Bapaknya Adnan

Trus nggak sengaja ingat nama Adnan lagi. Barangkali gara2 ingat berdiskusi tentang musik nasionalistik — istilah yang bikin dia ngambek. Padahal, sesuai sejarahnya, musik nasionalistik itu hanyalah cita rasa dari musisi2 tertentu di negara2 Eropa tertentu yang berkehendak berlepas diri dari jeratan globalisasi budaya masa kekaisaran Austria dan Prussia yang berkuasa di masa itu. Musik klasik di masa itu Austria dan Jerman sekali. Jadi tokoh semacam Smetana, dan kemudian disebut2 juga Verdi, Tchaikovsky, dll, mengkomposisi musik dengan cita bangsa masing2: Ceska, Russia, Italia.

Tapi kali ini aku mau cerita tentang Bapaknya Adnan aja ah. Tokoh ini bekerja sebagai administratur dan penerjemah. Selain bahasa Arab dan Prancis, ia juga bisa bahasa Spanyol. Ia menyeberangi lautan luas (seluas selat Jabal Tarik dan Kanal Inggris) untuk menjumpai anaknya di Coventry. Dan di sanalah ia ketemu Koen si pengacau.

Act 1.

Adnan: Koen, here’s my father.
Koen: Hi, Sir. Nice to see you.
Bapak: Are you from Pakistan?
Koen: Oh, noo
Bapak: Where are you from?
Koen: Indonesia
Bapak: Are you muslim?
Koen: Why, yes.
Bapak: Alhamdulillah.

Trus makan bareng. Trus naik bis bareng. Trus aku kuliah.

Act 2.

Si Bapaknya di kampus sendirian. Ntah si Adnan ke mana. Bis penjemput sudah datang. Aku bilang ke sopirnya, mau jemput Bapaknya Adnan dulu.

Koen: We have to go now, Sir.
Bapak: But I’m Adnan’s father
Koen: I know
Bapak: Are you his friend?
Koen: Sure.
Bapak: Muslim?
Walah, nanya lagi.
Koen: Sure.
Bapak: From Pakistan?
Waduh biyung.
Koen: Indonesia, Sir. Let’s go now.

Jadi dia ikut aku. Kan orang muslim tidak akan menyesatkan :). Hmmm, emang kalau aku atheist pengikut Dawkins, trus aku bakal menyesatkan yach? Ah, pasti belum belajar Game Theory :). OK, so Adnan akhirnya masuk bis, terlambat, sambil dicemberuti si sopir.

Act 3.

Bapak si Adnan sendirian di meja. Anaknya masih cari cemilan sana sini. Aku duduk di sebelahnya.

Koen: Assalaamualaikum
Bapak: Alaikum salam. Are you muslim?
Koen: Alhamdulillah, still a muslim.
Bapak: But you are from India
Hmmm, setidaknya mulai geser ke timur. Mungkin besok pagi ke Bangladesh, trus 3 hari lagi sampai ke daerah Patani.
Koen: Nnnnnn, no no no. I’m from Indonesia.
Bapak: Muslim?
Koen: Insya Allah, Sir.

Trus … dia ikut makan dari piringku. Duh lagi kangen Bapakku sendiri. Kayaknya bahagia bener dapat Bapak baru :). I mean it.

6 Comments

  1. gile
    hebat banget tuh bapak,

    mungkin beliau tjuma ragu mas,

    anak ini muslim apa enggak sich?

    :)

  2. dian

    :-)

  3. Lucu… Gemes deh aku kalau ketemu bapak-bapak seperti itu. Tapi aku sendiri sering lupa nama orang hingga sering bertanya 5 kali (tapi gak sampai latar belakangnya sih..)

  4. Biasanya saya suka kurang respek dg orang yang baru kenalan, lantas langsung nanya soal agama. Tanya yang lain bolehlah, tapi jangan soal yang satu itu …

  5. @1: Tapi sebetulnya: muslim nggak sih?
    @2: :)
    @3: Ini siapa ya? :)
    @4: Santai donk, Boss …

  6. aku bisa bayangin gimana gamangnya berada di tempat yang sama sekali asing…jd mesti buru2 cari ‘pegangan’ dan biasanya cari yg identitas atributnya sama dengan kita, entah jenis kelamin, suku, agama atau kewarganegaraan, atau bisa juga yg tampak ‘sepaham’ dengan kita…mrk yang tampak pakai kaos ‘we love R2D2’ misalnya :p

Leave a Reply

%d bloggers like this: