Author: Kuncoro Wastuwibowo (Page 51 of 88)

Absurd dan Sinting

Baca catatan tadi malam, suka merasa ajaib juga: kenapa sih aku selalu memaksa menyatakan bahwa hidup itu absurd?

Semesta itu fana, dibentuk dari proses fisika biasa, menghasilkan dunia fana yang berjalan dengan proses fisika biasa. Allah maha pencipta, tetapi mengajarkan manusia untuk hidup dengan mengenali dan mengikuti proses. Malam dan siang diciptakan bukan dengan membuat gelap dan terang, tetapi dengan merakit bumi yang bulat dan berputar dekat matahari pada jarak yang tepat. Makhluk hidup yang beraneka diciptakan dengan mekanisme evolusi genetika yang sepenuhnya matematis semata. Kepribadian dan kemasyarakatan disusun dengan meme yang juga hanya replikator yang menggandakan diri secara matematis, tak beda dengan gen. Aku lebih mempercayai para ilmuwan sinting daripada manusia yang mengandalkan kepercayaan buta semata.

Tapi hidup jadi nggak absurd karena hidup adalah ciptaan. Ada Kasih Sayang Agung yang tersenyum di belakang semua proses ajaib itu. Dan betapa keras pun para ilmuwan sinting itu meyakinkan bahwa Kasih Sayang Agung itu tidak ada; aku tidak akan mengkhianati mata dan hatiku yang selalu melihat-Nya setiap saat. (Dan itu menjelaskan kenapa mereka aku namai ilmuwan sinting). Ah, visi juga bagian dari meme, mereka bilang. Tapi apa yang salah? Visi bukan jatuh dari langit, tetapi dibentuk juga dengan proses. Dengan meme, apa salahnya. Hatiku tetap melihat Senyum Yang Agung itu.

Dan keabsurdan jadi keindahan.

Bukan berarti kita bisa selalu ceria. Tetep aja kepala suka pusing. Hati suka resah, menggapai jiwa yang terus mengembara. Memang absurd.

Hidup Itu

Salah satu yang paling menarik kalau lagi membahas hidup, tentulah, Mite Sisifus (The Myth of Sisyphus), yang pernah dikaji oleh Camus. Barangkali pernah aku tulis juga. Males recheck ah.

Sisifus, seperti juga kita, dikutuk para dewa. Dia hidup dengan terus menerus mendorong batu besar ke puncak sebuah gunung, lalu membiarkan batu besar itu menggelinding ke lembah yang dalam, untuk kemudian harus didorongnya lagi ke puncak gunung, terus menerus, tanpa mengenal lelah, dan barangkali juga tanpa bisa mati. Hidup yang absurd, seperti juga kita, di mana kita tak bisa berlepas dari takdir yang mengikat dan memasung keceriaan kemanusiaan kita.

Tapi dalam keabsurdan, kita masih manusia, yang punya kemampuan kemanusiaan untuk mengatasi. Dalam keabsurdan, kepribadian kita tidak harus jatuh. Dalam keabsurdan, kecerdasan kita mengenali nilai-nilai, membentuk hikmah, dan akhirnya mengakui betapa berartinya, betapa indahnya, dan betapa berharganya hidup.

Aku ogah cerita terlalu banyak tentang Sisifus. Edisi Bahasa Indonesianya udah terbit sekitar lima tahun yang lalu, atau mungkin lebih. Tapi Camus menyatakan bahwa kita harus menyimpulkan bahwa Sisifus bisa berbahagia.

Dan kenapa harus menggantungkan diri pada kausalitas absurd dalam semesta fana ini untuk memutuskan untuk menjadi manusia yang bernilai dan berbahagia?

Hotel Tugu

Restoran di tengah hotel itu bersuasana tenang. Hawa sejuk Malang memberikan ketenangan dan kesegaran. Tapi … tchuttttt … sesosok makhluk kecil tampak melesat. Hey … tupai lagi! Tupai! Belasan tahun tinggal di Malang dulu, aku belum pernah lihat tupai di alam bebas di Malang. Si tupai melesat ke puncak pohon kelapa di tepi kolam renang. Menambah satu lagi keajaiban di tempat ini.

“Harta karun tersembunyi di Indonesia,” begitu review dunia internasional atas tempat penginapan unik ini: Hotel Tugu Malang. Nggak care sama urusan bintang, tapi membentuk diri sebagai boutique hotel. Nggak care sama kemegahan di luar, tapi menggeber segala bentuk artistika di setiap sudut di ruangan. Setiap ruang pun jadi memiliki keunikan. Kita bisa berwisata bahkan tanpa keluar dari hotel. Konon memang pemilik merangkap pendirinya merupakan kolektor seni yang nggak main-main.

Tapi hotel ajaib ini bukan cuma mengandalkan koleksi artefak budaya. Kalau kita sering keliling hotel di Indonesia, terasa ada yang unik dalam layanan yang kita rasakan.

Pertama, kita dikenal sebagai nama. Dari hari pertama pun, para crew memanggilku bukan cuman “Pak” tapi “Pak Kuncoro” — seolah aku udah beberapa hari atau beberapa minggu di sana.

Kedua, mereka nggak memaksa menunjukkan KTP. Cukup kartu nama. Yang dibutuhkan kan cuman cara pengejaan nama yang benar. Plus alamat, nomor telepon, semacam itu. Aku suka risi kalau orang lihat-lihat KTP-ku. Kenapa orang harus tahu data macam tanggal lahir, agama, dll? Ini bukan rumah sakit atau asuransi :). So, cuman kartu nama. Nggak lebih. Nggak juga kewajiban mengisi form, kayak di film Mr Bean :).

Ketiga, semua peralatan berfungsi. Hey, ini Indonesia. Bahwa semua peralatan berfungsi itu udah jadi keistimewaan yang langka. Nggak ada yang nggak jalan di kamar mandi. AC diset dengan baik dan nggak berisik. TV, fridge, sampai telepon. Mini bar tidak dikenai harga yang gila-gilaan. Harganya normal sekali. Ini juga keajaiban.

Dan coba titipkan kamar untuk keluar sebentar. Waktu kita kembali, kamar dan tempat tidur kita sudah akan tertata rapi. Baju yang nggak sengaja kita geletakkan di kursi pun jadi terlipat rapi. Khusus buat malam hari, selain kamar dan tempat tidur jadi rapi, juga ada pesan selamat tidur di atas selimut.

Dan semuanya dalam kewajaran yang sederhana. Tidak ada yang nampak berlebihan atau dibuat-buat. Kita bisa jadi diri kita sehari-hari. Nyaman, senyaman jadi diri sendiri :).

Trus aku jadi nanya sama salah seorang crew: “Itu tupainya memang dipelihara ya Mas?”
“Tupai yang mana?”
“Itu, yang kadang kelihatan dari restoran. Suka lompat ke pohon-pohon.”
“Oh. Di depan kan banyak pohon besar. Kayaknya tupainya dari sana.”
Bahkan tupainya pun nggak dibuat-buat.

TAP dan ISOCID [1]

Date: Sat, 23 Jul 2005 15:35:43 +0700
De: Teddy A Purwadhi
Objet: [members-isoc-id] Iuran Keanggotaan ISOC

Rekan,
Sekarang minta komentar dari yang sudah terdaftar di milis ini.

Katagori keanggotaan:

Description# Amount#Effective#Web Enabled:
1: Registered Members # US$75/person/Y#M/D/Y#Y/N
2: Verified Members # US$?/person/Y#M/D/Y/#Y/N
3: Student Members # US$?/person/Y#M/D/Y/#/Y/N
4: Professional Members # US$?/person/Y#M/D/Y#/Y/N
5: Senior Members # US$?/person/Y#M/D/Y#Y/N

Sementara itu dulu, dikasih waktu sampai 31 Juli 2005, ChapAdmin berhak menolak anggota yang tidak memenuhi syarat.

TAP dan ISOCID [2]

Subject: [ISOC-ID] Laporan Meeting di Gedung Cyber
From: Irwan Effendi Sat, Jul 23, 2005 at 12:10 AM

Hari ini, Jumat jam 10:30 pagi, saya menghadiri rapat informal di Gedung Cyber lt. 7, tepatnya lokasi kantor IDC dan ccTLD.

Pembicaraan berkisar tentang bagaimana eks chairman kita, Teddy A P telah memanipulasi publik mengenai sejarah berdirinya ccTLD, yakni dengan mengatakan bahwa rekan Budi Rahardjo diberikan mandat oleh IANA atas rekomendasi APJII, padahal yang dimintai rekomendasi oleh IANA pada saat itu adalah bapak Joseph Luhukay dan bapak Sanjaya dalam kapasitas mereka sebagai pribadi yang pionir kegiatan internet di Indonesia, bukan dalam kapasitas sebagai anggota APJII.

Bagi rekan-rekan yang tidak mengetahui sejarah internet Indonesia, bapak Joseph Luhukay yang sekarang adalah eksekutif Lippo, adalah orang Indonesia pertama yang mengikuti konferensi di internet (silahkan di google untuk detailnya), sedangkan Sanjaya adalah orang yang dikenal aktif di APNIC di awal masuknya internet di Indonesia. ccTLD sendiri dulu awalnya akan dikelola oleh bapak M. Samik Ibrahim yang nota bene adalah mentor bapak Budi Rahardjo, namun mengundurkan diri karena alasan pribadi.

Mengenai tindak tanduk TAP, dulu sewaktu dia non aktif di APJII, ditawari oleh bapak Marcelus untuk mengembangkan Chapter Indonesia di ISOC, yang mana kegiatan awal dan segala informasi teknis diurus oleh Marcelus, sedangkan TAP bertugas mengumpulkan fotocopy KTP untuk charter member. Sebagai catatan, dari 25 orang yang didaftarkan sebagai Charter Member pada saat itu, salah satunya tadi mengatakan sendiri bahwa dia baru sadar bahwa namanya dipakai untuk mendirikan Indonesian chapter sekitar 2 bulan yang lalu.

Selanjutnya, selama dua tahun, TAP sibuk menggunakan nama ISOC untuk mematikan kegiatan-kegiatan APJII dan mempublikasikan bahwa APJII seharusnya tidak mengelola IP, dan bahwa ia ingin mengambil alih pengelolaan IP atas nama ISOC. Saking sibuknya, sehingga tidak mengembangkan organisasi, bahkan tidak membuat mailing list untuk anggota. Mailing list member@isoc-id.org baru dibuat sekitar 4 bulan setelah milis yang ini aktif.

Sekarang, setelah dia kembali di APJII sebagai sekretaris, dia memutarbalikkan semua perkataan dia selagi “ngambek” terhadap APJII dan malah menggunakan nama APJII untuk mengambil alih ccTLD, yang akan disusul dengan mengambil pengelolaan server ENUM (dikatakan sendiri waktu pertemuan terakhir di Tulodong).

Semarang

Lepas jembatan Losari, D3ZK masuk ke wilayah yang nggak pernah aku lewati dalam 5 tahun ini: daerah utara Jawa Tengah. Brebes dengan deretan penjual telor asin, Tegal dengan cat biru di kota yang terbangun apik, Pemalang yang menjebak dengan jalan tembusnya, Pekalongan yang memamerkan batik di mana-mana, Batang yang sederhana, Alas Roban dengan jalan lebar-lebar yang nggak serem lagi, Kendal, dan ujung perjalanan: Semarang.

Jangan cari Starbucks di Semarang :). Tapi cukup keliling Simpang Lima, cukup banyak yang bisa meningkatkan kadar kafein dalam darah. Simpang Lima itu bukan alun-alun Semarang. Alun2 ada di tempat lain, dan tidak cukup lapang. Sebenernya yang menarik di alun2 ini, waktu malam, adalah sea food (huh, dasar orang gunung). Tapi malam ini aku udah kekenyangan waktu bisa berkeliling. So, cukup Teh Poci aja, di bawah Poster Dewa yang jualan jamu masuk angin, sambil mengobservasi riuh manusia yang memutari alun2.

Trus, ngapain ke Semarang?

Kenalan sama jurig Lawang Sewu.

Pictures: http://exclusive.blogsome.com/2005/07/21/76/.

Humor Angkot

Seorang senior saya bernama A Hok orangnya sangat ramah, senang membantu, jago komputer dan jago membuat maket. Seperti biasa acara wisudaan selalu diisi dengan pembacaan cerita lucu setiap wisudawan. Diceritakan ia ke kampus naik angkot dan berhenti di depan kampus.

Supir: “Dari mana?” sambil menerima uang ribuan dan siap mengambil recehan kembalian.
A Hok: “Dari rumah temen,” dengan ramah dan kalem.
Supir: “?”

OK, buat yang lagi pingin ketawa, sila kunjungi weblog si Jay edisi hari ini :).

Sementara itu, ini beberapa joke Angkot versi Bandung.

Di Jalan Suci, ada dua cewek di pinggir jalan. Angkot Cicaheum-Ledeng langsung berhenti.
Sopir: Ledeng, Neng?
Satu cewek menggeleng.
Sopir: Dago?
Cewek: Nggak.
Sopir: Sion? (FYI: Angkot ini memang nggak lewat stasion, tapi bisa transit di Dago)
Cewek: Nggak.
Sopir: Ke mana?
Cewek: Mau nyeberang.
Angkot melaju lagi.

Di Alun-Alun, ada jalan searah, dimana angkot jurusan Sukajadi-Kelapa dan Kelapa-Sukajadi berjalan searah. Kernet sibuk menawarkan trayek (oops)
Kernet: Sukajadi – jadi – jadi – jadi – jadi !
Satu calon penumpang masuk dengan muka ragu.
Calon penumpang: Jadi?
Penumpang 1 : Jadi donk.
Penumpang 2 : Suka jadi suka enggak.

Dan pasti aku pernah cerita kan, kalo di Bandung ada angkot GAM (Aceh Merdeka! Aceh Merdeka!) dan angkot Zionist (Zion zion zion zion zion!) ??

Baduy (Postscript)

Postscript dari catatan perjalanan ke kawasan Baduy. Yang ini bersumber dari tulisan R. Cecep Eka Permana. Maaf buat penulis, diculik tanpa sempat minta izin.

Kawasan Baduy tepatnya berada di desa Kanekes, kecamatan Leuwidamar, kabupaten Lebak. Diperkirakan pada akhir abad ke-18 wilayah Baduy ini terbentang mulai dari kecamatan Leuwidamar sekarang sampai ke Pantai Selatan. Sekarang luas wilayah Baduy ini sekitar 5102 hektar. Batas wilayah sekarang ini dibuat pada permulaan abad ke-20 bersamaan dengan pembukaan perkebunan karet di desa Leuwidamar dan sekitarnya.

Masyarakat Baduy secara umum terbagi atas tiga golongan, yaitu tangtu, panamping, dan dangka. Tangtu dan panamping berada pada wilayah desa Kanekes, sedangkan dangka terdapat di luar desa Kanekes. Tangtu menurut pengertian masyarakat Baduy dapat diartikan sebagai masyarakat pendahulu atau cikal bakal, terdiri atas tiga kampung: (1) Cikeusik atau disebut juga tangtu Para Ageung, (2) Cibeo atau disebut juga tangtu Parahiyang, dan (3) Cikartawana atau disebut juga tangtu Kujang. Ketiga tangtu tersebut dikenal pula dengan nama Baduy Dalam. Panamping berarti daerah pinggiran. Masyarakat yang tinggal di daerah panamping masih terikat kepada tangtu-nya masing-masing. Mereka berkewajiban untuk nyanghareup atau menghadap atau melakukan/mengikuti aktivitas sosial budaya dan religi kepada tangtu-nya. Wilayah dangka ini adalah daerah yang berada di luar wilayah Kanekes namun masih merupakan wilayah budaya dan keturunan Baduy.

Pada masyarakat Baduy ini dikenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional dan sistem tradisional (adat). Dalam sistem nasional, seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, setiap desa terdiri atas sejumlah kampung. Desa Kanekes ini dipimpin oleh kepala desa yang disebut Jaro Pamerentah. Seperti kepala desa atau lurah di desa lainnya, ia berada di bawah camat, kecuali untuk urusan adat yang tunduk kepada kepala pemerintahan tradisional (adat) yang disebut puun. Uniknya bahwa bila kepala desa lainnya dipilih oleh warga, tetapi untuk Kanekes ditunjuk oleh puun, baru kemudian diajukan kepada bupati (melalui camat) untuk dikukuhkan.

Dari segi pemerintahan tradisional, masyarakat Baduy bercorak kesukuan yang disebut kapuunan, karena puun menjadi pimpinan tertinggi. Puun di wilayah Baduy ini terdapat tiga Cikartawana. Puun-puun ini merupakan ?tritunggal?, karena selain berkuasa di wilayahnya masing-masing, juga secara bersama-sama memegang kekuasaan pemerintah tradisional masyarakat Baduy. Walaupun merupakan satu kesatuan kekuatan, ketiga puun tersebut juga mempunyai wewenang tugas yang berlainan. Wewenang kapuunan Cikeusik menyangkut urusan keagamaan dan ketua pengadilan adat, yang menentukan pelaksanaan upacara-upacara (seren tahun, kawalu, dan seba), dan memutuskan hukuman bagi pelanggar adat. Wewenang kapuunan Cibeo menyangkut pelayanan kepada warga dan tamu ke kawasan Baduy, termasuk pada urusan administratur tertib wilayah, pelintas batas dan berhubungan dengan daerah luar. Sedangkan wewenang kapuunan Cikartawana menyangkut urusan pembinaan warga, kesejahteraan, keamanan, atau sebagai badan pelaksana langsung di lapangan yang memonitor permasalahan yang berhubungan dengan kawasan Baduy.

Sementara itu, kepercayaan orang Baduy pada dasarnya adalah penghormatan pada roh nenek moyang dan kepercayaan kepada satu kuasa yang dinamakan Nu Kawasa. Keyakinan mereka sering disebut dengan Sunda Wiwitan. Orientasi, konsep-konsep dan kegiatan-kegiatan keagamaan ditujukan kepada pikukuh (aturan adat) agar supaya orang hidup menurut alur itu dan menyejahterakan kehidupan Baduy dan dunia ramai. Orang Baduy bertugas menyejahterakan dunia melalui tapa (perbuatan, bekerja) dan pikukuh. Tapa bagi orang Baduy bukan melakukan samadi atau tirakat berdiam diri di tempat sunyi, melainkan justru ?sedikit bicara banyak kerja?. Bekerja itulah tapanya orang Baduy, khususnya bekerja di ladang.

Objek terpenting dalam kaitannya dengan sistem religi Orang Baduy adalah Sasaka Domas. Objek itu sangatlah bersifat rahasia dan sakral, karena merupakan objek pemujaan paling suci bagi Orang Baduy. Bahkan Orang Baduy sendiri hanya setahun sekali yaitu pada bulan Kalima (upacara muja) dan orang terpilih oleh puun saja yang boleh ke sana. Tempat pemujaan itu merupakan sebuah bukit yang membentuk punden berundak sebanyak tujuh tingkatan, makin ke selatan undak-undakan tersebut makin tinggi dan suci. Dinding tiap-tiap undakan terdapat hambaro (benteng) yang terdiri atas susunan batu tegak (menhir) dari batu kali. Pada bagian puncak punden terdapat menhir dan arca batu. Arca batu inilah yang dikenal dengan sebutan Sasaka Domas (kata ?domas? berarti keramat/suci). Sasaka Domas digambarkan menyerupai bentuk manusia yang sedang bertapa. Arca ini terbuat dari batu andesit dengan pengerjaan dan bentuk yang sangat sederhana (seperti arca tipe polinesia atau arca megalitik). Sasaka Domas ini terletak di tengah hutan yang sangat lebat tidak jauh dari mata air hulu sungai Ciujung. Kompleks Sasaka Domas ini meliputi areal sekitar 0,5 hektar dengan suhu yang sangat lembab, sehingga batu-batu yang ada di sana semuanya berwarna hijau ditumbuhi lumut.

Baduy #2

Cerita di Baduy ternyata lebih enak dibagi :). Capek juga sih. Suhu di Cibeo cukup sejuk, tapi tak cukup untuk membuat kedinginan. Di kegelapan malam, ayam-ayam berkokok. Barangkali baru jam 2 atau jam 3 pagi. Orang-orang bangun dan mempersiapkan segala sesuatu. Para tamu kayak kami lebih suka tidur lagi. Subuh masih terasa berat, dan terpaksa meminjam air wudlu dari tabung bambu daripada harus jalan dalam gelap ke kali. Baru jiwa bangun. Aku jalan ke pancuran, dan sempat memonopoli cukup lama. Ke mana yang lainnya? Sempat mandi membersihkan badan dan pikiran. Dan sementara itu langit mulai biru. Desa Cibeo berselimut halimun tipis. Masih sejuk tapi tidak dingin. Suasana hutan tertutup gini selalu bikin aku ingat Wagner lagi. Siegfried hidup di suasana kayak gini. Siegmund menemui Sieglinde di dusun di tengah hutan seperti ini. Tapi kemurnian alam seperti ini tentulah lebih pas dengan Das Rheingold. Ugh, Wagner pun jadi dekaden dibandingkan musik yang bangkit dari hatiku di tempat seperti ini.

Aku balik ke rumah, menikmati segelas kopi. Gelas, di sini terbuat dari ruas bambu. Yummie. Sebagai penghargaan, sebungkus kopi toraja aku sampaikan ke tuan rumah. Jalan-jalan pagi sendirian, aku menikmati pemandangan sekitar lapangan dan ke arah rumah Puun. Masih ada halimun tipis di atasnya. Dan mulai bercampur dengan asap putih dari rumah-rumah. Sinar matahari bergaris-garis mengisi dusun. Bulan masih tersenyum menampakkan diri di atas. Andai boleh bikin foto di sini :).

Berikutnya, menikmati permainan kecapi tradisional. Kecapi dibuat dari kayu basah, tanpa hiasan. Dawai dari kawat-kawat tipis, ditegangkan dengan kayu di bawah. Pentatonik nadanya. Ini bukan kawasan seni, jadi jangan harapkan kacapi ini bisa disinkronkan :).

Sarapan bersuasana mirip makan malam. Tapi tak banyak lagi cerita. Hari makin siang. Orang harus kerja. Maka mulailah kami menyeberangi jembatan dan keluar dari Cibeo. Tak melalui Cikertawana lagi, soalnya kita menempuh jalur yang berbeda. Jalan setapak cukup menarik. Bisa berjalan riang. Tapi tiba-tiba tanjakan sempit yang panjang dan tajam. Panjang. Di tepi bukit. Dan di kiri pemandangan dari ketinggian yang indah luar biasa. Lelah bisa dilupakan hanya dengan melihat pemandangan. Sayangnya, ini masih kawasan Baduy Dalam. Belum boleh mengoperasikan kamera. Tapi di ujung, turunan yang lebih tajam menanti. Tajam dan panjang sekali. Yang ini betul-betul menguras perhatian dan energi. Tidak ada tempat beristirahat. Tajam, licin, basah. Dan di ujungnya, jempatan tipis dan panjang lagi, batas ke Baduy Luar.

Kembali beberapa kampung, lumbung padi (leuit), sungai dilewati. Sempat ada kampung di mana dinding dihias dengan corak (jarang loh). Dan sempat sebentar menikmati latihan gamelan sederhana. Dan waktu kelelahan mulai datang, kami sampai di kampung Balimbing. Di sini, boleh mandi dengan sabun (horee), dan istirahat beberapa jam, sambil makan siang.

Tapi keluar dari Balimbing, kejutan, jalan langsung menanjak. Jalan menanjak tanpa pemanasan; dan jantungku berdetak memprotes. Terpaksa jalan pelan-pelan. Tapi tak lama, masuklah ke Ciboleger. Ujung dari kawasan Baduy Luar. Dan di luar sana, di wilayah republik, mobil menanti.

Beda sekali kawasan Baduy dengan kawasan republik, di mana semak-semak meninggi tidak dipotong. Rumah dibangun asal-asalan tanpa estetika. Kegiatan manusia diarahkan untuk alasan-alasan semu lagi: uang.

Sigh, dan aku harus segera balik kantor lagi. Mengejar EBITDA. Mengejar hidup yang tragis lagi. Entah untuk apa. I’m still no more than nothing.

Baduy #1

Udara menyegarkan, membuat lupa pada badan yang basah kena hujan rintik, dan celana yang kotor bekas terpeleset. Suara gemericik air sungai menenangkan hati, membuat lupa pada penat perjalanan panjang, membuat lupa pada riuh republik nun di luar sana. Jembatan bambu tipis melengkung panjang di atas sungai. Di ujung sana, kamera harus dimatikan. Juga berbagai gadget dari dunia kami yang penuh kepalsuan. Jembatan berderit waktu kaki melangkah mantap di atasnya. Dan di ujungnya: inilah dia kawasan Baduy Dalam.

Jembatan ke Baduy Dalam

Beberapa jam sebelumnya, kami mencapai Bojong Manik dari arah Rangkasbitung. Mesin mobil dimatikan di tepi kawasan Baduy Luar, dan perjalanan dengan kaki dimulai. Jalan masih cukup beradab. Hanya ada satu tanjakan yang bener-bener bikin hampir menyerah. Tanjakan dan turunan lain (banyak!) masih bisa diatasi. Canda dan pikiran-pikiran iseng cukup untuk melawan kelelahan. Dusun-dusun Baduy susul menyusul. Semakin ke dalam semakin rapi. Dan 2 jam kemudian, masuklah kami ke jembatan yang menjadi batas ke Baduy Dalam. Tiga titik sungai diseberangi (tanpa jembatan, duh segarnya), dan masuklah ke Dusun Cikertawana. Sesiang ini, dusun ini sepi. Penduduk ke kebun dan ladang yang jaraknya konon relatif jauh dari dusun. Sebentar rehat, kami melanjutkan jalan kaki. Sekitar 4 menit saja, menyeberangi sungai, masuk ke Dusun Cibeo. Ini hentian kami.

Kawasan Baduy Luar

Cibeo, luar biasa. Rumah-rumah panggung tertata rapi, dengan ukuran yang sama, berjajar-jajar. Tiap rumah memiliki interior yang kurang lebih sama. Eit. Persegi panjang dengan perbandingan 1:1½ atau 1:/2 atau barangkali 1:?. Di dalamnya, ada sebuah ruang persegi panjang, menyisakan ruang berbentuk L untuk sisa ruangan. Ada tungku di kedua ruang, membuat atap daun itu menghitam di dalam. Dinding anyaman. Beranda batang-batang bambu, dengan undakan pendek ke tanah.

Di tengah terdapat lapangan berundakan rendah. Di satu ujungnya ada balai tempat acara-acara dusun. Dan di ujung satunya adalah tempat tinggal Puun, tetua desa. Bebersih badan dilakukan di pancuran di luar dusun (atau alternatifnya adalah di kali yang jadi batas dusun). Penggunaan bahan kimia seperti sabun, pasta gigi, shampoo, dilarang. Mandi menyegarkan sekali, membuang segala keringat yang terakumulasi di perjalanan panjang.

Dusun ini dikelilingi gunung, jadi gelap cepat datang. Dan yang bisa dilakukan hanyalah berbincang di dalam rumah.

Orang-orang Baduy Dalam bersifat menerima pendatang. Memang banyak pantangan. Tapi di luar itu, mereka menerima kami dengan ramah sekali. Sopan. Hilang kesan bahwa itu adalah daerah tertutup. Sambil berbincang, pemilik rumah menawarkan souvenir-souvenir yang merupakan kerajinan lokal. Aku ambil satu set pemantik api yang digunakan di sana untuk membuat api. Juga sisir kasar bercelah halus yang pasti nggak bisa dipakai menata rambutku yang tebal-tebal ini. Juga kemudian beberapa kerajinan lain. Ada juga orang Baduy Luar yang masuk menawarkan barang2 souvenir dari dunia luar, kayak kaos dan gantungan kunci dengan tulisan Baduy. Hrms, orang Baduy kan menghindari urusan baca tulis. Belajar dari pengalaman diperbolehkan, tapi sekolah atau semacamnya dilarang. Untuk penerangan, mereka pakai lilin yang jelas diimpor dari luar, bukan semacam obor misalnya. Kami boleh pakai senter. Yang dilarang bukan benda berlistrik, tapi alat elektronik. Jadi kayaknya mereka mengenal teknologi semikonduktor dan melakukan pembatasan dari level itu. So: no HP, no camera, no radio :).

Waktu gelap turun, kami berkumpul. Menikmati makan malam sambil mendengarkan cerita tentang cara hidup sehari-hari di sana. Ke air sebentar dalam kegelapan. Dan menikmati kegelapan dalam mimpi-mimpi panjang. Pertarungan panjang antara kepalsuan dengan ketulusan yang semuanya tersaput kegelapan.

Leuit di Baduy Luar
« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑