It Only Hurts When I Smile

Sekali-sekali cerita yang nggak ada ujung pangkalnya yuk.

Alkisah, di tahun 1997, Larry Page, Sergey Brin, dan beberapa rekan lain mencari nama keren buat teknologi mesin pencari yang tengah mereka kembangkan. Waktu itu Sean Anderson dan Larry Page sibuk mereka-reka nama, dengan papan tulis dan terminal terakses Internet. Salah satu kata yang buat mereka menarik adalah Googolplex, yang langsung ditanggapi Larry dengan memilih bentuk yang lebih singkat: Googol. Keduanya menunjukkan bilangan yang amat besar. Sean menghadap terminalnya, dan mencari apakah nama itu sudah ada pemiliknya. Namun Sean bukan pengeja yang baik. Jadi dia mengetikkan nama Google.com, yang ternyata available. Larry ternyata suka nama itu; dan seketika mereka meregistrasikan nama itu. Domain Google.com tercatat diregistrasikan tanggal 15 September 1997.

Aku sendiri kenal Google dalam kunjungan mendadak ke ruang lab Mas Budi Rahardjo di tahun 1997 itu. Atau mungkin awal 1998. “Ada yang baru nih,” kata Mas Budi dengan gaya curiousnya, trus menunjukkan Google.com. Nama unik. Sebelumnya, tahun 1996, aku pernah kontak ke Sisfo Telkom (yang menggunakan domain Sisfotel di bawah TLD yang aku sudah lupa sekarang, mengusulkan mengambil domain Telkom.com yang waktu itu masih available. Waktu itu aku belum tahu caranya beli domain. Yang aku tahu, harga US$ 70 per tahun untuk domain dotcom buat aku mahal sekali. Lama setelah itu, dengan Telkom tak juga beli domain Telkom.com, akhirnya domain itu dibeli pihak random untuk keperluan random, hingga sekarang. Tapi mungkin bagus. Telkom pernah punya semangat “Angkat domain Indonesia” dengan lebih memilih domain Telkom.co.id dan Telkom.net.id. Keren.

Mungkin gara2 sebal atas dibelinya domain Telkom.com oleh pihak gak jelas, di pertengahan tahun 2000an, waktu harga domain sudah mulai turun, aku sempat agak excessive beli domain-domain Telkom yang masih dibiarkan lepas dan mungkin bisa dipakai: Telkom.tv, Telkom.info, Telkom.tel, dll. Bea per tahunnya lama2 lumayan besar. Jadi beberapa mulai aku biarkan lepas. Dilepasnya juga terutama zaman minat atas domain mulai turun, digantikan akurasi mesin pencari, media sosial, dan aplikasi2 mobile. Apa sih domain Kaskus yang benar? Kita nggak harus tahu. Ketik kata Kaskus di Google, dan kita lihat hasilnya. Atau klik icon Kaskus di smartphone kita. Survei di Korea pun menunjukkan bahwa sebagian besar user (!) di Korea tidak hafal domain layanan2 penting di Korea. Mereka mengetikkan nama layanan saja di form alamat, lalu membiarkan Google atau pencari lain memilihkan alamat yang benar, lalu mereka klik. Boros sumberdaya. Tapi kan Internet di sana memang kencang. Enak buat kebiasaan boros.

Jadi mendadak agak lucu bahwa di tahun 2012 ini, sebuah perusahaan IT meminta tolong aku buat jadi broker buat beli domain dotcom. Pimpinan di perusahaan itu ternyata sudah memilihkan nama yang bagus. Tapi pimpinan perusahaan besar tentu berbeda dengan Larry Page muda di tahun 1997, yang masih doyan berdiskusi di depan terminal online. Perusahaan membesar, dan pimpinan (termasuk Larry Page pun) mulai berjarak wibawa dengan karyawan. Cita rasa jadi titah, bukan inspirasi. Maka nama pilihan pimpinan harus dicarikan domainnya. Dan harus dotcom. Dan harus dotcom! Err, ini tahun 2012 padahal, bukan 1997 lagi :). Harus dotcom, andikan pun mungkin domain itu sudah ada pemiliknya. Tentu, kita bisa menggunakan Paypal, eBay, Sedo untuk melakukan transaksi atau brokerage atas domain milik perseorangan. Tapi di perusahaan IT ini, ternyata sangat sedikit orang yang punya kartu kredit, lebih sedikit lagi yang pernah mengetikkan nomor kartu kredit di browser, dan jauh lebih sedikit lagi yang punya account di Paypal. Yaudah, kita bantu.

Aku memang punya akun Paypal, dilink ke kartu kredit Citibank, dengan limit terkecil yang aku punya. Ini memang buat transaksi pembelian atau pembayaran skala kecil. Gak mungkin buat skala agak besar sesuai permintaan pemilik domain. Whoaa. Si perusahaan IT sih janji akan mengirimkan dana ke tabunganku. Tapi tampaknya tetap harus dilampiri bukti pembayaran dulu. Artinya, aku harus bayar dulu dengan CC-ku. Jadi aku call Citibank, minta kenaikan batas kredit. Citibank menyanggupi, dan akan menghubungi 2 hari lagi. Whoaa. Lama. Kita perlu orde menit dan jam nih. Masuk ke Paypal, aku coba buat kaitan ke akun kartu kredit baru: BCA.

Oh ya, aku punya kartu BCA. Memang sejak zaman Orba aku enggan punya akun di bank yang buat aku selalu jadi simbol kroni Soeharto dan Orde Baru itu. Tapi akhirnya aku punya akun BCA juga tahun ini, setelah berhasil lupa sama Orba. Lucunya, beberapa hari setelah itu, Mr Liem sang kroni Soeharto, sang bekas pemilik BCA itu, mati.

Balik ke Paypal, seharusnya memang harus menunggu cetakan tagihan keluar, membaca 4 digit kode transaksi dalam tagihan, baru bisa memvalidasi penggunaan kartu dengan 4 digit kode itu. Tapi aku beruntung. Belum satu menit, crew BCA menelefon, memastikan apakah aku baru saja melakukan transaksi US$ 1.95 di Paypal. Aku pura2 tanya kode verifikasinya dulu. Ia memberikan 4 angka, dan aku catat, lalu aku iyakan. Crew terdengar lega dan puas. 4 angka itu aku masukkan ke form di Paypal, dan kartu BCA-ku sudah bisa digunakan bertransaksi di Paypal.

Tapi limit sisa di Citibank dan BCA mungkin masih kurang. Jadi aku suntikkan dana dari tabungan pribadi ke rekening Citibank. Selesai, aku langsung mentransfer dana melalui Paypal, melalui akun dua CC, ke John, si pemilik domain. John ini musisi. Gitaris, penyanyi, organizer, dan kadang publisher juga. Tapi dia bukan tech-savvy. Jadi, setelah menerima pembayaran, dia masih harus kebingungan dengan cara mentransfer domain. Perlu waktu 1 minggu, janjinya. Whoaa. Lama. Jadi aku ngasih kursus ke John. Dia musisi, bukan tech-savvy, dan tinggal di LA. Tiap tengah malam sampai dekat subuh aku ngasih semacam kursus langkah2. Tapi dia terus gagal dengan langkah2ku. Bukan sepenuhnya salah dia. Dia beli domain di Yahoo, yang sebetulnya tidak memberikan layanan domain dan hosting seperti jasa webhosting lain. Yahoo menawarkan domain sebagai bagian dari solusi enterprise dan UKM-nya. Harga domain US$ 9 di tahun pertama, dan terus kena autocharge US$ 35 setiap tahun, sampai akun kita matikan. Mahal! Yahoo sendiri merupakan reseller dari Melbourne IT.

Gagal melakukan transfer domain normal antar registrar, aku minta coba transfer antar akun di satu registrar. Gagal juga. Yahoo mungkin memang tak memberikan fasilitas itu, katanya. Jadi aku coba dari Melbourne IT. Minta registry key ke John. John sempat menertawai, membayangkan aku minta kunci beneran, sementara dia merasa beli domain secara online. Jadi gak ada kuncinya. Tapi dua hari kemudian — Whoaa! Lama! — John bisa memberikan registry key ke aku. Aku pindahkan domain ke account baru yang aku buat di Melbourne IT. Horee! Gak dink. Melbourne IT aneh. DNS records management disediakan gratis. Tapi DNS domain ini terkunci ke Yahoo (YNSx.YAHOO.COM) . Loh. Bahkan dia tidak bisa diredelegate ke DNS dari Melbourne IT sendiri (NSx.SECURE.NET). Konon perlu 24 jam. Hampir 48 jam kemudian, aku baru sadar ada yang salah dengan urusan Melbourne IT dan terutama Yahoo. John sendiri sudah mematikan kontrak domain (menghindari pembayaran US$ 35 per tahun). Jadi domain tak menunjuk ke mana2. Aku pun semena2 bikin akun baru di Yahoo, dan melakukan setting NS buat domain ini. Lucunya, ini bisa dilakukan, biarpun akunku di Yahoo tidak pernah tercatat sebagai pemilik domain ini. Maka domain ini akhirnya berfungsi.

Selesai domain ini berfungsi, aku sedikit bernafas; dan meluangkan waktu mengunjungi situs punya John. Menikmati lagu yang diciptakan (?) dan dinyanyikan dia: “It Only Hurts When I Smile.” Asik juga lagunya. Menemani jam2 kerja yang kurang tidur gara2 beberapa hari mengguide John di timezone Los Angeles.

Tapi, tentu, ini solusi jorok. Aku tetap melakukan transfer normal antar registrar. 4 hari kemudian, transfer baru selesai. Dan aku bisa memindahkan setting DNS secara lebih permanen. Dua hari setelah pembayaran, si perusahaan IT mentransfer biayanya ke rekening Bank Mandiri. Aku bayar via ATM ke Citibank. Tapi, berbeda dengan pembayaran Citibank via SMS BNI yang langsung dikonfirmasi dalam beberapa detik; pembayaran Citibank via ATM Mandiri memerlukan 2 hari baru dinyatakan terbayar. Whoaa! Lamaa! Benarkan seluruh institusi di negeri ini berkonspirasi menghambat mereka yang berminat mengakuisisi domain agak mahal dalam waktu cepat? Wkwk.

Setelah pembayaran masuk ke Citibank, bukan berarti urusan beres. Aku masih harus beli satu domain pendukung lagi. Memang seharusnya sekaligus. Tapi tertunda gara2 transfer antar bank yang lambat, plus waktuku habis. Domain yang satu ini dibeli dari Michael, yang kebetulan lebih paham IT. Sekarang tinggal tunggu transfernya. 4-5 hari. Whoaa! Lama!

Sementara itu, aku beberes uang2 transferan untuk mengembalikan posisi tabungan dan kartu kreditku ke posisi semula. Eh, ternyata malah jadi defisit, wkwk. Pertama, kurs di Paypal mahal sekali. US$100 dicharge ke kartu lebih dari 1 juta rupiah. Kedua, transfer domain dll memerlukan biaya. Dan ketiga, kadang harus eksperimen untuk melihat setting di penyedia service semacam Yahoo dan Melbourne IT, yang juga perlu biaya. Tapi, demi bantu project yang keren dan menarik, nggak apa2 deh. Biasanya juga gitu :)

Pagi tadi aku gak sengaja lewat ke si perusahaan IT. Ke bagian yang mengelola teknis produk, tapi bukan bagian yang minta tolong aku beli domain itu. Salah satu manager berceletuk, “Nah ini si juragan domain. Tempat bisnis dan jual beli domain.” Hahah. Pendengar di ruang itu pasti membayangkan aku dapat profit dari bisnis domain, atau semacamnya. Tentu aku gak perlu jelaskan ke dia. Atau ke siapa pun. Never argue with moron :).

Then I smile. It doesn’t hurt at all :)

Groovia Lite

Ruang Avatar di STO Jakarta Gambir masih menunjukkan aktivitas luar biasa. Ada kegiatan operasional, pengembangan, dan persiapan penambahan feature untuk produk IPTV Groovia. Tapi juga ada persiapan layanan baru: Groovia Lite.

Idenya, Groovia menjadi konteks untuk menumbuhkan industri multimedia baru, berbasis video berkecepatan dan berkualitas tinggi. Dari konteks ini, dimungkinkan penanaman investasi untuk perbaikan dan peningkatan kualitas network hingga ke lokasi customer. Dimungkinkan juga diciptakan layanan di atas layanan video serta di atas jaringan berkecepatan tinggi.

Namun, mungkin belum semua dari kita memerlukan TV. Aku termasuk salah satunya sih: sudah beberapa tahun gak punya TV lagi. Hidup lincah tak terpaku membuat kita lebih akrab dengan piranti mobile (dari notebook s.d. smartphone) yang kian informatif dan interaktif. Konten TV, andaipun diperlukan, bisa diakses dari gadget kita. Ini yang mendasari Groovia Lite: konten dan aplikasi video dan multimedia lainnya di atas jaringan Internet yang tidak harus istimewa.

Groovia Lite dimaksudkan menjadi versi lite dari Groovia, untuk diakses dari notebook, tablet, smartphone, dan gadget lain. Di dalamnya, dapat diperoleh Live TV, TVOD, VOD, hingga konten-konten tambahan seperti radio, e-book, dan aplikasi untuk gadget kita. Sebuah digital store atau bahkan digital mall berwarna multimedia. Konten gratis, berbayar, berbundling, dll, akan dapat diperoleh di sini. Groovia Lite adalah sebuah model bisnis OTT.

Masih versi beta, Groovia Lite sudah dapat mulai ditengok di situs GrooviaLite.com. On air TV dari beberapa saluran TV nasional, recorded TV, dan beberapa sampel video telah dapat digunakan untuk uji coba.

Aplikasi Android dari Groovia Lite, baik untuk tablet maupun untuk smart phone, tersedia untuk diunduh. Aplikasi iOS sebenarnya telah dapat digunakan. Tapi masih menunggu approval dari Apple.

Aku sudah coba ketiga apps ini: versi iOS di iPhone (Telkomsel Flash), Android smart phone di HTC Evo 3D (Flexi EVDO), dan Android tablet di Kindle Fire (Speedy WiFi). Semuanya versi original (tanpa jailbreak untuk iOS, dan unrooted untuk Android). Ketiganya menunjukkan kualitas yang memadai. Pertama kali memasang konten video, memang gambar akan kabur. Saat itu terjadi proses penentuan kualitas optimal melalui adaptive streaming. Buat pemakai komputer, versi web juga tak kalah baik kualitasnya. Waktu Najwa Shihab dengan cerdik menampilkan kebohongan (atau mungkin inkompetensi) Mendikbud di acara Mata Najwa (soal Ujian Nasional yang menurut beliau sangat bersih tak bernoda), aku menyimak sepanjang acara dengan Groovia Lite ini.

Tapi memang khawatir juga sih. Misalnya, jangan2 jadi sering tergoda nonton pakai Kindle Fire. Bukannya dipakai baca buku.

Crowdsource Bookshop

Akhir minggu lalu, kami mencoba melakukan fund-raising, mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan Hamdani, seorang rekan yang menderita kanker getah bening. Hamdani saat ini dirawat di Gedung Teratai, RS Dharmais. Biarpun ada keringanan biaya, namun biaya untuk penyembuhan liver dan ginjal yang mulai rusak (harus dipulihkan sebelum kemoteapi), biaya beberapa siklus kemoterapi, dan biaya pemulihan, akan cukup besar; tak mungkin tertangani Dani yang kini justru diberhentikan oleh lembaga pendidikan tempat ia bekerja.

Fund-raising kami tak bisa dibilang berhasil baik. Maka di hari Senin kemarin, yang dipaksakan cuti oleh menteri entah apa, kami memanfaatkan waktu yang sempit untuk merancang sebuah online bookshop, tempat kami dapat mulai menjual buku2 baru atau bekas sebagai sarana penggalangan dana lebih lanjut. Membuat site cukup mudah. Engine wordpress, domain murah, hosting numpang, plugin eshop, dan desain visual. Lalu integrasi dan test. Maka tengah malam tadi, meluncurlah Online Bookshop kami: Darrowby.co.

Darrowby, tentu diambil dari nama kota rekaan James Herriot, dalam buku Seandainya Mereka Bisa Bicara (If Only They Could Talk). Buat aku, Darrowby identik dengan buku, tapi juga dengan penyembuhan, dengan kesetiakawanan yang tulus, dengan simpati dibalik sikap pura2 acuh, dengan optimisme dan semangat tak kunjung padam, dengan ketidakmampuan untuk patah semangat menghadapi tantangan.

Buku2 diambil dari koleksiku dulu. Keren-keren, tentu saja :). Dan pertama2 akan diambil dari yang kira2 akan menghasilkan rupiah terbesar. Memang buku2 ini tak dijual murah, karena kita sedang mengumpulkan dana. 100% hasilnya akan diserahkan untuk pengobatan Hamdani. Tapi kualitas bukunya takkan mengecewakan pembeli juga. Setelah test hari ini (baru dengan beberapa buku), kami akan terus menambahkan buku-buku berbagai bahasa dan berbagai level harga ke Darrowby.

Mas Harry Sufehmi langsung menawarkan buku2 koleksinya juga. Bukan surprise, buat mereka yang mengenal sosok Mas Harry :). Sekaligus Mas Harry juga melontarkan istilah ini: crowdsource bookstore :). Community-based bookstore, haha. OK, ini memang menarik. Moga akan makin banyak yang mau membeli buku, menyumbang buku, dan lain-lain. Kalau belum ada buku yang cocok untuk dibeli, kami juga bisa mengirimkan  nomor rekening agar kita tetap dapat menyumbang tanpa membeli.

Allâh tak akan mengubah keadaanmu, kecuali kamu menggerakkan diri untuk melakukan perubahan.

Slideshare

Teman2 bilang, orang Indonesia unik. Setiap selesai presentasi, selalu ada sekelompok orang yang nekat meminta bahan presentasi kita. Aku sih menganggapnya positif: ada keinginan untuk mendalami materi presentasi, yang memang aku yakin memerlukan waktu pendalaman lebih dari waktu seminar yang cuma beberapa jam saja. Biasanya materi semacam itu aku bagikan, dalam bentuk PPTX (bukan PDF). Erh, bukan berarti aku lebih suka Powerpoint daripada Keynote. Tapi … you know … pemakai Mac di Telkom itu amatlah minoritas. Entah kalau iWorks nanti menyerang melalui iPad. Oh ya, ternyata Indonesia tidak unik. Berpresentasi di negara mana pun, ternyata selalu ada yang tak malu-malu meminta materi presentasi kita. Dan bukan hanya hadirin, tetapi juga sesama presenter.

Jadi aku kembali ke Slideshare. Aku sudah sempat mendaftar ke layanan ini di tahun 2008. Tapi kepindahan ke Jakarta dll bikin aku agak lupa urusan ranah maya. Bulan ini account di Slideshare itu aku buka lagi. Ini alamatku:

http://slideshare.net/kuncoro

Lalu materi yang cukup banyak diminta, yaitu pengenalan WiMAX II (IEEE 802.16m).

Materi tentang pengenalan 4G … tak mudah memilihnya. Materi dengan judul yang sama sudah termodifikasi dalam beberapa versi: untuk kampus elektro, kampus non elektro, profesional, hingga masyarakat awam (mis di Gathering Fresh awal bulan ini). Ada versi di mana 4G ditampilkan dalam materi tersendiri, ada yang hanya merupakan pembukaan sebelum diskusi mengenai LTE Advanced dan WiMAX II. Ada yang mendiskusikan soal aplikasi, dan ada yang sama sekali berhenti di network. Dll. Ini salah satu versi itu, yang akhirnya aku upload di Slideshare

Yang sedang cuup banyak didiskusikan juga adalah New Convergence: kisah bagaimana konvergensi lebih lanjut harus dilakukan untuk mengelola network, aplikasi, dan content layanan-layanan digital yang seluruhnya telah berprotokol Internet namun pengelolaannya saat ini masih terpisah.

Jadi, materi apa lagi yang harus dipasang di Slideshare? Ada request? Jangan tentang Wagner yach :).

Masyarakat FaceBook

Account Facebook-ku pernah dimatikan. Tanpa alasan — selain “aku bisa hidup tanpa Facebook” :). Lalu hidup berjalan nyaris tanpa perubahan, kecuali perubahan yang baik. Tapi belum 48 jam, Mbak Enno dari MetroTV menelefon. Kelanjutannya sudah dibahas di entry sebelumnya. Yang jelas, account Facebook itu terpaksa dihidupkan lagi :).

Sejarah Facebook sendiri tak terlalu menarik. Mark Zuckerberg adalah seorang hacker yang barangkali tak termasuk ethical hacker. Mahasiswa Universitas Harvard ini konon sempat menuliskan pengalamannya dalam sebuah blog. Diawali sebuah kencan yang gagal, Mark menggunakan keterampilannya untuk membajak database-database mahasiswa di universitasnya. Pelbagai cara dilakukan, termasuk menerobos miskonfigurasi Apache, aplikasi web dengan scripting lemah, server dengan password yang jelek, dan sebagainya. Tujuannya untuk mengumpulkan foto2 mahasiswi Harvard. “A little wget magic is all that’s necessary to download the entire Kirkland facebook,” ujarnya. Foto2 mahasiswi itu dikumpulkannya dalam situs baru FaceMash.com, lalu ia buat sistem skor. Tentu skor fisik semata. Trafik site ini mendadak tinggi, dan menguras bandwidth universitasnya. Mark menjadi sadar: ada ruang yang terbuka luas untuk membuat jejaring sosial dengan foto2. Maka dibuatlah TheFaceBook.com. Dalam 1 minggu, 5000 orang telah mendaftar. Dalam 10 bulan, 1 juta anggota tercapai. Namanya diubah menjadi FaceBook.com. Dalam usia 6 tahun di awal 2010 ini, jumlah anggota mencapai 400 juta, dan diprediksi dapat mencapai 1 miliar akhir tahun ini.

Sejujurnya, FaceBook telah membuka peluang berkomunikasi dan berinteraksi secara lebih baik. Komunikasi dengan teman2, lalu dengan teman2 lama, dapat disusul dengan mengorganisasikan kegiatan positif, dari sekedar reuni hingga kegiatan sosial, termasuk meningkatkan kepedulian atas kemanusiaan dengan berbagai causes, dan bahkan mengumpulkan dana. Tentu bohong kalau ada yang menyebut bahwa dibebaskannya Prita, dan juga duet Pemimpin KPK Chandra dan Bibit, tidak berkaitan dengan desakan keras masyarakat menggunakan FaceBook. Dan Twitter :).

Namun jika di Twitter mulai dibentuk tim pemecah ombak untuk menceraiberaikan suara khalayak, maka FaceBook-pun mulai dituduh menjadi fasilitator berbagai tindakan kriminal, termasuk bullying, pencurian identitas, penipuan, penculikan, prostitusi, dan mungkin suatu hari juga kudeta. Dan, sialnya, aku mulai berfikir bahwa itu bukan tanpa alasan.

Seperti interaksi Internet lainnya, FaceBook membuka peluang komunikasi baru, dan mungkin juga menggantikan komunikasi bentuk lama. Internet membuat kita berkomunikasi lebih bebas dengan teman, guru, atasan, musuh, dll. Internet juga membebaskan kita2 yang sebelumnya sulit berkomunikasi wajar. Tetapi halangan berkomunikasi manusiawi yang wajar ini, yang seharusnya dapat diatasi, justru mungkin menjadi tak teratasi. FaceBook membentuk realitas baru. Seolah2. Padahal sesungguhnya dunia nyata mungkin belum banyak berubah. Maka FaceBook menjadi penipu: ia sekedar memberi ilusi bahwa kita memiliki realitas yang menarik, dengan komunikasi yang baik. Ini tentu terjadi pada aplikasi Internet lain, termasuk email, YM, Kaskus, dll. Namun di FaceBook, kita membuka seluruh diri kita: data vital (tanggal lahir, alamat), relasi kita (keluarga, teman, tempat sekolah, alumni, angkatan). Di luar sana masyarakat masih lapar, masih kejam, masih jahat; dan dengan kenaifan kita, kita memberi mereka kesempatan, terselubung ilusi kita. Ilusi bahwa kita aman — ada keluarga, teman, guru, dan masyarakat luas yang baik hati dan berkepedulian sosial di sana. Maka jika terjadi kejahatan yang terfasilitasi FaceBook, ya, memang FaceBook pun harus dinyatakan bersalah.

Menggunakan FaceBook, dan media sosial lainnya, memerlukan kedewasaan. Karena itu anak di bawah umur memang tak diperkenankan menggunakan fasilitas ini. Kecuali orang tuanya memang gagap teknologi dan benar2 tak paham apa itu media sosial. Kedewasaan membuat kita ingat bahwa kita adalah makhluk dengan berbagai keterbatasan. Akal sehat kita seringkali harus terkalahkan oleh sisi lain dari kemanusiaan kita (orang dewasa paham maksudku). Ini tak terhindarkan. Dan orang dewasa sadar: kita memerlukan kontrol. Tapi tentu saja kontrol bukan dari provider, dari negara, atau dari pihak yang (merasa) berwenang. Buat kaum2 muda, kontrol terbesar bukan dari orang tua, guru, hansip, dll, tetapi barangkali dari teman2. Maka kebiasaan sebelum FaceBook, untuk memiliki teman2 dekat, dan untuk saling terbuka dengan teman2 dekat, harus tetap dipelihara. Mereka bisa menjadi kontrol ampuh: memverifikasi pikiran kita saat kita benar atau saat kita salah, ikut menjaga diri kita saat kita mungkin menjadi korban kejahatan (atau lebih parah: ikut menjadi pelaku kejahatan).

Tapi mungkin juga akan lebih menarik untuk menggunakan FaceBook dan media sosial lainnya lebih sebagai media ide. Hmm, entah kenapa jadi ingat Pitra ya :). FaceBook, Twitter, blog, dll, lebih menarik untuk digunakan sebagai tempat mencurahkan ide, memversifikasi, mengkompetisikan, lalu mengkoordinasikan implementasi ide2 itu menjadi hal2 menarik. Menyebalkan membayangkan media sosial cuma dipakai untuk membuang sampah, curhat, memaki, dan menunjukkan kebodohan diri sendiri dengan cara2 semacam itu. Langit biru, cerah, indah. Dan mereka yang menggerutu pada mendung tebal hanya menunjukkan bahwa mereka tak punya kemampuan mendasar untuk memiliki pandangan yang menembus awan. Realitas dibentuk oleh pikiran kita, dan kecerdasan kita. Tak perlu selalu menyerah kepada kebodohan :).

Eh, btw, aku jadi punya judul baru neh: pengamat, haha. Pengamat sama pelaku sebenernya berbeda kan ya?

Tweeting

Blogger angkatan lama pasti kenal Ev William, salah satu pendiri Blogger.com. Saat Google membeli Blogger.com, Ev menjadi karyawan Google. Namun tak lama, ia mendirikan Odeo. Odeo berisi developer muda bergaya Silicon Valley: mereka bekerja di sembarang tempat, di sembarang waktu. Pemuda berkaus lusuh yang duduk di pojok warung menjelang tengah malam sambil memelototi gadgetnya itu mungkin juga karyawan Odeo yang sedang bekerja keras. Ini memang mendorong kreativitas, tetapi mulai menyulitkan komunikasi. Maka Odeo menciptakan aplikasi web sederhana yang memungkinkan para karyawannya menulis status mereka, progress mereka, secara singkat saja, agar mudah saling melacak. Konversasi personal dimungkinkan, tetapi tetap dapat dilacak dan ditimbrungi lainnya. Menariknya, aplikasi ini kemudian tak hanya digunakan pekerja Odeo, tetapi juga rekan-rekan mereka, dan akhirnya menjadi aplikasi publik. Lahirlah Twitter.

Twitter lahir dari prakarsa2 karyawan. Tapi ia membesar karena prakarsa2 user. Sebuah prosumerity. Dari tujuan semula untuk menulis status pribadi (“What are you doing?”), Twitter berkembang menjadi media konversasi publik. Kemudian media kompilasi ide. Tanda pagar (#) itu bukan berasal dari pencipta Twitter, tetapi dari user. Meme menular cepat melalui retweet (RT). Lalu terjadi penggalangan ide, dan gerakan. Banyak yang percaya bahwa rezim Indonesia pun beberapa kali harus mengubah langkah2 tak populer mereka atas desakan massa yang diperkuat melalui media Twitter. Twitter sendiri pun mengubah pertanyaannya menjadi “What’s happening?”

Twitter-SmallAku pernah diwawancarai oleh BBC khusus mengenai Twitter beberapa bulan lalu. Pun ternyata masih banyak yang bertanya: “Apa sebenarnya Twitter?” Dan ini bukan pertanyaan para pemula. Ini pertanyaan dari blogger senior dan developer sistem. Mereka masuk Twitter, mereka mencoba menulis satu dua hal menarik. Lalu merasa tak ada yang tertarik. Lalu tenggelam. Atau menjadi komunikasi yang gamang.

Tapi pertama bayangkan Twitter bukan sebagai microblog, dan bukan sebagai google. Ia adalah sistem komunikasi antar manusia yang bersifat unicast, multicast, atau broadcast (pada level ini, bukan level IP, haha). Apa yang pertama kali kita lakukan saat memasuki sebuah komunitas baru? Kita tidak akan membuat pernyataan yang tidak seorangpun yang mendengar. Tak juga kita akan menanyakan sesuatu yang tak seorangpun membaca. Pun takkan kita meneriakkan pendapat yang tidak dapat kita jelaskan dalam 140 karakter. (Wolfgang Pauli akan penasaran, kenapa angka ini begitu dekat dengan 137).

Tahap awal kita di Twitter sebaiknya digunakan mengikuti (follow) orang2 yang pas buat kita ajak bicara. Kita tidak mencari orang yang terkenal, atau orang yang paling ahli. Dan jangan mengikuti artis, selebriti, dll, yang kira2 tidak akan berguna dalam hidup kita. Lalu kita lakukan perbincangan. Sebagian dari mereka akan balik mengikuti kita, tanpa diminta (Oh ya: kalau kamu merasa kata2 kamu memang layak didengar, kamu takkan sekalipun minta difollow). Kita mulai memiliki ruang: kata2 kita mulai terdengar. Perbincangan kita dengan orang2 ini akan menarik orang2 lain bergabung, dan memperluas rentang pengaruh kita, menambah follower kita. Kita bebas memfollow balik mereka yang memfollow kita, tapi tak harus. Komunikasi harus efektif, dengan noise yang rendah, dan sampah seminimal mungkin (itu sebabnya mengikuti selebriti dll tak dianjurkan, jika itu tak berkait dengan dunia kita, kecuali jika mereka memang inspiring secara teks).

Komunikasi manusiawi bersifat kontekstual. Memang ada yang menyebut bahwa itu lemah. Tapi kita manusia, bukan komputer yang mudah disearch, dll. Komunikasi kontekstual itu manusiawi, sesuai cara otak kita mengelola simbol. Kita mulai mengenali rekan2 di Twitter: keahlian mereka, gaya komunikasi mereka, rasa humor mereka, komitmen dan konsistensi mereka. Pesan2 jadi efektif dalam 140 karakter, karena mereka bersifat amat kontekstual. Menanyakan sesuatu ke seseorang tak harus detail, karena kita saling tahu apa yang dikomunikasikan. Komunikasi serius dan becanda tak perlu ditandai, karena kita paham konteks komunikasi. Informasi tak harus memetakan fakta, karena kita paham level sindiran, pelesetan, ejekan, dalam komunikasi – dan dengan demikian justru dapat menangkap apa yang sedang disampaikan. Dengan demikian, pujian tekstual bukan berarti pujian kontekstual, dan makian tekstual justru mungkin merupakan simpati kontekstual.

Tentu banyak kritik mengenai cara berkomunikasi macam ini yang dibilang tidak logis. Tapi – percayalah, aku pakar komunikasi dan informatika loh – yang kita sebut logika pun tidak sesederhana IF THEN ELSE seperti yang dipahami kearifan selevel SMP. Object-oriented programmer pun paham bahwa message antar object mengikuti karakteristik class, dan ini 100% logis. Lalu aspect-oriented programming (logic), haha. Masalahnya, kita lupa bahwa knowledge merupakan object, kita juga object, dan diskursus kita juga object yang flexible. Message mengikuti interaksi kita.

[Di catatan sebelum blog, aku pernah bercerita tentang sebuah konsistensi. Suatu malam, sebelum mengerjakan tugas berat, aku bilang ke diri sendiri: (1) “Istirahatlah. Performansimu besok ditentukan oleh kondisi badan.” Besoknya, yang harus aku kerjakan memang berat. Hampir menembus batas. Tapi aku mendorong diri sendiri, (2) “Terus maju. Kondisi badan tak mempengaruhi performansi!” Dalam contoh ini, aku rasa kita bisa melihat bahwa kedua pernyataan tidak inkonsisten. Kita tahu bahwa (3) performansi didukung oleh banyak hal, dan kondisi badan menyumbang sekian persen. Message 1 lebih pas untuk memetakan message 3 ke dalam kondisi malam itu, dan message 2 adalah message 3 yang dipetakan ke kondisi siang itu. Message 3 yang sama. Tujuan yang sama (performansi maksimal). Tidak ada inkonsistensi. Yang ada hanya konteks waktu, konteks aksi, dan mapping. Begitulah juga kita memahami lalu lintas perbincangan di Twitter.]

OK. Jadi di Twitter kita membentuk lingkungan kita sendiri, tempat kita mulai saling bertanya, saling berbagi info (info internal maupun info dari jaringan2 lain di Twitter), dan saling berkolaborasi. Pada titik inilah Twitter jadi blok yang kuat untuk mendiskusikan, memfilter, mempertajam ide. Twitter jadi tools berupa mesin pencari cerdas dan kontekstual yang paham info yang kita butuhkan pada situasi terkini. Twitter jadi media penggalangan gagasan dan aksi. Twitter mampu mengecutkan nyali kepala polisi hingga presiden. Jaringan antar jaringan di Twitter bersifat kuat kokoh merekat, sekuat jaringan IP di bawahnya.

Catatan:

  • Entry blog ini ditulis tanpa support setetes kopi pun dari kemarin pagi
  • Twitter bukan Plurk. Jadi tidak ada kompetisi memperbanyak jumlah follower untuk mengejar karma dll. Tak ada yang peduli jumlah follower kita, atau berapa orang yang memasukkan kita ke dalam list.
  • Memang ada semacam panduan bahwa perbandingan jumlah following : follower sebaiknya 2 : 1. Atau bahkan 3 : 1. Tapi Twitter bukan soal angka. Yang lebih penting adalah kualitas komunikasi, kualitas follower dan followee (huh, ada ya kata semacam ini?).
  • Sejauh ini, satu2nya buku tentang Twitter yang layak dibaca adalah Twitterville dari Shel Israel (@shelisrael).
  • Account Twitterku adalah @kuncoro.

Fresh

Oh ya, selamat berkontemplasi Ramadhan :). Moga kembali ke jatidiri kita, moga lebih mampu menangkap cahaya-Nya, dan berani meneruskan hidup “absurd” ini tetap di jalan-Nya :).

Hari kerja terakhir sebelum Ramadhan, sekelompok pelaku, pecinta, dan pemerhati dotcom Indonesia berhimpun di kawasan Blok M. Tempat bernama Bakul Sekul, dengan menu khas Jawa, menjadi tuan rumah FRESH yang pertama. FRESH, konon dari kata Freedom of Sharing, atau barangkali kumpulan ide segar, memang pernah bersua dalam bentuk lain beberapa bulan lalu (Januari?). Waktu itu konon mau membentuk TED versi Indonesia. Tetapi melihat tipe2 peminatnya, akhirnya platform diskusi difokuskan ke urusan dotcom Indonesia.

Acara Jumat lalu dibuka oleh Catur Puji Waluyo, lengkap dengan sindiran dari Richter Scale tentang konsepsi Web 2.0. Pembicara tematis adalah Boy Avianto dan Andy Santoso, yang memaparkan plus minus online business (dengan nuansa yang berbeda). Kita diajak realistis dulu: membuka mata bahwa online business itu business, bukan sulapan; baru kemudian kita berbincang tentang peluang dan aspek lainnya.

Foto presentasi Avianto, oleh Satya Witoelar. Sst, ada 2 Mac di sana.

Kemudian giliran Grace Sai yang bercerita tentang proyek sosialnya: Books for Hope, yang berusaha meningkatkan literacy dan minat baca masyarakat dengan mendorong perpustakaan2 komunitas dan berbagi buku. Dan pada sesi berikutnya, Ilya Alexander Surapati (il y a Alexander sur Apati, haha) menyuruh kita untuk unplug sejenak. Beberapa suara yang turut meramaikan adalah Rahadian Agung, Armono Wibowo, dan Wicaksono a.k.a. Ndoro Kakung. Turut hadir juga Paman Tyo, Andry of Detik, Vishnu Mahmud. Dan sebagai panitia (selain yang sudah tersebut) a.l. Pitra Satvika dan Kukuh TW.

Acara selesai menjelang tengah malam. Trus aku diculik gerombolan Dagdigdug (selain Paman Tyo dan Ndoro Kakung, juga Pak Didi dan Pak Yusro) ke markasnya yang tak jauh dari situ. Sebentar saja. Kemudian acara malam ditutup dengan kunjungan singkat ke Kopdar Rutin BHI di … Bundaran HI.

Dan mengikuti titah Ilya, sekarang kita unplug.

%d bloggers like this: