Edison: Genius is one per cent inspiration, ninety-nine per cent
perspiration.
(Harper’s Monthly Magazine, September 1932)
Edison: Genius is one per cent inspiration, ninety-nine per cent
perspiration.
(Harper’s Monthly Magazine, September 1932)
Einstein: If A is as success in life, then A equals x plus y plus z,
where x is working, y is playing, and z is keeping your mouth shut.
(Observer, 15 January 1950)
SURPASS, buat Siemens, bukan sekedar produk. Tadinya kalangan Telkom mengenal
Surpass sebagai platform baru ciptaan Siemens yang men-switch-kan data paket
telefoni, dengan kompatibilitas dengan EWSD. Arsitektur Surpass menggabungkan
jaringan telefoni dengan IP/ATM secara halus, tanpa perlu restrukturisasi
network besar-besaran. Surpass juga kompatibel baik dengan SIP maupun Megaco.
Tapi melangkah lebih dari itu, Siemens berharap Surpass di dunia telekom bakal
sejajar dengan Windows di dunia komputer. API dari Surpass diberikan secara
terbuka dan gratis kepada para developer, agar banyak pihak turut mengembangkan
aplikasi di atas Surpass.
Menarik? Tadinya. Tapi nggak lagi. Pertama, siapa sih yang pingin ada Microsoft
satu lagi? Kedua, go MPLS !

Kalau si orang praktis benar-benar berpikir praktis, semestinya dia minum
air di gelas itu, trus balik bertanya, “Apa yang sedang dibahas?”
Sebuah gelas terisi air setengahnya. Orang pesimis berkata, “Gelasnya setengah
kosong,” dan orang optimis berkata, “Gelasnya setengah penuh.” Orang praktis
menutup, “Gelasnya yang terlalu besar.”
Guy Kawasaki, dari Apple Computer, menggolongkan perusahaan-perusahaan atas: (1) perusahaan yang merasa bahwa perilaku mereka mirip perusahaan Dilbert; dan (2) perusahaan yang perilakunya mirip perusahaan Dilbert tetapi tidak merasa …
Kenapa trus Dilbert mirip dokumentasi, bukan candaan? Scott Adams punya teori. Kalau kita berada dalam situasi absurd, dan tidak mampu mengatasinya, kita lama-lama akan menerimanya sebagai hal yang wajar.
Paling sekedar bilang “Hari ini hidup agak kacau,” atau semacam itu.
Kemudian kita disentak dengan menunjukkan keajaiban ala Dilbert, lalu ada yang bangun lagi di pikiran kita, berceletuk: “Ups!”
Yang ini (a) kisah nyata atau (b) kisah Dilbert:
Jawaban: 1a2a3b. Memang kisah Dilbert terlalu sulit dipisahkan dari kisah nyata.
Satu lagi wajah Indonesia di mata dunia: negeri tukang contek. Dengan recehan sekedarnya saja, seorang idiot lulusan SMA (yang barangkali di SMA juga hobby nyontek) bisa masuk ke universitas eks institut keguruan di Jakarta, dan kalau lulus bakal jadi ahli hukum. Memang konyol, tapi sayangnya wajah bangsa aneh ini memang semacam itu.
Emang aku nggak pernah nyontek di kampus yah ? He-he :). Kalau mau jujur sih, aku pernah nyontek hanya untuk satu mata kuliah dan hanya satu kali. Tapi akhirnya, nilai mata kuliah itu aku gugurkan, dibuang dari transkrip. Nggak tipikal Indonesia sih, dan memang bener-bener anti sosial untuk ukuran Indonesia.
Katanya hidup memang tidak fair. Tapi orang selalu lupa mendefinisikan arti hidup ;).
© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑