Si … Si … Pus

Ditembak dengan Nokia-6235. Tentu, setiap objek semacam ini hanyalah ironi yang tak kunjung habis.

Serasa Lebaran

Ramadhan tahun kemaren, aku menghabiskan seminggu di ruang tunggu ICU RS Juelek di Bandung. Ramadhan tahun sebelumnya, aku menghabiskan beberapa jam di UGD dan seminggu di rumah abis sebuah traffic accident. Syukurlah tahun ini Ramadhan tidak berbau UGD dan ICU, jadi secara fisik nggak ada yang terlukai. Masa?

Belum juga suara tamu2 Idul Fitri berubah jadi kesenyapan, Retno bertelepon. “Danang kecelakaan. Koma katanya. Di RSPP.” Langsung meluncur ke RSPP, sambil membayangkan Danang, sepupuku yang udah gede dan mulai dewasa tapi mukanya nggak pernah berubah dari wajah anak kecil itu. Ortu dan keluarganya masih pada di Cimahi dan Tasik.

Ah itu kemaren. Hari ini Danang udah mulai sadar. Belum bisa bikin kalimat lebih dari sepatah dua patah kata. Lupa sama kejadian kemaren. Tapi udah keluar dari ICU dan ditempatkan di kamar perawatan. Dan saudara2nya bergantian hadir satu2. Jarang loh lihat sebanyak itu keluargaku. Serasa Lebaran aja :). Semua ketegangan udah berubah jadi kelegaan dan keceriaan.

Bapak si Danang, yang kemaren mukanya setengah tegang setengah nangis, hari ini jadi saingan si Aming Extravaganza. Aku jadi berpikir, bahwa yang bersifat genetik di keluargaku bukan cuma uban yang datang terlalu dini, tapi kecentilan yang nggak abis-abis tanpa pandang situasi, jenis kelamin, dan umur.

Ada si Fiko, teman (teman apa teman?) si Danang yang nganter Danang ke RS, dan setiap hari nungguin sampai malam, tak urung dari sasaran candaan si babe yang nggak abis-abis. Ah, bener, selalu ada ada blessing in disguise.

Udah lama aku nggak bersyukur bahwa aku masih punya keluarga. Lucu2 pula, biarpun kadang suka pada gaanaas :).

Bye

Akhirnya, sapaan selamat berpisah yang sedih lagi dengan Ramadhan. Ramadhan selalu menyentuh, dan selalu unik. Berbeda bukan saja dengan bulan yang lain, tapi juga dengan Ramadhan sebelumnya. Akankah sua lagi dengan Ramadhan tahun depan? Siapa yang tahu :). Hidup itu kokoh dan menarik justru karena ada akhirnya, dan tak tertebak kapan berakhirnya. Tapi andai pun tak lagi sua Ramadhan tahun depan, tak ada yang perlu disesali. Setiap Ramadhan yang lewat adalah kumpulan Rahmat dan Kasih yang terus mencahayai sukma. Dan terus akan terbawa cahaya itu sampai ke kehidupan yang berikutnya.

Mengikuti tradisi Ramadhan yang sangat baik, aku mohon maaf buat semuanya. Kehadiranku sedikit banyak pasti membawa hal-hal negatif, sambil mudah2an ada positifnya sedikit. Mohon maaf, dari hati yang paling dalam.

Semoga Kasih Yang Agung terus memberi ridla bagi hidup kita, di beberapa waktu yang tersisa ini.

Minix 3

Andrew Tanenbaum mengumumkan diluncurkannya Minix 3. Huh, Minix masih ada? Seriously, di luar dunia pendidikan, apa yang terjadi pada Minix?

Aku sendiri cuman pernah pakai Minix untuk iseng2 mainan OS yang mirip Unix sambil hanya punya akses ke PC. Dan nggak lama, terdengar ada OS yang konon semacam Minix juga, namanya Linux. Aku nggak berminat. Namanya juga bukan pakar komputer :), mikirnya: cuman buat main2 aja, Minix cukup deh. Dan waktu akhirnya Linux mencapai skala marketing global, Minix kayaknya masih di level main2 aja :).

Linus sendiri konon terinspirasi Tanenbaum. Dan tentu terinspirasi dalam dunia computer science bukanlah menjadi acolyte. Justru yang selalu terjadi adalah sebaliknya. Maka terjadi debat panjang tentang strategi penyusunan kernel antara Tanenbaum dan Linus (microkernel vs monolithic kernel). Tanenbaum sendiri menyebut bahwa untung saja Linus bukan muridnya — kalau iya dia nggak akan dapat nilai bagus.

Kembali ke Minix. OS ini masih bisa dibuat kecil. Kurang dari 4000 baris kode untuk kernelnya (bandingkan dengan Linux yang sudah mencapai 2,5 juta baris). Kalau versi 1 dan 2 dipakai untuk pengajaran, Minix 3 dicitacitakan sebagai OS serius untuk komputer dengan sumberdaya terbatas namun tetap dengan keandalan tinggi. Sitenya memberikan contoh target: aplikasi yang memerlukan keandalan tinggi; laptop seharga kurang dari $100 untuk anak2 di dunia ketiga; embedded system (kamera, HP), dll. Fitur yang ada di Minix 3: POSIX compliant, networking dengan TCP/IP, dua kompiler ANSI C (ACK and gcc), 300an program Unix, kemampuan multiuser dan multiprogramming, dukungan memori hingga 4GB, kemampuan menjalankan device drivers sebagai user process, dll.

Maskot Minix 3 adalah seekor raccoon; dipilih karena sifatnya yang kecil, lincah, keren, cerdik, dan … eat bugs.

Starbucks City Mugs

Yup, lengkap deh lima kota. I mean, tentu saja, empat kota plus satu pulau :). Bandung, Jakarta, Medan, Bali, dan Surabaya. Ada yang mau nambahin? ;)

Ten Credos of Compassionate Marketing

Nyontek dari weblog Hermawan Kertajaya: The Ten Credos of Compassionate Marketing …

  • Love your customers, respect your competitors
  • Be sensitive to change, be ready to transform
  • Guard your name, be clear of who you are
  • Customers are diverse, go first to who really needs you
  • Always offer a good package, at a fair price
  • Always make yourself available, spread the good news
  • Get your customers, keep and grow with them
  • Whatever your business, it is a service business
  • Always refine your business process, in terms of quality, cost, and delivery
  • Gather relevant information, but use wisdom in final decision

Give & Give

Ramadhan tahun lalu, aku kehilangan Papap, pahlawanku. Kehilangan yang terus mewarnai jalan hidupku tahun ini (oh ya, tahun spiritualku dimulai dari Ramadhan dan diakhiri Ramadhan). Secara fisik, barangkali kami jarang dekat. Selama sekolah, bapakku adalah foto Papap, bukan Papap sendiri :). Tapi aku curiga bahwa aku doyan nulis gara2 terlatih surat2an sama Papap, bukan gara2 hasil didikan guru SD-ku. Kumpulan surat2 Papap, terutama masa dari Bangkok, masih tersimpan di rak tempat aku nulis teks ini. Jarang dibaca. Tapi beberapa kata2 di dalamnya masih terpatri tajam, seolah baru ditulis kemarin.

Papap punya hobi nulis, obviously. Pulang dari Timor aja, yang dibawa mesin ketik gede. Azerty, bukan qwerty. Dan ada huruf ç di tutsnya. Aku belajar ngetik di situ. Dan Papap nggak pernah punya mesin tik lain, sampai akhirnya pakai WS. Apa aja ditulis. Dari sistem senjata elektronik, sampai psikologi komando. Tapi Papap selalu bilang bahwa tulisannya bukan apa-apa, dibandingkan tulisanku yang kapan-kapan
akan aku tulis. Papap selalu punya bayangan yang ketinggian atas aku :). Aku selalu dianggap pemikir dan penulis yang hebat. Dan scientist. Dan … you name it. Di waktu2 libur yang singkat di Bandung, Papap bisa jadi teman diskusi filsafat, yang sama2 keras kepala. Kadang terlalu keras sampai aku pulang ke Malang lagi.

Tentu, sampai sekarang aku belum nulis satu buku pun :). Dan kalau beberapa tahun lalu aku doyan nulis script-script kecil; sekarang itu semakin jarang juga. Aku khawatir Papap kecewa. Dan tentu aku yang terpukul, bahwa sampai Papap pergi, aku belum juga jadi apa yang dibayangkan Papap. Itu memukulku sekali. Satu tahun ini aku jadi terus membayangkan: emang aku udah bikin apa dalam hidup? Dengan kecerdasanku, apa yang udah aku sumbangkan untuk dunia? Dan sebagai orang tolol, aku justru lebih jatuh dan lebih redup dengan terus menyalahkan diri. I mean nothing. I’m just nothing.

Ini adalah tahun di mana aku selalu bilang «I’m just nothing».

Ada kalanya ada yang membantuku dalam pencarian kembali, mencari diri sendiri. Tapi akhirnya cuma kembali ke kesemuan. Fatamorgana. Aku terus disangkal dan menyangkal diri. Aku terus dipersalahkan dan mempersalahkan diri. Aku terus dicampakkan dan mencampakkan diri.

Aku bukan orang tabah. Aku kehilangan pahlawanku, dan jadi kehilangan diriku sendiri. Buat orang lain, barangkali tidak pernah terjadi masalah kayak gini. Tapi … ini adalah warnaku tahun ini. Aku hilang.

Papap memang bermarga Scorpius :). Seperti scorpius lainnya, Papap menjejas pengaruh yang tajam. Padahal sering tampak sebagai paduan yang ajaib antara kenekatan dan keengganan mengambil resiko. Sebagai scorpius, Papap sering misterius. Bahkan sampai sekarang banyak jejak hidupnya yang nggak pernah jelas buat kita. Tapi sering menyusun filsafat hidup yang indah sekaligus kontroversial.

Yang beberapa kali Papap sampaikan buat aku adalah bahwa hidup bukanlah bersifat take and give. Hidup itu give and give. Orang yang tidak pernah mengharapkan, tulis Papap di Kartu Ulang Tahun buatku, tidak pernah kecewa — mereka selalu bahagia. Barangkali jadi Manusia Bodoh. Tapi bukankah manusia mencapai kesempurnaan pengetahuan justru pada saat ia memperlakukan diri sebagai manusia bodoh?

Aku coba melacak kembali diriku dari kalimat yang dulu selalu aku jadikan pegangan ini. Hidup itu … to give and give.

%d bloggers like this: