Page 42 of 211

Tujuh

1/7 = 0.142857, lalu berulang. Dengan pola yang menarik. 2/7 = 0.285714. Kok bisa? Tentu, soalnya 28 =14 x 2 dan 57 = 28,n x 2. Dan n tentulah 571428 lagi. 3/7? 0.428571. Dan begitulah 6 angka membentuk 6 kemungkinan yang deretnya nggak berubah. Yang ketujuh tentulah 7/7 = 1, tanpa sisa.

Tujuh juga punya keistimewaan lain. Sebuah bilangan vvvwwwxxxyyyzzz adalah kelipatan atau bukan kelipatan 7 jika vvv-www+xxx-yyy+zzz juga kelipatan atau bukan kelipatan 7. Misalnya, apakah 950547276 adalah kelipatan 7? Kita uji dengan menghitung 950-547+276. Hasilnya 679. Dan 679 adalah 700 – 21, jadi kelipatan 7. Artinya 950547276 juga kelipatan 7. Cek deh dengan kalkulator. Ajaib? Nggak juga. Soalnya 1001 itu kelipatan 7, that’s all :).

Apalagi yang menarik dari angka 7? SLI-007? Flexi 7xxx-xxxx? Telkomnet Flexi #777? Flexi Supercombo 777? Pusing 7 keliling? Oh ya, hari ini tanggal 25. Pas 2+5=7. Bulan 6 tahun 2006 (=8). 7,6,8 dirata2 jadi 7. Maksa :).
Tapi kenapa namanya tujuh? Aku lagi nggak ngebahas rumpun bahasa Indo-Eropa, tapi Indonesia :). Orang Jawa bilang pitu, orang Sunda bilang tujuh. Orang Manado bilang pitu, orang Makasar bilang tujuh. Bagian timur Indonesia umumnya menamainya pitu, pito, fito, hito, hitu. Rumpun melayu memilih tujuh, tujoh, tajuh, to’juh, kjuh. Ada juga yang cuman juh aja (barat apa timur tuh).

Tristan & Iseult

Doyan Tristan & Isolde? Eh, emang kemaren pertanyaannya “doyan” yach? Hmm. Yang jelas aku ambil DVD itu dari BEC dengan dua alasan. Satu Celtic. Dua Wagnerian. Sambil berharap, mudah2an memang bagus.

Ceritanya sendiri nggak mirip dengan opera Wagner. Bukan berarti nggak asli. Tristan & Isolde (atau Iseult atau Yseult atau Isotta) sendiri merupakan cerita kuno, semacam cerita rakyat, yang tentu berbeda dengan dokumen sejarah yang tercatat. Orang boleh menulis menurut versi apa pun yang mereka dengar, dan boleh memodifikasinya sedikit banyak untuk memuati dengan pesan moral.

Berbeda dengan versi Wagner, versi DVD ini tidak banyak membahas racun, kecuali racun yang melumpuhkan Tristan, membuatnya dianggap sahid dan dimakamkan ke lautan, untuk justru akhirnya ditolong oleh Isolde. Seperti juga versi Wagner, Tristan dalam DVD juga tega menyerahkan soulmatenya ini ke raja Cornwall, demi tujuan yang lebih besar: mempersatukan negara2 Britania agar kuat menghadapi penindasan tak berperikemanusiaan. Dan seperti versi Wagner, Tristan juga tak dapat lepas hatinya dari Isolde. Akhir ceritanya?

Tentu, Tristan harus mati juga. Dan harus dengan gagah juga. Dan harus ditemani Isolde juga. Tapi ceritanya membuat kita nggak merasa membuang waktu, soalnya bener2 cerita yang menginspirasi dan membuat kita tidak merasa mengulang membaca buku Tristan & Iseult kita, atau mendengar opera Wagner Tristan & Isolde kita. Dan tentu kita jadi ingat bagaimana sebuah negara (Inggris) bisa kuat. Bukan saja dengan konsensus dan komitmen untuk membahagiakan rakyat, tetapi kadang juga dengan memotong leher dan mengangkat kepala terpenggal di muka umum.

Halo Bebas

Ke website Telkomsel; selain berita Communicasia 2006, ada juga peluncuran paket baru Halo Bebas Bicara, menambahi tiga paket Halo Bebas lainnya. Ini dia rinciannya:

PaketPaketTelkomsel.png

Aku sendiri masih pakai Halo Bebas Abonemen. Pilihan yang jelas salah, soalnya XPhone ini lebih sering dipakai SMS dan GPRS daripada bertelepon. I hate talking, indeed. Paket Bebas Abonemen ini dipilihkan secara default oleh Telkomsel waktu aku daftar dulu. Dan dulu juga aku daftar hanya gara2 ditawari nomor 0811-xxxxxx yang menurutku masih nomor menarik, dibanding nomor GSM lainnya. I mean, apa gunanya pakai nomor yang belakangnya 0000 kalau di depannya 0XYZ, kan? Termasuk 0812 apalagi 0813. Sorry ;).

Apa tadi? OK, I hate talking, dan Telkomsel membuat kita harus bicara untuk mengubah paket, dan akibatnya paket yang salah ini nggak aku ubah. Mungkin udah waktunya sekarang :). Paket Halo Bebas Bicara ini kayaknya pas buat aku, soalnya SMS dan GPRSnya bertarif normal. Normal mahal, memang. Tapi paket kayak Fren nggak bisa dibawa ke luar Jawa. Flexi sih bisa di 152 kota di seluruh Indonesia, sebentar lagi, kalau paket Supercombo dengan call & SMS forwardingnya udah jalan. Tapi sementara itu, Telkomsel masih pilihan menarik.

Talking of which, iklan XL keren juga ya?

Sabuga

Semalam bikin presentasi bertema Internet Goes To School, buat dipresentasikan hari ini. Tugas kantoranku nggak meliputi yang kayak2 gini sih, sebenernya. Cuman, melarikan diri ke yang kayak2 gini menarik juga.

Yang berpresentasi bukan aku, tapi Mas Sony (a.k.a. SBW). Aku happily jadi asrot di tepi panggung, sambil mejet2 touch pad dan tentu memainkan Pentax. Contoh aplikasi2 Internet yang kita paparkan a.l. weblogging (dan beberapa aspeknya, termasuk agregasi) dan beberapa service seperti Google Earth.

Sebelum kami, yang berpresentasi adalah Mas Khairul Ummah. Ini yang penulis buku Sepia itu, dan suka berkelompok Sharing Vision bersama Dimitri Mahayana. Trus … udah ah … bersambung. Susah bener cari waktu buat nulis weblog sampaoi selesai yach.

Hidupku Gagal Total

Dan itu bukan bencana :).

Aku masih kuat untuk tidak terjajah oleh apa pun, pun oleh diri sendiri.
Aku masih melangkah dengan sinar dari dadaku, bukan mengikuti api pembakar jiwa.
Aku masih tak terjebak mengikuti pacuan manusia yang membuat manusia tak lebih sekedar entitas dengan angka dan nilai dan target dan pencapaian.
Aku masih setia pada cercah sinar yang kujadikan panduan hidupku, dan pada imajinasiku, pada ide-ideku.

Aku tidak lebih pintar. Tidak bisa kaya. Karirku hancur. Citra diriku berantakan. Tak ada satu pun yang bisa dibanggakan.
Hidupku gagal total.
Dan itu bukan bencana.
Itu keberhasilan terbesarku.

Web 2.0

Google menyebut belasan juta hit untuk istilah ini. Factive menunjukkan 1500 kutipan. Technorati bilang ada seratusan ribu weblog yang mengulasnya. Dan satu lagi sekarang. Web 2.0. Banyak yang membahasnya dengan becanda. Kenapa? Definisinya memang tak pernah jelas. Entah karena cakupannya yang terlalu luas untuk disempitkan, atau memang dia tidak  sungguh2 punya arti. Spectrum coba2 mendefinisikannya secara kasar: fase kedua dari evolusi web dimana para pengembang mencipta site yang berlaku mirip program desktop serta mendorong komunikasi dan kolaborasi antar user. Tuh kan, kali ini nggak becanda :). Beberapa keywordnya: tagging, folksonomy, long tail, dan collective intelligence.

Yang mungkin terbayang dengan kata kolaborasi tentulah Wiki, dan berbagai proyeknya. Tapi yang membuat istilah Web 2.0 banyak dipakai justru Gmail dari Google. Juga Flickr yang dibeli Yahoo dan Writely juga dibeli Google. Google juga main spreadsheet sekarang. Belum nyoba. Dilarang dokter untuk sering ketemu spreadsheet, for God’s sake.

Web 2.0 dibasiskan pada web yang secara dinamik memanfaatkan database. Interface ditata dengan AJAX (kaitan asinkron antara Javasript dan XML). Web services banyak dimainkan. Yang menarik tentu adalah menciptakan info atau layanan baru dengan memanfaatkan web services dari beberapa sumber sekaligus.
Orang IT memang suka mengalihkan satu istilah ke istilah lain. Misalnya, dari dulu ada web service dan infoware. Dari dulu ada XML dan Javascript. Trus kenapa ada AJAX sekarang? AJAX memang sekedar Javascript bermain XML :). Tapi ada skemanya. User interface yang standard dengan DHTML dan CSS, dinamisasi interaktivitas dengan document object model, transformasi dan transfer dara dengan XML dan XSLT, komunikasi asinkron dengan XMLHttpRequest, dan JavaScript yang menggabungkan komponen2 itu.

Tapi, repot2, konon sebenernya Web 2.0 itu cuman semangat baru, menyambut kembalinya uang ke Internet. Tuh kan, becanda lagi. UUD pula :).

Telkomnet

Di mail list mus-lim@isnet.org, Mas Fahmi bercerita tentang Koran Tempo yang memelintir berita, seolah2 Gusdur diusir dst, dst. Bantahan itu sendiri dirilis oleh Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia. Lepas beberapa hari, Mas Harry Sufehmi memasang salinan rilis itu di weblognya: harry.sufehmi.com. Aku tentu udah lama kehilangan minat sama dunia Pergusduran. Atau JIL :). Nggak tau juga, kenapa kawan Harry yang cerdas ini masih doyan membahas JIL. Tingkah mereka yang cuman cecentilan itu nggak sepantasnya mendapat perhatianmu, kawan Harry :).
Yang aku lihat tadinya bahwa Mas Fahmi masih pakai alamat email di telkom.net. Hari gini? — gitu kali pikiran kita. Tapi aku mikirnya lain. Tokoh yang setia menggemakan suara Hizbut Tahrir ini tentulah lebih suka memakai produk lokal Indonesia, daripada pakai produk Amerika macam Yahoo, Gmail, Hotmail. Aku jadi lebih yakin lagi waktu baca di bagian bawah rilis, sang jubir juga menyediakan alamat kontak di telkom.net, selain di domain hizbut-tahrir.or.id sendiri. Yang ada, aku jadi malu: kok aku malah doyan pakai Gmail yach?

Tentu, Gmail menyediakan 2GB, sama dengan Yahoo dan Hotmail, sementara Telkomnet hanya bisa memberi recehan. Tapi, to be honest, mail2 penting sebenernya aku download ke harddisk, dan yang tertinggal di server2 itu, hilang pun tak masalah. Tinggal mengembalikan kebiasaan kuno untuk rajin menghapus mail, kita bisa mulai menunjukkan kemandirian kita kembali. Dan memulai penghematan bandwidth, biarpun nggak seberapa dibanding keterlanjuran kita menghosting web di luar negeri (gratis atau berbayar) dan menggunakan mail list di Yahoo atau Google juga.

Mail kuncoro@telkom.net masih aktif, btw.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑