Author: Kuncoro Wastuwibowo (Page 1 of 88)

Aku dan AI

Dalam buku I Am a Strange Loop, Douglas Hofstadter membangun postulat filosofis bahwa kesadaran bukanlah sesuatu yang bersifat spiritual. Tapi andai kesadaran lahir dari struktur material, seperti apa sih terbentuknya? Hofstadter menggambarkan struktur rekursif yang dinamainya strange loop, yaitu jejaring pengolahan informasi abstraksi yang memiliki lapisan-lapisan dalam bentuk hierarki, dan alur pengolahan abstraksi itu bukan cuma mengarah ke atas dan ke bawah, tetapi secara paradoksal bisa kembali ke lapis awalnya. Pada titik ini, sistem jadi mengamati dirinya sendiri, saling bercermin, dan menghasilkan kesadaran. Seperti saat kita mengkaji topologi jejaring berlapis, atau saat kita mengkaji kompleksitas berlapis, kita akan melihat bentuk pengolahan yang berbeda di setiap lapisan: dari sinyal neurobiologis mentah, naik ke simbol konsep melalui mekanisme chunking (kompresi jutaan detail mikro menjadi unit makna makro), hingga mencapai metakognisi. Di puncak kompleksitas inilah muncul kesadaran identitas, atau si aku, bukan sebagai pilot fisik, melainkan sebagai halusinasi stabil atau pola abstrak yang lahir dari interaksi simbol-simbol tersebut. Lebih jauh lagi, Hofstadter menekankan kekuatan downward causality, di mana pola pikir abstrak ini memiliki otoritas kausal untuk mengendalikan materi fisik otak. Artinya, kesadaran ini dapat menggerakkan materi fisik. Hal ini berbeda dengan banyak pandangan sebelumnya, yang menganggap bahwa hanya materi yang bisa menggerakkan materi lain.

Pola pikir yang diterbitkan pada awal abad ke-21 ini tentunya mendapatkan tanggapan tajam. Di satu sisi, visi Hofstadter tentang diri sebagai konstruksi virtual mendapatkan validasi kuat dari neurosains modern, sejalan dengan teori The Ego Tunnel (Thomas Metzinger) dan Predictive Processing (Karl Friston) yang memandang otak sebagai mesin prediksi bayesian. Namun, di ranah AI, model kerja Symbolic AI yang dipaparkan Hofstadter, yang beroperasi dengan logika transparan, dianggap tidak valid, tergantikan oleh dominasi model machine learning dan deep learning. AI modern seperti LLM tidak bekerja dengan memahami proses fundamental atau memiliki strange loop pada tataran filosofis. AI terkini adalah mesin kalkulasi statistik yang menghasilkan result akurat melalui serangkaian revisi berbasis umpan balik (feedback) masif. Mesin ini tidak merepresentasikan proses berpikir layaknya manusia, melainkan mensimulasikan hasil pemikiran tersebut untuk mencapai ketepatan pragmatis.

Aku sendiri melihat perbedaan arsitektur ini menarik. Ini bisa jadi simbiosis kognitif yang menarik. Proses berpikir manusia, terutama para expert seperti kita, seringkali bersifat non-linear, chaotic, dan melompat-lompat melalui pengenalan pola yang kompleks, seolah seperti pikiran intuitif. Seringkali, manusia mampu mengambil keputusan yang sangat optimal dalam waktu singkat, bahkan ketika data yang tersedia tidak optimal atau bahkan berantakan. Tentu ini merupakan kemampuan inference tingkat tinggi yang sulit dijelaskan secara verbal karena sifatnya yang tacit (tersembunyi). Nah, di sini kita justru dapat memanfaatkan kembali peran AI (LLM), bukan sebagai pengambil keputusan, melainkan sebagai perangkat yang dapat menjelaskan kembali keputusan kita.

Kita memanfaatkan kemampuan kalkulasi AI untuk merasionalisasi dan menarasikan mengapa sebuah keputusan kita ambil dengan pola pikir yang cerdas namun chaotic dan non-linear itu. Wkwk. Ini tentunya kebalikan dari konsep explainable AI (XAI). Mesin justru membantu menjelaskan pikiran manusia, memungkinkan validitas narasi yang terstruktur untuk mengejar kecepatan intuisi yang abstrak. Ini juga dapat dimanfaatkan pada knowledge management untuk konversi dari pengetahuan tacit menjadi pengetahuan eksplisit.

Kita hidup di era saat sirkuit chaos manusia, yang penuh intuisi serta lompatan logika dan arah, membutuhkan sirkuit order dari mesin yang formal, terstruktur, dan rapi untuk validasi dalam komunikasi, negosiasi, bahkan administrasi. Kita, para penyisir gelombang kompleksitas, dapat menganggap simbiosis ini sebagai perangkat evolusi yang menarik. Kekuatan simbolik kita tetap menjadi inti dalam mengarahkan tujuan kepemimpinan kita, dan AI memastikan narasi, komunikasi, detail langkah. Kolaborasi lintas spesies yang aneh, tapi mungkin bisa efektif.

Београд

Hari pertama tahun 2026 ini aku buka di Beograd.

Di bandara Nikola Tesla, baru berapa puluh langkah keluar dari Air Serbia, tiga orang berseragam gelap dengan identitas kepolisian sangat tegap menghalangi jalan. Petugas di tengah meminta passport, lalu bertanya «Why coming to Serbia?» sambil membalik setiap halaman di password dan memeriksanya menerawang cahaya untuk memastikan keaslian setiap halaman. Ini sebelum masuk ke antrian imigrasi. Di loket imigrasi, petugas dengan seragam biru muda dengan identitas kepolisian dan muka kaku yang sama menanyakan hal yang sama «Why visiting Serbia?» sambil menatap tajam. Kutatap tajam balik seperti warga dari dua negara bersahabat yang saling teliti. Setelah membolak balik setiap halaman passport (tanpa diterawang ke cahaya), petugas ini menanyakan satu hal lagi, «Visa?» dan aku jawab tegas «No visa.» Ia mengangguk dan memberi cap «Српски Београд» dan mempersilakan keluar.

Di luar bandara, suhu serendah -1ºC. Bis merah A1 sudah menunggu. Driver berteriak menyuruh penumpang menaruh sendiri koper di bagasi belakang, baru membayar cash 400 dinar per penumpang. Pintu dibanting, dan minibus yang padat sesak mengantar ke pusat kota Beograd. Aku turun di Stasiun Novi Beograd, dan melanjutkan ke hotelku di kawasan pedestrian Knez Mihailova. Di hotel ini, resepsionis bernama Marija menyambut sangat ramah, hangat, dan memberikan tips bagaimana bertransportasi di Beograd dan Serbia pada umumnya. Ruangannya juga hangat nyaman (tidak panas). Perfect. Kontras sekali keramahan di tengah kota Beograd ini dengan imigrasi dan transportasinya.

Serbia lahir dari sejarah yang tidak pernah linear. Bukan bangsa yang tumbuh dalam satu arah peradaban, melainkan dibentuk di persimpangan Bizantium, Utsmani, dan Eropa Tengah. Prakarsanya dalam membentuk Yugoslavia sebagai upaya penyatuan bangsa-bangsa Slav selatan di abad lalu telah memperbesar paradoks itu. Penyatuan bangsa serumpun yang berbeda agama (di Eropa masa lalu, agama adalah identitas politik), aksara (=komunikasi dan budaya), dan sejarah (=budaya) itu terbukti gagal, memecah Yugoslavia, namun tidak meruntuhkan Serbia. Serbia kembali pada komitmennya menjadi pusat budaya yang mandiri di Eropa Tenggara, tanpa terobsesi menjadi bagian dari Eropa yang sangat berorientasi Barat. Integrasi Eropa diupayakan, namun bersifat pragmatis, tanpa menggantungkan harga diri pada validasi Eropa. Sikap ini lahir dari panjangnya pengalaman hidup di bawah pendudukan Utsmany, pendudukan Axis pada PD I & II, komunisme nasional dan penyatuan Yugoslavia, sanksi internasional akibat kekejaman di Bosnia, dan keterasingan ekonomi.

Kepribadian itu jelas terbaca di Beograd. Kota ini mungkin tidak secantik Praha, Bratislava, Budapest, atau berbagai kota di Eropa Tengah. Kota ini brutal dan kontras. Benteng Romawi berdampingan dengan jejak Utsmany, bangunan Habsburg, blok-blok sosialis beton, dan improvisasi urban pasca-Yugoslavia yang semuanya disusun bertumpuk tanpa disembunyikan. Huruf-huruf sirilik berdampingan dengan huruf-huruf latin dalam bahasa Slav selatan, dan keduanya memiliki keunikan: huruf sirilik yang berbeda dengan Russia, dan huruf latin dengan tambahan diakritik yang unik. Luka sejarah tidak dihapus di sini. Brutalisme bukan menjadi kegagalan estetika, tapi justru menunjukkan kejujuran fungsi dan kekuasaan, dilengkapi dengan vitalitas sosial yang tidak pretensius.

Baik di Beograd dan Novi Sad (kota budaya yang aku kunjungi berikutnya), kita menemui paduan manusia yang sangat ramah dan sangat kaku. Brutal membanting pintu mobil, tapi ramah memberikan informasi apa pun. Sopir taxi di Petrovaradin tanpa ditanya memberi tahu alur kembali dari Novi Sad ke Petrovaradin dengan bis agar lebih murah. Toko buku sangat banyak di pusat kota Beograd dan Novi Sad. Ciri-ciri negeri dengan banyak orang cerdas. Tentu sebagian besar buku dalam bahasa Serbia, bagian Shtokavia dari bahasa Slav Selatan, dan banyak dijual dalam edisi sirilik maupun latin. Uniknya, toko buku pertama yang aku masuki memiliki kasir yang berasal dari Banjaluka, Bosnia.

Selain museum, perpustakaan, taman, dan benteng, pusat-pusat kota juga merupakan pusat kunjungan yang menunjukkan budaya unik Serbia. Negeri ini tetap penting di Eropa Tenggara. Ia memilih menjadi simpul, dan bukan panggung. Keunikan Serbia terletak pada kemampuan hidup dengan kontradiksi: ortodoks tetapi sosial, nasional tetapi tidak romantik, persimpangan timur dan barat tanpa inferioritas, serta dua aksara yang hadir setara tanpa krisis identitas. Warisan Utsmany membentuk ritme sosial dan kecerdikan bertahan, warisan Eropa memberi nilai rasionalitas, dan pengalaman Yugoslavia mengajarkan skeptisisme terhadap proyek besar. Hasilnya adalah negara dan kota yang mungkin tidak akan masuk rank dalam keindahan, tetapi tetap menunjukkan energi yang nyata, kekuatan inspirasi, dan kepribadiannya utuh. Serbia hanya mencoba berpoles sendikit, sambil memilih hadir apa adanya.

Hari terakhir di Beograd, aku kembali ke bandara Nikola Tesla. Tanda penunjuk membawaku langsung ke gerbang imigrasi (sebelum sempat checkin dan baggage drop-in). Kali ini petugasnya seorang perempuan muda dengan wajah agak melankolis. Ia menyambut dengan senyum lucu dan sangat bersahabat. «I am tired,» katanya. «Because of the New Year’s party?» «No, I was working during New Year’s eve,» katanya sambil melihat isi passportku, lalu memberikan cap. «Well, happy New Year and more success for you!» kataku. Ia membalas, «You too.» Bahkan imigrasipun kontras antara pintu masuk dan pintu keluar. Sukses selalu untuk negeri Serbia yang selalu kontroversial.

IEEE Fest & Workshop TEUB

Aku diundang sebagai representatif IEEE Indonesia Section Advisory Board pada IEEE Fest 2025 yang digelar IEEE Brawijaya University Student Branch di Malang, 18 Oktober 2025. Ketuanya Muhammad Asyir Zarkasih, sebagai Chair of IEEE SBUB. Kegiatan ini dibuka Warek UB fidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan, Dr Setiawan Noerdajasakti, serta para pimpinan fakultas dan jurusan. Ini menarik, karena IEEE SBUB benar-benar berekspansi dari jurusan-jurusan yang bersifat STEM, ke bidang seperti manajemen dan hukum.

Welcoming speech pendek dari aku lebih mendorong ditingkatkannya antusiasme, komitman, dan kapabilitas inovasi melalui kolaborasi dengan jalur yang sudah tersedia dan dikembangkan lebih luas lagi melalui berbagai OU dan program di IEEE. Di tengah situasi kompleks, bukan saja tantanagn lebih mungkin diselesaikan bersama; namun seringkali kita memperoleh banyak peluang baru dari sisi inovasi dan bisnis melalui kolaborasi kompleks ini.

Berbincang sebelumnya di holding room dengan Warek, kami membahas penguatan ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi yang memanfaatkan platform digital dan konektivitas Telkom Group, serta kolaborasi inovatif yang sangat kuat dari IEEE termasuk IEEE Indonesia Section. Tindak lanjutnya kini disiapkan di tingkat universitas maupun fakultas.

Khusus tahun ini, aku minta dapat dihadirkan generasi pendiri Workshop TEUB juga, yaitu beberapa alumni E88. Workshop TEUB didirikan trio Sigit Shalako Abdurajak, Widiyanto, dan aku sendiri; serta para aktivitas angkatan awal yang aktif pada bidang inovasi dan pelatihan, termasuk yang hadir di kegiatan ini: Saiful Hidayat, Aries Boedi Setiawan, Moch Iszar, dan rekan-rekan lain yang belum bisa hadir.

Workshop ini dulu kami dirikan untuk menghadapi banyak keterbatasan konten akademis serta kapabilitas dan kapasitas almamater kami tahun awal itu; dan kami sendiri malah takjub bahwa para penerus kami terus mengembangkan Workshop ini (sekarang sebagai unit otonom bawah HME) mencapai keunggulan inovasi seperti saat ini. Kepala Workshop saat ini adalah Akmal Mulki Majid.

IEEE Fest 2025 juga menampilkan pameran inovasi mahasiswa dalam bentuk presentasi dan booth dari berbagai unit di bawah HME dan Workshop, serta unit-unit inovasi kampus lainnya. Para mahasiswa memamerkan karya unggulan, termasuk implementasi IoT, platform robotika, hingga integrasi dengan sistem cerdas. Salah satunya adalah Elektro Formula Brawijaya, yaitu inovasi EV yang menjembatani kapabilitas teknologi dan kebutuhan dunia nyata. Pameran ini memperlihatkan bagaimana mahasiswa UB tak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga berani melintasi batasnya: merancang solusi konkret, presisi, dan siap diuji dalam konteks industri.

Paralel kegiatan pameran, kami melakukan kunjungan ke Workshop dan laboratorium di Teknik Elektro. Dikawal a.l. oleh Ketua HME, M Iqbal Maulana. Termasuk tentunya ke Lab Elektronika, tempat aku jadi lab assistant bersama Sigit Shalako. Labnya sudah pindah tempat, lebih maju, dengan modul eksperimen presisi tinggi.

Acaranya satu hari, tapi kolaborasi tentu tidak berhenti. Konsultasi teknis, program sociopreneurship, dan rintisan kemitraan strategis akan makin dikembangkan berjalan untuk memperkuat ekosistem inovasi dan mendukung pengembangan talenta nasional secara berkelanjutan.

IEEE R10 HTC 2025

Minggu lalu, IEEE Region 10 menyelenggarakan Humanitarian Technology Conference (IEEE HTC) 2025 di Chiba University of Commerce, Jepang, 28 September hingga 1 Oktober, yang mempertemukan para visioner global dengan tema “Beyond SDGs, A New Humanitarian Era with Intelligent Partners.” Konferensi ini berfokus pada sinergi antara intelektualitas manusia dan sistem cerdas yang berkembang dalam meningkatkan dampak kemanusiaan melalui teknologi.

Pada sesi Pembukaan, Presiden IEEE Humanitarian Technologies Board (HTB) Grayson Randall menyampaikan speech yang menekankan peran istimewa para insinyur dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Pesannya menegaskan bahwa insinyur bukan sekadar pemecah masalah, melainkan arsitek harapan yang mampu menjembatani inovasi dengan tanggung jawab sosial. Ia juga memaparkan berbagai peluang baru dalam program-program HT untuk mendorong proyek yang inklusif dan berdampak luas di kawasan Asia-Pasifik. Pada hari kedua, IEEE President-Elect Mary Ellen Randall menyampaikan keynote speech yang visioner tentang roadmap IEEE dalam memajukan profesi rekayasa selaras dengan tujuan pembangunan manusia global. Ia menjelaskan bagaimana arah strategis IEEE, termasuk etika digital dan inovasi berkelanjutan, berfokus pada satu misi utama, peningkatan kualitas hidup manusia melalui kolaborasi yang cerdas.

Hari ke-3 (1 Oktober), aku berpresentasi dalam Special Program 15 dengan judul “Synergy for Sustainable Impact.” Sesi ini dimoderatori oleh Allya Paramitha, dengan para panelis Hidenobu Harasaki, Husain Mahdi, Agnes Irwanti, Bernard Lim, Chie Sato, Saurabh Soni, dan aku sendiri. Diskusi membahas mekanisme kolaboratif antara teknologi, kebijakan, dan inovasi sosial untuk mempercepat hasil kemanusiaan yang berkelanjutan. Aku hampir selalu memulai presentasi tentang sinergi, ekosistem, dan kolaborasi industri dengan menempatkannya dalam framework teori kompleksitas, yang menunjukkan bagaimana sinergi dapat menghasilkan nilai emergence secara non-linear dalam ekosistem kompleksitas. Fenomena emergensi inilah yang menjadi kunci transformasi menuju pencapaian SDG, khususnya dalam memperkuat inklusivitas, ketahanan, dan keadilan.

Aku mengacu pada visi nasional Indonesia, dengan menjelaskan pengembangan ekosistem komersialisasi UMKM sebagai model penerapan teknologi kemanusiaan. Melalui program-program yang meliputi juga pembiayaan mikro, platform digital, dan pemberdayaan koperasi, kita menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengangkat pasar yang sebelumnya belum tergarap menjadi sistem yang produktif dan berkelanjutan. Aku juga memaparkan case dimana IEEE Indonesia SIGHT in Sociopreneurship and Sustainability melaksanakan program pengembangan kapasitas bagi Student Branch IEEE Indonesia, yang masing-masing merancang solusi lokal seperti sistem air tenaga surya, pemantauan berbasis IoT, dan inkubasi sosiopreneurship, sebagaimana sedang dijalankan oleh Universitas Gadjah Mada dan Universitas Udayana. Proyek-proyek ini menunjukkan bagaimana keterlibatan berbasis rekayasa dapat berkembang menjadi sociopreneurship yang digerakkan oleh komunitas, dengan menjamin keberlanjutan melalui kepemilikan, replikasi, dan dampak yang terukur.

Pada Hari ke-0 (28 September), aku juga menceritakan versi ringkas program-program ini ke IEEE President-Elect Mary Ellen Randall dan HTB President Grayson Randall. Diskusi ini menjadi landasan bagi pengembangan lebih lanjut program kemanusiaan IEEE di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik, dengan fokus pada ekosistem digital, sosiopreneurship, dan model inovasi berkelanjutan. Program ini juga aku sampaikan dalam Program Khusus 13 (30 September), “From Innovation to Impact: Advancing IEEE Humanitarian Initiatives”, dalam HTA Forum untuk membahas penyelarasan strategis antara kerangka kemanusiaan IEEE dan pengembangan ekosistem regional.

IEEE R10 HTC 2025 ini bukan hanya diskusi antara gagasan, tetapi lebih sebagai aktivitas dinamis dari sinergi, serta perpaduan antara intelektualitas, empati, dan teknologi. Konferensi ini menegaskan bahwa keinsinyuran bukan sekadar tentang mesin atau sistem, melainkan selalu tentang kemanusiaan. IEEE R10 HTC 2025 menjadi tonggak lain dalam perjalanan kolektif untuk membangun dunia yang lebih adil, tangguh, dan berkelanjutan, digerakkan oleh wawasan manusia dan inovasi cerdas.

Moniac dan 200T

Mesin MONIAC di bawah ini aku foto di Science Museum, Kensington, pada kunjungan tahun 2010. Mesin ini dirancang ekonom Bill Phillips pada 1949 untuk memodelkan perekonomian Inggris. Perangkat ini menggunakan fluida melalui pipa, tangki, dan katup untuk menggambarkan arus ekonomi nasional: pendapatan, konsumsi, tabungan, pajak, investasi, hingga perdagangan luar negeri. Dengan mengatur keran atau katup, kita dapat melihat bagaimana perubahan kebijakan, misalnya menaikkan pajak atau memperluas belanja pemerintah, dapat mempengaruhi keseimbangan ekonomi secara visual. Buat engineer yang baru belajar ekonomi, mesin MONIAC ini menunjukkan penyederhanaan konsep kompleks permintaan dan penawaran agregat, neraca pembayaran, serta kebijakan fiskal-moneter dalam bentuk simulasi fisik yang intuitif.

Aku tertarik membahas ini justru untuk menujukkan bahwa ekonomi itu bukan benda sederhana yang mudah diubah dengan beberapa kebijakan, walaupun nilainya 200T, melainkan akan tetap bergantung pada komitmen dan kapabilitas peningkatan produktivitas, ekonomi, kualitas, dan seterusnya. Tapi kita mulai dari MONIAC dulu, dan dari satu sisinya, misalnya soal permintaan

Permintaan Agregat (Aggregate Demand/AD) adalah total permintaan seluruh sektor ekonomi, yang dirumuskan sebagai AD = C + I + G + (X – M), yaitu mencakup konsumsi (C), investasi (I), belanja pemerintah (G), serta ekspor bersih (ekspor dikurangi impor). AD ini satu pilar utama analisis makroekonomi, karena menunjukkan bagaimana kebijakan moneter, fiskal, maupun guncangan eksternal memengaruhi keseluruhan aktivitas ekonomi.

Beberapa tahun terakhir Indonesia, menjalani kebijakan ekonomi ketat demi stabilitas ekonomi: penghematan belanja, pengetatan likuiditas (uang beredar), dan penggiatan pajak. Hasilnya adalah pelemahan permintaan domestik: konsumsi macet, kredit tertahan, investasi mundur, denyut ekonomi melemah sekali. Gagal melesat. Menkeu yang baru dilantik minggu ini mencoba meningkatkan likuiditas dengan memindahkan 200T uang pemerintah dari BI ke para bank BUMN. Bank jadi harus berpikir untuk mengucurkan dana secara lebih cerdas ke masyarakat lebih luas, bukan hanya ke enterprise besar yang hampir tanpa risiko pengembalian ke bank.

Saat pemerintah menambah uang ke pasar seperti ini, pelonggaran menambah likuiditas dan menurunkan suku bunga riil. Dengan bunga turun, orang lebih memilih belanja daripada menabung; juga orang lebih mudah meminjam untuk belanja konsumsi, tapi juga belanja produksi. Demand belanja naik, produksi naik, bisnis bergairah. Perusahaan menilai proyek dengan hurdle rate lebih rendah, sehingga investasi naik.

Di sisi lain, turunnya bunga membuat orang memindahkan uang ke luar negeri yang bunganya lebih baik. Nilai rupiah akan turun, kecuali kalau issue The Feds akan menurunkan suku bunga benar2 terjadi. Masalahnya, struktur ekonomi kita sangat bergantung pada impor: mesin, komponen, energi, pangan, serta pada modal asing. Depresiasi rupiah seharusnya membuat harga barang Indonesia dalam dollar turun, sehingga meningkatkan ekspor; tetapi naiknya harga impor alat dan bahan produksi membentuk inflasi impor sebelum daya saing ekspor meningkat. Rantai pasok domestik kita buruk dan dangkal, sehingga konsumsi dan investasi yang pulih justru menambah permintaan barang impor. Ketergantungan pada portofolio asing ini juga memperbesar volatilitas rupiah dan memperdalam pelemahan kurs. Hasilnya dapat berupa pemulihan yang tidak dapat dijaminkan, harga yang tidak stabil, dan neraca eksternal yang tidak membaik seperti harapan Menkeu. Melihat gejala semacam ini, para investor belum tentu akan sepenuhnya mempercayakan peningkatan investasi ke Indonesia.

Juga, hal-hal di atas tidak akan berjalan seketika seperti mesin MONIAC. Ada tundaan dari keputusan manajemen di bank dan di industri. Ada tundaan dari adaptasi sektor riil yang tentu perlu waktu. Juga ada experience panjang dari ekonomi Indonesia yang membuat ekspektasi tidak bisa sepenuhnya antusias. Dan ujungnya, keseimbangan baru bukan sepenuhnya bergantung pada antusiasme dari policy baru yang tampak berbeda. Badan yang sakit bukan tidak selalu mudah diatasi dengan mengganti satu vitamin dengan vitamin lain, tapi selalu harus melalui perbaikan struktur.

Kesehatan ekonomi pada akhirnya akan harus melalui jalan-jalan yang rasional semata: peningkatan produktivitas, kapasitas, kualitas, efisiensi, dan akhirnya pada peningkatan daya saing. Soalnya akan kembali ke pekerjaan yang kita coba lakukan dalam tahun-tahun terakhir ini: perbaikan rantai pasok dan logistik agar sangat efisien dari sisi waktu dan biaya, peningkatan kandungan lokal dan jejaring pemasok domestik sebagai substitusi impor, penguatan pasar keuangan domestik melalui termasuk pembiayaan jangka panjang dan pasar lindung nilai agar investasi tidak terlalu bergantung pada arus portofolio. Dan tentu hal yang sampai sekarang diabaikan seluruh manusia Indonesia, yaitu mengangkat kualitas manusia melalui pendidikan berkualitas dan pembelajaran seumur hidup. Serta hal yang selalu diabaikan pemerintah: regulasi dan praktek bisnis pro-persaingan dan pro-kepastian, agar investasi bisa produktif dan fair. Hanya dengan serius memperbaiki fondasi dengan ilmu lama semacam ini, pelonggaran ala Purbaya akan lebih efisien mendorong kapasitas dan nilai tambah domestik, sementara pengetatan ala Sri MUlyani tidak menyeret ekonomi ke kelesuan.

Kebijakan moneter hanya dapat mengarahkan, tetapi laju ekonomi tidak dapat melawan hukum fisika: perlu perbaikan struktur produktif, dan peningkatan kualitas manusia.

Menggerakkan Republik

Pemerintahan gagal bukan karena deretan angka yang tidak mencapai target atau tidak menunjukkan pertumbuhan; tetapi saat penderitaan ekonomi terus meningkat, walaupun terus ditutupi. Legitimasi hancur saat mereka yang melabeli diri sebagai pemimpin lebih memanfaatkan diri sebagai pemangsa. Kekuasaan bukan dipakai untuk menata kepentingan bersama, melainkan merampas untuk kepentingan kelompok. Alam informasi diriuhi hanya dengan propaganda dan pembungkaman suara yang berbeda. Akal sehat telah lama pergi.

Negara gagal bukan karena tanahnya miskin harta, melainkan karena negeri kehilangan keadilan. Rasa aman ditukar dengan tekanan dan ketakutan. Peluang tumbuh yang meraksasa ditebas dengan keberpihakan dan persekongkolan. Lembaga-lembaga runtuh dan membusuk. Korupsi menjadi sistem operasi, dan konstitusi dipermainkan dengan perlindungan bagi para pemain-pemain bodoh.

Garuda menghitam, kehilangan sinar emasnya. Banteng yang dahulu simbol demokrasi, kini menatap kosong, menyaksikan kehendak rakyat diperjualbelikan dengan harga murah. Pohon beringin, lambang persatuan, kini lebih mirip baobab yang meretakkan bumi dan memecah rakyatnya. Padi dan kapas, lambang kemakmuran, kini meranggas dalam cengkeraman monopoli dan kerakusan sistemik. Rantai yang dulu melambangkan solidaritas, kini berkarat menjadi belenggu penindasan. Dan bintang, cahaya penuntun masa lalu, kini meredup dalam kehampaan kemunafikan.

Negara hanya sistem. Pemerintah hanya entitas. Keduanya bisa gagal.
Namun bangsa hanya akan mati jika rakyatnya menyerah.
Garuda dalam gelap bukanlah pertanda akhir: ia adalah pertanda pilihan, antara menerima kehancuran, atau menyalakan pembaruan.
Dan dalam pilihan itulah, nasib republik kita tentukan.

Faust (Lagi)

Pada masa awal blog ini, cukup banyak tulisan tentang Faust dari Goethe [URL], khususnya tentang kehendak dan perjuangan manusia melawan kejumudan walaupun harus mempertaruhkan banyak hal yang di luar kuasanya. Kita kenang lagi, bagian awal tulisan Goethe ini tentang Faust.

MEPHISTOPHELES
Tuhan … datang lagi aku menyapa.
Engkau pun sudi melihat hamba hina.
Namun maaf, hamba tiada bahasa
Setinggi para pemuja cahaya.

Mereka bicara soal dunia dan bintang;
Aku hanya tahu manusia malang.
Si kerdil yang sok jadi dewa berakal,
Tapi justru lebih buas dari binatang.

Dengan nalar anugerahmu ia pongah,
Lalu memuja hasratnya yang rapuh.
Buatku, ia cuma belalang panjang,
Lompat-lompat, lalu jatuh ke kotoran.

TUHAN
Dan hanya itu yang kau bawa lagi?
Tak pernahkah kau lihat kebaikan di bumi?

MEPHISTOPHELES
Tidak, Tuhan. Dunia masih menyedihkan.
Aku bahkan nyaris kasihan.

TUHAN
Kau kenal Faust?

MEPHISTOPHELES
Si Doktor?

TUHAN
Hambaku, tentu.

MEPHISTOPHELES
Ia berbakti dengan cara aneh.
Tak makan minum, hanya resah.
Mendamba bintang dan kemuliaan,
Namun hatinya tak pernah tenang.

TUHAN
Meski ia tersesat dan kabur,
Akan Kuantar ia pada fajar yang jernih.
Seperti tukang kebun memandang tunas,
Kujaga benih yang kelak berbunga.

MEPHISTOPHELES
Tak ada buktinya. Biar kucoba raihnya.
Asal kauserahkan ia padaku,
Kan kubawa dia lewat jalanku.

TUHAN
Sepanjang ia hidup di dunia,
Kubiarkan kau mencobanya.
Selama manusia ingin dan rindu,
Ia tak luput dari kesalahan itu.

MEPHISTOPHELES
Terima kasih! Tubuh fana bukan urusanku.
Darah segar jauh lebih menyenangkan.
Saat orang mati mendekat pintuku,
Seperti kucing, kututup rapat kandang.

Faust dan Mephistopeles

TUHAN
Jebaklah sesukamu.
Tarik menjauh dari nuraninya.
Namun bersiaplah menjadi saksi,
Manusia tetap setia pada jalan sejati
Meski sering tersembunyi arahnya.

MEPHISTOPHELES
Sepakat! Ini perjanjiannya:
Kalau aku menang, biar kubanggakan:
Ia akan makan debu dengan girang,
Seperti ular tua, kerabatku yang sopan.

TUHAN
Pergilah—aku tak benci tantangan.
Iblis sepertimu tak banyak mengganggu.
Jiwa manusia lekas jenuh dan bosan,
Maka kuberi ia penggoda sepertimu.
Kau paksa ia bergerak, berpikir, mencipta,
Dan justru karena itu, ia akan berkembang.

Namun para putra cahaya,
Nikmatilah keindahan yang tak binasa.
Kekuatan cipta yang abadi menari
Merangkul kalian dalam cinta sejati.
Apa pun yang samar dan ragu di dunia
Tetap kalian abadikan dalam makna.

Citadelle

« L’homme ne vit pas de liberté, mais de la signification de la liberté. » — Hal yang terpenting dari kebebasan, seberapapun terbatasnya, adalah makna besar yang dapat kita ciptakan dan kerjakan dengan dengan kebebasan itu.

Dengan teks itu, Antoine de Saint-Exupéry menghantam jantung ilusi zaman modern tentang kebebasan yang diperoleh seolah hanya sebagai kebesaran. Kebebasan justru menguakkan ruang kosong yang menuntut pengisian dengan nilai, pengorbanan, dan keberanian untuk hidup demi sesuatu yang lebih tinggi dari diri sendiri. Dan ruang ini, Citadelle dituliskan — bukan sebagai manifesto politik atau risalah filsafat, melainkan refleksi manusia yang berusaha mendirikan makna.

Risalah ini ditulis dalam bentuk catatan-catatan pribadi yang berserak. Citadelle adalah teks yang belum selesai, namun justru karenanya ia menjadi refleksi yang hidup dan bergerak — belum dibekukan oleh kerangka dan metode. Setelah Saint-Exupéry gugur dalam misi pengintaian pada 31 Juli 1944, fragmen-fragmen ini disusun dan diterbitkan secara anumerta pada 1948. Dalam bahasa Inggris, buku ini diterjemahkan dengan judul The Wisdom of the Sands.

Buku ini disuarakan dari seorang pangeran tua yang merenungi tugas, iman, penderitaan, dan martabat manusia, berbicara kepada generasi yang haus arah tetapi kehilangan sandaran. Pangeran, memandang kepemimpinan bukan sebagai penatakelolaan masyarakat. Kepemimpinan adalah soal mendirikan peradaban. Peradaban dibentuk melalui penanaman makna dalam kehidupan bersama. Masyarakat dibentuk melalui keteladanan dan ruang narasi.

Mengapa ruang narasi? Tanpa makna kolektif, masyarakat hanyut dalam kehampaan. Narasi, simbol, artefaks, bukanlah sekedar lambang dan warisan, melainkan menjadi struktur spiritual yang menyatukan manusia, dan menjadi nilai bersama yang mengikat bahkan antar generasi.

Namun proses spiritual sebagai pewujudan nilai justru dilakukan dalam bentuk kerja keras, kerja yang berat, serta dan disiplin, karena dengan itu setiap manusia, setiap individu, dapat menemukan dirinya sendiri. Melalui rasa sakit yang bersifat personal, nilai dan martabat manusia dibentuk, ditegakkan, dan dinilai oleh dirinya sendiri.

Kebebasan, baik secara sistem, kolektif, maupun individual, adalah nilai yang sanagt berharga, sehingga tidak mungkin dihancurkan nilainya dengan kesiasiaan. Kebebasan adalah kemampuan untuk mewujudkan nilai yang lebih tinggi, dan terus menerus diwujudkan dalam bentuk nilai yang lebih tinggi lagi. Maka puncak dari semua ini adalah panggilan untuk mendirikan makna. Dunia tidak hadir begitu saja — ia dibentuk oleh tindakan yang penuh keyakinan dan pengorbanan.

Benteng sejati (citadelle) tidak dibentuk dari batu atau senjata, atau gedung megah dan struktur organisasi yang kuat, tetapi dunia makna yang diciptakan dan ditegakkan didirikan di tengah kekosongan dan keterbatasan.

Lalu, soalan gurun pasir ini mengingatkan kita pada karya lain Saint-Exupéry. Tentu saja Si Pangeran Kecil, yang di tengah gurun, tanpa berputus asa, mendadak berujar: «Ce qui embellit le désert, c’est qu’il cache un puits quelque part.» — Yang menarik dari gurun yang luas ini adalah karena ia menyembunyikan sumur di suatu tempat. Di dunia yang keras, gersang, tak berarah, selalu ada sumur makna yang tersembunyi, menanti digali dengan komitmen, kerja keras, pengorbanan, dan kepemimpinan yang sejati.

Paradigma Kompleksitas

Paradigma kompleksitas mengubah sudut pandang kita dari perspektif lama tentang dunia yang teratur, linier, dan dapat diprediksi, menuju perspektif akan dunia yang kompleks: terbuka, dinamis, dan penuh ketidakpastian. Paradigma kompleksitas lahir dari kegagalan cara berpikir reduksionis dalam memahami realitas yang penuh interaksi nonlinier dan spontan. Empat pilar utama paradigma ini: evolusi dan adaptasi, entropi dan termodinamika, dinamika sistem, serta komputasi dan logika; semua menjadi kerangka konseptual baru yang mampu menjelaskan kehidupan, pikiran, dan masyarakat modern secara lebih utuh. Walau belum banyak dipahami kalangan akademis, bisnis, dan pengambil keputusan publik, kompleksitas telah menjadi ilmu lintas bidang yang menginspirasi pendekatan baru terhadap masalah dunia nyata.

Sistem kompleks, inti dari paradigma ini, adalah jejaring interaksi yang membentuk keteraturan emergence, yaitu keteraturan yang tidak dirancang, tetapi terbentuk dari dinamika antar elemen. Emergence menjadi konsep sentral: dari neuron-neuron muncul kesadaran, dari interaksi manusia muncul budaya, dari hubungan antar spesies lahir ekosistem yang harmonis dan tangguh. Ekosistem sendiri menjadi contoh nyata sistem kompleks yang memiliki sifat resiliensi dan adaptasi luar biasa. Ekosistem bukan sekadar kumpulan organisme, melainkan jejaring hidup yang terus berkembang dalam dialog dinamis dengan lingkungannya, menciptakan stabilitas melalui keragaman dan keterhubungan.

Dalam paradigma kompleksitas, kita memandang informasi bukan sebagai pemaknaan data, melainkan sebagai inti strategis dari sistem. Informasi adalah perbedaan bermakna yang digunakan organisme untuk memahami, beradaptasi, dan berkembang dalam dunia yang berubah cepat. Perspektif kompleksitas menegaskan bahwa kehidupan adalah proses pengorganisasian informasi di tengah turbulensi entropi, di mana makhluk hidup dan sistem sosial secara konstan menegosiasikan masa depan melalui pilihan adaptif berbasis informasi yang tersedia. Visi ini memandang kehidupan sebagai realitas terbuka, yang terus menulis ulang aturan mainnya sendiri dan karenanya membentuk keberlangsungan.

Ketika diterapkan dalam ilmu strategi, paradigma kompleksitas memberikan cara pandang baru yang cerdas sekaligus realistis: strategi bukan lagi keputusan yang disusun melalui rapat panjang, melainkan proses yang adaptif dan (r)evolusioner. Dalam dunia yang berubah cepat, strategi adalah cara menciptakan pilihan, bereksperimen, belajar dari hasil nyata, dan berevolusi terus-menerus. Perspektif ini memandang organisasi bukan sebagai mesin yang dikontrol secara top-down, tetapi sebagai sistem adaptif kompleks yang mampu belajar, beradaptasi, dan menghasilkan inovasi secara mandiri melalui interaksi internal dan sekaligus eksternal.

Dalam strategi organisasi, bisnis, negara, maupun pendidikan, paradigma kompleksitas menuntut perubahan radikal, bukan sekadar adaptasi kosmetik atau revisi metode strategi lama. Organisasi harus meninggalkan obsesi kontrol dan struktur hierarkis, beralih kepada model jejaring otonom yang menggerakkan inovasi dari bawah, menghargai eksperimen, dan mampu bertahan dalam situasi krisis dengan lincah. Dunia bisnis yang masih terpaku pada rencana yang kaku akan tertinggal dalam dinamika baru yang menuntut ketangkasan, iterasi cepat, serta pengambilan keputusan yang didukung oleh aliran informasi real-time dan transparan. Negara tidak lagi bisa mengandalkan birokrasi yang lamban dan sentralistik. Pendekatan prototipe kebijakan berbasis eksperimen harus menggantikan paradigma regulasi kaku yang sudah ketinggalan zaman. Dunia pendidikan harus mengalami revolusi total, meninggalkan kurikulum berbasis standarisasi, menuju pendidikan yang menghargai keberagaman pola pikir, memupuk kemampuan berpikir sistemik, kreativitas, serta kolaborasi lintas disiplin yang menyiapkan manusia bukan sebagai penumpang pasif, melainkan penggerak aktif dalam dunia kompleks yang selalu berubah. Ini bukan saatnya bertahan dalam kenyamanan, melainkan era untuk berpikir ulang secara radikal, bergerak berani. Ketidakpastian bukan untuk dicegah atau diatasi, melainkan untuk dirangkul, dimanfaatkan, dan seringkali perlu diciptakan untuk menjadi sumber berbagai peluang, kreativitas, dan kebaruan.

Kelemahan Strategi Global

Abad lalu, AS adalah puncak kekuatan industri. Dengan kapasitas industri dan inovasi terdepan, AS berproduksi dalam skala besar sambil menciptakan kelas menengah yang luas. Namun, sejak akhir abad ke-20, dominasi ini terkikis. Perusahaan Amerika seperti Apple dan Microsoft sukses secara global, tapi industri AS mulai melamah. Ini sebuah paradoks menarik: strateginya menang, tetapi negara kalah.

AS memimpin liberalisasi dan globalisasi, dengan memaksakan perdagangan bebas, deregulasi, dan offshoring sebagai strategi pertumbuhan ekonomi dan keunggulan kompetitif. Hal ini diperkuat masa Reagan-Thatcher dan dilembagakan dalam bentuk NAFTA dan dukungan atas keanggotaan RRC di WTO. Manufaktur padat karya dialihkan ke negara berbiaya rendah, sementara AS berfokus ke layanan bernilai tinggi dan inovatif, sambil menikmati manfaat efisiensi global.

Di level perusahaan, cara kerja ini efektif. Apple membangun salah satu ekosistem paling bernilai di dunia, dengan integrasi erat antara desain, software, layanan, dan hardware. Hampir semua hardware diproduksi dan dirakit di luar negeri, terutama RRC. Microsoft mendominasi perangkat lunak dan layanan enterprise, tetapi ekosistem globalnya—cloud, pengembangan sistem, dan rantai pasok—makin bergantung pada infrastruktur dan stabilitas politik internasional.

Makin jelas bahwa strategi berbasis ekosistem ini—meskipun brilian dalam skalabilitas, penguasaan pasar, dan profitabilitas—pada dasarnya rapuh. Strategi ini dibangun atas asumsi lingkungan global yang stabil, arus tenaga kerja lintas batas, modal, dan data yang tak terganggu, serta konsensus geopolitik yang kini mulai runtuh. Pandemi COVID-19, perang teknologi AS–China, dan meningkatnya kebijakan proteksionis di seluruh dunia menunjukkan rapuhnya mata rantai pasok dan ketergantungan atas platform tersebut.

Model kapitalisme AS juga dangkal dan berorientasi jangka pendek. Perusahaan didorong memaksimalkan laba triwulanan dan nilai return, dan jarang berfokus pada berinvestasi pengembangan kapabilitas secara domestik. Serikat pekerja melemah, dan infrastruktur politik dan sosial yang didukung kelas pekerja ikut runtuh. Pergeseran budaya menuju “knowledge economy” diikuti gagasan bahwa produksi fisik kurang berharga daripada platform digital, kekayaan intelektual, dan rekayasa keuangan.

Inti kelemahan terletak pada optimisasi efisiensi secara berlebihan dengan mengorbankan resiliansi. Dengan mengalihkan manufaktur penting ke luar negeri, AS kehilangan pekerjaan, juga pengetahuan industri, infrastruktur logistik, dan kemampuan merekonfigurasi produksi domestik secara cepat saat krisis melanda. Hal ini tampak pada krisis semikonduktor, APD, dan kebutuhan pokok lainnya selama pandemi awal dekade ini.

Ideologi dangkal ini juga diperluas ke Inggris, yang setia mengikuti strategi liberalisasi ekonomi AS. Di bawah kepemimpinan buruk Thatcher tahun 1980-an, Inggris melakukan swastanisasi industri besar, deregulasi sektor keuangan, pelemahan serikat buruh, dan self-positioning sebagai pusat global untuk layanan—terutama layanan keuangan. Seperti AS, Inggris membiarkan basis manufakturnya menyusut demi layanan bernilai tinggi yang terkonsentrasi di Tenggara, terutama London.

Tidak seperti AS, Inggris masih kurang di sisi skalabilitas, keragaman sumber daya, dan dominasi teknologi global. Inggris jadi mudah runtuh akibat ketimpangan regional yang mencolok, produktivitas yang menurun, dan kekurangan investasi kronis dalam infrastruktur dan pendidikan. Brexit, dalam banyak hal, merupakan ekspresi politik dari keterasingan ekonomi ini—pemberontakan terhadap globalisasi, sentralisasi, dan persepsi bahwa rakyat telah ditinggalkan oleh pengambil keputusan.

Di kedua negara, kita melihat kontradiksi inti: perusahaan menang secara global, namun ekonomi nasional menderita karena kerapuhan, ketimpangan, dan hilangnya kedaulatan di sektor-sektor strategis utama. Strategi berbasis ekosistem dari perusahaan seperti Apple dan Microsoft terus menghasilkan nilai yang besar, tetapi dikembangkan di atas geopolitik yang rapuh, tenaga kerja berbiaya rendah di luar negeri, dan jaringan logistik kompleks yang semakin rentan terhadap gangguan.

Ekosistem bisnis konon merupakan metafora dari ekosistem alam, yang berkembang melalui keragaman, redundansi, dan dukungan timbal balik. Tapi ekosistem bisnis yang dibangun oleh raksasa teknologi kadang justru kehilangan aspek semacam ini. Mereka cenderung bergerak ke sentralisasi, dominasi, dan efisiensi, membuatnya lebih menyerupai monokultur industri daripada ekosistem sejati. Ketika tekanan datang—dalam bentuk sanksi, pandemi, atau perang dagang—sistem-sistem ini tidak bergerak adaptif dan elastis, tapi justru patah.

Bukan berarti model ekosistem ini cacat secara mendasar. Model ini tetap menjadi salah satu kerangka kerja paling kuat untuk penciptaan nilai dalam ekonomi jaringan. Namun perlu ada (r)evolusi. Perusahaan harus membangun ekosistem yang efisien, namun sekaligus tetapi juga tangguh dan adaptif di level ekosistem (bukan di level perusahaan). Perlu dilakukan diversifikasi rantai pasok, investasi dalam kapabilitas lokal, dukungan atas kesehatan ekosistem, serta mitigasi atas risiko politik dan lingkungan.

Negara juga harus meninjau ulang cara kerjanya. Kembali ke proteksionisme bukanlah jawabannya, tetapi kembali ke liberalisme pasar juga salah. Sektor-sektor strategis harus dibangun kembali atau didukung secara domestik tidak hanya demi daya saing ekonomi, tetapi juga untuk ketahanan nasional. Kebijakan harus mendorong investasi jangka panjang, regenerasi regional, dan kebijakan industri yang selaras dengan inovasi.

Penerapan strategi berbasis ekosistem tidak boleh terlalu sempit dan dangkal. Perlu pandangan jauh ke depan, dan perlu perhatian besar terhadap kesehatan ekosistem ini sendiri. AS dan Inggris memberikan pelajaran bagi negara mana pun, bahwa ketahanan, kedaulatan ekonomi, dan kemakmuran inklusif akan sama pentingnya dengan efisiensi dan inovasi.

« Older posts

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑