Hari pertama tahun 2026 ini aku buka di Beograd.

Di bandara Nikola Tesla, baru berapa puluh langkah keluar dari Air Serbia, tiga orang berseragam gelap dengan identitas kepolisian sangat tegap menghalangi jalan. Petugas di tengah meminta passport, lalu bertanya «Why coming to Serbia?» sambil membalik setiap halaman di password dan memeriksanya menerawang cahaya untuk memastikan keaslian setiap halaman. Ini sebelum masuk ke antrian imigrasi. Di loket imigrasi, petugas dengan seragam biru muda dengan identitas kepolisian dan muka kaku yang sama menanyakan hal yang sama «Why visiting Serbia?» sambil menatap tajam. Kutatap tajam balik seperti warga dari dua negara bersahabat yang saling teliti. Setelah membolak balik setiap halaman passport (tanpa diterawang ke cahaya), petugas ini menanyakan satu hal lagi, «Visa?» dan aku jawab tegas «No visa.» Ia mengangguk dan memberi cap «Српски Београд» dan mempersilakan keluar.

Di luar bandara, suhu serendah -1ºC. Bis merah A1 sudah menunggu. Driver berteriak menyuruh penumpang menaruh sendiri koper di bagasi belakang, baru membayar cash 400 dinar per penumpang. Pintu dibanting, dan minibus yang padat sesak mengantar ke pusat kota Beograd. Aku turun di Stasiun Novi Beograd, dan melanjutkan ke hotelku di kawasan pedestrian Knez Mihailova. Di hotel ini, resepsionis bernama Marija menyambut sangat ramah, hangat, dan memberikan tips bagaimana bertransportasi di Beograd dan Serbia pada umumnya. Ruangannya juga hangat nyaman (tidak panas). Perfect. Kontras sekali keramahan di tengah kota Beograd ini dengan imigrasi dan transportasinya.

Serbia lahir dari sejarah yang tidak pernah linear. Bukan bangsa yang tumbuh dalam satu arah peradaban, melainkan dibentuk di persimpangan Bizantium, Utsmani, dan Eropa Tengah. Prakarsanya dalam membentuk Yugoslavia sebagai upaya penyatuan bangsa-bangsa Slav selatan di abad lalu telah memperbesar paradoks itu. Penyatuan bangsa serumpun yang berbeda agama (di Eropa masa lalu, agama adalah identitas politik), aksara (=komunikasi dan budaya), dan sejarah (=budaya) itu terbukti gagal, memecah Yugoslavia, namun tidak meruntuhkan Serbia. Serbia kembali pada komitmennya menjadi pusat budaya yang mandiri di Eropa Tenggara, tanpa terobsesi menjadi bagian dari Eropa yang sangat berorientasi Barat. Integrasi Eropa diupayakan, namun bersifat pragmatis, tanpa menggantungkan harga diri pada validasi Eropa. Sikap ini lahir dari panjangnya pengalaman hidup di bawah pendudukan Utsmany, pendudukan Axis pada PD I & II, komunisme nasional dan penyatuan Yugoslavia, sanksi internasional akibat kekejaman di Bosnia, dan keterasingan ekonomi.

Kepribadian itu jelas terbaca di Beograd. Kota ini mungkin tidak secantik Praha, Bratislava, Budapest, atau berbagai kota di Eropa Tengah. Kota ini brutal dan kontras. Benteng Romawi berdampingan dengan jejak Utsmany, bangunan Habsburg, blok-blok sosialis beton, dan improvisasi urban pasca-Yugoslavia yang semuanya disusun bertumpuk tanpa disembunyikan. Huruf-huruf sirilik berdampingan dengan huruf-huruf latin dalam bahasa Slav selatan, dan keduanya memiliki keunikan: huruf sirilik yang berbeda dengan Russia, dan huruf latin dengan tambahan diakritik yang unik. Luka sejarah tidak dihapus di sini. Brutalisme bukan menjadi kegagalan estetika, tapi justru menunjukkan kejujuran fungsi dan kekuasaan, dilengkapi dengan vitalitas sosial yang tidak pretensius.

Baik di Beograd dan Novi Sad (kota budaya yang aku kunjungi berikutnya), kita menemui paduan manusia yang sangat ramah dan sangat kaku. Brutal membanting pintu mobil, tapi ramah memberikan informasi apa pun. Sopir taxi di Petrovaradin tanpa ditanya memberi tahu alur kembali dari Novi Sad ke Petrovaradin dengan bis agar lebih murah. Toko buku sangat banyak di pusat kota Beograd dan Novi Sad. Ciri-ciri negeri dengan banyak orang cerdas. Tentu sebagian besar buku dalam bahasa Serbia, bagian Shtokavia dari bahasa Slav Selatan, dan banyak dijual dalam edisi sirilik maupun latin. Uniknya, toko buku pertama yang aku masuki memiliki kasir yang berasal dari Banjaluka, Bosnia.

Selain museum, perpustakaan, taman, dan benteng, pusat-pusat kota juga merupakan pusat kunjungan yang menunjukkan budaya unik Serbia. Negeri ini tetap penting di Eropa Tenggara. Ia memilih menjadi simpul, dan bukan panggung. Keunikan Serbia terletak pada kemampuan hidup dengan kontradiksi: ortodoks tetapi sosial, nasional tetapi tidak romantik, persimpangan timur dan barat tanpa inferioritas, serta dua aksara yang hadir setara tanpa krisis identitas. Warisan Utsmany membentuk ritme sosial dan kecerdikan bertahan, warisan Eropa memberi nilai rasionalitas, dan pengalaman Yugoslavia mengajarkan skeptisisme terhadap proyek besar. Hasilnya adalah negara dan kota yang mungkin tidak akan masuk rank dalam keindahan, tetapi tetap menunjukkan energi yang nyata, kekuatan inspirasi, dan kepribadiannya utuh. Serbia hanya mencoba berpoles sendikit, sambil memilih hadir apa adanya.

Hari terakhir di Beograd, aku kembali ke bandara Nikola Tesla. Tanda penunjuk membawaku langsung ke gerbang imigrasi (sebelum sempat checkin dan baggage drop-in). Kali ini petugasnya seorang perempuan muda dengan wajah agak melankolis. Ia menyambut dengan senyum lucu dan sangat bersahabat. «I am tired,» katanya. «Because of the New Year’s party?» «No, I was working during New Year’s eve,» katanya sambil melihat isi passportku, lalu memberikan cap. «Well, happy New Year and more success for you!» kataku. Ia membalas, «You too.» Bahkan imigrasipun kontras antara pintu masuk dan pintu keluar. Sukses selalu untuk negeri Serbia yang selalu kontroversial.