BBC mempertontonkan wajah Indonesia: badan-badan tanpa kepala, dan di belakangnya orang-orang lagi ketawa riang sambil angkat pedang. Itu hal biasa di Indonesia. Aparat pun nggak ada yang bergerak. Jelas bukan kendala lapangan, soalnya BBC aja bisa masuk kok. Pembunukan macam gitu memang hal lumrah di Indonesia dan direstui oleh siapa pun termasuk oleh presiden Wahid, wapres Mega, dan ketua MPR Amien Rais.
Manusia Indonesia betul-betul lagi kehilangan harga. Setiap saat boleh dibunuh, dipotong-potong, dicincang dengan sia-sia. Kalaupun hidup juga sia-sia, paling cuma bisa ketawa asik di depan mayat saudaranya, sambil angkat-angkat pedang.
Temen-temen pada menggugat kemanusiaan orang Indonesia. Aku harus jawab apa? Aku bukan tukang bual. Mereka udah lihat bukti-bukti tentang kemanusiaan ala Indonesia.
Author: koen (Page 102 of 123)
Dapet pesan dari Zam, katanya site Rokok Itu Konyol masuk majalah Internet. Lucu juga kali ya. Jadi pingin liat, tapi kayaknya di Coventry nggak ada yang jual majalah itu. Waktu di Bandung sih, sempat langganan majalah itu. Pertama, iseng cari CD-nya. Majalahnya nggak kebaca (kebanjiran majalah dan jurnal-jurnal soalnya). Tapi abis itu si Makhluk Manis suka bener baca majalah itu. Jadi keterusan langganan deh.
Napa ya, yang dimasukin majalah bukan site Komunikasi aja?
Konon, para engineer di 3M (yang produk pitanya paling cepat degraded itu) pernah mencoba membuat formula lem super kuat. Tapi entah kenapa, adonan hasil formulanya malah amburadul. Jadi ramuan yang … ya rada lengket dikit lah. Tapi nggak pernah bener-bener kering dan rekat.
Lem itu akhirnya bener-bener jadi produk komersial. Ditempel di ujung kertas, dan jadilah Post It yang laku keras. Namanya juga usaha.
Feynman mencuri pintu. Paginya orang-orang sibuk mencari pintu.
Ketua himpunan pun bertanya: “Siapa yang mengambil pintu?”
Feynman menjawab: “Saya, tadi pagi.”
Ketua marah: “Jangan becanda. Ini serius.”
Pintu itu tak ditemukan hingga beberapa minggu, dan ruang belajar jadi berisik gara-gara tak ada pintunya. Akhirnya diadakan rapat khusus. Feynman usul agar pencuri pintu diminta menulis pesan anonim untuk menyebutkan di mana pintu itu disembunyikan, dan semua orang akan mengakuinya sebagai jenius yang bisa menyembunyikan pintu tanpa ketahuan.
Si ketua memilih cara lain. Atas nama kehormatan persaudaraan, satu per satu ditanya dan harus menjawab jujur.
Ketua: “Maurice, apa kamu mencuri pintu?”
Maurice: “Tidak, saya tidak mencuri pintu.”
Ketua: “Feynman, apa kamu mencuri pintu?”
Feynman: “Ya, saya yang mencuri pintu.”
Ketua: “Jangan becanda. Ini serius.”
Satu per satu ditanya, namun tidak ada lagi yang mengaku mencuri pintu. Semua kaget, merasa ada pembohong di persaudaraan mereka.
Malam itu Feynman menulis surat anonim, menyebutkan di mana pintu itu disembunyikan. Besoknya semua menemukan surat itu, menemukan pintunya, dan memasangnya kembali.
Kasus ditutup.
Mbak Ida cerita-cerita tentang Feynman di milis mus-lim@. Memang fisikawan yang ini, selain minatnya sangat luas, dan kecakapannya tinggi, juga pintar berkomunikasi. Selalu banyak hal yang menarik di buku-buku Feynman. Nah, aku sekarang mau bercerita tentang Feynman dan Faust. Kebetulan, dua-duanya pernah dibahas di site ini secara terpisah.
Sebagai mahasiswa fisika, Feynman juga disuruh ikut kuliah di bidang yang non sains, biar agak berbudaya. Salah satunya, sastra. Di kuliah ini, dia diminta bikin essay tentang Faust, tulisan Goethe. Usai baca Faust sekilas, Feynman merasa kurang tersambung, jadi dia tidak mau menulis. Salah satu temannya bilang: daripada tidak menulis apa-apa, lalu dibilang malas, lebih baik menulis essay tentang hal lain. Jadi Feynman menulis essay tentang keterbatasan akal, dikaitkan dengan pengetahuan dan budaya. Tapi begitu essay selesai, teman yang lain bilang: essay itu bakal ditolak, kecuali kalau dia bisa mengait-ngaitkan dengan Faust. Feynman menurut lagi. Jadi dia tambahkan di bagian awal, bahwa menurut interpretasinya, Faust melambangkan jiwa, dan Mephistopeles melambangkan akal (reasoning). Dan interaksi keduanya .. dst … dst … masuk ke essay aslinya dia.
Essay itu diterima si dosen dengan nilai cukup bagus. Namun ada catatan kecil bahwa referensi langsung ke naskah asli tidak terlalu banyak.
Adnan bilang bahwa dia pingin bunuh aku. Konon sih biar aku bebas dari assignment. Ah, konyol. Nggak ada satu pun masalah yang boleh dipecahkan secara instant, soalnya setiap masalah memang diberikan buat kita untuk membuat kita berkembang memenuhi potensi kita. Eliminasi masalah hanya akan menimbulkan masalah baru yang akan segera datang.
Jadi aku akhirnya cuman bilang ke Adnan, jangan coba memecahkan masalah orang lain, soalnya masalah itu diciptakan untuk orang itu, biar dia semakin kuat menghadapi hidup. Kalu mau bantu, coba bantu orang lain biar bisa memecahkan masalahnya sendiri. Kalau kita memecahkan masalah orang lain, dalam waktu singkat orang itu bakal punya masalah baru juga.
Coventry tak lagi hanya kelabu. Kembang-kembang kecil putih kuning ungu mulai tumbuh. Agak kontras dengan kemarin, saat kabut enggan menipis, dan seekor rubah mati di pinggir jalan.
Maunya aku sih, hari ini mood juga jadi berwarna-warni, tapi agak sulit. Dikejar deadline sih.
Dan aku hampir tak punya waktu buat kerja. Teman-teman terus dan terus panik dan tanya ini itu, dengan style menuntut amat. Sampai di rumah telefon berdering tanpa ampun, dan pintu diketuk sampai tengah malam.
Satu teman datang dari kota gara-gara clueless soal teletraffic. Dan malamnya aku harus antar pula dia ke Warwick (on foot) untuk cari bus stop. Pulangnya: dingin, lelah, kecewa kecewa gara-gara aku belum tulis assignment aku sendiri. Mau mengeluh, tapi nggak tau untuk apa. Allah juga nggak akan memberikan keajaiban mendadak, soalnya Allah pingin makhluk kesayangannya ini kuat berjuang, dan nggak gampang mengeluh.
Di tengah dingin, frame aku bergeser. Aku coba bayangkan, andai peran diubah, dan aku jadi teman-teman aku yang clueless menatap berseliwernya dunia telekomunikasi dan digital, trus harus panik ketuk sana ketuk sini telefon sana telefon sini dan kebingungan sepanjang hari sepanjang malam.
Yeah, all praise for you ya Allah. Aku tak akan pernah mengeluh ….
Warna abu-abu di mana-mana, dan makanan Inggris di mana-mana. Kita bakal terus dipaksa belajar bahwa keindahan itu bukan sesuatu yang diberikan kepada kita, tapi merupakan gabungan dari kerja keras untuk mengubah perspektif dan kemampuan untuk tidak mendiskriminasikan hal-hal (yang seolah-olah) besar dan hal-hal (yang seolah-olah) kecil.
Itu dari sisi receiver. Dari sisi transmitter, keindahan bukan sesuatu yang bisa diamati dan dirasakan dalam sekejab, tetapi sesuatu yang ditumbuhkan dan dikembangkan oleh setiap individu, untuk menyumbangkan sesuatu buat yang lainnya.
Gitu deh, sakit kepala kok maksa nulis.
Nggak banyak orang yang suka warna abu-abu. Aku juga nggak, kalau overdosis. Tapi minggu ini kabut nggak pernah menipis, dan di mana-mana semuanya jadi abu-abu. Yang menarik, sebetulnya kita justru jadi bisa menikmati keindahan beberapa obyek yang sebelumnya tak teramati. Celah-celah antara pohon gundul itu ternyata punya warna yang menarik, juga lapis-lapis rumput basah di padang rumput yang luas. Susah ngedefinisiinnya, tapi keindahan warna itu baru teramati kalau udara berwarna abu-abu.
Buat sedikit mengubah warna, aku pasang Karimata Biting. Riang, hrrr. Tapi mood abu-abu malah rusak. Aku malah jadi sakit kepala, dan sampai sekarang nggak ilang-ilang.
Terrific headache …
Yang namanya MDAMT memang mooie …..
