Lagi stress semalam, nggak bisa bobo, terus iseng pasang TV. Channel 10 kayaknya menarik. Action. Cuk Norris jadi pahlawan, ngebunuhin teroris. Terorisnya kejam tanpa perikemanusiaan, suka baca takbir, tampak jarang mandi, selalu mengumandangkan adzan, dan selalu pingin bunuh orang kristen. Dan pembela Cuk Norris hanyalah intel dari Israel yang pintar dan bersahabat, serta pendeta yang baik hati tapi akhirnya dilempar teroris dari atas gedung. Asyik juga. Kenapa yah, terorisnya nggak sekalian pakai pakaian ihram, terus sanderanya dibawa ke ka’bah, terus Cuk Norris nyerbu ka’bah pakai kalung salib gede dan bawa bible, terus ka’bah dihancurkan sekalian. Kalau mau propaganda mestinya jangan setengah-setengah.
Banyak orang-orang yang berjuang keras mewujudkan perdamaian di muka bumi, tapi ada segelombolan orang yang cari uang dengan membuang lendir busuk di mana-mana.
Page 162 of 180
Masih pingin cerita cahaya. Setelah kejayaan Maxwell, Planck menemukan bahwa cahaya hanya bisa dipancarkan dan diserap oleh materi dalam ukuran-ukuran konstan, yang dinamai kuantum. Ini di tahun 1900. Tapi nggak lebih dari itu, dia nggak pernah membayangkan bahwa cahaya memang cuma ada dalam ukuran konstan kuantum itu. Itu baru dijelaskan Einstein di tahun 1905. Tapi siapa yang percaya? Einstein sendiri bilang, teorinya itu benar walaupun melawan kenyataan bahwa cahaya itu gelombang. Jadi waktu itu orang cuma berpikir: cahaya itu gelombang, atau partikel? Planck sendiri tidak pernah mengakui mekanika kuantum (sampai meninggal di tahun 1947). Juga Einstein, menolak banyak hal dalam mekanika kuantum. Bahkan sampai tahun 1920-an, sebagian besar ilmuwan menganggap teori kuantum hanyalah model matematika (mirip dengan konsep ‘medan’), bukan realita. Istilah ‘foton’ baru diperkenalkan paruh akhir 1920-an, setelah Bose mengajukan landasan matematika yang kuat untuk teori kuantum.
Aku tak inginkan telinga zaman sekarang
Aku suara penyair dunia yang akan datang
Zamanku tak paham kedalaman makna sajakku
Yusufku tak mau dijual di pasar ini
………………
Thursinaku menyala bagi Musa yang akan datang
Laut mereka tenang tak beriak, bagai embun
Tapi embunku gelisah seperti angin bertopan
Di jaman Newton, cahaya adalah partikel. Di jaman kuantum, cahaya juga jadi partikel. Tapi antara kedua jaman itu, cahaya adalah gelombang. Kali ini tokohnya James Clerk Maxwell, ilmuwan teoretis terbesar abad 19.

Berbeda dengan Faraday, Maxwell sangat canggih di bidang matematika. Semua mainan Faraday di bidang listrik dan magnet diformulasikan ke dalam teori Maxwell, yang langsung membuktikan bahwa keduanya adalah satu macam gaya elektromagnetika, yang bisa bertransmisi dalam bentuk gelombang elektromagnetika, yang tidak lain adalah cahaya. Penemuan hebat sekali masa itu. Spektrumnya diperluas mencakup gelombang panas (infra merah). Waktu spektrumnya diperluas lagi, Hertz jadi penemu transmisi radio, dan Roentgen jadi penemu sinar X.
Maxwell juga kemudian bermain-main dengan optika. Spektrum cahaya dianalisis, dan dia menemukan bahwa kita bisa mereproduksi gambar berwarna dari gambar hitam putih. Pemisahan spektrum red-green-blue juga dilakukan pertama kali oleh Maxwell. Tapi ceritanya rada lucu. Di depan Royal Society, Maxwell membawa tiga plat, satu peka merah, satu peka hijau, dan satu peka biru, yang diproses dari pengambilan gambar. Kalau dilihat, ketiganya cuman jadi gambar abu-abu. Tapi begitu disinari terpisah dengan merah, hijau, dan biru, dan hasilnya disatukan, maka terciptalah reproduksi berwarna. Tepuk tangan pun membahana.
Bertahun-tahun kemudian, orang baru sadar bahwa plat peka merah yang dipakai Maxwell ternyata tidak peka pada warna merah. Lho. Jadi penemuan Maxwell tidak bisa dicontoh orang. Nah, kok Maxwell bisa? Ternyata Maxwell beruntung, karena membuat kekeliruan ganda. Kekeliruan kedua adalah bahwa plat yang dia pakai ternyata peka pada sinar ultraviolet (yang tidak tampak oleh mata). Lucunya, hasilnya ternyata alami, biarpun ultraviolet jauh bener dengan merah.
Foto berwarna baru bisa benar-benar diproduksi tahun 1960-an, satu abad setelah Maxwell.
`Eid Mubarak, Ilyas, Idin, Khaldoun. Without you, there’s no `Eid today :).
Bagaimana sih waktu dan urutan peristiwa yang kita alami ini ditata?
Sabtu pagi, Mas Kamto menggagas gimana kalau posisi bumi digeser. Aku menolak gagasan itu, soalnya bumi udah disetel pada posisi yang sangat tepat untuk memungkinkan makhluk tingkat tinggi seperti manusia bisa hidup. Pergeseran sedikit pun bakal sangat mengacaukan iklim bumi yang akan merusak ekosistem secara luas. Biar lebih ekstrim, aku mengulang cerita aku di Isnet tahun 1997 (dari Jacques Laskar di Science&Vie tahun 1993), bahwa seandainya pun yang digeser itu bulan, bumi tidak akan bertahan, karena keseimbangan sumbu bumi (artinya kestabilan iklim) sangat tergantung pada posisi bulan.
Minggu malam, tumben aku nonton TV. Dan ajaib, Jacques Laskar nampak di BBC-2, bermain gasing untuk menunjukkan kestabilan sumbu bumi yang bisa rentan. Dan kemudian diilustrasikan bagaimana bulan dalam massa dan posisinya yang tepat, menjaga kestabilan sumbu bumi pada sekitar 66 (?) derajat itu.
Kayaknya kisah hidup kita emang suka kayak gitu. Inget kisah “Chaos” tahun 2000, sama kisah “Installable Device Driver” tahun 1992. Persis kayak gitu.
Michael Faraday, ilmuwan eksperimental terbesar abad 19, menggantikan posisi Sir Humprey Davy di Royal Institute. Dia terus menerus bereksperimen dengan gejala-gejala fisika dan kimia, dan temuannya mewarnai abad-19. Yang paling penting, antara lain, adalah konsep garis gaya. Misalnya gravitasi.

Gaya tarik menarik antara dua benda bukan terjadi karena setiap benda melakukan pengukuran jarak pada benda lain sekaligus massa benda itu, kemudian melakukan perhitungan dengan kalkulator internal untuk melakukan tarikan. Faraday membuat konsep tentang garis gaya kontinu yang menyebar dari massa (atau muatan listrik dan magnet), dan benda lain akan terpengaruh oleh garis gaya itu.
Faraday juga memperkenalkan istilah medan. Konsep-konsep yang asing, dan akhirnya jadi masuk akal, biarpun di abad 20 ini dimentahkan lagi oleh teori kuantum. Yang sangat penting adalah bahwa perubahan medan elektrik membangkitkan medan magnet, dan perubahan medan magnet membangkitkan listrik. Faraday jadi penemu generator dan motor listrik sekaligus. Terakhir, Faraday juga curiga bahwa cahaya barangkali adalah gelombang, yang dibangkitkan dari interaksi elektrik dan magnet. Di luar soal itu, dia juga menemukan benzene dan elektrolisis.
Atas intelektualitasnya, kerajaan mau menganugerahi gelar Sir, dan mengangkat jadi presiden Royal Society. Tapi Faraday menolak keduanya.
Kebeneran satu tahun ini aku lekat sekali sama nama Faraday. Ilmuwan yang bener-bener menolak aristokrasi.
Proyek-proyek ini diselesaikan bersamaan hari ini: JPEG simulation using DCT and Huffman Code, Error correcting using Trellis graph, Treatise on Trellis and Turbo Code, Signal Processing with 2B1Q, QAM, and Digital Filter, Double-Strategy Traffic Analysis, Treatise on ATM and IP Performance.

Minggu depan urusannya soal marketing dan financial. Untuk pertama kali aku beneran baca income and balance sheets (biasanya sih skip aja), dan harus bikin analisis. Lecturenya, Ian Bannister, seorang fanatik pada finance dan akuntansi, tapi joke-nya lucu-lucu sarkastik gitu. Aku mau ambil perbandingan kasus France Telecom dan Deutsche Telekom.
Udah Maret. Kapan ya Desember :). Aku udah optimis ngeliatin bunga-bunga mulai tumbuh. Mudah-mudahan waktu berlalu cepat sekali tahun ini. Tapi salju malah turun lagi, dan jalan-jalan berlapis es lagi. Musim ini kayaknya nggak mau berakhir. Dan negara ini kayaknya tambah asing aja.
BBC mempertontonkan wajah Indonesia: badan-badan tanpa kepala, dan di belakangnya orang-orang lagi ketawa riang sambil angkat pedang. Itu hal biasa di Indonesia. Aparat pun nggak ada yang bergerak. Jelas bukan kendala lapangan, soalnya BBC aja bisa masuk kok. Pembunukan macam gitu memang hal lumrah di Indonesia dan direstui oleh siapa pun termasuk oleh presiden Wahid, wapres Mega, dan ketua MPR Amien Rais.
Manusia Indonesia betul-betul lagi kehilangan harga. Setiap saat boleh dibunuh, dipotong-potong, dicincang dengan sia-sia. Kalaupun hidup juga sia-sia, paling cuma bisa ketawa asik di depan mayat saudaranya, sambil angkat-angkat pedang.
Temen-temen pada menggugat kemanusiaan orang Indonesia. Aku harus jawab apa? Aku bukan tukang bual. Mereka udah lihat bukti-bukti tentang kemanusiaan ala Indonesia.
