Author: Kuncoro Wastuwibowo (Page 88 of 88)

Coventry in Blitz

Perang … abad xx ini masih penuh warna perang. Buat apa sih perang ? Melayani fluktuasi pikiran manusia ?

Perang dan militerisme tidak pernah tampak sebagai lambang pembelaan yang patriotik, tapi lebih sebagai simbol kepengecutan manusia yang lebih suka memakai senjata daripada pikiran.

Oh ya, foto di sini adalah kota Coventry, kota imut di tengah-tengah England, yang luluh lantak di bawah serangan udara (blitz) dari Jerman, pada PD II. Sekarang Coventry menjadi kota industri dan engineering yang sibuk, dengan penduduk sekitar tiga ratus ribu.

Insya Allâh kita awali tahun pertama abad xxi di sana yach…

1232849

Feel down, Koen?
So did Wagner when he composed his masterpiece Der Ring des Nibelungen. Fled from his country after being involved in political movement, had no money but much amount of debts, and faced several personal problems. But his masterpiece is one of the best composition ever created on the Earth.
I have no suggestion. You may just have to try to ignore your feeling. Further, you could use that feeling to boost your performance.

Lampung

Seorang ibu tua menatah batu-batu, 8 jam sehari, 30 hari sebulan. Dalam sebulan ia menghasilkan 4 m3 batu tatahan, dan dijual dengan harga 10 ribu rupiah per m3. Total 40 ribu rupiah buat tangan tua itu. Less than US$5 per month, pals, for splicing hard rocks a full-month with no weekend. Beliau jelas lebih berhak stress daripada kita.

Itu tangan ahli surga, sabda Rasulullah s.a.w.

720073

Weblog ini, akan diisi apa saja sesuai dengan refleksi dan mood setiap saat. Barangkali dengan cara ini kita bisa merumuskan “universe”. Waktu universe diciptakan juga, nggak ada yang namanya “kategori” dan “spesialisasi”.

Seandainya Mereka Bisa Bicara

Seandainya Mereka Bisa Bicara … dan begitulah aku ketemu lagi dengan si James Herriot. Udah lusuh sekali, my poor old pal. Coba, apa aku masih membacanya dengan kacamata yang sama dengan tahun-tahun dulu. Kayaknya sih nggak.

Kadang, kalau aku lagi naif, emang rasanya ingin ikut jadi hero yang memperbaiki dunia ini. Siegfried style. Tapi terus ada waktunya aku menganut Tristan style yang membiarkan semuanya mengambang, memandang hidup secara ironik, dan hanya bermain di hal-hal yang menarik. Dan kalau semuanya udah kembali jernih *voila* jadilah aku si Koen yang jernih, pingin ramah tapi rada susah berkomunikasi, pingin mengoptimalkan potensi tapi suka nggak pe-de, dan terutama … selalu optimis. That’s James style!

Lucunya, karakter Siegfried dan Tristan di Skeldale ini bisa aku pas-pasin dengan karakter yang sama di opera Wagner. Tapi kalau di opera Wagner, siapa tokoh yang bisa mewakili karakter James Herriot?

Barangkali dengan ini kita bisa menyusun hipotesis bahwa pada saat kita memberi terlalu banyak nilai untuk kehidupan *haha*, pada saat itu justru hilanglah nilai dari kehidupan itu. Sekilas kesannya memang anti-humanisme. Tapi dalam frame yang juga mengakui keabadian, sebenernya ini lebih tepat dinamai super-humanisme. Tentu, kata super di sini tidak berkaitan (atau justru bertentangan) dengan istilah Nietzsche.

Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑