APWCS 2016

APWCS (Asia Pacific Wireless Communications Symposium) adalah konferensi regional Asia Pasifik yang dikelola oleh IEEE VTS (Vehicular Technology Society) dari chapter-chapter Tokyo, Seoul, Taipei, dan Singapore. Tak bisa disalahkan jika kita membandingkan dengan APCC yang dikelola IEEE bersama dengan IEICE, KICS, CICS. Tahun ini APWCS diselenggarakan di Tokyo City University, Tokyo; 25–26 Agustus 2016. Aku hadir ke simposium ini dalam misi untuk mengaktifkan VTS di Indonesia, termasuk mengajukan kesiapan Indonesia sebagai host APWCS berikutnya.

Kebetulan aku masih punya 76000 Garuda Miles, dan 70000-nya langsung dikonversikan jadi tiket Garuda Cengkareng–Haneda p.p. Berangkat tanggal 23 Agustus menjelang tengah malam, Garuda mendarat di Haneda tanggal 24 pagi. Mandi di airport, dan langsung menjelajah Tokyo. Kuliner pertama adalah sushi segar yang langsung dibuatkan di depan kita. Wow :). Tentu, didahului sop miso yang khas itu.

img_2016-09-30-222311

Kamis pagi, 25 Agustus, barulah mengarah ke Tokyo City University, di kawasan Setagaya, Tokyo. Khawatir dengan gaya Jepang yang seringkali formil, aku pakai suite dengan gaya yang klasik tapi tetap santai. Di sana, Prof Mamoru Sawahashi, General Chair dari APWCS 2016 siap menyambut. Eh, baru sadar, suite kami matching sekali. Prof Sawahashi menceritakan scope simposium, sebaran pesertanya, dan nature dari penyelenggaraan simposium ini. Setiap konferensi memiliki sifat yang berbeda, dan kadang hanya dapat dipahami dengan langsung mengikuti seluruh kegiatan di dalamnya.

img_2016-09-30-222333

Tak lama, Prof Sawahashi harus memutus percakapan, untuk secara resmi membuka APWCS 2016. Berderet keynote speakers dari kalangan akademisi dan industri bergantian memberikan paparan tentang filosofi dan rencana implementasi Jaringan 5G dengan berbagai aspeknya. Ini selalu jadi saat yang mendebarkan, saat kita memiliki kesempatan mendengarkan update terbaru dari researcher senior yang merupakan para inventor & innovator kelas dunia. VTS memiliki sifat yang lebih spesifik dan fokus daripada society yang besar, semisal Comsoc (IEEE Communications Society)  atau IEEE Computer Society. Jadi paparan para researcher ini betul-betul fokus di cutting-edge teknologi 5G.

img_2016-09-30-222346

Tengah hari, Prof Sawahashi mengajak makan siang ke ruang VIP. Di sini, sekaligus dilakukan General Meeting dari APWCS Board of Governor. Anggotanya bukan hanya dari Jepang, tapi dari berbagai negara stakeholder, dengan gaya masing-masing.

img_2016-09-30-222328

Di BoG meeting inilah, aku memaparkan situasi riset & industri mobile di Indonesia, kapabilitas dan peluangnya, serta kemudian mengajukan Indonesia sebagai host dari APWCS berikutnya. Berikutnya itu bukan 2017, karena simposium semacam ini memerlukan persiapan sangat panjang, dan unik. Jadi mereka membuka kesempatan Indonesia menjadi host pada 2019, jika Indonesia memang dapat meyakinkan komitmen & kapabilitasnya.

img_2016-09-30-222322

Cukup banyak masukan yang diberikan bagi Indonesia dalam meeting ini; terutama bahwa Indonesia belum memiliki VTS Chapter. Selain periset dan akademisi serius, mereka sebenarnya sekumpulan macan. Tapi aku semacam macan lokal juga sih. Dan aku bisa menunjukkan bahwa IEEE Indonesia Section memiliki leadership kuat untuk memastikan keberhasilan program ini. Jadi akhirnya mereka secara prinsip menyetujui Indonesia menjadi host. Namun dalam jangka waktu itu, kita harus menunjukkan langkah-langkah kesiapan.

Lepas presentasi, beberapa anggota BoG mengajak berbincang. Sebagian untuk lebih kenal, sebagian lagi untuk meneruskan assessment :). Experience dari Section dan representative-nya pun (yours truly) dieksplorasi. Beberapa nama penting disebut. Entah kebetulan atau keberuntungan, nama-nama yang disebut itu punya hubungan baik dalam perjalanan networking di IEEE, termasuk incoming Director of IEEE Region 10, Prof Kukjin Chun, dan former Director of IEEE Comsoc Prof Byeong Gi Lee. So far so good.

Usai BoG meeting, aku masuk ke sesi-sesi paralel di simposium ini; menyimak beberapa hasil riset para researcher dan mahasiswa. Namun saat break, aku jumpa lagi dengan Chairman of APWCS BoG, Prof Li-Chun Wang. Kami berbincang cukup panjang di meja kecil. Di sini Prof Wang menyampaikan  concern sesungguhnya dari banyak anggota BoG. Fokus BoG sebenarnya bukan simposium atau conference; melainkan memastikan VTS tumbuh di region ini, dengan kegiatan yang terus bertumbuh. Simposium hanyalah sebuah cara untuk memastikan pertumbuhan kegiatan ini. Prof Wang juga menceritakan bagaimana akhirnya BoG bisa yakin untuk tetap mendukung Indonesia di 2019. OK, deal.

img_2016-09-30-222339

Selesai tugas, masih ada waktu untuk meneruskan belajar berbagai aspek dari vehicular technology, khususnya perkembangan 5G network yang menjadi fokus utama tahun ini. Menarik bahwa IoT masuk ke frame ini bukan sebagai requirement yang harus didukung dengan 5G, melainkan benar-benar merupakan bagian terpadu dari 5G itu sendiri.

Dan masih ada waktu juga untuk beristirahat dan berlibur beberapa hari. OK, yang ini kita sambung di blog lain. Aku masih punya travelling blog loh :).

img_2016-09-30-222316

IEEE Tensymp 2016

TENSYMP 2016 (atau lengkapnya: The 2016 IEEE Region 10 Annual Symposium) telah dilaksanakan di Sanur Paradise Plaza, Bali, tanggal 9–11 Mei 2016 lalu. Sebanyak 213 paper didaftarkan dalam simposium ini, namun hanya 96 yang lolos seleksi komite, yang artinya acceptance rate hanya 45%. Dari jumlah itu, 72 paper dipresentasikan dalam simposium ini.

Walaupun dinamai sebagai simposium, TENSYMP sebenarnya memiliki tingkatan sebagai sebuah konferensi; dan merupakan konferensi terbesar kedua yang dimiliki oleh IEEE Region 10 (Asia Pasifik). Namun TENSYMP masih berusia muda. Konferensi di Bali ini hanyalah TENSYMP keempat. Tujuannya adalah meningkatkan peran IEEE dalam pengembangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Asia-Pasifik melalui penyebaran pengetahuan dan pengalaman teknologi. Konferensi ini dibuka oleh Direktur IEEE Region 10, Ramakrishna Kappagantu, disertai oleh:

  • Satriyo Dharmanto, IEEE Indonesia Section Chair
  • Dr. Ford Lumban Gaol, IEEE TENSYMP 2016 General Co-Chair
  • Kuncoro Wastuwibowo, IEEE TENSYMP 2016 General Co-Chair
  • Prof. Gamantyo Hendrantoro, IEEE TENSYMP 2016 TPC Chair
  • Dr. Basuki Yusuf Iskandar, Kepala Riset dan Pengembangan SDM Kemkominfo

tsxop3089

Topik TENSYMP tahun ini kami pilih dengan mempertimbangkan posisi Asia-Pasifik sebagai pusat riset, pengembangan, dan bisnis TIK. Kita berada di tengah pengembangan perangkat, layanan, dan aplikasi digital yang berproliferasi dalam tingkat yang belum terbayangkan; namun dengan nisbah keberhasilan yang belum memuaskan. Kegagalan di bidang TIK umumnya disebabkan oleh akses yang kurang memadai terhadap teknologi, pasar, komunitas, atau investasi. IEEE sebagai komunitas merasa tertantang untuk mengatasi masalah-masalah ini dengan menyusun koherensi pada tingkatan teknologi, infrastruktur, dan peluang bisnis. Tantangan lain adalah perlunya mengarahkan pengembangan teknologi untuk secara konsisten menumbuhkan harkat hidup manusia. Arahan inilah yang menjadi dasar untuk menyusun tema TENSYMP 2016: Smart Computing, Communications, and Informatics of the Future. Riset yang mengarah ke pengembangan platform dan aplikasi tetap ditujukan untuk mencerdaskan kehidupan manusia.

Direktur IEEE Region 10 Ramakrishna Kappagantu menyebutkan bahwa melalui TENSYMP 2016, IEEE Region 10 bermaksud untuk:

  • Mempersembahkan forum internasional yang prestisius untuk berinteraksi dalam bidang-bidang elektri, komputer, dan teknologi informasi, dalam bentu paper, pameran, paparan ilmiah, tutorial, dan aktivitas lainnya.
  • Menyebarkan pengetahuan dan pengalaman teknis kepada masyarakat di kawasan Asia-Pasifik.
  • Mendorong pengkajian dan interaksi teknologi dan aplikasinya dalam konteks sosial, politik, dan kemanusiaan secara lebih luas.
  • Memperkuat kemampuan interpersonal dan profesional serta semangat kepemimpinan dari volunteer di bidang-bidang teknologi dan rekayasa.

Konferensi ini menampilkan lima pembicara kunci:

  • Prof. Kukjin Chun: Microelectromechanical Systems Technology Development.
  • Prof. Benjamin Wah: Consistent Synchronization Of Action Order with Least Noticeable Delays Ini MultiPlayer Online Games
  • Prof. Rod van Meter: Analyzing Applications for Quantum Repeater Network
  • Prof. Soegijarjo Soegidjoko, Biomedical Engineering Advances for a Better Life in Developed & Developing Countries
  • Dr. Basuki Yusuf Iskandar

tcwjc4785

Konferensi juga menampilkan tujuh sesi tutorial, dengan para tutor yang berasal dari berbagai negeri di Asia-Pasifik. Kami juga menyelenggarakan Gala Dinner yang dihadiri seluruh peserta konferensi, dan juga dihadiri Prof Kukjin Chun sebagai Direktur Terpilih dari IEEE Region 10 (yang akan menjabat sebagai Direktur di tahun 2017).

tlgbw5468

 

Kegiatan lain dalam konferensi ini:

  • IEEE Region 10 Young Professional Gathering
  • IEEE Region 10 Women in Engineering Sharing Session
  • IEEE Region 10 Education Activities Sharing Session
  • IEEE TENSYMP 2016 Industry Forum

Méridien de Paris

Biasanya aku mengaitkan sebuah kota dengan sebuah buku, sepotong musik, atau seorang tokoh. Tapi kota Paris punya sejarah panjang dan cerita yang kompleks. Beberapa kunjungan sebelumnya aku kaitkan dengan para filsuf, para ilmuwan, para penulis. Kali ini, aku mengambil tema seorang tokoh bernama François Arago.

Arago adalah seorang matematikawan, fisikawan, astronom, dan politisi Perancis. Di sekitar masa revolusi Perancis, ia bahkan sempat beberapa bulan menjadi semacam Perdana Menteri Perancis. Dalam bidang fisika, ia menjadi kontroversi saat mendukung teori cahaya sebagai gelombang. Permainannya yang lain adalah mencari kaitan benda bermuatan yang berputar terhadap logam magnetik. Tapi, di atas semua itu, ia paling dikenal sebagai Direktur Observatorium Paris.

Observatorium

Observatorium Paris didirikan di sekitar kawasan Montparnasse pada masa Raja Louis XIV di tahun 1667. Salah satu misi yang diemban observatorium itu adalah memperbaiki ketepatan perangkat dan peta untuk keperluan navigasi. Salah satu yang dilakukan adalah memastikan ketepatan posisi garis bujur (Utara – Selatan). Titik ukur, di tengah Observatoium Paris itu, kemudian menjadi garis meridian Paris, dan menjadi bakuan negara Perancis atas bujur nol derajat.

Saat Arago menjadi sekretaris di Observatorium itu, tugasnya adalah menentukan ketepatan garis meridian lebih jauh lagi. Ia menjelajah ke Catalonia, yaitu kota Barcelona (yang dilewati garis bujur ini), hingga ke Formentera (bagian dari Kepulauan Balearik). Sisi penting garis meridian ini adalah pada saat Perancis mengubah satuan-satuan fisika menjadi satuan metrik, yang menggantikan satuan imperial. Satuan panjang, yaitu satu meter, didefinisikan sebagai satu per sepuluh juta jarak dari kutub utara ke khatulistiwa, melalui meridian kota Paris. Secara spesifik, pengukuran dilakukan dari kota Dunkerque ke Barcelona.

Dunia internasional kemudian lebih memilih Prime Meridian (yaitu garis meridian yang melewati Greenwich di UK) pada 1884, menggantikan meridian Paris. Namun Perancis masih menggunakan meridian Paris hingga 1911. Meridian Paris terletak 2º 20’ 14” dari Prime Meridian. Posisi ini masih teramati dengan dipasangnya tanda berupa seratusan lempeng perunggu di jalan, trotoar, dan taman di sepanjang garis meridian ini. Piringan perunggu ini dinamai medali-medali Arago.

Penjelajahan garis meridian Paris bisa dimulai dari Observatorium Paris. Sedikit di sebelah kompleks observatorium, terdapat monumen Arago, dengan medali Arago berada sebagai bagian dari prasasti monumen itu.

Arago-v02

Memasuki kawasan observatorium, sebuah garis membelah taman, menunjukkan garis meridian.

Rumput
Sayangnya, aku datang pada hari yang kurang tepat. Observatorium (dan berbgai musium menarik lain di Paris) sedang ditutup di masa liburan musim panas. Padahal di dalamnya tersimpan jam atom sebagai pengukur waktu detik standar, serta standar metriks lainnya.

Di depan observatorium, sebuah boulevard dipisahkan taman rumput yang menandakan garis meridian. Kemudian jalan melebar. Beberapa patung dan monumen memisahkan jalan, dan semua berfungsi sebagai penanda garis meridian juga.

FrancisGarnier

Menyusuri garis ini, kita akan masuk ke Jardin de Luxembourg (taman Luxembourg) yang terkenal asri dan indah. Beberapa monumen masih dipasang di garis meridian ini. Kemudian sebuah lapangan rumput luas yang tidak boleh diinjak.

Jardin

Di ujung lapangan, kita dapat menemui kolam yang segar dengan kursi-kursi santai untuk para pengunjung. Hey, kita harus menikmati keindahan kota ini dulu sebelum meneruskan penjelajahan =).

JardindeLuxembourg

Trus beranjak ke utara. garis meridian ini melintasi puncak gedung senat, melewati Rue Garancière dan Boulevard Saint Germain, menyeberangi sungai Seine, dan masuk ke Museum Louvre. Di sini, piramid kaca besar di tengah halaman Louvre dipasang telat di garis meridian ini.

Melintasi piramid kaca, kita masih akan menemukan medali Arago lagi, terus mengarah ke utara, hingga ke dekat Gedung Opera.

Arago-v01

Trus … mungkin aku cerita dulu tentang opera. Lain hari kita sambung tentang Arago dan garis meridian Paris ini yah.

Q-Learning

Lama-lama ada semacam Koen’s Birthday Lecture. Tanggal 19 Juni jadi sering terisi kegiatan presentasi, kuliah, atau seminar, baik dalam soal-soal engineering, social media, atau yang berkaitan dengan Telkom. Tahun ini, tugas presentasinya kecil saja: cerita tentang platform produk Telkom untuk higher education, di booth Telkom di CommunicAsia. Padahal sudah bertahun2 aku berhasil menghindari tugas mengunjungi CommunicAsia dan BroadcastAsia. Tapi kan ini bukan kunjungan :).

Senin malam, 17 Juni, aku baru sempat terbang ke Singapore. Sampai lewat tengah malam. Penjaga hotel di East Coast mengeluhkan asap yang kian tebal mengotori udara Singapore — hasil pembukaan lahan kebun sawit di Sumatera Timur, yang sebagian justru dimiliki pengusaha dari Malaysia dan Singapore sendiri. Aku bisa tidur lelap. Dan paginya langsung mengeksplorasi Marina Bays Sands. Booth Telkom ada di Exhibition Hall E.

20130623-232426.jpg

Booth Telkom tampak mencolok di bagian tengah hall. Telkom Indonesia sudah menggunakan logo baru, dengan nuansa merah putih. Booth ini juga dishare dengan seluruh anggota Telkom Group: Telin, Metra, Telkomsel, dll. Hari itu kami juga menggunakan seragam batik parang merah putih.

20130623-232507.jpg

Booth Telkom dibuka oleh CIO Indra Utoyo. Kebetulan, pembukaan ini juga dihadiri oleh Ministry of ICT dan beberapa tamu. Pak Indra menjelaskan ekspansi bisnis Telkom ke arah TIMES. Maka booth-pun dibagi atas stand T, I, M, E, dan S. Di bagian depan, kami juga memasang kesenian tradisional Sasando Rote, seni sketsa wajah dari Pak Priadji Kusnadi, dan techno-illusion dari Galih.

20130623-232911.jpg

Aku sendiri baru menyampaikan presentasi mengenai platform dan produk Education dari Telkom Group, di hari kedua, 19 Juni 2013. Seragamnya bukan batik merah lagi, tetapi suite dengan dasi merah :). Wkwkwk, memang harus merah. BTW, sekalian bikin foto perdana dengan logo baru dari Telkom Indonesia.

20130623-232621.jpg

Tak jauh dari yang sering dibahas di blog ini, aku menceritakan pengembangan platform Telkom di bidang higher education applications. Fokusnya ke Q-Learning, Q-Journal, dan Qbaca. Setelah presentasi, ada beberapa MOU juga yang ditandatangani oleh EGM DSC Telkom, Achmad Sugiharto, dan para partner yang berminat dengan bidang-bidang kerja kami.

Sebenernya, tugasku satu2nya hanya memberikan presentasi :). Tapi ternyata cukup banyak pengunjung, peserta CommunicAsia, atau sesama Exhibitor yang berminat berdiskusi tentang platform dan produk education dari Telkom. Jadi tiga hari penuh itu, aku menghabiskan waktu di booth untuk berdiskusi dengan para partner dan calon partner.  Hari ketiga (pakai batik merah putih lagi, tapi bukan parang), justru makin banyak calon mitra kerja yang sangat prospektif. Ada yang benar-benar punya produk yang aku rasa matching dengan platform yang tengah kami kembangkan. Wah, macam dapat harta karun.

20130623-232717.jpg

 

Hari Jumat pagi, aku balik ke Jakarta. Bawa segepok kartu nama, dan banyak catatan rencana kerja sama. Hmm, bakal makin menarik nih platform, produk, dan program Education kami :).

Chiang Mai

IEEE Region 10 Meeting tahun ini diselenggarakan di Chiang Mai. Acara ini bersifat tahunan, dan sebelumnya diselenggarakan di kota Lapu Lapu, Yogyakarta, dan Kolkatta. Selain semua Section Chair di Asia Pacific, dan para Officer dari Region 10, hadir juga beberapa VP dari IEEE HQ. Beberapa wajah sudah cukup kukenal, terutama dari meeting sebelumnya di Lapu Lapu dan Yogya. Kali ini IEEE President tidak hadir. Tak apa. Kan sudah jumpa beliau di Tanjung Benoa minggu lalu.

Pada tahun ini, IEEE Indonesia Section mendapatkan undangan khusus untuk memperoleh Section 25 Years Banner. Saat undangan itu diterima, M Ary Murti yang saat itu masih menjabat Section Chair memutuskan mengajak semua previous Section Chair untuk hadir di Chiang Mai. Dan semua mantan ketua yang masih hidup menyatakan bersedia hadir. Kebetulan kemudian leadership berpindah dari Ary ke aku (tentu via election). Jadi kali ini, aku jadi primary delegation dari Indonesia, dan para mantan ketua jadi secondary delegation.

Penerbangan yang kami gunakan adalah Garuda Indonesia untuk Jakarta – Bangkok, dan Thai Airways untuk Bangkok – Chiang Mai, pada 1 Maret. Kami mendarat di Chiang Mai saat malam telah jatuh, dan langsung ke tempat pertemuan sekaligus tempat menginap: Le Méridien. Region 10 Meeting baru diawali pada Sabtu pagi, 2 Maret 2013.

Day-1

Pertemuan resmi IEEE menggunakan protokol “Robert’s Roles of Order” yang digunakan di beberapa parlemen di dunia. Ini adalah protokol yang menarik, yang memungkinkan pengambilan keputusan bersama secara efektif. Pada hari pertama, Region 10 mengevaluasi Budget 2012, Strategic Planning, kemudian menampilkan rencana-rencana kerja unit-unit, serta support dari HQ dan Region 10 kepada Section-Section. Ditampilkan pula best practice dari berbagai Section dan unit-unit kerja lainnya. Highlight diberikan khusus untuk aktivitas GOLD, student, dan WiE. Beberapa insentif juga ditawarkan untuk mengaktifkan kegiatan-kegiatan khusus dalam Section. Sore, pertemuan dihentikan.

ChiangMai Region 10 Meeting

Malamnya, diselenggarakan gala dinner. Pada dinner ini, diserahkan berbagai award, kepada Section teraktif, Section kecil teraktif, volunteer terbaik, dan lain-lain. Banner “25 Years Anniversary” juga diserahkan kepada Indonesia Section pada acara ini. Banner diserahkan dari Ralph M Ford (VP MGA) ke aku sebagai Indonesia Section Chair, kemudian diestafetkan ke semua previous chairs dari Indonesia Section. Aku minta tolong Dr Wahidin Wahab untuk memberikan sambutan singkat. Pak Wahidin membahas sedikit tentang sejarah Indonesia Section dan ucapan terima kasih kepada pihak yang banyak membantu pengembangan Indonesia Section.

IEEE Indonesia Section Silver Anniversary

Hari kedua diawali petisi untuk memberikan penghargaan kepada Prof Marzuki, salah seorang pimpinan di Region 10 yang meninggal tahun lalu karena sakit yang cukup lama. Di tengah sakitnya, beliau tak berhenti melakukan tugas-tugas organisasi, termasuk mendukung banyak kegiatan Indonesia Section. Indonesia Section khusus menyatakan duka buat beliau juga malam sebelumnya. Kemudian dikaji rencana Budget 2013, laporan Tencon 2012, dan rencana Tencon 2013, serta R10 Congress 2013 (Hyderabad).

Talk sebentar dengan Region 10 Director, Prof Toshio Fukuda; mengundang beliau ke IEEE Cyberneticscom di Yogyakarta tahun ini.

Day-2

Berikutnya, penyampaian informasi dan policy tentang penyelenggaraan Section dan unit-unit di bawahnya. Terdapat beberapa hal baru, dan beberapa pengulangan hal penting. Seperti yang telah dilaksanakan dengan keren tahun ini di Indonesia Section, semua peralihan kepengurusan harus dilakukan dengan election, baik di Section, Chapter, AG, dan SB. Election dilakukan 1 atau 2 tahun sekali, sesuai kesepakatan. Ketua (Section / Chair / AG) tidak dapat diperpanjang lebih dari itu. Pengurus lain tidak boleh pada posisi yang sama lebih dari 6 tahun. Laporan wajib dikirimkan setiap tahun secara online. Seperti di Indonesia, ada juga Chapter yang tidak aktif dan tidak pernah berubah kepengurusannya selama bertahun-tahun. Kami saling belajar.

Acara berakhir setelah tengah hari. Setelah itu, wisata singkat di sekitar Chiang Mai. OK, berhenti blogging dulu. Siap-siap jalan-jalan :D.

APCC 2012

Duet konferensi IEEE Comnetsat dan IEEE Cyberneticscom di Bali bulan Juli lalu ternyata meninggalkan efek panjang. Walau kami para organiser menganggap segala sesuatunya masih jauh dari sempurna, namun kedua keynote speaker kami memiliki kesan berbeda. Prof Lightner (Presiden IEEE tahun 2006) dalam pertemuan di Hongkong memuji Cyberneticscom dan Comnetsat sebagai konferensi yang sepenuhnya memenuhi persyaratan dan bakuan IEEE, bahkan termasuk hal2 kecil seperti visual design; lalu mengusulkan Indonesia mengajukan proposal menjadi tuan rumah IEEE TALE 2013. Prof Byeong Gi Lee (Presiden IEEE Comsoc tahun 2010-2011), dalam komunikasi sesudah Comnetsat, juga mendorong Indonesia menjadi tuan rumah di APCC 2013. Kebetulan Prof Lee adalah General Chair untuk APCC 2012. Maka kami diundang untuk mengajukan proposal, melakukan bidding, pada APCC 2012 ini. Prof Lee orangnya sangat cerdas dan lembut, namun tegas. Jadi biarpun nadanya lembut, itu agak kami artikan sebagai perintah.

APCC, Asia-Pacific Conference on Communications, adalah konferensi regional yang sangat bergengsi di salah satu kawasan dengan pertumbuhan teknologi IT tertinggi di dunia. Untuk level internasional, IEEE Comsoc memiliki ICC dan Globecom. Untuk level general, IEEE Region 10 Asia Pacific memiliki Tencon (yang dituanrumahi Indonesia tahun 2010). APCC semacam irisan bagi keduanya. Namun karena bidang ilmunya spesifik, hubungan personal dan profesional di kalangan Steering Committee-nya (ASC) sangat erat. APCC, selain disponsori oleh IEEE Comsoc, juga didukung oleh KICS di Korea, IEICE di Jepang, dan CIC di Cina. Nama2 anggota ASC juga cukup mendebarkan: tokoh2 besar yang merupakan pionir dunia ICT. APCC diselenggarakan pertama kali tahun 1993 di Taejon, Korea. APCC ke-18 tahun ini juga diselenggarakan di Korea, tetapi di Jeju Island.

Comsoc Indonesia (IEEE Communications Society Indonesia Chapter) mulai bergerak. Pertemuan penjajagan dilakukan sejak Ramadhan tahun ini. Namun officer di Comsoc Indonesia, selain jumlahnya sedikit, juga sangat sibuk. Sangat! Jadi kami hanya membuat proposal yang sifatnya brief, bukan proposal lengkap. Justru, sambil mengajukan proposal, kami akan banyak minta masukan dari APCC Steering Committee. Walau beberapa kali menyelenggarakan konferensi internasional dengan hasil patut dibanggakan; tapi kami bahkan belum pernah datang ke APCC. Setelah melakukan negosiasi internal beberapa putaran, yang juga melibatkan IEEE Indonesia Section, diputuskan Indonesia akan mengirimkan aku (sebagai Past Chair Comsoc Indonesia), M Ary Murti (sebagai IEEE Indonesia Chair, tapi sebenarnya Past Chair Comsoc Indonesia juga sih), dan Agnes Irwanti (sebagai Sekretaris Comsoc Indonesia).

Karena kesibukan yang memang luar biasa, kami bahkan tidak bisa berangkat bersamaan. Visa Korea pun diuruskan. Aku memilih terbang dengan Garuda, berangkat dari dari Jakarta tanggal 13 Oktober malam, dan tiba di Incheon 14 Oktober. Berkeliling sejenak di Seoul, perjalanan diteruskan dengan Korean Air dari Incheon ke Jeju. Jeju adalah pulau wisata yang terletak lepas di selatan Semenanjung Korea. Kalau ada waktu, aku tulis rincian perjalanan di blog TravGeek deh. Tapi gak janji :p

APCC 2012 dibuka tanggal 15 pagi. Pembukaan dilakukan berturutan oleh Prof Jinwoo Park, Presiden KICS; Prof Byeong G Lee, dari IEEE; lalu Prof Yang Zhen, Vice Chair dari CIC. Plenary session dibawakan oleh Prof Tomonori Aoyama, yang juga salah satu pelopor APCC, dengan tema New Generation Networking (NWGN) and Inter-Cloud Computing to Handle Big Data. NWGN, atau disebut juga Future Internet, bukanlah sekedar pengembangan dari suite TCP/IP; melainkan rancangan arsitektur network baru yang bisa jadi berdasarkan Post-IP Network.

Break, foto2 dulu dengan beberapa peserta dari Indonesia, yang merupakan mahasiswa & mahasiswi di Korea dan Jepang.

Setelah break, ASC mengadakan sesi terpisah, untuk membahas penyelenggaraan APCC ini. Termasuk di dalamnya adalah pembahasan tuan rumah APCC berikutnya. Jadi delegasi Indonesia harus bergabung dengan ASC, dan gagal ikut sesi pembahasan industri bertema Advanced Multi-Screen Services and Future Smart TV.

ASC menempati ruang seminar saja. Anggota ASC, para titan itu, berkomunikasi dengan budaya yang menarik: lembut, tegas, dan memancarkan kecerdasan. Selain anggota ASC, hadir delegasi Indonesia dan Thailand yang mengajukan bidding. Thailand tampil dengan presentasi yang excellent, detail, sambil tak lupa membawa souvenir dari negerinya. Presentasi delegasi Indonesia disampaikan Mr Koen Clumsy yang seperti biasa berpresentasi dengan gaya gugup alaminya. Lebih banyak berfokus ke pemilihan tema, waktu, situasi.

Sesudah presentasi, diantara berentetan pertanyaan, Ketua Sidang sempat menanyakan, apakah Indonesia tidak berkeberatan jika diberi kesempatan sesudah Thailand saja. Aku menjawab bahwa kita tidak punya keberatan soal waktu dan tempat. Tapi memang keren kalau kita menyelenggarakan APCC di tahun yang sama dengan anniversary ke 25 dari IEEE Indonesia dan ke 10 dari Comsoc Indonesia. Ada beberapa pertanyaan lain tentu saja. Tapi kami bisa menunjukkan bahwa kami punya plan dan komitmen yang baik. Bernegosiasi dengan manusia-manusia yang cerdas tak pernah sulit :). Tak lama, kami diminta keluar.

Beberapa belas menit kemudian, kami diminta masuk lagi, dan diberi ucapan selamat. Sidang ASC telah menetapkan Indonesia jadi tuan rumah untuk APCC 2013, dengan Comsoc Indonesia sebagai organizer. Kami juga diminta menyampaikan pidato singkat pada banquet esok harinya.

Tanggal 16 pagi, aku masih ikut Plenary Session. Prof Zhisheng Niu menyampaikan tema Rethinking Cellular Networks – A Novel Hyper-Cellular Architecture for Green and Smart ICT. Siang, baru kelelahan terasa mengganggu. Kami menyempatkan menyegarkan diri dengan jalan-jalan ke pantai di depan hotel.

Malam itu, kami diundang ikut Banquet dari APCC. Sebagai calon tuan rumah tahun 2013, kami diminta duduk di salah satu meja VIP di depan. Tentu di acara semacam itu, toast jadi kegiatan rutin. Syukur ada yang meletakkan sebotol Coca Cola di meja; buat kami2 yang masih istiqomah tak mau menenggak khamar. Kempai! Aku minta Bu Agnes yang memberikan sambutan dari Indonesia; daripada aku clumsy lagi dan pasti dan tampak lelah. Deretan VIP bergantian mengajak berbincang tentang rencana APCC tahun depan.

OK, rencana APCC 2013 akan kita paparkan juga di blog ini; tapi di waktu lain.

Pagi tadi, aku bangun pagi2, dan langsung kabur dari hotel. Hampir tak ada taksi di Jeju sepagi itu. Tapi ada satu orang Korea sudah pesan taksi ke airport. Jadi aku boleh ikut. Dari Jeju Airport, Korean Air menerbangkanku ke Gimpo, dalam waktu 1 jam. Disusul jalan cepat 500 meter, aku masuk ke Arex (Airport Express). Arex adalah kereta yang menghubungkan Gimpo dengan Incheon, dengan waktu sekitar 40 menit. Di Incheon, aku langsung checkin di Garuda, jalan cepat ke imigrasi, jalan cepat ke kereta penghubung terminal, dan sampai di Gate 107 tepat waktu para penumpang diminta boarding. Wow, nyaris :).

Tujuh jam kemudian, aku sudah sampai Jakarta.

Oxford

Yang ini salinan dari blog Travgeek, hahah :).

Spring Travelling 2012 lebih banyak diarahkan ke ibukota negeri Eropa Barat dan Tengah. Tapi, agak bosan liaht kota besar seperti London, kami menyempatkan diri kabur ke kota kecil yang tempatnya tak terlalu jauh. Pilihan akhirnya jatuh ke Oxford, karena kota2 lain telah terkunjungi di tahun2 sebelumnya, dan karena posisi Oxford yang cukup dekat London. Perjalanan ke Oxford pun tak terlalu serius: cukup dengan bis tingkat Oxford Tube berwarna merah mirip bis kota, dari Victoria atau Hyde Park, langsung ke Oxford. Harga return ticket £16 per orang. Perjalanan memakan waktu 1 jam. Dan segera kami tiba di kota mungil ini.

Dasar usil; yang pertama kami kunjungi malah pasar tradisional dan flea market. Puas berbincang dengan penjual2 di sana, yang umumnya sudah berumur, plus melakukan keisengan2 lain; kami beranjak dan mengunjungi kawasan yang lebih bersifat klasik akademis dan eaaaa.

Pertama, Museum of the History of Science. Museum ini berada di pusat kota, tak jauh dari Waterstones dan Blackwells Bookshop. Seperti banyak museum di Inggris, museum ini dapat dimasuki gratis. Tapi pengunjung disarankan melempar uang £2 ke kotak donasi. Yang pertama tampak di museum ini adalah papan tulis yang sempat ditulisi Einstein saat memberikan kuliah di Oxford tahun 1930an, yaitu saat Einstein telah meninggalkan Jerman, tetapi belum memperoleh tempat di US. Di papan bersejarah ini, Einstein mengkalkukasi perkiraan umur semesta.

Di bawahnya, dalam urutan yang kurang jelas kategori atau linimasanya, ditampilkan berbagai artifaks keilmuan, peninggalan para ilmuwan terdahulu, di bidang matematika, astronomi, fisika, dan lain-lain. Yang buat aku menarik tentu deretan piranti yang menunjukkan sejarah wireless communications: formula Maxwell, spark gap Righi, receiver Marconi, dan lain-lain. Hal-hal yang membentuk hidup dan karirku. Asli mengharukan, wkwkwk. Ada cognitive radio juga. Eh, nggak dink.

Juga ada koleksi alat2 hitung posisi pengamat pada koordinat bumi, posisi astronomis benda langit, waktu2; yang dirunut balik dari zaman kejayaan budaya Islam. Memang waktu itu umat muslim yang masih gemar menjelajah gemar sekali membuat perangkat rumit untuk menyederhanakan kalkulasi waktu shalat, posisi kiblat, dan waktu ibadah lain. Jauh berbeda dengan film Achmad Dahlan versi seleb sinetron yang menampilkan KH Achmad Dahlan seolah2 masih pakai lukisan peta dua dimensi, wkwkwk. Ah, para pembikin sinetron — sekolah pun mungkin mereka jadi tukang contek.

Keluar museum, kami mulai menjelajahi Universitas Oxford. Sambil jalan kaki keliling kota, kami dipandu seorang guide yang ceria bernama Linda. Universitas Oxford sebenarnya merupakan federasi dari 38 college, katanya. Universitas ini merupakan yang tertua kedua atau ketiga di dunia, setelah Univ Bologna di Italia dan mungkin bersamaan dengan Univ Paris di Sorbonne. Didirikan di abad ke-12, Ia jadi populer setelah Raja Henri II sempat melarang orang2 Inggris berkuliah di Paris. Tadinya setiap wilayah/county memiliki college sendiri di Oxford (yang menjelaskan mengapa ada beberapa nama college yang mirip nama county). Tapi batas ini kemudian baur, dan berdiri college yang tak tergantung wilayah. Akibat clash dengan penduduk, sempat terjadi eksodus kalangan akademis ke Cambride yang kemudian mendirikan Univ Cambridge di abad ke-13.

Setiap college memiliki kemandirian secara akademis. Namun ujian dan hal-hal administratif dikoordinasikan oleh universitas, dan dipimpin seorang Vice Chancellor. Memasuki beberapa college, aku melihat struktur yang kurang lebih sama. Kantor, taman besar di tengah, ruang kuliah dan diskusi, asrama, ruang makan bersama yang mirip ruang makan Harry Potter (minus lilin melayang tanpa benang), dll, dan ornamen2 yang menunjukkan kekhasan setiap college. Konon college2 di Oxford strukturnya meniru Merton College, dan Cambridge meniru Oxford, dan banyak kampus meniru keduanya.

Agak menarik melihat seorang mahasiswi berpakaian sangat rapi, lengkap dengan bunga di dada, melintas kencang bersepeda. Linda menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ujian. Para mahasiswa harus mengenakan jubah kampus nan klasik itu untuk mengikuti ujian, dan membawa topinya. Mereka juga harus menyematkan bunga di dada: bunga putih untuk mahasiswa tahun pertama, merah tua untuk tahun terakhir, dan merah muda untuk sisanya. Tak lama, tampak sekelompok mahasiswa dan mahasiswi berjubah mirip wisuda, langkap dengan bunga pink di dada.

Kami juga mengunjungi Bodleian Library dan Radcliffe Camera (foto paling atas). Bodleian adalah perpustakaan induk, yang bukan hanya tempat riset utama di Oxford, tetapi juga merupakan erpustakaan acuan, tempat semua buku yang diterbitkan di Inggris dan Irlandia harus diserahkan untuk disimpan.

Kunjungan ke college2 cukup memakan waktu. Tapi ada waktu tersisa untuk mengamati pasar tradisional, pedestrian di tengah kota tempat warga kota menikmati sore, Oxford University Press (yang buku2 terbitannya cukup menghabiskan ruang di rak buku rumah hijau di Bandung), dan bekas tempat penginapan Rhodes (pengusaha berlian yang namanya sempat diabadikan sebagai nama negara Rhodesia, dan kini lebih dikenal peninggalannya berupa bea siswa Rhodes).

Oxford dan Cambridge adalah dua kota yang tidak turut dihancurkan bom Jerman pada Perang Dunia II. Jerman berharap dapat suatu hari menguasai kedua kota intelek ini dalam keadaan utuh. Namun tentu Jerman tak pernah berhasil menguasai Inggris Raya. Saat situasi berbalik, dan negeri Jerman dijatuhi bom oleh Angkatan Udara Sekutu, kota-kota intelek semacam Heidelberg pun tidak mengalami pengeboman. Ada sedikit nuansa manusia beradab juga dalam Perang Dunia. Sayangnya, dalam plan kali ini, kami tak sempat mengunjungi Heidelberg dan Gottingen.

%d bloggers like this: