2006: Toward Elegance

Pada masyarakat dilbertian, hal2 seperti ineffective (=useless) tasks, inefficiency, micromanagement, embedded crime*, selalu terjadi. Ini tidak mudah diatasi dengan cepat, sehingga kita harus membiasakan diri hidup di tengah2 situasi macam ini. Tanpa harus hanyut.

Tapi Big Boss berfirman: hidup berbatas waktu. Dan juga: hidup harus berkualitas. Selain itu: hidup tidak untuk mengurung diri. Maka hidup harus diisi secara elegan.

Sebenarnya, pernyataan ini cukup. Tapi elegance masih cita2, jadi masih boleh dilanggar :). Artinya, elaborasi yang tidak perlu masih boleh. Weblog, selain untuk hal2 menarik, juga masih sah dipakai untuk pelepas katarsis ;).

Beberapa hal yang harus dilakukan (bisa direvisi kapan saja): Menghindari aktivitas yang nggak perlu (inefisiensi terbesar terjadi di kantor: administrasi internal kantor, visualisasi ide yang menghabiskan waktu), menyederhanakan aktivitas, dan meningkatkan kualitas, serta memperbanyak unsur seni. “Seni bukannya menurunkan efisiensi?” –> Nggak, seni meningkatkan kualitas dan sekaligus efisiensi. Hal2 ini tentu sudah dilakukan, tetapi tahun ini akan dilakukan secara aktif.

Bukan berarti hal2 di luar job desc harus ditolak. Justru banyak task seperti ini yang ternyata lebih penting, dan lebih menarik ;). Bikin paper atau bantuin bikin paper misalnya, punya nilai tambah untuk memperluas visibility, asal temanya menarik. Ini lebih menarik daripada nonton Pameran Powerpoint beberapa jam yang kadang tanpa ide baru. Ada sustainable growth yang juga jadi target, dan seringkali ini tidak masuk plan, karena plan dirancang belum dengan teliti ;).

OK, kalimat2 ini belum elegan. Aku sengaja. Orang2 di kantor suka baca weblog ini. Aku nggak keberatan. Tapi khusus kali ini, aku khawatir mereka bener2 tahu what’s in my mind :) :).

Dan istilah2 Inggris di atas, maaf, itu sengaja juga, dengan maksud membentuk nuansa. Percaya atau tidak, bahasa Indonesia punya nuansa subyektif, sehingga pemakaian bahasa asing jadi terasa obyektif.

%d bloggers like this: