiaan untuk mengatasi. Dalam keabsurdan, kepribadian kita tidak harus jatuh. Dalam keabsurdan, kecerdasan kita mengenali nilai-nilai, membentuk hikmah, dan akhirnya mengakui betapa berartinya, betapa indahnya, dan betapa berharganya hidup.

Aku ogah cerita terlalu banyak tentang Sisifus. Edisi Bahasa Indonesianya udah terbit sekitar lima tahun yang lalu, atau mungkin lebih. Tapi Camus menyatakan bahwa kita harus menyimpulkan bahwa Sisifus bisa berbahagia.

Dan kenapa harus menggantungkan diri pada kausalitas absurd dalam semesta fana ini untuk memutuskan untuk menjadi manusia yang bernilai dan berbahagia?

Merdeka!

Perjalanan ke Malang ternyata punya efek samping lain: membuat aku kembali merasa dekat dengan Semangat Tujuh Belas Agustus. Sepanjang perjalanan dengan KA Gajayana (tanggal 14), ditayangkan film Tjoet Nja’ Dhien (tumben ada film bermutu di KA), memaparkan kisah perjuangan Ra’jat Nanggroe Atjeh zaman Teuku Umar dan Cut Nya Dien, menghadapi ekspansionis Belanda yang liciknya di luar kemanusiaan. Pun tanpa menyebut tokoh semacam Snouck Hurgronje. Tanggal 15, ada kado istimewa bagi Republik ini dengan ditandatanganinya Pakta Damai dengan GAM dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan hari itu aku bisa dengar aubade, yang directly bikin aku kembali ke zaman SMP waktu aku mengajukan diri ikut aubade, dengan lagu-lagu yang seluruhnya sama dengan yang dinyanyikan hari-hari ini di alun-alun Malang: “Hiduplah Indonesia. Hiduplah pandu nusa yang gagah perwira.”

Jadi, tanpa perlu menohok atau menghinakan bangsa lain, tanpa perlu terpaku pada sejarah, ayo kita rayakan kemerdekaan negara kita, kebersamaan kita, kesatuan kita, dan semangat kita untuk bersama-sama mencapai kejayaan bagi negeri ini.

Merdeka!

Hotel Tugu

Restoran di tengah hotel itu bersuasana tenang. Hawa sejuk Malang memberikan ketenangan dan kesegaran. Tapi … tchuttttt … sesosok makhluk kecil tampak melesat. Hey … tupai lagi! Tupai! Belasan tahun tinggal di Malang dulu, aku belum pernah lihat tupai di alam bebas di Malang. Si tupai melesat ke puncak pohon kelapa di tepi kolam renang. Menambah satu lagi keajaiban di tempat ini.

“Harta karun tersembunyi di Indonesia,” begitu review dunia internasional atas tempat penginapan unik ini: Hotel Tugu Malang. Nggak care sama urusan bintang, tapi membentuk diri sebagai boutique hotel. Nggak care sama kemegahan di luar, tapi menggeber segala bentuk artistika di setiap sudut di ruangan. Setiap ruang pun jadi memiliki keunikan. Kita bisa berwisata bahkan tanpa keluar dari hotel. Konon memang pemilik merangkap pendirinya merupakan kolektor seni yang nggak main-main.

Tapi hotel ajaib ini bukan cuma mengandalkan koleksi artefak budaya. Kalau kita sering keliling hotel di Indonesia, terasa ada yang unik dalam layanan yang kita rasakan.

Pertama, kita dikenal sebagai nama. Dari hari pertama pun, para crew memanggilku bukan cuman “Pak” tapi “Pak Kuncoro” — seolah aku udah beberapa hari atau beberapa minggu di sana.

Kedua, mereka nggak memaksa menunjukkan KTP. Cukup kartu nama. Yang dibutuhkan kan cuman cara pengejaan nama yang benar. Plus alamat, nomor telepon, semacam itu. Aku suka risi kalau orang lihat-lihat KTP-ku. Kenapa orang harus tahu data macam tanggal lahir, agama, dll? Ini bukan rumah sakit atau asuransi :). So, cuman kartu nama. Nggak lebih. Nggak juga kewajiban mengisi form, kayak di film Mr Bean :).

Ketiga, semua peralatan berfungsi. Hey, ini Indonesia. Bahwa semua peralatan berfungsi itu udah jadi keistimewaan yang langka. Nggak ada yang nggak jalan di kamar mandi. AC diset dengan baik dan nggak berisik. TV, fridge, sampai telepon. Mini bar tidak dikenai harga yang gila-gilaan. Harganya normal sekali. Ini juga keajaiban.

Dan coba titipkan kamar untuk keluar sebentar. Waktu kita kembali, kamar dan tempat tidur kita sudah akan tertata rapi. Baju yang nggak sengaja kita geletakkan di kursi pun jadi terlipat rapi. Khusus buat malam hari, selain kamar dan tempat tidur jadi rapi, juga ada pesan selamat tidur di atas selimut.

Dan semuanya dalam kewajaran yang sederhana. Tidak ada yang nampak berlebihan atau dibuat-buat. Kita bisa jadi diri kita sehari-hari. Nyaman, senyaman jadi diri sendiri :).

Trus aku jadi nanya sama salah seorang crew: “Itu tupainya memang dipelihara ya Mas?”
“Tupai yang mana?”
“Itu, yang kadang kelihatan dari restoran. Suka lompat ke pohon-pohon.”
“Oh. Di depan kan banyak pohon besar. Kayaknya tupainya dari sana.”
Bahkan tupainya pun nggak dibuat-buat.

Malang 65111

Setelah satu siklus bintik matahari, inilah dia: Kota Malang. Waktu kaki menjejak turun dari KA Gajayana, barangkali rasanya kayak Herriot waktu tiba di Darrowby: gamang, dihentak justru oleh kesunyian. Stasiun Malang seperti sebuah ejekan: Maaf Mas, kami lupa melakukan perubahan, soalnya Mas juga melupakan kami. Gamang, segamang ketemu keluarga yang bertahun tak bersapa.

Tapi justru di sini aku mau mencari jiwaku.

Ini kota yang membentuk aku, terutama di 65111 (dan kemudian juga di 65145). Meluncurkan aku ke personality yang seperti ini (seasing ini, if you don’t mind); sekaligus menyisakan banyak tanya. Ralat: membangkitkan kembali banyak tanya.

Apakah memang kaitan-kaitan sukmaku dimulai di kota ini? Atau kebetulan saja aku pernah singgah di kota ini, sementara urusan kaitan sukma sesungguhnya tertaut hanya dari sebuah global plan penuh permainan holografis. Aku masih mencari tahu.

Sementara itu, biar artefak-artefak di 65111 menceritakan kisah-kisah mereka sendiri.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑