Di tengah jalan Supratman, musik imajiner dari Wagner kembali
terdengar. Siegfried. Bukan lambang dari kemenangan yang datang
disertai pengorbanan yang luar biasa dari tokoh Siegfried yang
tak putus dirundung malang (haha) itu. Tapi lebih jadi lambang
kekhusukan Wagner memulai karya yang luar biasa itu waktu di depannya
tidak tampak ada harapan sama sekali. Yang jadi pemicu kemanusiaan
sejati justru bukan sesuatu yang tampak, yang terproyeksikan,
tetapi sesuatu yang lebih ada dari itu.
Author: koen (Page 59 of 123)
Supratman 66 tampak kehilangan semangat kerja yang dinamik kayak
yang aku kenal sebelum Ariawest mengacaukan semuanya. Sekarang
yang tertinggal cuma koleksi cubicle mimpi buruk Dilbert. Konon
aku harus menampakkan diri di sini, di calon kantor baruku. Tapi
nyaris nggak ada mata yang bisa dijadikan sasaran menampakkan diri.
Konfigurasi-konfigurasi network mengikuti kerutinan. Plus sisa-
sisa logo Ariawest yang kayak salah tempat, sekedar tampil
menyisakan rasa tidak enak.
Nggak beda jauh dengan bulan kemaren waktu aku ke lantai yang lebih
atas, mencoba ke sarang Catbert, dengan keramahan yang tidak
memberikan harapan.
Aku rasa aku memang perlu belajar lagi, bagaimana berubah jadi
orang yang namanya nyaris selalu diingat orang, jadi orang yang
bukan apa-apa, selain cuma bisikan yang mengganggu tidur-tidur
lelap di kursi-kursi malas.
Dan di ujung cerita, si tokoh badung memutuskan bahwa di dunia ini
tidak ada penghalang apa pun. Semuanya adalah peluang, kesempatan,
dan terutama tantangan, untuk dihadapi, dipecahkan, dan diarifi
satu demi satu demi satu demi satu demi satu.
(Bisa nggak sih?)
Ada beberapa alternatif untuk mencoba menggunakan C#. Cara yang diharapkan Micro$oft tentulah dengan membuang setidaknya US$ 700 untuk membeli CD yang direkami dengan M$ Visual Studio .Net; tapi tentu sebelumnya Window$ juga harus diupgrade setidaknya jadi 2000 atau sekalian XP.
Buat yang tidak mau membuang $700 sia-sia, Micro$oft “berbaik hati” menyilakan untuk download M$ .Net Framework SDK sebesar 131 MB (only) di site MSDN. Jadi cukup buang uang untuk upgrade Window$ saja.
Alternatif lain lagi, adalah berharap pada prakarsa-prakarsa pesaing .Net yang juga menyediakan lingkungan pengembangan buat C#. Dua diantaranya adalah Mono dari Ximian; dan Portable.NET dari DotGNU. May the source be with you.
Satu lagi, dari sumber yang sama.
Waktu Sussman masih jadi programmer pemula, Minsku menemuinya sedang memprogram di PDP-6. “Sedang apa?” tanya Minsky.
“Melatih neural net yang tersambung acak untuk bermain Tic-Tac-Toe,” jawab Sussman.
“Kenapa acak?” tanya Minsky.
“Agar program itu tidak menyimpan konsep dasar cara bermain,” kata Sussman yakin.
Minsky memejamkan mata.
“Kenapa menutup mata?” tanya Sussman pada gurunya itu.
Minsky menjawab, “Agar ruangan ini menjadi kosong.”
Maka Sussman mendapatkan “pencerahan”.
Cerita klise para hacker dari http://tuxedo.org/jargon/
Seorang mahasiswa mencoba mengatasi komputer yang crash dengan mematikan dan menghidupkan komputer dengan tombol power terus menerus. Tom Knight, melihat yang dilakukan pemuda itu, menghentikannya.
“Kamu tidak bisa membetulkan komputer hanya dengan mematikan dan menghidupkannya, tanpa mengerti mengapa komputer itu crash.”
Kemudian Knight mematikan komputer itu, dan menghidupkannya lagi.
Komputer bekerja dengan normal.
Kali ini, aku mau melantur soal satpam. Dan bukan satpam di Lembong atau di Westwood.
Aku pertama kali kerja (kerja bergaji) jadi instruktur komputer di LPK
Kopma Unibraw, waktu masih kuliah di semester 4 atau 5. Yang dicari
bukan sekedar gaji (iya juga sih, buat beli buku komputer #@*!#*!@^), tapi
kesempatan pakai komputer (harga komputer mahal euy, sampai sekarang), dan kesempatan berkomunikasi lisan (yang kayaknya bisa agak mengubah personality-ku — tapi ini soal lain).
Jadi disanalah komputer-komputerku. Dan aku nyaris siang malam ada
di sana. Jadi mulai akrab sama satpam-satpam. Ada yang sok suka traktir
(tapi doyan pinjam motor). Ada yang suka tanya-tanya soal komputer.
Si satpam yang suka tanya soal komputer itu belajarnya serius bener.
Dia nggak terlalu sering di depan komputer. Tapi di gardunya pun dia
bawa buku dBase dan baca dengan serius. Beberapa tahun kemudian aku
lihat dia kerja jadi tutor komputer di tempat lain. Kagum juga aku.
Satpam lainnya ada yang selalu bawa buku pelajaran Bahasa Inggris
dan suka tanya-tanya juga. Kali-kali udah jadi guru Bahasa Inggris
dia sekarang.
Selasa minggu depan hari libur bukan? Kalender dari Citibank mewarnai merah hari itu.
Aku mau deh bilang Gong Xi Fat Chai ke semua orang asal tanggal
12 jadi hari libur :).
Terakhir kali aku mengucapkan kalimat itu ke Fan Yandong. Dia ngeliat aku
lama sekali, trus bilang you speak Chinese very fluently. Eh yah,
kali dia lupa di negara aku juga banyak warga berbudaya Cina. Jadi sebenernya
nggak aneh kalau kita nggak salah melafalkan nama-nama Anda, sohibku
Fan Yang Tung.
Sebelum ke Fan, aku ngasih ucapan yang sama ke Liu Feng. Dan dia dengan heran
cuman nanya How can you speak Chinese? Dan aku jawab dengan jujur,
aku cuman bisa bilang itu aja. Sama Xie-xie. Dia senyum aja.
Masih rada kesal kali dia. Soalnya Mao Shong Lin (yang ini dari
ROC bukan PRC), pernah bilang bahwa aku nulis kanjinya lebih bagus daripada
Liu Feng.
Di mana nulisnya? Di antara jam-jam kuliah yang membosankan. Lengkap
sama pertengkaran Mao Shong dan Liu Feng tentang cara terbaik menulis
nama Kuncoro in huruf kanji. Balik ke negara masing-masing, mereka masih
bersahabat apa jadi berseteru ya.
Di bulan Mei 2000, Irwan Hadi memberikan tebakan ini di milis pau-mikro@:
Begini.
Ada 12 coin, terus di antara 12 coin itu ada 1 coin palsu. Nah koin palsu itu pas banget bentuknya dengan 11 coin lainnya, dan dilihat dengan mata telanjang tidak ketahuan deh. Tapi … berat koin palsu itu beda dengan 11 coin lainnya, bisa lebih berat ATAU lebih ringan. Nah gimana caranya nemukan coin palsu itu, dengan menggunakan neraca 2 lengan (seperti neracanya tukang emas gitu lho) dengan HANYA 3 kali menimbang. Nah lho ;)
Trus waktu itu aku coba jawab kayak gini:
Saya membuat simulasi dengan bilangan triner (yakni 0, 1, 2). Dengan demikian nomor coin adalah sebagai berikut:
000 002 010 022
110 121 122 111
202 201 210 221
Perhatikan bahwa tidak ada koin dengan nomor kembar. Juga tidak ada koin dengan nomor 1 berkomplemen dengan nomor 2. Jadi, kalau ada 022 tidak akan ada 011. Kalau ada 121, tidak boleh ada 212.
Penimbangan dilakukan tiga kali :
Penimbangan I :
xx1 melawan xx2 (4 vs 4)
Kalau sama, koin palsu pada xx0
Kalau tidak sama, catat yang lebih berat pada 1 atau 2
dalam kasus ini beri nilai p jika 1 lebih berat, q jika 2 lebih berat
Penimbangan II :
x1x melawan x2x (4 vs 4)
Kalau sama, koin palsu pada x0x
Kalau tidak sama, catat yang lebih berat pada 1 atau 2 —> angka q
dalam kasus ini beri nilai p jika 1 lebih berat, q jika 2 lebih berat
Penimbangan III :
1xx melawan 2xx (4 vs 4)
Kalau sama, koin palsu pada 0xx
Kalau tidak sama, catat yang lebih berat pada 1 atau 2 —> angka r
dalam kasus ini beri nilai p jika 1 lebih berat, q jika 2 lebih berat
Penimbangan selesai. Sekarang kalkulasi. Dasarnya, koin palsu selalu lebih berat atau selalu lebih ringan dari koin lain. Tidak mungkin koin palsu sekarang lebih berat dan nanti lebih ringan. Itu gunanya angka p dan q.
Seluruh angka dijumlahkan dengan OR. Bilangan x OR bilangan apa pun menghasilkan bilangan itu. Hasilnya barangkali 000. Inilah yang palsu.
Enak kalau memang dapat koin nomor 000. Probabilitasnya 1/12. Kemungkinan besar sih sih kita dapat koin dengan nomor p dan q.
Kita ingat, koin palsu akan selalu lebih berat atau lebih ringan. Jadi jika nilai p=1, p akan selalu 1 dan q akan selalu 2. Sebaliknya jika nilai p=2, p akan selalu 2 dan q akan selalu 1. Kalau yang palsu koin nomor ppp atau qqq, berarti yang palsu nomor 111 atau 222. Tapi koin nomor 222 nggak ada. Jadi pasti koin nomor 111. Kalau yang palsu koin nomor pq0 atau qp0, berarti yang palsu nomor 120 atau 210. Tapi koin nomor 120 nggak ada. Jadi pasti koin nomor 210.
Dengan demikian, penimbangan 3 kali cukup untuk menentukan manakah koin yang palsu dari 12 koin. Juga, dengan probabilitas 11/12 kita bisa menentukan apakah koin palsu ini lebih berat atau lebih ringan.
Tolong diperiksakan yah.
Beres-beres majalah-majalah dan jurnal-jurnal. Rumah aku nggak terlalu besar,
dan penyimpanan jurnal-jurnal itu mulai jadi masalah. Waktu juga sudah menggeser
hal-hal yang dulunya sangat menarik jadi bukan prioritas lagi.
Yang rada banyak, tentu, jurnal dari IEEE. Tujuh tahun jadi member cukup bikin
sesak rak tempat majalah dan jurnal. Asterix dan Tintin jadi harus digeser. Hmmmh.
Ada nggak ya, yang mau menampung sumbangan majalah
IEEE Spectrum dan IEEE Computer
dari tahun 1996 ?
Air menggenangi Jakarta. Kota yang perkasa, yang terlalu sibuk dan selalu acuh,
kini jadi kota yang rapuh. Setiap titiknya terancam oleh benda yang sederhana:
air.
Peringatan pertama datang hari Senin beberapa minggu lalu, waktu aku di Jakarta.
Derasnya hujan pagi itu terdengar mengancam. Dan perjalanan ke Jatinegara
dihiasi genangan kecil. Site-site berita mulai menceritakan banjir-banjir di
sekitar Jakarta. Tapi semuanya berpikir bahwa itu sudah biasa, orang kecil harus
kebanjiran lagi, dan lainnya harus merasakan macet kecil-kecilan. Jadi tidak
ada yang siap menghadapi banjir yang tingginya tidak masuk akal
beberapa minggu kemudian.
Dan Jakarta berubah wajah. Tapi sampai kapan ? Begitu banjir reda, semuanya
akan kembali seperti biasanya. Terlalu sibuk, dan saling acuh.
