WordCamp itu kopdar para stakeholder WordPress: developer, designer, dan user. User bukan hanya blogger, tapi juga pihak yang berminat menggunakan engine WordPress sebagai CMS untuk berbagai aplikasi web. Lucu kali ya: dulu semuanya “over IP” — lalu jadi “over web” — dan mungkin akan jadi “over blog” :).
WordCamp Jakarta 2009 diselenggarakan oleh Valent Mustamin, dan dihadiri oleh Matt Mullenweg sendiri. Tempat di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta, 17-18 Januari. Btw, dua hari ini Kuningan keren sekali. Cuaca amat cerah tapi segar tak panas, sementara trafik sungguh jinak :).
Di hari-1, konon hadir 68 orang. Matt maju sebentar membuka acara. Lalu, sebagai sponsor, Edelman Digital menyampaikan presentasi perdana. Presentasinya OK, tapi mungkin salah segmen, haha. Kita mulai membuat livetweet dengan tag #wordcamp. Berikutnya adalah sharing session pagi. Di sini disampaikan kegiatan komunitas pemakai WordPress. Blogger daerah diwakili Rara dari AngingMamiri. Vishnu Mahmud bercerita tentang video podcast. Pitra berbagi tentang forum diskusi Fresh. Dll.
Setelah lunch, Matt yang pemalu memaparkan perkembangan WordPress. Dimulai dari sejarah dan versi2 awal WordPress (yang mengingatkanku pada hal2 yang membuatku bermigrasi ke WordPress: simplicity &
hackability). Matt beralih ke alasan2 yang melandasi evolusi ke 2.7, dan ke rencana 2.8. Yang akan banyak dikembangkan adalah theme, widget, dan plugin. Sebagai penggemar foto, Matt menyampaikan bahwa WordPress sudah memungkinkan photo tagging. Belum mirip Facebook sih, tapi sudah OK lah. Seperti yang juga dipublishnya di blog pribadinya, Matt juga menyebut baru meluncurkan wordpress.tv, tempat sharing informasi mengenai WordPress. Dan yang buat aku paling menarik adalah dukungan untuk pengembangan lebih lanjut WordPress sebagai CMS. Salah satu contoh yang diberikan adalah aplikasi social network menggunakan WordPress.
Menurut data Matt, Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa ketiga pada pemakai WordPress.com, setelah bahasa Inggris dan Spanyol. Juga yang kedua tumbuh tercepat. Enam bulan terakhir saja, ada 143rb pemakai baru yang berbahasa Indonesia di WordPress.com (143.108 orang). Belum yang menggunakan WordPress.org dan WordPress MultiUser ya :). Dalam kurun waktu yang sama, 40 kota di Indonesia mengirimkan trafik 117 juta ke WordPress. Pemakai di Indonesia cukup bervariasi, dengan pemakai WordPress.com dan WordPress.org cukup berimbang. Di negara seperti RRC misalnya, pemakai WordPress.com agak kecil: ada blok dari penguasa.
Sebagai kopdar, tentu ada perbincangan di luar forum juga. Ada perbincangan2 menarik tentang bagaimana blog terus saling melengkapi dengan media non blog. Vivanews juga sempat menginterview tentang keunggulan platform WordPress. Hihi, ada bagian yang Vivanews belum paham, yaitu tentang interaktivitas blog. Tapi keunggulan WordPress sebagai open source terkomunikasikan dengan baik.

Hari kedua dimulai Mas Romi Satria Wahono dengan berbagai aspek penggunaan blog: mengeksplorasi engine dan eksplorasi kepada nilai komunikasi blog sendiri. Aku rada terlambat, menikmati weekend pagi di rumah dulu, jadi tak mengikuti 100% paparan beliau. Waktu break, aku baru lihat bahwa pasukan BBV membawa anak2 SMA, finalis mading online ke acara ini. Ide keren. Trus kopi. Trus bikin entry blog ini. Matt naik lagi ke panggung untuk talk show tentang aspek bisnis dari platform WordPress. OK, blog disambung lain hari. Lihat di Twitter aja dulu ya.




Dan buku yang dipilih adalah Running Mac OS X Tiger. Nah lo, kok baru beli sekarang — 1 tahun kemudian? Tadinya sih sekalian menunggu peluncuran Mac OS X Leopard yang dijadwalkan pertengahan tahun ini. Tapi ianya tak kunjung melandas jua. Akhirnya aku beli juga buku ini. (Hm, khabarnya akhirnya Leopard akan diluncurkan bulan Oktober ini juga — tapi biar deh, updatenya dipelajari via e-documents sahaja).
Kritik2 atas C++ ditanggapi Stroustrup dengan mengiyakan bahwa memang C++ ditujukan untuk expert, tetapi dengan mengingatkan bahwa terdapat generalitas yang tertanam dalam bahasa itu. Dan performansi. Waktu si pewawancara mengingatkan bahwa Stroustrup pernah mengatakan bahwa salah satu motivator atas C++ adalah Kierkegaard :), ia membalas bahwa kecenderungan saat ini untuk mengintegrasikan manusia dalam corporate culture (tanpa melihat lagi keunikan dan talenta individual) itu kejam dan tak efektif. Kierkegaard adalah pendukung peran individu melawan “the crowd,” dan cukup serius membahas pentingnya estetika dan etika. Maka C++ jadi dicipta dengan mengandaikan setiap programmernya memiliki keleluasaan untuk mencipta dan mengatur yang terbaik bagi mereka sendiri.
Kalau versi aku (yang lebih banyak ketemu orang elektro), minggu2 awal bukannya diisi pembelajaran fungsi2 dari kepustakaan C, tetapi belajar memprogram kode-kode pengganti assembler dalam bahasa C. Wow, aku udah secanggih kakak2 angkatanku :). Baru fungsi2 C sendiri. Dan bikin editor sendiri (VIE dan kemudian TVE, hihi), sehingga nggak lama kemudian TC jarang dipakai lagi (selain untuk tracing). Kompilasi menggunakan TCC yang merupakan versi command line. File yang dihasilkan bukan cuma EXE, tetapi juga COM. Eh, COM yang ini beneran ekstensi loh, bukan seperti yang kata seorang pakar: ekstensi domain. Trus, tentu saja terimbas migrasi dari kompiler C ke kompiler C++. Biarpun, sebenernya, nulis programnya tetap dalam C. Dan baru kemudian pindah ke C++, tanpa heboh.