Menghentak kesenyapan.
Menghentak kesenyapan.
Menghentak kesenyapan.
Barangkali memang bangsa ini akan hancur. Ada peringatan tertulis bahwa suatu kaum yang tidak memegang amanah akan dihancurkan dan digantikan dengan kaum lain yang lebih baik. Austria yang ceria dicaplok Nazi. Libanon, surga Timur Tengah, jadi tempat paling hancur tahun 80-an dulu. Nggak ada jaminan bahwa ketenangan dan kedinamisan hidup hari ini menyangkal kehancuran besok pagi.
Tapi sebuah hadis qudsi menceritakan bangsa yang terselamatkan. Dikatakan bahwa kadang Allah telah memutuskan untuk menghancurkan suatu bangsa yang hingar bingar. Tapi di tengah-tengah bangsa itu ada orang-orang tua miskin yang terus beribadah sambil tertatih-tatih; dan terdapat anak-anak yatim yang berdoa memohon perlindungan. Dan Allah membatalkan penghancuran itu karena ibadah orang miskin dan doa anak-anak yatim itu. Allah lebih menyayangi kaum seperti itu daripada orang-orang seperti kita.
Selama di bangsa itu anak-anak yatim dan orang-orang miskin masih bisa bertahan untuk hidup layak, mempertahankan iman, dan terus berdoa buat bangsanya, maka bangsa itu belum akan dihancurkan. Menyelamatkan sebuah bangsa bisa dilakukan dengan proyek-proyek kecil untuk menghidupi orang miskin dan mendidik anak yatim, agar mereka imannya terselamatkan, dan bisa terus beribadah dan berdoa buat bangsa ini.
Mendelbrot barangkali akan bergumam: kalau tidak mungkin menyerang New York, kenapa kita tidak memelihara kupu-kupu yang indah saja, di Tokyo
Di luar soal psikologi amatiran itu, ada soal lain yang juga terpikirkan. Di kerajaan, jelas munculnya Philippe jadi harapan semua orang, soalnya orang masih percaya sama soal keturunan (termasuk Dumas sebagai si penulis cerita). Tapi apa soal keturunan itu valid? Banyak yang percaya bahwa genetika benar-benar membentuk kualitas manusia dan kepribadiannya.
Misalnya, IQ (yang banyak diperdebatkan ketidakvalidannya). Satu orang dites IQ dua kali korelasinya 87%. Korelasi IQ kembar setelur yang hidup serumah 86%. Kalau tidak serumah 76%. Kalau tidak setelur tapi serumah 55%. Dan kalau serumah tapi bukan saudara kandung 0%. Tampaknya menguntungkan pendapat bahwa soal genetika itu significant. Pakar genetika bahkan sudah menentukan posisi kromosom penentu kecerdasan di DNA: kromosom nomor 6. Valid?
Pakar lain menemukan bahwa kromosom nomor 6 juga berkorelasi dengan kesimbangan minor, yang menentukan simetri pada telinga, tangan, kaki. Orang yang IQ-nya tinggi umumnya panjang jari di kanan dan kiri sama, dan semacam itu. Lho, apa si kromosom 6 mengurusi soal panjang jari, tangan, kaki, telinga, dan kecerdasan?
Janin yang baru terbentuk sebenarnya memiliki simetri yang sempurna. Tapi tekanan-tekanan (fisik, infeksi, emosi, dll), baik dalam kandungan maupun dalam pertumbuhan balita, bisa mempengaruhi bentuk manusia. Jadi kalau manusia masih berbentuk simetri sempurna, itu bisa berarti kurangnya tekanan yang dialami, atau bisa berarti kuatnya ketahanan menghadapi tekanan. Kemampuan menghadapi tantangan ini juga yang kemudian berkembang jadi kemampuan mengembangkan IQ. Jadi yang bersifat genetik sebenarnya bukan IQ, tetapi kemampuan mengembangkan IQ pada situasi lingkungan tertentu. Si A jadi punya IQ tinggi kalau hidup di domain X, tidak kalau di domain Y. Sebaliknya si B punya IQ tinggi kalau berkembang di domain Y, daripada kalau dia hidup di domain X. Tapi, hey, itu baru IQ. Belum personality.
Ada yang terpikirkan dari ?The Man with the Iron Mask?. Waktu bayi kembar Louis dan Philippe dipisahkan, dan diperlakukan berbeda, mereka jadi punya sifat yang jauh berbeda. Jadi secara ilmiah serampangan (yang bakal membuat Watson dan behaviorist lain bahagia), karakteristik manusia dipengaruhi oleh cara lingkungan mendidik manusia. Maksudnya, biarpun Aramis yang milih bayi mana yang jadi raja Louis dan bayi mana yang masuk penjara sebagai Philippe, dia sebenernya nggak lagi menentukan sejarah. Siapa pun yang jadi Louis, tetap saja dia akan jadi raja yang memuakkan, dan siapapun yang jadi Philippe, dia akan jadi pribadi yang baik setelah sekian puluh tahun dikerangkeng. (Para penganut Freudian yang menyebalkan itu pasti kesal, kalau ngikutin mereka mestinya justru Louis yang perilakunya baik, soalnya masa kecilnya bahagia, haha).
Nggak adil kalau nulis Watson dan Freud tanpa menyebut Maslow dkk. Aku rasa kalau ngikutin Maslow, jalan cerita itu agak valid. Kepribadian Philippe sekeluarnya dari penjara bakal hancur, tapi itu bisa diperbaiki karena dua hal. Pertama, faktor internal Philippe sendiri (berbeda dengan Freud yang mengagungkan faktor internal, madzhab Maslow berpendapat bahwa faktor internal cenderung bersifat positif, sementara menurut Freud cenderung ke arah negatif dan liar). Kedua, dukungan dari lingkungan (di mana perbedaan Maslow dan Watson adalah bahwa menurut Watson satu-satunya faktor yang patut diakui adalah faktor eksternal). Di akhir cerita pun konon Louis yang diubah namanya jadi Philippe dibebaskan oleh Philippe yang udah ganti nama jadi Raja Louis, karena kejahatan itu tidak akan abadi. Selalu ada waktu untuk berubah, memperbaiki diri.
Di luar hujan rintik dengan angin kencang. Di dalam ruang, Beethoven menghentakkan Eroica. Jadi siapa pahlawannya? Tergantung menurut siapa. Barangkali memang nggak perlu ada pahlawannya. Malanglah dunia yang membutuhkan pahlawan.
Ke site Harry Sufehmi. Banyak bener yang bisa dipelajari dari sana. Browsing hari ini bener-bener membuat waktuku nggak terbuang sia-sia.
Thanks, bro :).
Your name of Kuncoro creates a quick, clever mind capable of grasping and assimilating new ideas. You are rather studious, mentally challenging each new idea before accepting it. Because you learn so quickly you have little patience with those whose mental processes are somewhat slower, and you could become supercilious or somewhat “know it all” in your attitude. This characteristic could make you rather unpopular with your associates. Although you are very knowledgeable and intelligent, you often find spontaneous verbal expression difficult. You crave friendship, understanding, love, and affection abut your reserved manner appears forbidding to others. You can give expression to your personal thoughts and feelings most fluently through the written word. You have a sensitive nature–sensitive to your environment and particularly sensitive to how your deeper and more serious interests are regarded by others. Your feelings are very easily hurt and to protect yourself you withdraw within the realms of your own private thoughts and shut out the rest of the world. Moods, which are your worst enemy, result. Your sensitivity and lack of verbal expression frustrate and limit the satisfaction in life to be gained from your responsible and capable nature. Health problems arise due to worry and a sensitivity in the respiratory area which could lead to problems with the heart, lungs, or bronchial organs. |
Emosi lagi jelek bener. Lagi kangen berat sama orang-orang tersayang di tanah air, kayaknya. Cuman kok efeknya rada-rada destruktif gini yah :).
Enak kali kalau emosi bisa diatur, kayak Lt Commander Data di Star Trek. Tahun 1992 (waktu zaman bikin skripsi tuh), salah satu Star Trek TNG bertemakan si Data in love. Mesra sih di awal-awal cerita, tapi mesra khas Data gitu. Di akhir cerita, ceweknya merasa bahwa hubungan mereka nggak bisa diteruskan, soalnya bagaimana pun Data itu bukan manusia. Data dituduh cuman menyusun motivasi, menyusun emosi, bukan didorong oleh emosi. Jadi biarpun si Data-nya selalu penuh kasih sayang, tapi si ceweknya mikir bahwa itu karena memang si Data melakukan setting seperti itu. Sedih banget ceweknya waktu berusaha mutusin hubungan sama Data. Tapi Data menerima dengan tanang. Memang berat, katanya, tapi saya bisa mematikan setting emosi yang itu. Terus dia duduk diam ngedengerin musik. Aku kesel sekali. Maunya sih ngeliat reaksi dia yang lebih manusiawi. Enak aja, cuman matiin emosi, udah gitu ngedengerin musik pula. Maksud aku, kalau chip emosi kita mati, musik itu nggak akan lebih dari sekedar notasi matematika. Dan dia menikmatinya. Ironik bener.
OK, aku masih menikmati Konzert für Violine dari Beethoven. Yang ini aku nikmati bukan sebagai matematika.
Di elektrodinamika kuantum kita lekat pada angka 137 (nearly), dan di teori chaos ada angka 0.4699, dan kita punya tetapan Planck, konstanta gravitasi, muatan elektron, dll. Tapi dari mana angka-angka itu? Setiap kita menjelajah mencari sesuatu yang bersifat lebih elementer, kita selalu menemui bilangan ‘elementer’ yang baru dan sama sekali tidak berhubungan dengan bilangan lain.
Prinsip anthropic dengan mudahnya mengatakan bahwa bilangan itu disetel pada titik itu, karena kalau bukan pada titik itu, maka semesta tidak akan terbentuk, atau setidaknya tidak terbentuk seperti ini, dan akibatnya tidak mungkin ada manusia, dan tidak akan ada yang menanyakan pertanyaan seperti itu. Aku ngerti maksudnya sih. Semesta difine tune sehingga sehingga bisa stabil dan juga bisa memungkinkan manusia tercipta, tapi terus manusia malah nanya, kenapa settingnya kayak gitu.
Tapi coba kita bayangkan, misalnya yang diubah bukan satu tetapan, tapi semua tetapan itu diubah sekaligus, betulkah tidak mungkin menciptakan semesta yang relatif stabil dan yang bisa membangkitkan makhluk seperti manusia? Harus ada jawaban lain selain jawaban dari prinsip anthropic itu.
Kayaknya orang Polandia pakai style yang mirip Rusia, cuman pelatinannya diubah. Sh jadi sz, ch jadi cz, dan shch jadi szcz. Andrzej Jajszczyk, editor Communications Magazine. Gimana tuh bacanya? Besok aku mau lihat perubahan counter site ini buat ngitung jumlah orang yang lidahnya keseleo gara-gara nekat melafalkan nama itu.
© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑