Sebuah Sore di Bandung

Sore yang ganjil. Mendung menggelapi Bandung dari timur. Nggak membadai kayak kemarin. Hujan pun nggak. Tapi dari pagi mendung tak putus menyelimuti Bandung. Aku masih duduk di meja kerjaku. Kelelahan abis sesi panjang di Gegerkalong membahas penyusunan materi pelatihan untuk Sinergi Telkom dan Telkomsel, yang disusul menulis artikel singkat atas request Tanti. Masih ada beberapa assignment, a.l. untuk menyelesaikan materi Speedy untuk pelatihan minggu depan. Pikiran nggak jernih, entah kenapa. Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan ganjil. Justru sesuatu yang terasa akrab. Sesuatu yang terasa merupakan bagian dari diriku, sedang berusaha kembali. Aku nggak tahu dari mana datangnya. Dari sudut mana. Aku berhenti dulu menatap layar komputer ini. Aku mengalihkan perhatian ke majalah2 yang baru datang siang ini: sebiji Spectrum, sebiji Computer, sebiji IEEE Wireless. Sesuatu itu nggak menghilang, tapi juga nggak mewujud. Aku ingin mengabadikan waktu ini. Waktu yang tidak istimewa sama sekali. Juga pasti bukan waktu yang tercatat dalam sejarah mana pun. Tapi keistimewaan waktu bukanlah pada peristiwa. Setiap waktu itu unik. Setiap waktu itu tak berulang. Dan biarkan aku menikmati waktu ini.

Di luar mulai gelap. Adzan Maghrib sudah bergaung. Aku masih duduk di sini. Di dalam frame waktu ini. Bersenyum. Kepada Tuhanku. Memintanya untuk tidak berlaku sebagai tuhan tetapi sebagai sahabat.

%d bloggers like this: