G-Maps Penjelajah Jakarta
Tahun 2010 sudah hampir berakhir. Artinya sudah 2 tahun aku menghuni Jakarta :). Dulu, dari luar Jakarta, kota ini tampak tak menyenangkan: terlalu rapuh oleh gangguan cuaca, lalu lintasnya selalu kacau. Tapi aku masuk Jakarta dengan optimis, tanpa beban, dan ternyata cukup menikmati kota ini. Macet pagi diatasi dengan bekerja di jalan. Macet malam diatasi dengan pulang lebih malam, dan menikmati musik di perjalanan panjang :). Perusahaan keren tempatku bekerja memang memberikan mobil dinas. Tapi itu buat tugas operasional kantor saja lah. Untuk berangkat dan pulang, aku harus lebih produktif atau rekreatif ;).
Dibandingkan kota2 lain, banyak hal2 menarik di Jakarta. Ada pusat2 kebudayaan asing yang kegiatannya cukup banyak. Ada komunitas2 kreatif yang jumlah dan aktivitasnya juga lebih banyak. Ada konser2 musik yang sayangnya masih jarang ditemui di kota2 lain. Mengasyiki Jakarta membuat kita lupa akan hal2 kecil yang justru sering dikeluhkan warga Jakarta. Lucunya, hal2 yang aku pikir menarik, justru tak terlalu sering dikenal orang2 Jakarta sendiri. Taxi Driver sering gagap kalau kita minta diantar ke Jl Salihara, Jl Langsat, Jl Adityawarman, atau tempat2 unik lain. Mungkin mereka cuma kenal mall dan airport — tempat2 favorit orang Jakarta. Tapi aku masuk Jakarta pada waktu yang pas. GPS sudah masuk ke smartphones; dan Google Maps sudah cukup detail menampilkan peta Jakarta.
Mungkin ini jarang aku tulis :). Tapi banyak kegiatan yang aku blogkan di sini melibatkan urusan GPS dan Google Maps. Perjalanan2 ke Komunitas Salihara, ke Obsat, ke Fresh atau Pecha Kucha di tempat2 di atas, hampir selalu melibatkan Google Maps. Yang cukup menarik adalah waktu menghadiri Seminar di UI. Waktu itu sang taxi driver (Blue Bird) cuma hafal jalan ke UI. Di dalam, dia clueless. Aku buka Google Maps di iPhone. Mas Arief Hamdani yang menemaniku cuma ketawa. “Mana mungkin dia bisa cari Jurusan Elektro?” Tapi ternyata memang Google Maps bisa sedetail itu, menunjukkan bukan saja tempatnya, tetapi juga jalan, belokan, dan putaran yang harus diambil untuk menuju Jurusan Elektro UI. Syukurnya, baik sinyal GPS maupun sinyal 3G dari Telkomsel sama sekali tak terganggu sepanjang perjalanan itu. Nggak salah pilih provider nih ;).
Yang juga buat aku lucu adalah waktu kami mencari Aula Simfonia Jakarta. Waktu itu aku benar2 baru tahu bahwa di Jakarta ini ada tempat keren bernama Aula Simfonia Jakarta. Dan lucunya, driver di taksi yang kutumpangi juga merasa baru dengar nama itu. Satu2nya clue adalah bahwa tempat ini ada di Kemayoran. Situasinya agak seram. Langit Jakarta sangat gelap menjelang badai, dan aku baru datang dari Bandung sore itu. Dan aku tak boleh terlambat — soalnya belum beli tiket. Tetap optimis, aku masukkan saja alamat si aula ini ke Google Maps. Sebuah tanda merah menandai tempat itu di sekitar Kemayoran. Aku pilih menu Direction; dan Google Maps memberikan tanda ungu, menunjukkan jalur terefektif untuk menuju tempat itu dari Pondok Bambu: melintas Jalan Baru, masuk Tol Priuk, keluar sekitar Sunter, melintas Jl Benyamin Sueb, dan belok di dekat Kemayoran. Sang Aula langsung tampak di depan mata. Ah, bantuan peta dan dukungan sinyal handal dari Telkomsel membuatku tak terlambat datang ke konser.
![]() |
![]() |
![]() |
Cerita tentang konsernya, ada di sini: http://tlk.lv/1s7
Informasi lebih lengkap tentang Google Maps sebagai nilai tambah dari Telkomsel: http://tlk.lv/gmaps.
Telkomsel keren juga. Roaming Internetnya menjangkau banyak negara. Di Singapore, Cebu – Mactan, Taipei, dll; aku terus berGPS tanpa gangguan. Kayaknya cuma di UK aku benar2 ganti kartu ke kartu lokal (O2 dan Orange). Yuk, besok kita test lagi ke … rahasia :).
Pesta Blogger
Juli 2010 menandakan bahwa blog ini sudah berusia 10 tahun. Tapi tentu angin sedang bertiup kencang, sampai aku tak sempat meluangkan waktu untuk memperingati sesuatu. Selain itu, blog tak lagi dipandang sepenting dulu. Dulu, blog dianggap pembuka jalan bagi masyarakat untuk mengenal Internet, menggunakannya untuk mengangkat akal budi dan kesejahteraan. Kekuatan yang mandiri dari birokrasi dan kapitalisme, kekuatan persaudaraan yang diikat gagasan dan kesetaraan, dan peluang sosial ekonomi yang bisa dibangkitkannya. Tapi aplikasi jejaring sosial dan media sosial telah menggantikan fungsi blog, dengan segala kelebihan dan kekurangannya: aliansi dengan teknologi mobile dengan perangkat yang lebih mudah dan nyaman, proliferasi kesetaraan dan kekuatan 2.0, kekuatan memaksakan suara publik kepada pemerintahan yang masih ingin bertumpu pada ignoransi masyarakat, dll. Blog mungkin hanya jadi tonggak-tonggak bagi aktivis online, namun tak lagi jadi pusat komunikasi dan aktivitas. Bendera yang berkibar senyap di atas riuh.
Namun blog tak akan mati. Bendera tak akan diturunkan. Kata-kata terukir lebih kokoh menghadang waktu dalam prasasti blog daripada di atas pamflet singkat beraneka warna cerah. Para penulis blog masih seperti gerilyawan dalam senyap yang tak kunjung mampu melawan dorongan hatinya, serta komitmennya, untuk menulis. Dan para blogger, yang kini adalah sebutan bagi mereka yang sekedar menyebut diri blogger (pernah menulis blog, pernah membaca blog, pernah berkomentar di blog, dll) terus menjaga aura kekuatan dunia blog.
Words :)
Dan Oktober datang lagi. Seperti Oktober lainnya, para blogger Indonesia merayakan Pesta Blogger dengan berhimpun dalam skala besar. Sayangnya, tak seperti tahun2 lalu, tahun ini aku tak berhasil meyakinkan Telkom Indonesia untuk turut mensponsori Pesta Blogger 2010 (PB2010). Jadi Telkom juga tak menemani para blogger yang saling memberikan pelatihan dan inspirasi di berbagai kota di Indonesia. Ah, sedih :). Tapi dalam proses yang tak berhasil itu, aku jadi lumayan sering maksi bersama Rara, Presiden Blogger 2010 — she’s an inspiring personality! Dan aku pikir, warna kepemimpinan Rara itu yang membuat Pesta Blogger 2010 menjadi sebuah kesuksesan yang gemilang.
Angin yang memang lagi kencang (agak harfiah nih) memang membuat aku tak sempat meregistrasikan diri sebagai peserta Pesta Blogger 2010. Tapi ada dorongan tak terjelaskan untuk tetap nekat hadir (haha). Nyaris tanpa persiapan; satu2nya yang dibuat bekal untuk PB2010 hanya belasan buku untuk disumbangkan ke program 1000 Buku yang juga bersarang di PB2010 — dari buku anak2 sampai buku yang terlalu rumit dibaca anak2. Aku datang ke kawasan Kuningan itu agak sore, dan langsung menghabiskan sore itu mendengarkan kabar berbagai komunitas blogger tanah air; plus berfoto2 di depan logo berbagai komunitas blogger dan onliner Indonesia.

Dari tahun ke tahun, banyak hal yang dikembangkan dalam Pesta Blogger. Nampaknya aspirasi para blogger cukup banyak didengar. Kini Pesta Blogger menjadi Pesta Blogger Plus, dengan menangkap berbagai aktivis komunitas online di luar blog. Juga komunitas yang dulu belum sempat tersentuh, misalnya komunitas pendidikan, kini mendapatkan porsi cukup besar.
Tentu yang paling menarik buat aku adalah berbincang dengan para blogger: sahabat lama dan kenalan baru. Terlalu banyak untuk ditulis satu per satu :). Plus kebagian kaos 1000 Buku dan beberapa pin yang menarik :). Memang sayangnya tak cukup lama. Aku harus kabur lagi. Ke Kemayoran. Baca entry blog sebelumnya deh :).
An die Freude
Ada kegamangan tak terjelaskan weekend ini — bagian dari intuisiku terus menerus mengingatkanku ke sesuatu yang tak juga teringatkan. Mungkin sudah waktunya dia dibungkam :D. OK, life goes on. Hari Kamis aku mulai berpindah ke ruang kerja baru di Lt 6. Ini ruang yang gue banget: bagian luas di tengah ruangan tak banyak bersekat; dan aku bisa memilih untuk bekerja di saung, kursi tegak, kursi gantung, dll. Foto2 ruangan sudah aku masukkan di Instagram :). Jumat, aku sudah menghabiskan nyaris seluruh hari di sana, selain beberapa menit mengunjungi Lt 17 dan Lt 14. Trus masuk weekend. Dan bersiap dengan sebuah malam bersama Ludwig van Beethoven di Aula Simfonia Jakarta.
Pun selama weekdays, Wagner sudah banyak tergantikan oleh Beethoven; terutama Simfoni #5, #6, #7, dan #9; plus konserto violin. Masih ada Wagner sedikit, yaitu satu versi Simfoni Beethoven #9 yang telah diaransir ulang jadi versi piano oleh Wagner, dimainkan Noriko Ogawa di Bach Collegium Japan. Simfoni 5 dan 6 di koleksiku dimainkan Kammerorchester Basel dengan konduktor Giovanni Antonini; Simfoni 9 oleh Royal Concertgebouw Orchestra dipimpin Bernard Haitink; dan Simfoni 7 (sebetulnya dengan 4 juga) oleh Berlin Philharmonic Orchestra dipimpin Herbert von Karajan.
Aku datang di Aula Simfonia Jakarta sekitar pukul 19:00, setelah sebentar mengunjungi Pesta Blogger 2010 di kawasan Kuningan. Tak seperti kunjungan pertama, bangsal tunggu kali ini tampak penuh. Tapi waktu akhirnya gong digaungkan, dan para tamu memasuki aula, barulah tampak bahwa aula tak juga penuh. Publik Jakarta tampaknya belum terlalu berminat menyaksikan live orchestra. Jadi geli membayangkan bahwa aku sempat khawatir gak kebagian tiket :).
Performer malam ini adalah Dubrovnik Symphony Orchestra. Mereka datang dari kota pantai di Kroasia itu sebagai bagian dari program The 7000 Miles, yaitu pengiriman perwakilan DSO ke beberapa negara (sejauh 7000 mil). Para pemainnya, menurut tutur pembawa acara, sebagian besar lulusan dari Zagreb Symphony Academy. Zagreb, kota yang entah kenapa pernah masuk ke mimpiku, haha.
Orkestra dikonduktori oleh Noorman Widjaja. Ya, sebuah nama Indonesia. Ia lahir dari sebuah keluarga musisi di Jakarta. Pada usia 11 tahun, ia memimpin sebuah orkestra di hadapan Presiden Soekarno, menggantikan ayahnya yang mendadak sakit. Tahun 1969 ia meneruskan pendidikan musik di Berlin, dan tahun 1982 dipercaya memimpin orkestra di Nuremberg. Sejak itu memimpin banyak orkestra di Cina, Jepang, Italia, dan Jerman.
Gelaran malam ini dimulai dengan Konserto Piano #2 dari Chopin. Piano dimainkan oleh pianis dari Georgia, Ani Takidze. Frederic Chopin dikenal sebagai musisi dari madzhab romantik, yang tampil setelah madzhab klasik. Jadi ia semadzhab, namun dalam aliran yang sungguh berbeda, dari Wagner (uh, ini lagi). Aku lebih mengarabi Chopin dengan alunan piano tunggal, dan amat jarang dalam bentuk konserto. Tapi konserto selama 30 menit ini membuka pintu pikiranku, menunjukkan ke hal2 yang sungguh menarik dari konserto piano dengan gaya Chopin. Konserto terdiri atas tiga bagian, dengan violin lembut mendominasi bagian-bagian yang tak diisi hentakan piano. Ya, ini Chopin versi menghentak :). Aku hanya bisa diam, dan kegamangan asing itu kembali, membuatku hampir lupa bernafas (selain memang asthma ringan itu kambuh lagi). Tapi ada hal menarik dengan bagian violin di Bagian #3. Kayaknya aku harus dengarkan konserto ini lagi biar lebih yakin :).

Setelah Chopin, ada waktu rehat 20 menit. Udara Jakarta malam tadi agak ramah. Angin agak sejuk dan tak terlalu kencang. Gong bergaung lagi. Kami kembali ke aula.
Dawai violin mulai sayup mengisi ruang laksana angin tipis, dibalas deretan woodwind bersahutan (khas), satu satu satu, lalu membentuk kombinasi, dan ditegaskan oleh hentak ringan timpani. DSO telah memainkan Simfoni Beethoven Kesembilan. Ini adalah Simfoni Beethoven yang paling populer, bahkan sering disebut sebagai puncak performansi musik barat sepanjang masa. Padahal Beethoven mencipta simfoni ini sudah dalam keadaan tuli. Aku sendiri nggak akan bisa menceritakan dereten fase-fase yang menghantar setiap bagian dari simfoni ini dalam sebuah entry blog semacam ini :). Bagian favoritku justru bagian 1 (allegro ma non troppo) dan 2 (scherzo), yang lembut dan riang menyemangati pagi, tanpa terlalu heboh :).
Namun tentu bagian yang paling heboh adalah bagian keempat. Sempat jeda sebentar untuk membiarkan choir dari Batavia Madrigal Singers memasuki aula, bagian ini dimulai dengan sedikit cuplikan dari bagian-bagian sebelumnya. Lalu sebuah jeda yang diisi sebuah bariton: “Hey, bukan nada semacam ini! Ayo angkat suara dengan lebih ceria!” — dan choir pun dimulai dengan meriahnya. Ini adalah satu2nya simfoni Beethoven yang dilengkapi dengan choir. Kata2 dalam choir ini diambil dan dimodifikasi Beethoven dari puisi Friedrich Schiller berjudul An die Freude, yang sering diinggriskan sebagai Ode to Joy. Puisi ini memberi semangat hidup bagi kemanusiaan dan persaudaraan. Tak heran, musik ini sering dianggap sebagai Lagu Kebangsaan Eropa.
Bagian keempat dari Simfoni Kesembilan ini menceriakan ruang selama sekitar setengah jam. Ada yang bahkan menganggap bagian keempat ini sebagai sebuah “simfoni” tersendiri, yang dibaginya menjadi empat “bagian” dengan fase2 yang menariknya serupa dengan pemfasean dalam Simfoni Kesembilan ini sendiri. Simfoni Kesembilan sendiri memakan waktu sekitar 1 jam + 15 menit.
Aku bukan musisi, jadi tak akan membahas kualitas permainan DSO, apalagi untuk karya serumit ini. Dan pembandingan subyektifpun akan jadi tak adil, karena yang biasa terdengar di player adalah permainan Royal Concertgebouw Orchestra dipimpin Bernard Haitink. Maka akan berbeda dengan pengalaman mendengarkan Simfoni Keenam di tempat yang sama bulan lalu, dimainkan Jakarta Symphony Orchestra, dimana kualitas permainan jadi terasa jauh lebih baik daripada CD player :D. OK, ini cuma untuk menjelaskan kenapa aku harus menuliskan para pemain di koleksi Beethovenku di atas :).
Anyway, menyaksikan Simfoni Kesembilan dengan An die Freude malam ini cukup untuk mengangkat semangatku lagi; dan mengingatkanku kenapa aku sampai sekarang tak pernah mau menyerah :). Thanks, Dubrovnik Symphony Orchestra, Pak Noorman Widjaja, Batavia Madrigal Singers, Aula Simfonia Jakarta :).
Nokia N8: HDTV Smartphone
Ada teman yang cukup unik. Namanya Arief (haha). Sedang pusing aku berurusan dengan budgeting session, dengan semena2 ia berceloteh tentang HP yang diyakininya akan mengungguli semua gadget yang pernah aku coba. «Apa tuh?» — aku terpancing. Ia menyebut nama Nokia N8, dengan kamera bersensor 12 megapixel. Aku waktu itu sempat membandingkan dengan Nokia 5800 yang sempat aku pakai beberapa waktu. Tapi Arief mengabaikan, dan menunjukkan bahwa N8 betul-betul revolusi di dunia gadget. Tak lama aku tenggelam kembali ke urusan budget.
Bulan ini N8 sudah mulai diluncurkan. Bannernya menghiasi halaman2 web, dan kita mulai bisa lihat spec-nya di website Nokia Indonesia. N8 benar-benar dilengkapi kamera 12 megapixel dengan lensa Carl-Zeiss. Kamera saku terbaik saat ini memang beresolusi 12 MP, tetapi sebelum ini belum ada smartphone yang memiliki resolusi kamera setinggi ini. Dan yang lebih mengejutkan, kamera videonya memiliki kualitas HD.
Aku sedang menerjuni IPTV, jadi soal HD video ini langsung jadi bagian yang paling menarik buat aku. N8 dapat merekam video dengan resolusi 720p, kecepatan 25 fps, menggunakan codec H.264 MPEG-4. Ini dilengkapi dengan rekaman audio AAV 128 kb/s plus algoritma peredam noise latar belakang. Rekaman video melalui N8 ini dapat disimpan langsung pada memori internalnya yang sebesar 16G, atau pada kartu memori MicroSD. Masih dengan perangkat ini juga, kita dapat melakukan editing untuk menyempurnakan video kita, menambahkan musik, gambar, teks, dan transisi. Selain dapat ditampilkan di layar, hasil rekaman kita juga dapat langsung ditampilkan di TV beresolusi HDTV melalui koneksi HDMI. Sharing ke Internet dapat langsung dilakukan dari gadget ini. Koneksi Internetnya OK juga: WiFi 802.11 b/g/n, HDSPA hingga 10 Mb/s serta HSUPA hingga 2 Mb/s.
Ketajaman luar biasa dari N8 ini coba dibuktikan Nokia dengan meluncurkan Project Gener8. Project ini merancang sebuah film pendek, dengan sutradara Joko Anwar (lupakanlah Circle K sebentar saja), dengan pengambilan gambar yang akan dilakukan dengan Nokia N8. Di web itu juga, kita dapat melihat simulasi menonton video dengan Nokia N8: dengan gambar yang tajam dan suara berkualitas Dolby Surround.
Untuk gambar statik, N8 juga akan menjadi pesaing tangguh bagi kamera saku mutakhir. Selain resolusi 12MP, ia juga telah memiliki feature auto-focus, pengenalan wajah, anti mata merah, lampu flash, dan layar bidik (i.e. layar HP) selebar 3.5″. Apperturenya F2.8 dan panjang fokus 5.9mm.
Yang juga aku kagum, dengan feature yang amat banyak dan spesifikasi yang amat tinggi seperti itu, Nokia dapat mengemas N8 sebagai ponsel yang tetap tipis, setinggi 11cm saja, setebal 1,2cm saja, dan seberat 135gr saja. Hal-hal semacam ini, dan inovasi yang selalu maksimal ini, membuat Nokia masih selalu dikagumi dari tahun ke tahun.
Trus sambil membayangkan IPTV lagi. Setahun ke depan, berapa banyak video-video berkualitas tinggi dari pegiat kreasi digital, menggunakan perangkat-perangkat praktis semacam ini, bakal mewarnai dunia televisi digital kita? Keren deh.
Telkom IPTV
Oktober, dan Telkom IPTV sudah harus siap meluncur. Wow, cukup untuk bikin mata merah :). Tapi test-test telah mulai dilakukan, dan sejauh ini hasilnya menggembirakan. Bulan-bulan mendatang, sampai akhir 2010, kami akan memulai test ke rumah-rumah, sambil menguji kualitas jaringan. Mudah-mudahan hasilnya akan tetap prima.
Walaupun IPTV berkepanjangan Internet Protocol Television, IPTV bukan sekedar televisi yang didistribusikan melalui Internet. IPTV adalah sinergi antara kekuatan interaksi Internet dan Web, dengan kekuatan media televisi. IPTV merupakan platform layanan yang merupakan tahap lebih lanjut dari bentuk interaksi multimedia yang ada saat ini. IPTV akan menawarkan a.l. hal-hal berikut:
- Broadcast televisi dan video di atas akses Internet
- Content on demand, yang meliputi video, TV, musik
- Interaksi multimedia dengan kecepatan true broadband, yang meliputi layanan game, shopping, advertising, dll
- Kualitas layanan (quality of service) dan kualitas pengalaman (quality of experience) bagi customer yang terus terpelihara
Setiap layanan akan memiliki sifat multiscreen, yaitu harus dapat ditampilkan melalui beragam perangkat:
- Pesawat televisi
- Komputer, notebook, dan perangkat sejenis
- Mobile terminal dan berbagai gadget
Bagi Telkom, IPTV adalah langkah pertama dalam penggelaran aplikasi multimedia dengan interaktivitas tinggi di atas jaringan true broadband (sekaligus mencari konteks / reason buat investasi perbaikan network agar layak dimuati informasi broadband). IPTV menawarkan hal-hal berikut:
- Pengalaman digital yang lebih interaktif, mudah, nyaman, dan lengkap.
- Peluang, terutama bagi komunitas-komunitas kreatif digital yang sedang tumbuh di Indonesia, untuk menemukan lahan baru yang luas dalam komersialisasi produk dan karya kreatif mereka.
- Peluang kerjasama bagi bisnis media dan industri informatika untuk memberikan layanan yang lebih lengkap.
- Konteks baru dalam pengembangan kapasitas dan kualitas network, baik core network, cable network, hingga mobile network.
Konfigurasi yang disederhanakan dari sistem ini adalah sbb:

Dalam jaringan ini, konten televisi, video, dan berbagai layanan yang bersifat multimedia interaktif didistribusikan menggunakan arsitektur jaringan Internet. Di samping menawarkan efisiensi jaringan dan kualitas media yang dapat terkelola secara maksimal, IPTV juga diyakini membuka peluang baru untuk memaksimalkan interaktivitas layanan Internet ke dalam media televisi.
Beberapa fungsi-fungsi di dalam jaringan IPTV
- Head-end, terdiri dari IRD (integrated receiver decoder) yang berfungsi menerima kanal televisi melalui satelit, dan encoder yang mengubah format video ke standard MPEG-4/H.264 untuk dilewatkan ke jaringan IP.
- Middleware, berfungsi sebagai content management / delivery system (CMS/CDS). Sistem pada middleware mendukung open architecture dan mempunyai open standard interface untuk berkomunikasi dengan 3rd party application, dan mendukung pengembangan layanan baru dengan cepat.
- VoD (video on demand) merupakan sistem yang memberikan layanan on demand kepada pelanggan. VoD didistribusikan dengan mekanisme yang memungkinkan minimalisasi biaya.
- CA (conditional access) / DRM (digital right management) adalah suatu mekanisme yang memungkinkan sistem memberikan hak akses terautentikasi terhadap sebuah program yang diminta user.
- CDN (content delivery network) merupakan perangkat yang digunakan untuk membantu distribusi konten di atas jaringan.
- NMS (network management service) merupakan sistem yang digunakan untuk memelihara dan memonitor jaringan.
Beberapa standard yang digunakan dalam jaringan ini:
- Video codec menggunakan ITU-T H.264 (ISO/IEC MPEG-4 Part 10 ) yang mendukung baseline dan main profile untuk encoding dan enkapsulasi video.
- Multicast menggunakan protokol IGMP (RFC 2236).
- Multicast mendukung TS (ISO 13818-1) over RTP (RFC 1889) over UDP (RFC 768), atau harus mendukung TS over RDP.
- Untuk layanan berbasis On Demand (VoD, TVoD, PVR, TSTV), maka End User Terminal (Televisi, PC, Gadget ) harus mendukung pengaturan layaknya VCR, dengan menggunakan protokol standar, yaitu HTTP (RFC 2616) atau RTSP (RFC 2326).
Haha, teknis sekali ya? Namanya juga aku. Nanti aku cerita lagi dari sisi features dan interaktivitasnya deh.
Unlimited Mobile Internet
Masih ingatkah momen-momen pertama menggunakan Internet dengan mobile phone? Aku masih. Kardus Xphone itu aku buka, chip Kartu Halo itu aku pindah dari Nokia 6510 ke dalamnya. Xphone dinyalakan dan browser dibuka. Dan alamat yang pertama diketik, tentu saja, adalah kun.co.ro :D. Citra dari webku mengalir melalui IP di atas GPRS ke pengolah sinyal di Xphone. Rasanya fantastis melihat blogku menyala dalam layar mini di genggaman tangan. Tak lama, aku sudah melakukan setting email, dan bahkan chatting. Di ruang sidang, benda lucu itu segera bikin heboh. Semua sepakat: inilah Internet masa depan: mobile Internet.
Tapi masa depan memang datang terlalu cepat :). Kini mobile Internet nyaris jadi bagian tubuh manusia: ia jadi sumber informasi utama, alat komunikasi utama, dan sarana perbincangan (konversasi) yang paling alami. GPRS sudah melompat ke EDGE, UMTS (3G), HSPA, dan sebentar lagi LTE; ditemani CDMA 2000 dan WiFi. Mail dan blog bersinar dan meredup, dialih aneka media sosial yang lebih akrab dengan mobile terminal: Twitter, Facebook, Tumblr, plus aneka ekstensi multimedianya. Xphone, dan adiknya Xphone II, sudah punah, digantikan iPhone yang dengan cerdas memilih sinyal WiFi (dari Speedy rumah dan kantor) dan 3G. Trafik Jakarta dan terutama traveling yang gencar ke luar Jakarta mengharuskan aku nyaris selalu terkoneksi pada jaringan mobile. Dan, dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, Telkomsel masih memberikan akses mobile Internet paling menarik untuk daerah-daerah di Indonesia.
Menarik, karena akses Internet Telkomsel masih terbaik dibandingkan lainnya di berbagai tempat di Indonesia. Tapi juga sempat bikin kesal, karena akses multimedia teks, gambar, dan video yang kencang itu dibarengi dengan tagihan gak keren yang sempat membuat aku masuk jadi customer Telkomsel Priority. Huh :). Tapi tak lama, Telkomsel meluncurkan paket-paket unlimited yang membuat akses Internet tetap kencang, tapi laju tagihan tak lagi kencang. Paket semacam ini tersedia baik untuk Kartu Halo (postpaid) maupun Simpati (prepaid). Bahkan, untuk mereka yang betul2 hanya memanfaatkan akses mobile untuk berinternet dan SMS (tanpa telefon), Telkomsel meluncurkan juga Kartu Flash Unlimited. Umumnya kartu ini kita pasang di 3G atau HSPA modem.
Flash Unlimited dijual dengan harga 60.000, dengan isi: pulsa 55.000, Internet 1MB, dan bonus 100 SMS ke semua operator. Paket data dapat dipilih. Dengan 50.000/bulan, kita mendapatkan akses 384 kb/s selama 14 hari. Dengan 100.000, 384 kb/s 30 hari. Dan dengan 200.000, 512 kb/s selama 30 hari. Pemilihan paket dilakukan melalui SMS ke nomor 3636 (yang tentu saja artinya 3G3G, haha). Tatacara dan ketentuan lain dapat dilihat di tlk.lv/1sl.
Untuk kita yang menggunakan Internet di dalam smartphone (yang juga dipakai bertelefon), Telkomsel juga menyediakan paket unlimited untuk Simpati dan KartuAs, dengan berbagai pilihan sesuai gaya hidup kita. Untuk mengaktifkan dan memilih paket data, kita dapat memanggil nomor *363#. Penggemar media sosial (Facebook dan chatting) misalnya, dapat memilih paket Social Networking. Untuk paket ini, kita dapat melakukan akses unlimited pada Facebook dan chatting melalui aplikasi yang telah ditentukan, dengan biaya 1000/hari, atau 20.000/bulan. Jenis2 client, rincian cara aktivasi, dan ketentuan lain dapat diacu pada tlk.lv/1sm.
Tapi jika penggunaan mobile Internet kita tak hendak dibatasi hanya pada Facebook dan chatting, Telkomsel masih memberikan pilihan lain. Sebagai official partner dari Opera Software, Telkomsel memberikan paket unlimited khusus untuk mobile Internet yang diakses menggunakan browser Opera Mini (dari berbagai jenis handphone). Tarifnya 2000/hari atau 30.000/bulan. Informasi aktivasi dan rincian lain terdapat di tlk.lv/1sk.
Dan buat pemakai Kartu Halo? Ah, cek saja paket-paket yang juga menarik di *363# ;). Selain paket Opera Mini dan paket Facebook & chat, kita dapat menemukan pilihan paket Blackberry, paket Nokia Ovi, dan paket Unlimited. Yuk, traveling sambil terus berinternet :p.
Beethoven Night
Aku ternyata belum kenal Jakarta. Aku bahkan belum tahu di kota ini ada Aula Simfonia Jakarta. Ini bukan hanya sebuah hall / aula, tetapi benar2 sebuah gedung, bertempat di Kemayoran, tak jauh dari Merdeka Selatan, tempatku berkantor.
Sore tadi Jakarta bercuaca cukup seram. Awan hitam melintas kencang dari arah timur ke barat. Di lapisan bawahnya, awan kelabu melintas lebih kencang dari barat ke timur. Angin dingin menembus jaket. Tapi Aula Simfonia Jakarta akan menyelenggarakan Beethoven Night. Dan nama Beethoven cukup untuk mendorong kami melintasi ancaman badai itu, dan menuju ke Kemayoran: mencari sebuah aula.
Kami belum beli tiket. Begitu sampai, ticket box pun dihampiri. Tiket termurah 200K, hanya menyisakan tempat tak strategis. Ambil tiket 300K. Tapi ticket box hanya menerima cash atau debit dari sebuah bank tak menarik. Maka dompet langsung kosong untuk membayar tiket. Hall ini masih baru: belum ada café, toko, tempat snack, atau bahkan ATM. Ah, who cares. Kami naik ke atas, dan menyempatkan diri mengamati sederetan lukisan yang seluruhnya bertema musik. Musik klasik. Musik klasik eropa. Gong dibunyikan, dan kami masuk hall.
Sesuai namanya, malam tadi Orkestra Simfonia Jakarta hanya memainkan karya Beethoven. Sebagai pembuka, Kevin Suherman memainkan dua sonata piano. Kevin masih muda, dan ia bersekolah musik hingga ke Melbourne. Yang dimainkan adalah Piano Sonata op 2. Aku jarang mendengarkan sonata piano Beethoven. Jadi ini terasa jadi pemainan baru yang asik buat aku. Menyenangkan. Sayangnya terasa tak berlangsung lama. Piano dimasukkan ke bawah panggung. Lalu Orkestra Simfonia Jakarta memasuki panggung.
Konduktor untuk bagian ini adalah Rebecca Tong. Ia masih muda juga. Menempuh pendidikan di US di bidang sejarah musik, khususnya mengenai conducting, ia konon terkenal piawai memimpin musik secara dinamis. Deretan empat karya orkestral Beethoven mengalir, dengan tempo yang bergerak dari lembut ke dinamis: Coriolanus (Serumpun Padi, haha), Fidelio, Prometheus, dan Egmont. Egmont ini pernah juga aku dengarkan di Warwick entah di tahun berapa, bersama Simfoni Ketiga. Tapi Kemayoran tak mengecewakan. Dinamikanya sunguh menyegarkan.
Rehat 15 menit. Sayangnya belum ada fasilitas rehat di sini. Panitia menjual Aqua, tapi tak banyak yang berminat. Aku menghabiskan waktu melihat2 benda2 musikal yang ditata dalam ruang kaca mirip diorama. Menarik juga tempat ini sebagai museum. Sempat mengambil sedikit foto (dilarang mengambil foto selama pertunjukan berlangsung). Lalu gong bergaung lagi.

Pada bagian ini, konduktor diambil alih Dr Stephen Tong — tokoh yang sudah sekian lama membawa musik klasik keliling Indonesia, dan lalu menjadi salah satu pelopor Orkestra Simfonia Jakarta ini. Sunyi sejenak, lalu mengalun bagian awal dari Simfoni Keenam. Dawai-dawai memulai alunan, dengan gaya tenang, teduh, dan anggun. Masuklah deretan pipa-pipa mungil yang ditiup, membawa suasana riang dan lincah. Khas Beethoven: flute yang bergantian membawa suasana ceria. Lalu … hey … ada yang menarik. Ada dimensi yang memisahkanku dari skala waktu linear. Ia membawa ke alam yang luas, berwarna keemasan, dan paralel mengisi ruangan. Beda sekali dengan versi CD. Aku baru sadar, baru sekali ini aku mendengarkan Simfoni Keenam secara live. Lalu segala instrumen menderu, membawa badai dan guruh di luar sana masuk ke aula. Mendung tebal sore itu tampak lebih menghitam dan memasuki hall. Lalu ditenangkan. Tapi tak juga terasa tenang buat aku. Sampai simfoni berakhir. Masih terasa ada hentakan keras di dalam.
Kemayoran tak lagi hujan. Masih berangin tak nyaman. Tapi Beethoven membuat angin dan gelap itu terasa memiliki aroma yang menyegarkan.
Akhir Oktober, di tempat yang sama akan ditampilkan Simfoni Kesembilan, oleh Dubrovnik Symphony Orchestra. Tag di agenda! :)























