Pemerintahan gagal bukan karena deretan angka yang tidak mencapai target atau tidak menunjukkan pertumbuhan; tetapi saat penderitaan ekonomi terus meningkat, walaupun terus ditutupi. Legitimasi hancur saat mereka yang melabeli diri sebagai pemimpin lebih memanfaatkan diri sebagai pemangsa. Kekuasaan bukan dipakai untuk menata kepentingan bersama, melainkan merampas untuk kepentingan kelompok. Alam informasi diriuhi hanya dengan propaganda dan pembungkaman suara yang berbeda. Akal sehat telah lama pergi.
Negara gagal bukan karena tanahnya miskin harta, melainkan karena negeri kehilangan keadilan. Rasa aman ditukar dengan tekanan dan ketakutan. Peluang tumbuh yang meraksasa ditebas dengan keberpihakan dan persekongkolan. Lembaga-lembaga runtuh dan membusuk. Korupsi menjadi sistem operasi, dan konstitusi dipermainkan dengan perlindungan bagi para pemain-pemain bodoh.

Garuda menghitam, kehilangan sinar emasnya. Banteng yang dahulu simbol demokrasi, kini menatap kosong, menyaksikan kehendak rakyat diperjualbelikan dengan harga murah. Pohon beringin, lambang persatuan, kini lebih mirip baobab yang meretakkan bumi dan memecah rakyatnya. Padi dan kapas, lambang kemakmuran, kini meranggas dalam cengkeraman monopoli dan kerakusan sistemik. Rantai yang dulu melambangkan solidaritas, kini berkarat menjadi belenggu penindasan. Dan bintang, cahaya penuntun masa lalu, kini meredup dalam kehampaan kemunafikan.
Negara hanya sistem. Pemerintah hanya entitas. Keduanya bisa gagal.
Namun bangsa hanya akan mati jika rakyatnya menyerah.
Garuda dalam gelap bukanlah pertanda akhir: ia adalah pertanda pilihan, antara menerima kehancuran, atau menyalakan pembaruan.
Dan dalam pilihan itulah, nasib republik kita tentukan.
Leave a Reply