All truths that are kept silent become poisonous. –F W Nietzsche
Author: koen (Page 55 of 123)
Weekend ini IEEE Indonesia Section menampilkan Ezio Biglieri di Bandung, untuk short course bertema Coding and Modulation for Wireless Channels. Pas bener sama hobby baru aku ;). Lokasi di Bandung pula.
Tapi mahal :) :) :) :) :).
Decision … decision … decision.
Mehra bercerita tentang Paul Dirac:
Tahun 1955, Mehra pindah ke Cambridge dari Göttingen. Seorang sahabat yang tahu bahwa Mehra mengagumi Dirac mengajak datang ke St John’s College, untuk makan di High Table, karena biasanya Dirac hadir di sana. Cuaca sangat buruk, tapi mereka memang berjumpa di sana. Mereka duduk. Mehra merasa bahwa umumnya orang Inggris memulai percakapan dengan cuaca. Jadi ia memulai: “It’s very windy, Professor.”
Mereka diam lagi. Tak lama Dirac berdiri meninggalkan mereka. Ia pergi ke arah pintu. Membukanya. Melihat ke luar. Menutup lagi. Lalu ia kembali. Duduk lagi. Lalu ia berkata, “Yes.”
Dirac bercerita tentang Hilbert:
Hilbert bertemu rekannya sesama fisikawan, Franck. Dengan tak sabar, ia menceritakan kekesalannya tentang istrinya. Franck heran, ada apa sih?
Lalu Hilbert cerita. “Pagi ini tanpa sengaja saya sadar bahwa istri saya tidak memberi telur untuk sarapan. Hanya Tuhan yang tahu sudah berapa lama hal itu terjadi.”
Hilbert berkomentar tentang Einstein:
Setiap anak muda di jalanan departemen matematika Göttingen
mengerti geometri empat dimensi lebih dari Einstein. Namun demikian
Einstein lah yang menyusun solusi-solusi, bukan para matematikawan
itu. Efek fotoelektrik. Relativitas. Gravitasi. Si amatir itu
merumuskan titik kunci yang tak dikenali para pakar. Dari mana Einstein
memperoleh kemampuan memisahkan yang esensial dan yang tidak?
Scott Adams, waktu menceritakan kelebihan para engineer
di banding varietas ;) manusia lainnya, menyebutkan bahwa
engineer hanya punya stok cerita untuk 6 bulan. Selama
6 bulan dia akan cerewet cerita segala macam, lalu sisa
hidupnya dihabiskan untuk jadi pendengar yang baik.
Jadi kalau Catatan Lepas ini temanya udah makin
nggak jelas ujung pangkalnya, hmmm, mau diapain lagi yah.
Udah lewat 6 bulan sih.
OTOH, emang dulunya pernah berujung pangkal yah?
Baca-baca tesis Harry Sufehmi. Banyak yang bisa aku pelajari di sana. Technically, gimana merencanakan beban software pada agar tidak menjatuhkan performansi network. Non-technically, dan ini yang jarang, adalah bagaimana menyusun proyek yang rapi di bidang software design.
:), mentang-mentang baru alih profesi nih.
Di atas: “Iya deh, kita ganti saja semua Windows kita dengan Linux. Mudah-mudahan
perang OS bisa berakhir, dan para teknisi itu bekerja dengan senang.”
Di bawah: “Kalau nggak Redhat, mendingan nggak pakai Linux sekalian.” “Nggak bisa,
hanya SuSE yang bakal jadi sistem yang lengkap buat menyaingi Windows.” “Yang punya
semangat GNU itu cuman Debian, tolol.” “Banci semua. Slackware doonk!”
Dasar Iliad.
Ntar ada terusannya waktu FreeBSD dibawa ke kantor itu.
Viktor Frankl sering aku jadikan senjata zaman latihan militer. Mulai hari pertama,
waktu semua rambut harus dipotong, baju dilepas, badan digulingkan di lapangan
di terik matahari, aku hanya mau memikirkan bahwa semua itu nggak akan menghancurkan
apa pun. Semesta boleh jadi saksi bahwa nilai kemanusiaan justru bisa tumbuh dan
berkembang pesat di tempat yang paling absurd sekalipun.
Di tengah kekeringan dan kelelahan, dan badan penuh rumput kering dan kerikil yang
menempel pada keringat lengket, kita dipaksa mulai lari. Lari. Tapi bukan lari
meninggalkan realita. Justru lari menceburkan diri ke absurditas hidup. Sungai
tampak hitam, penuh sampah. Semua harus masuk dan menggulingkan diri. Aku paksa
melawan kejijikan pada hidup, dan masuk menggulingkan diri. Air sampah hitam tertelan.
Tapi aku cuman berpikir, “Ini permulaan. Aku nggak peduli.” Nggak peduli lagi dengan
dingin malam yang menggigit di Cikole, dan kaki yang mulai kesakitan. Aku terus lari.
Dan hidup tidak pernah membuatku jijik lagi. Aku nggak peduli. Aku di sini
untuk hidup, untuk jadi aku. Dan aku jadi aku.
“Tapi,” gitu kata teman yang menyangkal, “Semuanya sudah hancur. Gerakan-gerakan
personal tidak akan cukup untuk memperbaiki sistem.”
Well, friend, orang lemah selalu punya alasan. Aku geli juga dengar kata sistem
dibawa seolah-olah itu sesuatu yang rumit dan mendebarkan. Justru sistem adalah
hasil transaksi yang paling mudah diurai :). Dan kalau bicara soal absurditas,
tidakkah hidup sendiri diciptakan seolah-olah absurd? Negara selalu dipegang orang
gila dan serakah. Orang-orang bisa saling tuli dan saling membunuh karena saling
takut.
Kita memang tidak diturunkan ke dunia yang teratur. Dan seandainya kita diturunkan
di dunia yang teratur, atau setidaknya memiliki harapan akan adanya keteraturan
sedikit pun, tidakkah justru hidup kita tidak bernilai? Apa bedanya dengan terus
hidup tenang di alam asali kita tanpa diturunkan ke dunia ini?
Orang yang menyerah selalu menemukan alasan yang baik untuk menyerah. Tapi mereka
hanya membuka topeng ketakutan mereka sendiri. Ketakutan untuk hidup. Dan itu yang
justru absurd.
