Akhirnya … tanpa iringan simfoni dari Holst … jadi juga kita ngintip Mars dari Bosscha. Kasihan juga sih, para bujangan2 itu Malam Minggu bukannya cari prospek, malah ikutan ngintipin planet di tempat gelap di pelosok Lembang. Tapi biar aja deh, biar hidup mereka jadi variatif, haha :).
Mars yang sekilas tampak merah kekuningan, dari teropong itu jadi lebih jelas warna merah kekuningannya. Lengkap dengan kutub yang putih cemerlang. Phobos dan Deimos nggak keliatan sama sekali. Terlalu kecil, kata mas yang jaganya.
Setelah tahun ini, baru 284 tahun lagi Mars dalam posisi cukup dekat dengan bumi.
Waktu kita turun, mendung menutupi langit lagi, kayak waktu berangkat tadi. Di Setiabudi, mobil disetop segerombolan polisi. Dari mana Mas? tanya salah satu polisi. Dari Bosscha, jawab aku, Lihat bintang. Dia belum puas, trus nanya, Bintang apa?. Kenapa tadi aku bilang bintang ya ?
Hmmmm … jadi overcaffeinated gini …
Wagner, kalau masih ingat nama ini, akhirnya tega membakar Siegfried. Dan kemudian juga Brunnhilde. Si manusia lugu yang dikorbankan untuk menjadi pahlawan yang selalu kesepian dan selalu penuh tanya, akhirnya jatuh di tangan kaum kerdil. Di tangan kaum kerdil yang sama lugunya dan sama-sama terkorbankannya oleh skenario para dewa sok tahu dari Valhalla itu; bukan di tangan kaum raksasa yang selalu mudah dihancurkan oleh tangan perkasa dari hati yang bersih itu.
