


Bener juga yang ditulis orang dari O’Reilly tahun lalu: jangan menahan nafas sambil menunggu O’Reilly menerbitkan buku baru tentang C++. Buku C++ in a Nutshell baru dijadwalkan terbit awal 2003 (dan berdasar pengalaman dengan Ruby, ini artinya pertenganan 2003). Penulisnya Ray Lischner.
Lischner menempatkan manuscript bakal buku itu di http://www.tempest-sw.com/cpp/ untuk direview para pejuang dan eksponen C++.
Al-Ghazali dalam bukunya Munqidz min al-Dhalâl, menulis: Ada empat
macam pencari kebenaran: (i) para theolog yang mengaku sebagai perintis
pemikiran dan spekulasi intelektual (ii) kaum rohaniwan yang mengaku
memegang autorisasi melalui para imam maksum (iii) para filosof yang mengaku
menjunjung logika dan pembuktian, serta (iv) kaum sufi dan mistikus yang
mengaku satu-satunya yang menerima kehadiran Tuhan dan mempunyai penglihatan
intuitif.
Tentu, tidak seperti kaum ilmuwan masa kini yang melakukan kategorisasi
dan berhenti di sana, Al-Ghazali menyatakan bahwa keempatnya tidak mesti saling
eksklusif. Banyak manusia-manusia yang melakukan beberapa pendekatan sekaligus
(di samping banyak yang tidak melakukan pendekatan sama sekali).
Jadi kenapa harus heran dengan manusia yang menerima kehadiran Tuhannya dalam
hidup real sehari-hari, tapi suka berasyik-asyik dengan soal-soal filsafat,
logika, dan dan kesemestaan?
What is the self? Barangkali semuanya harus dimulai dari situ, dari waktu si West berumur 6 tahun, dan baru tahu hari ulang tahunnya, dan mulai terganggu oleh pikiran kenapa aku jadi istimewa.
Aku bukan megaloman, tentu, never. Aku cuma heran, kenapa aku bisa merasakan jadi West, tapi nggak merasakan jadi manusia lain. Maksudku, kan si West itu cuma satu dari jutaan manusia, miliaran malahan (tapi aku tahu miliaran ini sekian tahun kemudian). Kenapa aku harus bisa merasakan perasaan, pikiran, dan pandangan si West. Punya sorotan dari kepala si West. Kenapa si kesadaran ini harus ada dan harus di sini dan masuk ke sini?
Ini bener-bener mengganggu dan bahkan suka bikin aku melamun di sekolah. Mengganggu sekali. Barangkali mulai tak terlalu mengganggu waktu aku sudah tersesat di SMA.
Tapi banyak cerita yang sebenernya pemikiran awalnya berasal dari pertanyaan yang bahkan sampai sekarang masih terasa ajaib itu.
Membahas e-Government lagi dengan pemkot Sukabumi. Tapi beda dengan kota-kota lain yang lebih dulu mematangkan konsep, Sukabumi bakal mulai dari hal-hal teknis yang konkret dan tidak terlalu besar. Seperti biasa, tim kita menempatkan diri sebagai konsultan (free of charge, dengan misi bisnis untuk meningkatkan IT-awareness masyarakat).
OK, aku nggak akan sering-sering memakai “catatan lepas” ini sebagai “catatan harian”. Lagipula udara Sukabumi lagi cerah dan segar. Sayang kalau dipakai buat mikirin pekerjaan terus menerus.
Tujuan berikut adalah Cheribon.
Dingin malam ini. Melintas Bandung dan menyeberangi sawah luas di Cisaranten. Angin lembut tapi menggigit. Kelelahan terasa di semua otot dan sendi. Aku bener-bener nyaris nggak pernah olah raga lagi, kayaknya, selain memaksakan diri lari di tangga di sebelah lift, dan angkat-angkat komputer.
Bulan tiga per empat putih kemerahan dengan cercah-cercah garis ajaib menghiasi langit.
Terima kasih atas senyum-Mu, Ya Allâh.

Di basement 2 di Gedung Japati, aku baru sadar bahwa opera Wagner semacam Der Ring (termasuk Die Walküre) yang serba tepat itu pasti menuntut kerja ekstra keras dari para pemainnya, khususnya para pengiring musiknya (Hey, what did I think!). Wagner si Mr Promethean yang suka hal-hal besar itu, pasti menyiksa para pemain untuk memainkan instrumen yang lengkap dengan keteraturan ekstra tinggi.
Kesadaran yang datang rada terlambat, datang di basement ini waktu aku kesusahan mukulin bonang penerus buat pengiring opera (a.k.a. ketoprak) Ande-Ande Lumut. Adegan kijang yang riang, adegan harimau yang mendebarkan, pertarungan antara pemburu dengan harimau, adegan kehilangan, dan diikuti warta berita. Pemain berlompatan dari slendro ke pelog, dengan kecepatan dan kekuatan yang terus bervariasi.
Kenapa aku nggak memilih jadi penonton aja?
Hampir beli sebiji buku C, beberapa buku C++, dan sebiji C# (yang terakhir ini discount-nya cuma 30%). Yang buku C cuma mau dipakai buat reminder, dalam arti reminder buat sintaks C, kalau aku mendadak amnesia (atau barangkali insomnia, aku lupa bedanya). Plus juga reminder dalam arti menyusun tonggak cerita tentang C. I was born to code in C. Tapi memang hidup nggak boleh dibatasi dengan kekonyolan macam itu. Buku C limited edition hard cover dari Kernighan-Ritchie berharga 50% itu menghilang tepat sebelum aku submit ordernya. Tinggal yang soft cover tanpa discount. Lain kali aja ah.
Bolak-balik jalan-jalan ke toko-toko amazon.[com|co.uk|fr|de]. Dengan level stress yang mirip bulan-bulan yang sama di tahun lalu, yang membawa aku keliling toko-toko buku Waterstone’s. (Aku juga mulai stress ngeliat gaya aku berbahasa aneh gini).
Hey, di amazon.co.uk lagi ada discount gede untuk buku-buku C++ dari Addison Wesley. 50%!

Aku lebih suka pakai logika aku sendiri, yang berdasar atas ketidaksukaanku pada kategori.
Ambil contoh untuk kasus T dan F. Salah satunya, kalau dalam tes kita masuk golongan T, itu artinya T kita lebih tinggi dari F kita, dan sama sekali tidak berarti bahwa F kita rendah (atau bahkan tidak berarti bahwa T kita tinggi). Orang yang masuk golongan T bisa memiliki T tinggi dan F tinggi tapi T>F. Orang yang masuk golongan T bisa memiliki F yang lebih tinggi dari orang lain yang ada di golongan F. Jadi para insinyur, kelompok INTP, bisa jadi pedagang yang baik, teman yang hangat, serta empatik.
Dilbert, biarpun sering teramati dalam kehidupan nyata, tetap lebih baik dipandang sebagai humor yang nyata. Kehidupan kita jauh lebih berwarna-warni ketimbang kartun Dilbert yang cuma berwarna di hari Minggu.
© 2026 Kuncoro++
Theme by Anders Noren — Up ↑