Site koen.com udah aku pakai buat distribusi buku. Coba intip juga site Kaycee Nicole, seorang penderita leukemia yang masih mau optimis menghadapi hidup. Dan tahukah Anda bahwa sebentar lagi manusia bisa mengilang?.
Page 211 of 211
Rehat, baca Kalam, tentang tubuh-tubuh manusia. Goenawan Mohamad sedikit menyinggung Siegried. Cuman Siegfried digambarkan sebagai pahlawan yang kuat tak terkalahkan. Kalau aku amati, justru sebenarnya Siegfried menyimpan kerapuhan yang kuat di balik kekuatan yang ditampilkan. Bukan hanya kerapuhan dari manusia, tapi kerapuhan dari kekuatan yang disusupkan dewa, dan terutama justru kerapuhan para dewa itu sendiri.
Jadi berakhirlah tugas ngajar di Divlat Gegerkalong. Perlu disyukuri bahwa makhluk anti-sosial kayak gini bisa menjalankan tugas berkomunikasi di depan khayalak kayak gitu. Rasanya sih, kayak pingin pakai topeng Zorro terus-terusan. Cuman pasti nggak lucu kalau di depan kelas ada makhluk serba hitam yang terus-terusan nulis formula berhuruf Z. Panggilannya Koen-Zorro pula.
Lagipula, barangkali aku lebih mirip The Stupenduous Man daripada Zorro. Aku lebih suka ngebayangin ngabur terbang, daripada bersiul manggil kuda. Rada susah ngebayangin ngebut dengan kuda di keriuhan Bandung.
Yang juga kurang menarik adalah bahwa Zorro dituntut untuk selalu menyelesaikan masalah. Koen-Bohemian tidak akan setuju untuk memecahkan masalah lebih dari porsi yang dianjurkan, karena dia lebih suka membayangkan keteraturan kadar masalah tertentu untuk sistem hidup tertentu — alasan yang memungkinkan aku untuk tetap bisa tenang di tengah keriuhan yang memang tidak lagi sederhana. Tapi apakah masalah jadi terselesaikan?
Masalahnya: apakah dunia jadi lebih baik kalau tidak ada lagi masalah ? Stupenduous Man kayaknya lebih tahu jawabannya. Setidaknya macannya merasa tahu soal-soal kayak gitu *h?h?*.
Seandainya Mereka Bisa Bicara … dan begitulah aku ketemu lagi dengan si James Herriot. Udah lusuh sekali, my poor old pal. Coba, apa aku masih membacanya dengan kacamata yang sama dengan tahun-tahun dulu. Kayaknya sih nggak.
Kadang, kalau aku lagi naif, emang rasanya ingin ikut jadi hero yang memperbaiki dunia ini. Siegfried style. Tapi terus ada waktunya aku menganut Tristan style yang membiarkan semuanya mengambang, memandang hidup secara ironik, dan hanya bermain di hal-hal yang menarik. Dan kalau semuanya udah kembali jernih *voila* jadilah aku si Koen yang jernih, pingin ramah tapi rada susah berkomunikasi, pingin mengoptimalkan potensi tapi suka nggak pe-de, dan terutama … selalu optimis. That’s James style!
Lucunya, karakter Siegfried dan Tristan di Skeldale ini bisa aku pas-pasin dengan karakter yang sama di opera Wagner. Tapi kalau di opera Wagner, siapa tokoh yang bisa mewakili karakter James Herriot?
Barangkali dengan ini kita bisa menyusun hipotesis bahwa pada saat kita memberi terlalu banyak nilai untuk kehidupan *haha*, pada saat itu justru hilanglah nilai dari kehidupan itu. Sekilas kesannya memang anti-humanisme. Tapi dalam frame yang juga mengakui keabadian, sebenernya ini lebih tepat dinamai super-humanisme. Tentu, kata super di sini tidak berkaitan (atau justru bertentangan) dengan istilah Nietzsche.
