


Kalau si orang praktis benar-benar berpikir praktis, semestinya dia minum
air di gelas itu, trus balik bertanya, “Apa yang sedang dibahas?”
Sebuah gelas terisi air setengahnya. Orang pesimis berkata, “Gelasnya setengah
kosong,” dan orang optimis berkata, “Gelasnya setengah penuh.” Orang praktis
menutup, “Gelasnya yang terlalu besar.”
Guy Kawasaki, dari Apple Computer, menggolongkan perusahaan-perusahaan atas: (1) perusahaan yang merasa bahwa perilaku mereka mirip perusahaan Dilbert; dan (2) perusahaan yang perilakunya mirip perusahaan Dilbert tetapi tidak merasa …
Kenapa trus Dilbert mirip dokumentasi, bukan candaan? Scott Adams punya teori. Kalau kita berada dalam situasi absurd, dan tidak mampu mengatasinya, kita lama-lama akan menerimanya sebagai hal yang wajar.
Paling sekedar bilang “Hari ini hidup agak kacau,” atau semacam itu.
Kemudian kita disentak dengan menunjukkan keajaiban ala Dilbert, lalu ada yang bangun lagi di pikiran kita, berceletuk: “Ups!”
Yang ini (a) kisah nyata atau (b) kisah Dilbert:
Jawaban: 1a2a3b. Memang kisah Dilbert terlalu sulit dipisahkan dari kisah nyata.
Satu lagi wajah Indonesia di mata dunia: negeri tukang contek. Dengan recehan sekedarnya saja, seorang idiot lulusan SMA (yang barangkali di SMA juga hobby nyontek) bisa masuk ke universitas eks institut keguruan di Jakarta, dan kalau lulus bakal jadi ahli hukum. Memang konyol, tapi sayangnya wajah bangsa aneh ini memang semacam itu.
Emang aku nggak pernah nyontek di kampus yah ? He-he :). Kalau mau jujur sih, aku pernah nyontek hanya untuk satu mata kuliah dan hanya satu kali. Tapi akhirnya, nilai mata kuliah itu aku gugurkan, dibuang dari transkrip. Nggak tipikal Indonesia sih, dan memang bener-bener anti sosial untuk ukuran Indonesia.
Katanya hidup memang tidak fair. Tapi orang selalu lupa mendefinisikan arti hidup ;).
Daun teh mengandung kafein sekitar dua kali biji kopi :). Tetapi satu ons kopi menghasilkan lebih banyak minuman daripada satu ons teh. Maka segelas teh hanya mengandung kafein sekitar sepertiga dari segelas kopi, kecuali kalau kopinya keras bener. Tapi ada juga teh yang keras, misalnya Twining’s (rasanya bleh, ampun), yang kadar kofeinnya bisa lebih tinggi daripada segelas kopi.
Menghabiskan waktu buat merenungi Gandhi, yang melakukan perlawanan dengan damai, yang menentang dengan menderitakan diri sendiri, dan selalu memilih apa yang paling sederhana buat dirinya.
Gandhi melakukan semuanya bukan karena ia memiliki sikap semacam sufi. Sebelum memulai perjuangan, ia adalah parlente dandy yang suka makan enak dan memilih hal yang paling nyaman dan bagus. Tapi perjuangan memerlukan pengorbanan, dan itu ia jadikan keharusan, dengan membuat pengorbanan itu terjadi atas pilihannya, bukan sebagai akibat adanya hal-hal yang tak dapat dikendalikan.
Philosophia Islamicus, tidak saja membahas dunia filsafat (sebagaimana yang didefinisikan oleh pemakai kata filsafat) dengan dunia Islam, tetapi juga mengkaji masalah-masalah falsafati dari berbagai sudut pandang Islami.
Kenapa sih filsuf muslim jarang disebut dalam wacana falsafati muslim masa kini? Aku juga jarang mengambil kajian dari para filsuf muslim. Soalnya sederhana: kalau kita menyebut nama ini itu, nggak lama ada yang menanggapi: si itu sesat, si ini murtad, si itu syiah, si ini fundamentalis gila, si itu berpaham liberal, si anu bukan muslim karena mengambil ilmu kafir, dst,dst, dan sebagai akibatnya seluruh hikmah dari mereka harus dinistakan. Beda kalau kita bawa nama filsuf non muslim, yang jelas-jelas bukan muslim. Dalam hal ini, yang akan dicela adalah paparan yang dibawakan, dan itu bisa didiskusikan lebih lanjut.
© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑