Author: koen (Page 99 of 123)

Amien & Mega

Amien mau berkoalisi dengan Mega? Wah kalau politisi Islam dan politisi nasionalis di Indonesia mau bekerja sama dengan ikhlas, aku harus mengakui bahwa Oom Dur punya bakat jadi wali. Cuman kayaknya kasusnya nggak bakal kayak gitu deh.

Politisi kita bakal memanfaatkan momen terbatas buat cari keuntungan masing-masing aja. Masih kayak gitu. Kalaupun bener Amien dan Mega bisa bekerja sama dengan baik dan ikhlas, aku masih punya satu keraguan besar: apa Amien bener membela kepentingan Islam, dan apa Mega bener membela kepentingan nasional Indonesia. Mungkin aku salah lagi, tapi: aku nggak percaya sama kalian semua.

Jaman dulu Oom Dur pernah bilang bahwa kita bisa belajar demokrasi dari Israel. Politisi Islam marah-marah. Katanya: Israel itu penuh penjahat, bukan negara demokratis. Barangkali mereka semua benar. Israel didirikan dan dijalankan dengan dasar kejahatan, tapi sadarkah kita bahwa negara Indonesia sudah lebih jahat dari Israel?

Israel anti Islam, katanya. Tapi sebenarnya kita juga anti Islam, biarpun kita selalu mengaku jadi orang Islam. Kapan sih kita bener-bener menjalankan nilai Islam? Ada gitu orang yang menjalankan Islam di Indonesia? Amien Rais? Oom Dur? Para kiai? Anak muda yang bawa bendera hijau keliling Jakarta? Yang Islam apanya sih? Orang Israel lebih jujur, ngaku anti Islam. Kita rajin ke masjid, tapi nggak pernah menjalankan nilai-nilai Islam.

Sorry, kok ke politik. Tapi lama-lama nggak kuat juga nahan kesebelan.

Angin Meniup Keras

Mr Winter kayaknya enggan bener meninggalkan tanah ini. Di hari-hari terakhir gini, angin malah meniup keras menyebar kebekuan terakhir. Derau campur desau.

Dulu aku ketawa aja baca penderitaannya Herriot, “Aku tak mengenakan baju. Kandang itu tak berpintu. Angin meniup keras, dst” (gila kali kalo aku bisa apal lebih dari 3 kalimat).

Sekarang kebayang deh, dengan suhu kayak gini, waktu kebekuan bisa menyakitkan kulit, dan rasa menggigil bisa menembus baju rangkap tiga, kebayang sekali gimana rasanya jadi Herriot. Mendingan pulang ke Bandung deh, kalau disuruh buka baju di tempat tak berpintu dan anginnya bertiup keras.

Bener kata Herriot, selalu ada hal-hal yang tidak ada di dalam buku. Termasuk melintasi tumpukan salju sepanjang setengah mil, kata Herriot. Bukan cuma itu, aku pikir. Banyak hal yang bahkan tidak ada di buku Herriot.

(Refer: James Herriot, “Seandainya Mereka Bisa Bicara”, Gramedia 1976, halaman 1. Versi bahasa Inggris “If Only They Could Talk” digabungkan ke dalam “All Creatures Great and Small”)

On Masterpiece

Nyetel Wagner di tempat ini memang sebenernya pas. Kita ingat, Der Ring dibuat Wagner di pengasingan, dalam kondisi seadanya, waktu tidak ada harapan sama sekali untuk bisa menyusun performa yang sesungguhnya. Tapi Der Ring justru diciptakan untuk menunjukkan bahwa nilai (romanticism, balik lagi ke nilai) kemanusiaan bukan terletak pada sumber dari luar dan penghargaan dari luar, tetapi dari pemenuhan potensi. Maka terciptalah masterpiece yang dikagumi selama satu abad lebih dikit.
Aku nggak pernah merasa Der Ring itu bagus, tapi aku selalu bisa menikmatinya sepenuhnya, setiap saat. Dan aku nggak tau rahasianya. Dari segi artistik, pasti aku lebih milih Debussy. Jadi di mana sih Wagner menyimpan puncak keunggulannya ?
Refer: Richard Wagner

2801942

Akhirnya, cara ngilangin sakit kepala adalah dengan Wagner lagi. Kali-kali sebenernya yang diperlukan adalah istirahat yang cukup dan makan yang baik. Tapi makan juga susah kalau masih pusing. Jadi istirahat aja dibanyakin. Tapi mau bobo aja susah. So di sini Wagner mengambil peranan. Satu set Der Ring dari Berliner Philharmonik, cukup untuk memaksa otak berhenti berpikir dari keseharian, dan memusatkan pikiran pada ide yang dicoba ditransferkan Wagner. Selalu tentang dilema antara nilai-nilai yang memaksa manusia melepas sebagian nilai kemanusiaannya untuk …. terus bisa bobo deh. Dua hari kayak gini, sakit kepala nyaris ilang. Cuman assignment nggak dibikin-bikin. Kacau deh.

Asal Usul Kopi

Mood suka kacau balau. Persis yang diramalkan di buku panduan British Council. Cuman produktivitas harus tetap tinggi. Jadi mulai akrab lagi dengan kopi. Decaffeinated coffee, biar ramah buat perut dan jantung. Sedap.

Di Intisari tahun 1980-an, Slamet Soeseno pernah cerita tentang asal-usul kopi. Kopi ditemukan oleh domba di Arab. Penggembala jadi kesal, soalnya dombanya berkicau, eh mengembik terus-terusan sepanjang malam, tidak bisa tidur. Jadi dia lihat itu domba, ternyata mereka sedang mengunyah daun dan biji tanaman kahwah. Penggembala mengusir dombanya menjauh, lalu sambil agak emosional dia membakar tanaman kahwah itu. Tapi saat dibakar, tercium aroma menarik. Ternyata aroma sedap itu datang dari biji yang terbakar. Si pengembala penasaran, dia ambil biji yang sudah hangus itu, dan langsung digigit.

Wadow, kerasnya.

Tapi kita tahu, orang Arab itu gigih. Dia ambil biji-biji hangus itu, lalu dia rendam di air, kemudian airnya direbus, agar bijinya melunak. Tapi para biji ternyata lebih keras hati, kurang berkenan untuk melunak biarpun direbus lama-lama. Malah airnya yang ikutan jadi menghitam dan harum.

Dasar si Arab suka penasaran, dia mau coba rasa airnya. Diminumlah itu air. Wow, enak dan segar. Namun kemudian situasi berubah — sekarang dia ikutan tidak bisa tidur.

Namun tentunya, jauh setelah masa itu, untuk menikmati sari kahwah (café, coffee, kopi) orang tidak harus bakar pohonnya. Gilé apé? Cukup petik bijinya, baru dibakar. Kadang difermentasikan dulu sih.

OK, satu cangkir lagi ah. Yang decaf sih … Kopi is oke, tapi bobo juga oke.

Indonesia: Living Dangerously

National Geographic bulan ini menyajikan Indonesia: Living Dangerously.

Diawali dari pengungsi Ternate, “The Muslims burned our house.” kata pensiunan tentara; disambung seorang guru “We were living in peace. We never experienced religious hatred before.” Lalu orang Bandung bilang, “We sympathise with the Acehnese people, but I worry what will happen if Aceh leaves.” Lalu cuplikan dari HB-X “You can’t run a modern country like Indonesia by tradition.

We don’t have to kill the Madurese,” timpal seorang Dayak dengan rokoknya, “We’re civilised people.

Dan Sabam Siagian menutup dengan, “If we’re holding together after five years, that’s the miracle.

2772042

Kesusahan kalau harus pakai Linux. Program-program aplikasi dan instrumentasi yang dipakai semuanya over Windows (CEMeNT) sih. Di rumah sih bikin dual book Linux dan Windows. Tapi lama-lama yang Linux cuman dipakai buat main-main sama eksperimen aja, nggak bisa dipakai kerja kantoran. Lain kali pakai Linux deh, kalau kantor-kantor dan universities udah pada pakai Linux untuk kegiatan sehari-hari.

2761945

Akhirnya, sampai juga kiriman Presario 1200-nya. Cuman mesti kerja tambahan buat install driver-driver tanpa CD, bahkan tanpa petunjuk sepotong pun. Wuih, maen tebak-tebakan lagi.
Jadi inget Bu Ani zaman NAP dulu. Waktu minta printer berwarna ke logistik, dibilang printernya ada tapi drivernya nggak ada. Terus kata Bu Ani: “Nggak pa-pa, di sini ada Koen kok. Apa pun jadi bisa kalau ada Koen.” Wah, Bu Ani harusnya tahu kalo aku juga suka panik waktu harus installasi driver dalam kegelapan. Kegelapan donk, orang yang diinstal drivernya display. Gelap melulu layarnya.

2755913

Tapi nama Zarathustra sendiri suka diculik semena-mena. Pertama, Nietzsche menculik nama itu dari nama dewa Persia. Kedua, Strauss menculik nama itu dari Nietzsche. Ketiga aku culik dari cuplikan Strauss dari Nietzsche buat dipasang di meja kerja (dulu): you great star, what would your happiness be had you not those for whom you shine. Keempat, nama itu diculik di buku The Collapse of Chaos dari Ian Stewart (orang Warwick tuh) sebagai nama planet buat menggambarkan inkompatibilitas komunikasi akibat selisih diskursus. Misalnya, di planet Zarathustra, suara itu digital, nggak analog kayak telinga kita. Jadi kita dan mereka nggak bisa saling menikmati musik masing-masing. Buat mereka, selisih satu oktaf itu nggak harmonik kayak yang didengar telinga kita.
Jadi inget juga salah satu diskusi beberapa waktu yang lalu: telinga kita itu receiver analog, tapi mata kita itu receiver digital atau analog ? Bisakah itu dijawab tanpa melibatkan dualitas cahaya sebagai materi dan gelombang ?

Sore Musik Romantik

Side A Richard Strauss, side B Edvard Grieg dan Frans Liszt. Mereka umumnya dari zaman musik romantik, waktu orang berusaha menggambarkan ‘nilai-nilai’, antara lain dengan simbolisme.

Kadang bentuknya kegagahan seperti Richard Wagner, kadang kelembutan seperti Frederick Chopin. Tapi yang menarik adalah bahwa Wagner bisa membawakan kelembutan dengan megah (misalnya Liebestod), dan Chopin bisa menggambarkan kekuatan dengan lembut (aku kurang hafal nomor-nomor simponi Chopin —sorry).

Richard Strauss itu penerus Wagner dalam arti bahwa Friedrich Nietzsche itu penggemar Wagner, dan Strauss itu penggemar Nietzsche. Dari musik ke musik melalui filsafat. Namanya juga romanticisme. Liszt, Wagner, dan Hector Berlioz diakui sebagai genius musik masa itu, sementara Chopin jadi tukang merayu, haha.

Kalau Johann Strauss itu alirannya beda, itu musik klasik dengan gaya waltz. Enak juga buat lompat-lompat kaki. Tapi kepala lagi suka nyeri sih, gimana yah. Kali perlu tambahan dosis Wagner.

« Older posts Newer posts »

© 2026 Kuncoro++

Theme by Anders NorenUp ↑