What Philosophers Think

Buku ini, judulnya memang “What Philosophers Think”, bukan “What Philosophers Write”. Kalangan profesional, khususnya akademis, suka atau tak suka selalu melakukan kontrol atas apa yang mereka terbitkan sebagai tulisan. Dan sering, tulisan yang terbit sudah mencakup umpan balik dari rekan-rekan kerja. Buku ini merupakan kumpulan wawancara lisan dengan para filsuf, sehingga kurang terfilter, dan barangkali jadi lebih alami. Beberapa filsuf yang mengkritisi eksistensi Tuhan dalam logika pun sering jadi menampilkan sisi keimanan mereka dalam wawancara. Eh, Tuhan memang tidak harus masuk frame logika manusia yang terbatas ini, kan? ;). Kalau suatu hari bisa masuk ya … barangkali memang wawasan manusia sudah luas dan benar2 tercerahkan, atau barangkali framenya salah lagi :).

Istilah filsuf sendiri tidak harus dimonopoli filsuf profesional atau akademis. Beberapa bidang ilmu bisa melahirkan kaum pemikir yang bisa disebut sebagai filsuf. Termasuk di dalamnya adalah bidang2 sains, teologi, sosiologi, barangkali juga matematika dan logika. Jangan lupa bahwa Wittgenstein yang dianggap filsuf terbesar di dunia berbahasa Inggris itu pun beranjak dari matematika. Di luar itu pun masih ada yang disebut sebagai filsuf amatir. Tapi sebenernya, filsafat itu apa sih? Apa cuman transaksi ide? Trus apa bedanya dengan sains yang juga transaksi ide? Bedanya, kata buku ini, adalah pada cara transaksinya. Ide dalam filsafat dialirkan dengan argumentasi rasional. Tapi yang namanya argumen rasional itu sebuah soalan filsafat sendiri. Beberapa cirinya adalah kombinasi pembuktian logis, alur pikiran, dan sifat self-evident. Untuk hal2 ini, pembuktian secara sains juga amat sangat sering digunakan. Barangkali Feynman suka bilang bahwa filsafat itu useless, tapi jangan percaya Feynman 100%. Teori string juga memakai pendekatan falsafi atas sains :) :), dan itu sebabnya baru pada tahun terakhir hidupnya Feynman benar2 menaruh minat pada teori string.

OK, balik ke filsafat. Apa yang disampaikan para filsuf (secara profesional), bukanlah ide. Ide gampang dicari. Dan dari sekumpulan ide, kita tidak bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah (ok, lain kali aja dibahas apa itu benar dan salah). Yang disampaikan adalah runutan argumentasi pembuktiannya. Ulangi: bukan apa yang dipikirkan, tapi apa yang bisa dipakai sebagai landasan untuk mempercayai sesuatu. Dan itulah sebabnya karya falsafi jadi berharga. Dan itulah sebabnya banyak filsuf amatir, dengan “ide” yang cemerlang, terheran2 bahwa tulisannya tidak mendapatkan tanggapan yang berarti. Dan itu barangkali juga jadi sebab, kenapa untuk memutuskan apakah Derrida pantas mendapat gelar doktor kehormatan di Cambridge, diperlukan voting dengan selisih yang tipis.

Ujung2nya diharapkan adalah pemahaman yang lebih baik atas diri kita sendiri, lingkungan kita, pengetahuan kita, kebebasan kita (free will), dan berbagai aspek hidup kita.

Buku ini dipilah jadi 6 bagian besar: Darwin’s Legacy, Science, Religion, Philosophy and Society, Metaphysics, dan Language. Epistemology memang nggak masuk, tapi selalu dibahas tanpa standard di banyak interview. Wawancaranya sendiri melibatkan 22 filsuf, masing2 dalam 1 bab, dilakukan antara tahun 1998-2002. Ini mereka: Simon Blackburn, Helena Cronin, Don Cupitt, Richard Dawkins, Michael Dummett, Stuart Hampshire, John Harris, Ted Honderich, Mary Midgley, Ray Monk, Hilary Putnam, Jonathan R?e, Janet Radcliffe Richards, Roger Scruton, John Searle, Peter Singer, Alan Sokal, Russell Stannard, Richard Swinburne, Peter Vardy, Edward O Wilson, dan Mary Warnock.

%d bloggers like this: