Page 105 of 180

81504381

Tantangan sih tantangan. Tapi soalnya kita suka mengaku sibuk, dan
cenderung mengabaikan request-request berbagu e-diot. Jadinya … kali
kita membiarkan orang larut dalam e-diocrachy.

Gimana sih caranya mentransformasikan gagasan, kalau belum-belum
udah kesal membayangkan tubrukan diskursus yang bakal disikapi
dengan kekanakan lagi. Kali tantangannya dipindahin aja ke sini.
Bentuknya adalah: pengorganisasian gagasan-gagasan ke dalam bentuk
yang dapat diakses dengan mudah.

Iya juga. Kenapa aku malah suka melupakan langkah kayak gitu. Di
hari-hari kemaren, langkah-langkah kayak gitu banyak membantu
dalam membentuk gagasan baru lagi, dan pemecahan baru lagi.

Elsa’s Dream dari Wagner mengiringi aliran teks malam ini.

81504377

Kasus QSAR (dan segera menyusul: ProBest, Larasindo, etc), kasus
Batutulis, kasus pengelolaan soal Nunukan, kasus terpilihnya
kembali Sutiyoso (atau bahkan terpilihnya orang yang memilih dia),
menunjukkan bahwa memang republik ini penuh dengan kaum e-diot
(a.k.a. inDUHvidual).

Kaum e-diot, tidak seperti kaum idiot lama, tidak cuman bisa
hah-huh-hoh, tapi bisa bercuap-cuap lancar dan saling mentransaksikan
e-diocrachy. Di forum-forum cyberspace, mereka juga banyak mengisi
ruang, dengan logika sekedar IF-THEN-ELSE plus ekstrapolasi di luar
konteks.

Aku harus bilang apa? Hidup tanpa tantangan itu bukan kehidupan.

81459288

Sharing juga dilakukan dengan Dimitri Mahayana, legenda Smanti yang udah jadi legenda entah di mana aja. Tapi luapan dulu soal legenda, hal-hal yang disampaikan hari ini juga sesuatu yang berharga, bukan sekedar basa-basi.

Tapi kayaknya aku tulis lain kali aja. Perlu istirahat agak panjang malam ini.

Diiringi Simfoni ke-10 dari Dmitri Shostakovich.

81459252

Hari yang berharga. Sharing vision dengan Ida IDG Raka, salah satu tokoh yang pernah melakukan transformasi budaya di Telkom, dan diakui cukup berhasil (walaupun dalam skala tertentu keberhasilan itu banyak dianulir pimpinan Telkom masa setelah Cacuk).

Gde Raka mengingatkan kembali hal yang mulai terlupakan di Telkom, yaitu bahwa organisasi adalah komunitas manusia (bukan sumberdaya manusia) yang saling berinteraksi mewujudkan visi dan cita-cita bersama; dan dengan demikian kemanusiaan, kepemimpinan kemanusiaan, hubungan kemanusiaan, dan nilai-nilai kemanusiaan (awareness, kemaknaan) nilainya melebihi kompetensi, dan seharusnya jadi modal yang kuat untuk mengembalikan lagi kepribadian Telkom.

Aku kayak diingatkan kembali, kenapa aku nekat balik ke Telkom …

81379427

“Kalau tuhan maha kuasa, bisakah tuhan menciptakan benda yang sangat berat
sampai tuhan pun tidak sanggup mengangkatnya?” gitu tulis salah satu pengunjung
site ini. Aku nggak bisa ngebayangin, baca tulisan aku yang mana dia sampai
terus inget teka teki Yunani purba ini.

Zaman Yunani purba, memang tuhan dipahami sebagai makhluk mirip manusia tapi
maha kuasa, maha tahu, dan maha lain-lain. Tapi kata ‘maha’ diterjemahkan
dalam arti kuantitas. Itulah sebabnya hikayat tuhan-tuhan Eropa dan bangsa
Indo-Arya suka jadi paradox, kayak Zeus-nya Yunani yang kerjaannya salah melulu,
atau Wotan-nya Nordik yang salah tingkah melulu.

Zaman kini, umumnya disepakati bahwa diskursus dalam memperbincangkan Tuhan
(which is Allâh) tidaklah sama dengan manusia. Kemahatahuan Allâh
tidak bisa dibandingkan dengan pengetahuan (atau penglihatan, kekuatan,
kebenaran) manusia. Keabadian ruh manusia di akhirat tidak bisa dibandingkan
keabadian Allâh. Pun diakui bahwa perbincangan atas Allâh selalu
hanya tentang pemetaan sifat Allâh ke dalam diskurus manusia yang tentu
loss-nya banyak, dan selisihnya juga banyak antar manusia :).

Zaman kini, konsep tentang benda dan tentang berat juga berbeda dengan zaman
Yunani purba. Segala materi-energi dan dimensi itu konsepsi matematis yang
karena ketepatannya maka mewujud secara fisika. Dan memasukkan Allâh
yang nyata ke dalam cerita kefanaan konsepsi matematis itu tentu kembali
di luar konteks.

Google Indosat

Coba tuh contoh kompetitor utama Telkom, Indosat. Cari kata ‘indosat’ di images.google.com, dan hasilnya … dua gambar calling card Indosat punya aku di pilihan nomor satu dan dua. Sama parahnya.

Google Telkom

Cari kata ‘telkom’ di images.google.com, dan hasilnya … dua gambar aku di baris paling atas, pilihan nomor tiga dan empat.

Kayaknya Telkom Indonesia memang nggak berusaha agar site-nya lebih visible. Ugh, lebih invisible dan lebih untouchable itu lebih keren kali ya. Merasa menara gading, kasihan.

81298001

Pada peristiwa malapetaka kecerobohan nuklir, yaitu di Three Mile Island (duh,
pasti kita lebih ingat Chernobyl, dasar propaganda Amerika), jumlah penderita
kanker dalam tiga tahun sangat melebihi prakiraan.

Entah benar entah cuma berkelit, si kortisol dijadikan alasan. Penduduk di sekitar
diperkirakan terlalu tegang dan khawatir, sehingga kekebalan tubuh turun, dan
mudah menderita kanker, biarpun nggak kena radiasi. Gitu kata peneliti di
Three Mile Island, kalau mau percaya.

Soeharto juga, setelah jatuh dan terhina, jadi sakit melulu. Entah peran kortisol,
entar cuma berkelit.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑