Category: World (Page 1 of 2)

Apa itu AI?

Konsep AI bahkan sudah dikaji jauh sebelum kita lahir. Masa kuliah, kami membayangkan, seperti apa nanti AI dibentuk. Ada expert system dan lain-lain. Kalau kita lihat tulisan lama di blog ini (dan beberapa tulisan berserakku di mana-mana), tentu kita lihat bahwa gagasanku tentang AI sangat berbeda dengan apa yang kini mewujud. Dulu aku bayangkan, AI mungkin dibentuk dari:

  • Strange loop. Ini belajar dari Hofstadter bahwa “aku” adalah referensi diri yang terbentuk saat sistem menjadi sangat kompleks sehingga mampu memuat model tentang dirinya sendiri. Dari sini kesadaran muncul.
  • Complexity dan emergence-nya. Kesadaran kubayangkan sebagai properti sistem yang terorganisasi jauh dari ekuilibrium. Per Bak menunjukkan bahwa sistem semacam ini akan menyetel dirinya sendiri ke titik kritis tanpa ada yang menyetelnya. Konsep Edge of Chaos dalam teori ini menunjukkan bahwa komputasi yang paling kaya justru terjadi di batas tipis antara keteraturan beku dan kekacauan penuh. Aku pikir, di sana intelijensi seharusnya dicari.
  • Cellular automata. Inovasi Wolfram dll yang sempat menunjukkan hasil yang menarik. Aturan lokal yang sangat sederhana, diulang terus-menerus, melahirkan komputasi universal dan kompleksitas yang tak terduga tanpa perancang, tanpa tujuan, tanpa pusat kendali.

Tapi ternyata AI lahir dalam bentuk ML, DL, ANN, Transformer, Foundation Model, dst. AI meraksasa, mencapai skala ekonomi, jadi murah, dan ada di mana-mana, terutama dalam bentuk LLM. Kalau orang awam bilang AI, hampir pasti maksudnya LLM ini. Jadi AI diturunkan bukan dari pendekatan sains, tapi engineering yang pragmatik.

Pendekatan engineering ini berawal dari Alan Turing. Tahun 1950, ia menulis pertanyaan “Dapatkah mesin berpikir?” Tetapi ia menyatakan bahwa kita belum punya definisi yang disepakati, baik untuk “mesin” maupun “berpikir”. Alih-alih, ia mengajukan Imitation Game: perubahan dari pertanyaan ontologis menjadi operasional. Jadi bukan apakah mesin berpikir, tetapi dapatkah mesin menghasilkan hal yang sama dengan yang dilakukan dengan berpikir. Hahh, cerdas tapi menyebalkan. Cerdas karena membuat kemajuan tanpa harus sibuk urusan filsafat selesai. Menyebalkan, karena ia menggeser makna AI, bukan lagi pada kecerdasan, melainkan pada koleksi kemampuan yang berhasil ditiru.

Hingga kini, setiap kali sebuah kemampuan berhasil dikomputerisasi, kemampuan ini tak lagi dianggap kecerdasan, melainkan hasil komputasi. Misalnya: catur, penerjemahan, dan lama-lama makin banyak aktivitas manusia masuk perangkap ini. Ada kalanya kecerdasan didefinisikan sebagai hal yang belum berhasil kita tiru melalui komputasi.

Kembali ke AI via engineering itu. Pedro Domingos dalam The Master Algorithm (2015) menyusun anatomi untuk semua macam teknologi ini. Setiap algoritma pembelajaran, katanya, tersusun atas tiga lapis:

  • Representasi: dalam bentuk apa pengetahuan disimpan. Metodenya: aturan logis, jaringan probabilistik, bobot antar neuron, program, atau sekumpulan contoh.
  • Evaluasi: bagaimana menilai satu hipotesis lebih baik dari yang lain. Caranya: akurasi, probabilitas posterior, kuadrat kesalahan, fitness, atau lebar margin.
  • Optimisasi: bagaimana mencari hipotesis terbaik di ruang yang biasanya jauh terlalu besar untuk disisir satu per satu.

Dari tiga lapis ini, ia menurukan lima mazhab teknologi AI:

MazhabRepresentasiEvaluasiOptimisasiContoh algoritma
SymbolistLogika dan aturanAccuracyInverse deductionDecision tree, rule-based system, ILP
BayesianGraphical modelPosterior probabilityProbabilistic inferenceNaive Bayes, Hidden Markov Model, Bayesian network
ConnectionistNeural networkSquared error, cross-entropyGradient descentPerceptron, JST/MLP, CNN, RNN, Transformer
EvolutionaryGenetic programFitnessGenetic searchGenetic algorithm, genetic programming
AnalogiserSupport vector, instanceMarginConstrained optimisationkNN, SVM, kernel method

Setiap mazhab memiliki akar filosofis yang berbeda. Symbolist berasal dari logika dan linguistik: pengetahuan dianggap dapat direduksi menjadi manipulasi simbol. Bayesian dari statistik: semua pengetahuan dianggap tidak pasti sehingga harus dihitung secara probabilistik. Connectionist dari neurosains: kecerdasan dianggap muncul dari kekuatan keterhubungan antar unit sederhana. Evolutionary berasal dari biologi: mekanisme seleksi alam dimanfaatkan untuk menghasilkan program. Analogiser berasal dari psikologi penalaran: kunci belajar adalah mengenali kemiripan.

LLM? Rangkanya Connectionist, karena dilatih dengan gradient descent. Mekanisme “Attention” yang menjadi cirinya merupakan operasi Analogiser yang dapat diturunkan: setiap token menghitung skor kemiripan terhadap token lain, lalu mengagregasi berdasarkan skor itu. Jadi mirip kNN, namun dilatihnya melalui backpropagation. RLHF-nya membawa gaya Bayesian. Chain-of-thought adalah usaha menempelkan Symbolist di atasnya. Jadi ini agregasi rekayasa yang pragmatik.

Namun tetaplah aku melihat kelima mazhab itu sebagai pendekatan pragmatis atas model berpikir empiris: amati dari luar bagaimana pikiran tampak mengenali pola dan mengambil keputusan, lalu bangun fungsi yang menghasilkan keluaran serupa, dengan cara apa pun yang terbukti bekerja. Memang strateginya seperti itu; tanpa perlu tahu seperti apa sih proses berpikir itu.

Ini juga menjelaskan, kenapa eksplorasi masa laluku (yang di atas sekali itu) belum berhasil: ketiganya tidak punya gradien. Misalnya kita pakai cellular automaton dengan aturan acak. Bagaimana kita melakukan perbaikan sedikit-sedikit terus-menerus seperti berbagai metode rekayasa di atas? Sifat CA itu diskret, dan perubahan kecil menghasilkan perilaku yang berubah sama sekali. Jadi gradien tidak bisa diukur. Idem dengan strange loop: tidak ada permukaan kesalahan yang bisa dirunut, membentuk sistem dari tanpa model diri jadi punya model diri. Komputasi AI jadi sangat sulit untuk model-model semacam ini. Kita bisa bilang bahwa sistem ini berjalan untuk otak manusia. Tapi otak dikembangkan via evolusi biologis miliaran tahun dan paralelisme seukuran planet.

Richard Sutton merangkumnya sebagai bitter lesson: metode yang berhasil dalam jangka panjang adalah metode yang paling banyak menyerap komputasi, bukan yang paling banyak menyerap wawasan manusia tentang cara kerja pikiran.

Yang menarik (buat aku), gagasan-gagasan sains ini sebenarnya belum mati. Mereka sebenarna masih menggali jalan kembali, wkwk.

Contohnya, konsep jaringan Hopfield, yang merupakan pemikiran sistem dinamis murni. Dalam konsep ini, ingatan disimpan dalam bentuk energi minimum. Proses mengingat adalah proses membiarkan sistem meluncur ke attractor terdekat. Ramsauer dan rekan-rekannya (2020) menerbitkan paper Hopfield Networks is All You Need, yang menunjukkan bahwa aturan pembaruan jaringan Hopfield modern dengan sifat kontinu ternyata setara dengan dengan mekanisme attention di algoritma transformer. Jadi transformer yang terkenal saat ini, kalau dilihat dari sisi lain, sebetulnya adalah jaringan attractor dinamis.

Tahun 2020 itu juga, Mordvintsev dan Levin menerbitkan Growing Neural Cellular Automata, dengan mengganti aturan lokal CA yang ditulis manual dengan jaringan saraf kecil yang dilatih backpropagation. Hasilnya CA yang dapat diturunkan, yang tumbuh dari satu sel, dan yang meregenerasi dirinya sendiri ketika dirusak. Jadi, persoalan “CA tidak punya gradien” ternyata dapat mulai diatasi. Jadi, polanya: jalur engineering sebenarya menemukan kembali objek jalur sains, tetapi tentu hanya dalam bentuk yang dapat diturunkan saat itu, incl melalui gradien sebagai gerbang tol.

Tapi tetap ada yang menggangguku. Misalnya kita tetap mengaggap pikiran itu proses alami (yang harus dikenali via sains atau diimitasi via engineering). Tetapi sebenarnya apa sih beda antara pikiran dan mesin? Pikiran, apakah dalam bentuk emergence atau strange loop dll, toh harus tersusun dari materi. Kan? Kan? Kan? Pikiran juga material dan mekanistis. Dan kita belum yakin kita tahu apa itu pikiran. Dan sialnya, di level materinya pun, kita juga tidak tahu materi itu emergent dari apa. Masa complexity berakhir di satu titik kuantum?

Bayangkan dulu. Gravitasi saja konon bukan gaya fundamental, melainkan emergent dari konstruksi ruang/waktu. Ruang/waktu/materi sendiri belum tentu merupakan dasar dari semua ini. Jadi kekeuh di sains, kita tetap belum menemukan dasar juga. Ini bukan cuma lamunan. Daftar diskusinya panjang:

  • Anderson (1972) dalam paper More Is Different, memaparkan dasar soalan complexity dan emergence. Argumennya bertahan sampai sekarang: reduksionisme itu benar tetapi tidak berguna, karena pada setiap tingkat kompleksitas muncul keteraturan baru dengan hukumnya sendiri yang secara praktis tidak dapat diturunkan dari tingkat di bawahnya. (Yang rajin lihat presentasiku di IEEE, pasti bosan kucekoki contoh-contoh dari argumen ini).
  • Jacobson (1995) dalam paper Thermodynamics of Spacetime, menerapkan relasi termodinamika biasa (panas sama dengan suhu dikali perubahan entropi) pada horison Rindler lokal, yaitu horison kausal yang dilihat pengamat berakselerasi di setiap titik ruang-waktu. Hasilnya sama dengan persamaan medan Einstein. Artinya: persamaan medan Einstein itu emergent dari termodinamika saja, bukan fundamental.
  • Verlinde (2011) melanjutkannya dengan entropic gravity, yang mengusulkan gravitasi sebagai gaya entropik yang muncul dari perubahan informasi.
  • ‘t Hooft (1993) dan Susskind (1995) merumuskan holographic principle: segala yang terjadi di dalam suatu volume dapat direpresentasikan oleh derajat kebebasan di permukaan yang membatasinya. Maldacena (1997) memberinya realisasi konkret lewat korespondensi AdS/CFT. Ruang tiga dimensi, termasuk gravitasi di dalamnya, ternyata adalah emergent dari kondisi dua dimensi.
  • Van Raamsdonk (2010) dalam paper Building up spacetime with quantum entanglement, menunjukkan bahwa geometri ruang-waktu muncul dari korelasi informasional. Jika keterjeratan (wkwk) berkurang, maka jarak merentang. Ryu dan Takayanagi (2006) memberi rumus yang menghubungkan entropi keterjeratan dengan luas permukaan geometris.
  • Wheeler (1990) merangkumnya dalam slogan it from bit. Setiap “it”, setiap partikel dan medan dan ruang-waktu itu sendiri, pada akhirnya berasal dari jawaban “ya atau tidak” terhadap pertanyaan yang diajukan lewat pengukuran.
  • Zurek melengkapinya dengan quantum darwinism. Dunia yang stabil dan objektif itu bukan realitas asali, melainkan hasil seleksi. Hanya kondisi yang mampu bertahan terhadap interaksi berbagai lingkunganlah yang akan terus bertahan, dan kemudian akan menyebarkan salinan informasi tentang dirinya sehingga banyak pengamat bisa mengaksesnya secara terpisah. Itulah yang kita sebut objektivitas. Wkwk.
  • Landauer (1961) menulis dari dari sisi sebaliknya: menghapus satu bit informasi akan melepaskan panas minimal sebesar kT ln 2. Information is physical.

Jadi Landauer bilang informasi itu fisik; tapi lainnya justru bilang fisika (materi, energi, dimensi) itu informasional. Hasilnya adalah lingkaran, loop, di lapisan ontologi. Ladyman dan French menyebut materi sebagai ontic structural realism. Artinya, yang fundamental bukanlah benda, melainkan struktur dan relasi. Ini tetap ilmu fisika, tapi dipaparkan dalam bentuk berbeda.

Nah, kembali ke soalan semula. Soalan intelijensi. Mari berpikir tentang berpikir.

Berpikir. Rumusan yang kuat datang dari teori informasi algoritmik Solomonoff dan Kolmogorov. Dalam rumusan ini, kompleksitas sebuah objek diukur dari panjang program terpendek yang bisa menghasilkannya. Artinya: berpikir sebenarnya adalah proses kompresi pengalaman. Memahami sesuatu berarti menemukan aturan yang lebih pendek daripada kejadian yang dialami. Semua formula fisika seharusnya lebih pendek daripada semua fenomena alami yang diukur, sehingga disebut sebagai pemahaman atas alam, dan bukan sekadar catatan. Ini berlaku baik untuk otak karbon maupun otak silikon, dan menjelaskan kenapa (dalam AI) prediksi token berikutnya yang kelihatannya sepele ternyata menghasilkan kemampuan yang luas. Prediksi yang baik menuntut kompresi yang baik, dan kompresi yang baik memaksa penemuan struktur.

Tetapi rumusan ini terkendala tiga hal:

  • Berpikir itu tidak bisa optimal. Induksi Solomonoff tidak dapat dihitung. Kita punya definisi matematis yang tepat tentang penalaran ideal, dan definisi itu memberitahu bahwa penalaran ideal tidak bisa dijalankan oleh apa pun di dunia fisik. Setiap pemikir nyata, otak maupun model, adalah pendekatan kasar yang isinya proses tebak-tebakan.
  • Berpikir itu tidak bisa universal. Teorema No Free Lunch dari Wolpert dan Macready menunjukkan bahwa jika semua permasalahan dirata-ratakan (yang memungkinkan), maka semua algoritma pembelajaran akan berkinerja sama. Keunggulan sebuah learner tidak datang dari dirinya sendiri, melainkan dari kecocokan antara asumsi bawaannya dengan struktur dunia tempat ia dijalankan. Artinya kecerdasan bukan sifat alami sebuah sistem, melainkan relasi antara sistem dan lingkungannya. Ashby sudah merumuskan bentuk kuantitatifnya pada 1956 lewat law of requisite variety: hanya variasi yang dapat menyerap variasi. Ini juga menjelaskan perlunya ada lima mazhab di atas. Kalau tidak ada learner yang unggul universal, maka lima mazhab itu perlu ada sebagai pertaruhan berbagai pandangan atas struktur dunia, bukan lima tingkat kecanggihan.
  • Berpikir memerlukan biaya. Landauer lagi. Berpikir dibayar dengan ongkos termodinamika. Otak manusia membayarnya sekitar dua puluh watt. Sistem AI modern membayarnya dengan besaran beberapa orde lebih besar.

Kecerdasan. Dari sini definisi Chollet dalam On the Measure of Intelligence (2019) menjadi masuk akal. Kecerdasan bukanlah kumpulan kapabilitas yang dimiliki, melainkan efisiensi memperoleh kapabilitas baru. Ini dapat dihitung relatif terhadap kapabilitas awal plus pengalaman baru yang dipapari. Jadi, sistem AI yang dapat menjalankan sejuta tugas setelah membaca keseluruhan Internet mungkin memang cerdas, tapi cerdas yang biasa saja. Nah, AI itu apa? AI adalah usaha merealisasikan proses itu pada substrat non-biologis.

IstilahRumusan
BerpikirProses kompresi atas pengalaman, yang secara prinsip tidak pernah bisa optimal
KecerdasanEfisiensi proses kompresi, relatif terhadap pengalaman dan pengetahuan awal.
AIUsaha merealisasikan proses itu pada substrat non-biologis

Demikianlah perjalanan panjang ini, mencari definisi AI, dan malah harus mendefinisikan pikiran dan kecerdasan. Informasi itu fisik, dan fisika itu informasional. Pikiran mengompresi dunia, dan dunia mungkin sudah berupa kompresi. Ini bukan penyelesaian. Ini lingkaran. Loop. Mengingatkan kembali ke Hofstadter. Loop ini adalah bentuk yang seharusnya muncul ketika sebuah sistem berusaha memodelkan hal yang menyusun dirinya sendiri.

Mari terus berpikir. Berpikir selalu menyenangkan. Termasuk berpikir tentang berpikir. Haha. Wkwk. Hush.

IEEE R10 HTC 2025

Minggu lalu, IEEE Region 10 menyelenggarakan Humanitarian Technology Conference (IEEE HTC) 2025 di Chiba University of Commerce, Jepang, 28 September hingga 1 Oktober, yang mempertemukan para visioner global dengan tema “Beyond SDGs, A New Humanitarian Era with Intelligent Partners.” Konferensi ini berfokus pada sinergi antara intelektualitas manusia dan sistem cerdas yang berkembang dalam meningkatkan dampak kemanusiaan melalui teknologi.

Pada sesi Pembukaan, Presiden IEEE Humanitarian Technologies Board (HTB) Grayson Randall menyampaikan speech yang menekankan peran istimewa para insinyur dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Pesannya menegaskan bahwa insinyur bukan sekadar pemecah masalah, melainkan arsitek harapan yang mampu menjembatani inovasi dengan tanggung jawab sosial. Ia juga memaparkan berbagai peluang baru dalam program-program HT untuk mendorong proyek yang inklusif dan berdampak luas di kawasan Asia-Pasifik. Pada hari kedua, IEEE President-Elect Mary Ellen Randall menyampaikan keynote speech yang visioner tentang roadmap IEEE dalam memajukan profesi rekayasa selaras dengan tujuan pembangunan manusia global. Ia menjelaskan bagaimana arah strategis IEEE, termasuk etika digital dan inovasi berkelanjutan, berfokus pada satu misi utama, peningkatan kualitas hidup manusia melalui kolaborasi yang cerdas.

Hari ke-3 (1 Oktober), aku berpresentasi dalam Special Program 15 dengan judul “Synergy for Sustainable Impact.” Sesi ini dimoderatori oleh Allya Paramitha, dengan para panelis Hidenobu Harasaki, Husain Mahdi, Agnes Irwanti, Bernard Lim, Chie Sato, Saurabh Soni, dan aku sendiri. Diskusi membahas mekanisme kolaboratif antara teknologi, kebijakan, dan inovasi sosial untuk mempercepat hasil kemanusiaan yang berkelanjutan. Aku hampir selalu memulai presentasi tentang sinergi, ekosistem, dan kolaborasi industri dengan menempatkannya dalam framework teori kompleksitas, yang menunjukkan bagaimana sinergi dapat menghasilkan nilai emergence secara non-linear dalam ekosistem kompleksitas. Fenomena emergensi inilah yang menjadi kunci transformasi menuju pencapaian SDG, khususnya dalam memperkuat inklusivitas, ketahanan, dan keadilan.

Aku mengacu pada visi nasional Indonesia, dengan menjelaskan pengembangan ekosistem komersialisasi UMKM sebagai model penerapan teknologi kemanusiaan. Melalui program-program yang meliputi juga pembiayaan mikro, platform digital, dan pemberdayaan koperasi, kita menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengangkat pasar yang sebelumnya belum tergarap menjadi sistem yang produktif dan berkelanjutan. Aku juga memaparkan case dimana IEEE Indonesia SIGHT in Sociopreneurship and Sustainability melaksanakan program pengembangan kapasitas bagi Student Branch IEEE Indonesia, yang masing-masing merancang solusi lokal seperti sistem air tenaga surya, pemantauan berbasis IoT, dan inkubasi sosiopreneurship, sebagaimana sedang dijalankan oleh Universitas Gadjah Mada dan Universitas Udayana. Proyek-proyek ini menunjukkan bagaimana keterlibatan berbasis rekayasa dapat berkembang menjadi sociopreneurship yang digerakkan oleh komunitas, dengan menjamin keberlanjutan melalui kepemilikan, replikasi, dan dampak yang terukur.

Pada Hari ke-0 (28 September), aku juga menceritakan versi ringkas program-program ini ke IEEE President-Elect Mary Ellen Randall dan HTB President Grayson Randall. Diskusi ini menjadi landasan bagi pengembangan lebih lanjut program kemanusiaan IEEE di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik, dengan fokus pada ekosistem digital, sosiopreneurship, dan model inovasi berkelanjutan. Program ini juga aku sampaikan dalam Program Khusus 13 (30 September), “From Innovation to Impact: Advancing IEEE Humanitarian Initiatives”, dalam HTA Forum untuk membahas penyelarasan strategis antara kerangka kemanusiaan IEEE dan pengembangan ekosistem regional.

IEEE R10 HTC 2025 ini bukan hanya diskusi antara gagasan, tetapi lebih sebagai aktivitas dinamis dari sinergi, serta perpaduan antara intelektualitas, empati, dan teknologi. Konferensi ini menegaskan bahwa keinsinyuran bukan sekadar tentang mesin atau sistem, melainkan selalu tentang kemanusiaan. IEEE R10 HTC 2025 menjadi tonggak lain dalam perjalanan kolektif untuk membangun dunia yang lebih adil, tangguh, dan berkelanjutan, digerakkan oleh wawasan manusia dan inovasi cerdas.

Kelemahan Strategi Global

Abad lalu, AS adalah puncak kekuatan industri. Dengan kapasitas industri dan inovasi terdepan, AS berproduksi dalam skala besar sambil menciptakan kelas menengah yang luas. Namun, sejak akhir abad ke-20, dominasi ini terkikis. Perusahaan Amerika seperti Apple dan Microsoft sukses secara global, tapi industri AS mulai melamah. Ini sebuah paradoks menarik: strateginya menang, tetapi negara kalah.

AS memimpin liberalisasi dan globalisasi, dengan memaksakan perdagangan bebas, deregulasi, dan offshoring sebagai strategi pertumbuhan ekonomi dan keunggulan kompetitif. Hal ini diperkuat masa Reagan-Thatcher dan dilembagakan dalam bentuk NAFTA dan dukungan atas keanggotaan RRC di WTO. Manufaktur padat karya dialihkan ke negara berbiaya rendah, sementara AS berfokus ke layanan bernilai tinggi dan inovatif, sambil menikmati manfaat efisiensi global.

Di level perusahaan, cara kerja ini efektif. Apple membangun salah satu ekosistem paling bernilai di dunia, dengan integrasi erat antara desain, software, layanan, dan hardware. Hampir semua hardware diproduksi dan dirakit di luar negeri, terutama RRC. Microsoft mendominasi perangkat lunak dan layanan enterprise, tetapi ekosistem globalnya—cloud, pengembangan sistem, dan rantai pasok—makin bergantung pada infrastruktur dan stabilitas politik internasional.

Makin jelas bahwa strategi berbasis ekosistem ini—meskipun brilian dalam skalabilitas, penguasaan pasar, dan profitabilitas—pada dasarnya rapuh. Strategi ini dibangun atas asumsi lingkungan global yang stabil, arus tenaga kerja lintas batas, modal, dan data yang tak terganggu, serta konsensus geopolitik yang kini mulai runtuh. Pandemi COVID-19, perang teknologi AS–China, dan meningkatnya kebijakan proteksionis di seluruh dunia menunjukkan rapuhnya mata rantai pasok dan ketergantungan atas platform tersebut.

Model kapitalisme AS juga dangkal dan berorientasi jangka pendek. Perusahaan didorong memaksimalkan laba triwulanan dan nilai return, dan jarang berfokus pada berinvestasi pengembangan kapabilitas secara domestik. Serikat pekerja melemah, dan infrastruktur politik dan sosial yang didukung kelas pekerja ikut runtuh. Pergeseran budaya menuju “knowledge economy” diikuti gagasan bahwa produksi fisik kurang berharga daripada platform digital, kekayaan intelektual, dan rekayasa keuangan.

Inti kelemahan terletak pada optimisasi efisiensi secara berlebihan dengan mengorbankan resiliansi. Dengan mengalihkan manufaktur penting ke luar negeri, AS kehilangan pekerjaan, juga pengetahuan industri, infrastruktur logistik, dan kemampuan merekonfigurasi produksi domestik secara cepat saat krisis melanda. Hal ini tampak pada krisis semikonduktor, APD, dan kebutuhan pokok lainnya selama pandemi awal dekade ini.

Ideologi dangkal ini juga diperluas ke Inggris, yang setia mengikuti strategi liberalisasi ekonomi AS. Di bawah kepemimpinan buruk Thatcher tahun 1980-an, Inggris melakukan swastanisasi industri besar, deregulasi sektor keuangan, pelemahan serikat buruh, dan self-positioning sebagai pusat global untuk layanan—terutama layanan keuangan. Seperti AS, Inggris membiarkan basis manufakturnya menyusut demi layanan bernilai tinggi yang terkonsentrasi di Tenggara, terutama London.

Tidak seperti AS, Inggris masih kurang di sisi skalabilitas, keragaman sumber daya, dan dominasi teknologi global. Inggris jadi mudah runtuh akibat ketimpangan regional yang mencolok, produktivitas yang menurun, dan kekurangan investasi kronis dalam infrastruktur dan pendidikan. Brexit, dalam banyak hal, merupakan ekspresi politik dari keterasingan ekonomi ini—pemberontakan terhadap globalisasi, sentralisasi, dan persepsi bahwa rakyat telah ditinggalkan oleh pengambil keputusan.

Di kedua negara, kita melihat kontradiksi inti: perusahaan menang secara global, namun ekonomi nasional menderita karena kerapuhan, ketimpangan, dan hilangnya kedaulatan di sektor-sektor strategis utama. Strategi berbasis ekosistem dari perusahaan seperti Apple dan Microsoft terus menghasilkan nilai yang besar, tetapi dikembangkan di atas geopolitik yang rapuh, tenaga kerja berbiaya rendah di luar negeri, dan jaringan logistik kompleks yang semakin rentan terhadap gangguan.

Ekosistem bisnis konon merupakan metafora dari ekosistem alam, yang berkembang melalui keragaman, redundansi, dan dukungan timbal balik. Tapi ekosistem bisnis yang dibangun oleh raksasa teknologi kadang justru kehilangan aspek semacam ini. Mereka cenderung bergerak ke sentralisasi, dominasi, dan efisiensi, membuatnya lebih menyerupai monokultur industri daripada ekosistem sejati. Ketika tekanan datang—dalam bentuk sanksi, pandemi, atau perang dagang—sistem-sistem ini tidak bergerak adaptif dan elastis, tapi justru patah.

Bukan berarti model ekosistem ini cacat secara mendasar. Model ini tetap menjadi salah satu kerangka kerja paling kuat untuk penciptaan nilai dalam ekonomi jaringan. Namun perlu ada (r)evolusi. Perusahaan harus membangun ekosistem yang efisien, namun sekaligus tetapi juga tangguh dan adaptif di level ekosistem (bukan di level perusahaan). Perlu dilakukan diversifikasi rantai pasok, investasi dalam kapabilitas lokal, dukungan atas kesehatan ekosistem, serta mitigasi atas risiko politik dan lingkungan.

Negara juga harus meninjau ulang cara kerjanya. Kembali ke proteksionisme bukanlah jawabannya, tetapi kembali ke liberalisme pasar juga salah. Sektor-sektor strategis harus dibangun kembali atau didukung secara domestik tidak hanya demi daya saing ekonomi, tetapi juga untuk ketahanan nasional. Kebijakan harus mendorong investasi jangka panjang, regenerasi regional, dan kebijakan industri yang selaras dengan inovasi.

Penerapan strategi berbasis ekosistem tidak boleh terlalu sempit dan dangkal. Perlu pandangan jauh ke depan, dan perlu perhatian besar terhadap kesehatan ekosistem ini sendiri. AS dan Inggris memberikan pelajaran bagi negara mana pun, bahwa ketahanan, kedaulatan ekonomi, dan kemakmuran inklusif akan sama pentingnya dengan efisiensi dan inovasi.

Jevon dan Konsumerisme Digital

Tahun 1865, ekonom Inggris William Stanley Jevons mengamati sebuah ironi dalam revolusi industri: semakin efisien mesin-mesin uap dalam menggunakan batu bara, semakin banyak batu bara yang dikonsumsi. Efisiensi, yang semula dipandang sebagai jalan menuju penghematan, justru meningkatkan peran (dan dengan demikian: volume) batu bara dalam aktivitas ekonomi. Paradoks ini kemudian dikenal sebagai Jevons’ Paradox, yaitu bahwa peningkatan efisiensi dalam penggunaan suatu sumber daya justru cenderung memicu lonjakan konsumsi terhadap sumber daya tersebut.

Jevons, observing the coal-based industry proliferation

Hampir dua abad kemudian, kita hidup dalam lanskap teknologi yang jauh lebih kompleks, dengan kehidupan digital yang diperkuat mikroprosesor dengan kemampuan proses miliaran butir data per detik, menghasilkan informasi dan pengetahuan yang luar biasa luas dan cepat. Menarik bahwa dengan dukungan kuat pada rasionalitas semacam ini, paradoks Jevons tidak menguap bersama asap batu bara. Ia bertahan dalam bentuk yang lebih subtil dan mungkin lebih dalam. Ketika perangkat digital menjadi lebih hemat daya, aplikasi menjadi lebih ringan, dan AI menjadi lebih efisien dalam inferensi, yang terjadi bukanlah penghematan kolektif, melainkan pelebaran permukaan konsumsi: lebih banyak data, lebih banyak sensor, lebih banyak pengolahan informasi, lebih banyak aplikasi, lebih banyak layar, lebih banyak keputusan yang diserahkan ke mesin. lebih banyak algoritma yang mengatur pilihan hidup, dan lebih banyak komputasi awan yang lebih mirip mendung asap tanpa berbatas.

Mobil listrik adalah studi kasus yang sempurna. Dipuja sebagai penyelamat lingkungan, teknologi ini diusung oleh pemerintah berbagai negara dan disambut kalangan industri sebagai simbol kemajuan hijau. Namun di balik citra bersih itu, muncul pola lama: teknologi digunakan untuk mendorong pembelian, meningkatkan produksi baterai yang boros sumber daya, dan membentuk kelas baru konsumen yang merasa berhak mengonsumsi lebih karena telah berbuat baik kepada lingkungan, plus pemerintahan yang mendorong konsumsi ini agar tampak memiliki kebijakan ramah lingkungan. Contoh lain adalah cloud computing yang dirancang untuk efisiensi infrastruktur digital, namun justru mendorong arsitektur digital yang masif, haus energi, dan bergantung pada pusat data yang semakin besar dan kompleks. AI, sedang kita kembangkan bersama, dalam bentuk model-model yang akan menghemat sumberdaya manusia dan mesin komputasi, namun dengan penggunaan yang meluas menjadi kebutuhan primer, dan akan memerlukan sumberdaya yang besar di semua titik.

The slaves of capitalism

Paradoks Jevon berusia nyaris dua abad, dan tentunya dilakukan koreksi, baik pada paradoks ini, maupun pada fenomena yang seharusnya dapat dikendalikan dengan memahami paradoks ini. Misalnya, regulasi dan kebijakan publik dirumuskan untuk menyeimbangkan pola konsumsi, dan membuat masyarakat dan teknologi lebih memihak lingkungan. Namun iklim politik ekonomi kontemporer yang ekstra-kapitalistik justru menjadikan kebijakan politik sebagai instrumen peningkatan konsumsi, bukan pembatasnya. Dorongan etis seperti budaya hidup secukupnya, kesadaran digital, keseimbangan hidup, dll juga tidak lebih baik. Politik dilemahkan para pebisnis; namun etika dilemahkan seluruh masyarakat yang memiliki kecenderungan untuk mencari value yang absurd dengan konsumerisme yang makin berlebihan — plus diperkuat dengan algoritma yang lebih memudahkan konsumsi daripada mengangkat kemandirian rasionalitas pikiran manusia, wkwk.

Jika rasionalitas tidak mungkin dibangkitkan melalui kebijakan dan etika, mungkinkan dibangkitkan oleh rasionalitas lain? Misalnya melalui daya inovasi yang memberi nilai pada efisiensi dan sustainabilitas? Seharusnya, tapi saat ini belum cukup kuat. Kebutuhan yang dapat dibatasi saja, akan menemukan peluang kebutuhan baru. LED lebih hemat dari lampu, dan kebutuhan manusia akan lampu tentunya terbatas. Tapi LED kemudian dimanfaatkan untuk menyulap kota menjadi panggung iklan raksasa di semua titiknya. Efisiensi bekerja dalam sistem yang tidak bertanya “untuk apa?” tetapi “seberapa banyak lagi yang bisa dijual?”

Paradoks Jevons bukan sebuah hukum seperti hukum fisika yang tak bisa dilawan (**syarat dan ketentuan berlaku). Namun paradoks ini adalah cermin ideologis dari sistem ekonomi yang menjadikan efisiensi sebagai efisiensi peningkatan konsumsi. Kita tidak sedang melawan paradoks itu dengan inovasi, kebijakan, atau etika, melainkan memastikannya terus terjadi. Paradoks ini tetap hidup bukan karena ia benar secara mutlak, tetapi karena secara rasional, ia menjadi selalu teramati pada masyarakat yang serakah dan tidak mengenal kata cukup.

Perikemanusiaan dan Perikeadilan

Waktu aku masih jadi Chairman of the IEEE Indonesia Section, sempat ada usulan dari anggota Advisory Board (yang dalam konteks Indonesia berarti mantan ketua IEEE Indonesia Section) tentang Israel. Saat itu, IEEE Indonesia Section tengah sangat gencar melakukan eksplorasi untuk menjadi host atas IEEE international conferences, baik yang skala region (Region 10 Asia Pacific) maupun kemudian level dunia.

Hal yang sering jadi issue adalah soal imigrasi. Banyak peserta konferensi dari negara Asia mengalami kesulitan mengurus visa masuk Indonesia, seperti dari negara Iran dan Pakistan. Beberapa anggota komite sempat menyebut bahwa filtering untuk beberapa negara memang lebih ketat. Salah satu alasannya adalah kekhawatiran Indonesia dijadikan jembatan untuk mencari jalan untuk migrasi ke Australia. Namun warganegara Pakistan yang sudah di Australia pun masih lebih sulit masuk ke Indonesia. Kadang ketua konferensi, atau bahkan ketua IEEE Indonesia Section, harus menulis surat jaminan pribadi ke Kedutaan dan Kantor Imigrasi.

Soalan lain adalah warga dari entitas ilegal zionis yang menduduki Palestina (yang demi kesederhanaan teks akan kita sebut sebagai Israel tanpa tanda petik). Kebijakan yang bijak dari Pemerintah Indonesia untuk selalu menolak adanya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel dianggap jadi penghambat. Kami Excom IEEE Indonesia Section diminta mencari cara untuk memungkinkan dipermudahnya pemegang paspor Israel untuk memasuki Indonesia.

Secara pragmatis, waktu itu aku sampaikan bahwa banyak pemegang paspor Israel sebenarnya memiliki kewarganegaraan ganda, merangkap jadi warga negara Eropa, AS, Kanada, bahkan Singapura. Andaipun mereka hanya punya paspor Israel saja, mereka sangat dipermudah membuat paspor di negara lain. Jadi tidak ada perlunya kita mendorong pemerintah Indonesia memperlunak sikap pada pemegang paspor Israel. Kita tetap menerima mereka dengan tangan dan hati terbuka.

Salah satu anggota senior di Advisory Board kemudian menyampaikan bahwa persoalannya bukan bisa lewat jalan samping, tetapi secara politis Indonesia dianggap tidak ramah pada Israel, dan posisi ini menyulitkan Indonesia mengajukan diri sebagai tuan rumah berbagai konferensi internasional.

Atas statement itu, aku saat itu memberikan jawaban bahwa jika persyaratan tertulis atau tak tertulis untuk jadi host adalah harus memberikan rekomendasi atau saran kepada pemerintah Indonesia untuk memperlunak sikap kepada Israel, aku memilih tidak akan mengajukan IEEE Indonesia Section sebagai host — setidaknya selama aku jadi ketua.

Aku rasa, sikap yang sudah diambil Bapak Bangsa kita, untuk melihat perspektif geopolitis global secara lebih cerdas dan mengedepankan perikemanusiaan dan perikeadilan, masih relevan hingga kini, masih jadi kebijakan Pemerintah Indonesia yang patut didukung, dan sudah menjadi bagian dari perspektif pribadi dalam negosiasi global.

Selamat Ramadan!

Chechnya (Нохчийчоь)

Masa SMA, aku pernah dipanggil Wakil Kepala Sekolah, gara-gara menggambar logo ideologi tabu di kertas buram. Itu masa perang dingin, dan anak-anak seusia aku suka cari informasi dari berbagai sumber terbatas. Belum ada Internet, tapi majalah asing cukup banyak. Aku buat peta perimbangan politik Eropa, sebagai titik perimbangan konflik masa itu, dengan logo bintang segiempat NATO di kiri dan serpimolot USSR di kanan. Pakai huruf cyrillic segala. Petugas sekolah mana tahu logo NATO. Yang tahu logo partai terlarang doank, haha. Tapi syukur pimpinan sekolah paham. Tapi situasi saat itu, di tengah revolusi dunia yang berakhir dengan pecahnya USSR dan bubarnya komunisme, membuat generasi kami mempelajari banyak hal tentang sejarah dan progres politik dunia, khususnya kawasan Eropa. Perpecahan USSR membawa banyak dampak lain, dan menguak banyak entitas politik baru. Salah satunya: Chechnya (Нохчийчоь).

Saat revolusi Bolshevik, negara-negara di bawah kekuasaan Kekaisaran Russia direformasi. Beberapa kawasan mendapatkan status SSR (Republik) yang merupakan entitas pembentuk USSR. Republik semacam ini banyak yang memproklamasikan kedaulatan saat USSR bubar, termasuk Ukraina, Kazakhstan, Uzbekistan, Armenia. Namun banyak republik hanya mendapatkan status ASSR (Republik Autonomi) di bawah republik lain, termasuk Karakalpakstan di bawah Uzbekistan; dan puluhan republik di bawah Russia, termasuk Chechnya, Tatarstan, Baskhortostan, dll. Banyak yang berusaha melepaskan diri dari Russia; namun Russia berkeras mempertahankan kedulatannya sebagai Federasi Russia yang kian lama kian berpusat pada kerussiaan (alih-alih kefederasian). Perang Chechnya 1 dan 2 menjadi perang yang cukup besar; terjadi di waktu yang sama dengan perubahan besar di Indonesia (tumbangnya kediktatoran Soeharto, lepasnya Timor Timur, meningkatnya otonomi daerah) — yang artinya menjadi perhatian besar juga saat bangsa Indonesia sedang sangat sadar politik.

Sejarah Russia panjang, melibatkan bangsa-bangsa Slavik, Turkik, Mongolik, bahkan Uralik. Nanti kita cicil di sini, haha. Bisa tampak artifaknya misalnya di web PANGERANKECIL.COM yang koleksinya meliputi banyak bahasa etnik di kawasan Russia dan sekitarnya. Tapi kawasan Kaukasus lebih unik dari itu. Banyak spekulasi bahwa budaya dan bahasa umat manusia berasal dari kawasan itu. Bahasa-bahasa Kartvelia, Pontik / Sirkasia, dan Nakh yang ada di kawasan itu, sulit dicari induk bahasanya. Bahasa Indo-Eropa yang kawasannya sangat luas pun, dispekulasikan berasal dari sekitar kawasan ini (Kaspia), yang meluas baik ke barat (hampir seluruh Eropa) maupun ke selatan (Iran dan India). Chechen adalah salah satu cabang dari Nakh — jadi bukan Slavik, Turkik, Mongolik, atau Uralik.

Bangsa Chechen tinggal di ketinggian lereng utara pegunungan Kaukasus (atau orang Russia bilang Ciscaucasia = Kaukasus sebelah sini). Berabad mencoba memperluas kawasan ke daerah yang lebih memudahkan pertanian dan peternakan di kawasan yang lebih rendah. Pertikaian panjang bangsa Slav (termasuk Kossak) dan Mongol kadang memberikan mereka ruang untuk ekspansi. Islam masuk kawasan Chechnya dari Dagestan (yang sudah jadi kawasan Islam sejak millennium pertama). Tapi kekaisaran Russia pun berekspansi, dan akhirnya menduduki Chechnya. Daerah ini dianggap daerah sulit oleh pemerintahan Russia, karena sifat masyarakatnya yang tidak hierarchical — tidak mengakui peran para bangsawan, sehingga tidak mudah diatur seperti kawasan lain. Pengusiran massal pada orang Chechen telah terjadi pada masa ini, sehingga hingga kini dapat ditemui kelompok diaspora Chechen yang cukup besar di Yordania.

Saat Revolusi Bolshevik, orang-orang Kossak banyak yang mendukung Tsar dan kemudian Rus Putih. Mereka membantu Rus Putih mengepung Rus Merah. Orang-orang Chechen banyak yang membantu Rus Merah (lihat film The Reds untuk memahami bahwa Revolusi Bolshevik dianggap sebagai revolusi Jihad di Kaukasus, untuk melawan Tsar dan orang Kossak). Rus Putih dan Kossak harus mengurangi kekuatan penyerangan ke Utara untuk melawan ekspansi Chechen, sehingga akhirnya justru dikalahkan Rus Merah.

Saat Perang Dunia II, paranoia Stalin membuatnya melakukan kekejaman dalam bentuk pemindahan massal berbagai etnik minor. Seluruh bangsa Chechen dipaksa pindah ke Kazakhstan hingga Kyrgyzstan dalam operasi Chechevitsa, dengan korban meninggal hingga 30% dari seluruh populasi pada saat pemindahan dan pada tahun-tahun pertama di wilayah baru. Tanah mereka dirampas orang-orang Russia. Baru di masa Khrushchev, orang-orang Chechen boleh kembali ke negeri mereka. Namun struktur sosial telanjur rusak. Tidak ada budaya tradisional yang melekat lagi di bangsa Chechen. Tanah mereka pun sudah banyak dikuasai pendatang Russia. Ini justru mempercepat modernisasi Chechnya. Warganya bekerja di sektor modern: pertanian, engineering, pemerintahan, dan terutama militer. Banyak warga Chechnya menjadi perwira dan prajurit Uni Soviet. Dua diantaranya tentu Jendral Dzhokhar Dudayev di Estonia, dan Kolonel Aslan Maskhadov di Lithuania — yang kemudian mendirikan Republik Chechnya saat Uni Soviet bubar.

Dzhokhar Dudayev

Merdekanya Republik Chechen memicu perang dengan Russia. Tentara Russia dapat membunuh Dudayev, namun tak dapat memperoleh kemenangan mutlak. Akhirnya Russia di bawah Boris Yeltsin memutuskan gencatan senjata dan kemerdekaan de fakto Republik Chechnya.

Sayangnya kemudian Chechnya tidak stabil. Islamis ekstrim makin kuat dan berekspansi ke kawasan lain, seperti Dagestan. Mufti Chechnya, Akhmad Kadyrov-pun merasa terancam oleh aliran Islam yang semacam ini. Russia yang kini di bawah Vladimir Putin memutuskan menumpas habis militer Chechnya. Chechnya kembali menjadi Republik Autonomi di bawah Federasi Russia. Untuk memastikan stabilitas, Akhmad Kadyrov dijadikan presiden Chechnya. Bagi Kadyrov, ini pilihan terbaik untuk menjaga Chechnya tidak lebih hancur, sekaligus menahan penguatan para Islamis ekstrim. Sebagai pembalasan, para gerilyawan membom Akhmad Kadyrov. Ia wafat dan digantikan putranya, Ramzan Kadyrov.

Masjid Kadyrov yang dibangun pasca perang

Ramzan berada di situasi yang genting. Untuk mengamankan keseimbangan, ia memilih kesetiaan dan perlindungan penuh bersama Vladimir Putin. Ia dapat membentuk pasukan Chechnya yang relatif berdaulat, terpisah dari pasukan lain di Federasi Russia. Dan tentu ini jadi pasukan yang setia pada Putin melalui Kadyrov. Dalam model Russia versi Putin, tentu banyak soal-soal HAM yang juga dituduhkan pada Kadyrov.

Jadi, ini menjelaskan, mengapa Putin mengerahkan pasukan Kadyrov dari Chechnya ini dalam upaya menduduki dan mengalahkan Ukraina saat ini.

Nine One One

Itu adalah sebuah Selasa di akhir musim panas. Tapi musim panas itu menghabiskan panasnya di pertengahan tahun saja. Udara September 2001 di kota Coventry nan imut itu membuatku merutuki diri bahwa sekali lagi aku lupa bawa jaket. Yang kubawa di tas biruku juga tak menambah kehangatan. Waktu berlari. Tak bisa lagi banyak membaca buku sains, budaya asing, musik, filsafat yang bertumpuk bagai harta karun di perpustakaan bermenara mirip sarang burung itu. Waktu menipis. Yang kubawa hanya buku tentang broadband network, konfigurasinya untuk trafik tinggi, balancingnya untuk daerah luas berpenduduk tak merata, teknologinya yang konon mau berkonvergensi tapi selalu mismatch. Heh, kita dulu mencandai satu buku ini sebagai buku sastra Yunani. Pernah baca formula trafik paket? Hahah, deretan huruf Yunaninya pasti lebih seram dari Homer :).

Sekarang bayangkan, pasti senyap sekali bis yang membawa aku pulang ke Westwood Heath. Lebih sepi dari seharusnya. Karena suhu yang tak ramah, waktu yang kurang pas, atau karena formula pengendalian trafik itu sudah mulai terinstansiasi ke jalan-jalan Warwickshire yang terlindung pohon-pohon berdaun hijau coklat lebat itu?

Kamarku berpintu merah. Kunci kartu kuselipkan untuk membukanya. Notebook kukeluarkan dari tas. Juga buku-buku. Lalu kuhempaskan badan ke kasur kecil. Maunya. Nggak jadi. Telefon berdering. Suara mendesak di ujung sana. “Pasang TV sekarang juga. Gedung WTC ditabrak pesawat.”

Harus kuakui sekarang. Aku tak terkesan. Tapi bayangkan: itu tahun 2001. BBC setiap hari menyampaikan bagaimana negeri kita dibanjiri kekerasan. Mayat diseret di kota Malang. Pembunuhan sadis di Sampit. Krisis Poso. Jakarta. Ada yang ingat bahwa di tahun 2001 itu BBC menampilkan deretan panjang tank dan panser di Jakarta? Saat presiden menurunkan dekrit membubarkan DPR, dan memerintahkan militer membubarkan paksa DPR? Syukurlah waktu itu militer punya akal sehat dan memilih diam. Tapi juga ada Ambon. Dan Aceh yang tak kunjung selesai. Di masjid, para pemuda Palestina membacaan doa buat Indonesia selesai shalat Jumat. Ah, kalian yang kini berdoa untuk Palestina setelah shalat Jumat … kalian tak menyangka kan?

OK, kita kembali ke TV. Maka BBC menampilkan sekali dan sekali lagi dan sekali lagi adegan yang kini menjadi memori kita semua. Satu pesawat menghujam tubuh satu dari dua gedung kembar WTC. Lalu satu lagi menghujam gedung lainnya. Lalu runtuhan implosif mengakhiri kerja jahat itu dengan menghancurkan semuanya. Diperkirakan antara 20.000 hingga 40.000 orang meninggal. (Sekitar 6000, beberapa hari kemudian disampaikan). Menatap semuanya tanpa henti, baru aku sadar: ini adalah pernyataan perang. Tanggal 11 September, angka 9/11, menjadi sejarah.

Hebohkah? Sore itu, kami memperbincangkan apa yang terjadi di New York. Dengan suasana ketidakpastian. Tidak dengan kemarahan, ketakutan, atau ketakjuban. Seorang Cina yang biasanya mencerca US (sedang terjadi krisis diplomatik saat itu antara PRC dan US) terdiam. Tapi hidup tak langsung berubah. Beberapa hari itu, kami masih ke kota. Di pusat kota orang berkumpul. Membawa bunga, menandatangani tanda duka, mengenakan pita, dan bendera. Di BBC ditampilkan sekelompok ibu-ibu Palestina yang berteriak gembira menyambut hancurnya gedung WTC. Mereka mungkin bodoh, tapi tidak jahat. Mereka dari kampung yang temboknya tidak ada yang utuh. Keluarga mereka, bahkan hingga anak kecil, setiap saat terkena bom dan peluru Israel. Yang mereka tahu adalah bahwa Israel kuat karena dukungan AS. Jadi ledakan di AS adalah kegembiraan. Aku tak berminat membenarkan mereka. Tapi mohon jangan juga menyalahkan mereka. Mereka cuma korban perang.

Di akhir minggu, di tengah publikasi hasil penyelidikan kasus 911 di AS (plus segala macam wacana simpang siur tentang konspirasi dan hal2 menyebalkan semacamnya), aku ke Nottingham. Di sana, aku ikut antri menandatangani tanda duka. Tak mengenakan pita tapi. Juga tak memasang bendera. Lalu menghadiri pengajian Kibar. Mas Zulkiflimansyah dari Scotland masih jadi ketua pengajian (atau baru jadi mantan ketua pengajian, aku lupa). Tapi kami tak membahas tentang terorisme. Kami membahas ekonomi Islam: sesuatu yang berbasiskan rasionalitas dan akuntabilitas. Lalu prihatin bahwa Islam yang mulai dikenal rasional dan ramah itu kini kembali diidentikkan dengan kejahatan.

Beberapa pihak mulai menampakkan tanda permusuhan. Termasuk Baroness Thatcher. Masjid di kampus Coventry dikawal polisi untuk mencegah ada yang melakukan kekerasan terhadap umat muslim. Tetapi di kota lain, kekerasan tak dapat dicegah. Di Scotland, sebuah masjid mengalami ledakan ringan (tak lama setelah provokasi Thatcher). Dan tesisku mulai tertunda.

Tesisku akhirnya selesai di bulan Ramadhan. US, UK, dan pasukan sekutu sudah mengirim pasukan ke Afganistan, mengejar teroris Al-Qaidah. Ujian berakhir. Pulang. Perang terhadap teroris mulai overdosis. Bendahara pengajian di UK, Perancis, dll, dibawa ke kantor polisi, diinterogasi tentang aliran dana zakat dan infaq kami. Kegiatan kami mengirimkan dana kemanusiaan ke tanah air terpaksa dihentikan saat itu. Di tahun 2002, ISNET bahkan sempat terhenti. Majelis Syuro-nya non aktif.

Pembersihan Al-Qaidah menjadi kerjasama internasional. Tapi jadi problematik di Indonesia, yang saat itu baru mulai menata kembali masyarakatnya yang mulai mau merekatkan diri, biarpun hati mereka masih berat. Banyak hal yang jadi tabu dibicarakan, diselesaikan. Semuanya melalui gerakan lambat dan toleransi. Salah satu efeknya adalah bahwa Al-Qaidah yang tadinya berkembang di Malaysia, dan kemudian menyempir gerakknya karena terjadi pembersihan, akhirnya bermigrasi ke Indonesia, termasuk duet bomber Azhari – Noordin Top. Satu sudah jadi bangkai, tapi satu masih buron. Dan sampai sekarang kita masih menuai bom di pusat Jakarta.

Palestina masih tertindas. Sebagian oleh kekejian abadi kaum zionist. Sebagain oleh perpecahan terus menerus antara para pejuang Palestina sendiri — perpecahan tanpa toleransi tanpa kasih persaudaraan.

11 September 2001 belum lama berlalu. Apa yang terpikirkan oleh kita saat mengenang peristiwa itu, dan peristiwa-peristiwa sesudahnya?

Ganti Logo

Udah lama nggak melakukan hal2 yang bersentuhan sama kampus, hari ini aku sedikit dikagetkan oleh datangnya Focus-news. Ini adalah jurnal untuk alumni dan associate Coventry University. Yang bikin kaget bukan jurnalnya, tapi logo universitas tampak tercetak terbalik. Di depan dan di belakang. Penasaran, aku ke website kampus: coventry.ac.uk, dan memang ternyata ada rebranding (duh istilahnya). Logo baru jadi kayak gini:

Rada canggung sih :). Sama canggungnya waktu aku jalan2 ke Sarinah dan lihat souvenir perak Garuda dengan wajah menghadap kiri (barangkali kalau menghadap ke depan malah keren). Tapi, dengan adaptasi beberapa menit, udah ok lagi. Dan malah asyik berkelana ke web kampus. Tentu sambil cari2 cerita: kenapa logo harus diganti.

Pasti aku pernah cerita di weblog ini, kenapa Coventry memilih logo burung Phoenix. Burung dari mitologi Arab ini menginspirasi kaum yang hancur, haha :). Burung phoenix, sekian waktu sekali, akan terbakar, menjadi abu, dan dari abunya akan tercipta phoenix baru yang segar dan perkasa. Kehancuran tak pernah jadi akhir cerita, melainkan menjadi titik tolak penting dan kritis untuk menjadi kita yang baru, yang jauh lebih baik.

OK, blogging bersambung. Surfing berlanjut.

Coventry in Memory

Sebagian besar dari kita, aku yakin, belum pernah dengar nama kota ini: Coventry. Kecuali minoritas yang pernah doyan baca Sapta Siaga. Atau baca sejarah Perang Dunia II bagian Eropa. Lima tahun lalu, aku menjejak Coventry. Masih terbayang jelas detik-detik airport coach itu melaju masuk ke Coventry. Yang pertama dikenali tentulah puncak katedral St Michael, yang sudah aku baca sejarahnya beberapa hari sebelum terbang ke sana. Aku nggak sempat cari tahu kenapa mereka memilih St Michael. Tapi malaikat yang ditugasi mengatur hukum-hukum alam itu memang pas untuk Coventry dengan nuansa science & engineering yang mnewarnai kota. Juga logo kota, yang tadinya gajah, tapi terus ditambahi burung phoenix.

Phoenix, lambang pribadi yang mensikapi kehancuran sebagai kesempatan besar untuk membentuk pribadi baru yang jauh lebih baik dan lebih segar, cukup sering juga aku bahas, di weblog ini dan di tempat lain. Skip aja lah kali ini. Artefax lain Coventry adalah Godiva. Ini seorang putri yang di masa lalu memprotes penindasan terhadap rakyat (dalam bentuk aturan finansial yang terus menerus diperberat) dengan menelanjangi diri dan berkeliling kota dengan naik kuda. Tidak ada yang menistakan diri dengan mengintip sang putri, kecuali seorang Tom.

Tapi Coventry bukan sekumpulan artefax. Kota ini tenang, menyembunyikan dinamika di balik dinding-dinding sunyinya. Menyembunyikan inovasi masa depan di balik kenangan romantiknya akan masa lalu. Dan menyimpan kehangatan hati di balik udaranya yang lebih sering terasa dingin menggigit.

Itu Coventry, lima tahun yang lalu. Tepat lima tahun. Wow, apa yang udah terjadi dalam lima tahun? Pengaruh apa dari Coventry yang aku bawa lima tahun terakhir? Inspirasi dari si burung phoenix, iya, terutama. Juga …

Lannion

Yaa gitulah Ann, aku sempat seminggu ke Lannion, belajar teknologi SDH yang waktu itu masih relatif baru, di Alcatel. A nice li’l town, I must admit, biarpun pasti subyektif. Selamat jadi orang Lannion deh. Salam buat Jérôme dan pasukan :).

Lannion, bagian dari Bretagne, waktu itu (mudah2an juga sekarang) masih menjaga budaya Celtic mereka. Sebelum ekspansi bangsa Eropa yang sekarang, bagian barat Eropa memang masih diduduki bangsa Celtic. Tapi kemudian mereka punah, tersisa hanya di kepulauan Britain. Waktu bangsa Eropa masuk ke Britain dan jadi bangsa Inggris yang sekarang, mereka terdesak, tersisa di Wales (Cymru), ujung2 Scotland, Isle of Man, dan tentu Irlandia (Eire). Sebagian lari lagi ke bagian barat Perancis, dan jadi orang2 Bretagne sekarang. Papan2 nama masih bersifat bilingual. Dari arah pantai, tampak papan nama “Lannion/Lannuon” dan sebaliknya “Perros Guirec/Peroz Gireg”, kalau ingatanku nggak salah.

Sekitar akhir Oktober kayak gini lah waktu aku di Lannion. Titik2 air mengambang di udara, lebih kecil dari gerimis tapi lebih besar dari kabut. Dan kalau aku ke pantai pagi2, aku bisa jadi satu2nya orang di pantai selat itu. Nggak tau kayak apa siang2 di sana — kan aku harus training. Sore dipakai jalan2, soalnya kita dipinjami mobil, dan aku kayak biasa jadi navigator. Banyak perbukitan, dan jalan2 berliku. Suatu sore aku ngajak temen2 ke Cosmopolis. Kayaknya pernah aku ceritain di suatu tempat di web ini. Sampai sih, dengan perjuangan berliku sebagai seorang asing :). Tapi udah tutup. Jadi jalan2 di sekitarnya aja.

Ternyata di salah satu tanah kosong di situ, mereka membuat semacam reservasi hunian penduduk Celtic kuno, yang mereka namakan kampung Asterix. Nggak ada boneka Asterix atau lucu2an semacam itu. Tapi ada kampung yang mirip di buku Asterix. Pagar kayu yang agak tinggi. Rumah2 beratap kayu dan daun2an. Cuman aku nggak nemu ramuan ajaib aja. Kalau ketemu juga belum tentu aku berani minum. Mendingan kalau jadi kuat. Kalau badanku berubah jadi naga, gimana coba?

Di Lannion waktu itu nggak ada masjid atau semacamnya. Jadi, di hari Jumat kita harus ke Guingamp untuk cari masjid kecil. Melintas sekitar dua kabupaten.

Aku suka lupa kalau aku lagi nulis di weblog, bukan di email. Udah dulu ah.

« Older posts

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑