Pak Yoyo

RUPSLB Indosat gagal mengangkat dirut baru. Direksi masih panjang berjajar, tapi tak satu pun yang dianggap pantas jadi dirut. Sampai RUPS mendatang, fungsi dirut akan dipegang oleh Wakil Dirut: Ng Eng Ho. Pemerintah, yang memiliki saham 15% sebelumnya memilih Yoyo Basuki, dirut Lintas Arta, untuk menduduki jabatan dirut Indosat. Namun STT, perusahaan Singapura yang menguasai saham mayoritas, tidak berkenan mengangkat Yoyo Basuki.

Tapi masalahnya, kenapa berita Indosat masuk weblog ini? Emang aku punya saham?

Nggak. Aku cuman merasa pernah kenal nama Pak Yoyo aja. Dan bukan di Lintas Arta. Soalnya baru tadi siang aku tanya ke Ziggyt: “Dirut Lintas Arta sekarang siapa sih?” dan Ziggyt juga nggak tahu. Oh, ya, jadi ceritanya aku ketemuan lagi sama Ziggyt, tapi ntar aja diceritainnya. Sekarang Pak Yoyo dulu.

Ceritanya, abis pelatihan transmisi optik di Lannion dan Madrid tahun 1995, aku memutuskan mengambil libur ke London. Keputusan yang salah, kalau dilihat sekarang, tapi waktu itu London kelihatannya menarik. Air France mendarat di Heathrow waktu matahari tenggelam, dan taxi yang disopiri orang Pakistan itu meluncurkanku ke Wisma Siswa Merdeka di Dartmouth itu. Rehat bentar. Dinner. Dan nggak lama, masuklah dua keluarga dari Indosat itu. Pak Yoyo, satu rekan lagi (ntar aku baca kartu namanya kalau udah di Bandung), yang masing-masing bawa istri. Ketemu mereka, hilang rasa beku yang terasa di kegelapan London utara. Abis dari Nice untuk semacam konferensi, mereka juga merasa perlu rehat, dan memilih tersesat di London satu hari. Cuman waktu acara jalan2, aku memutuskan memisahkan diri. Aku ngebayangin mau jadi cultural tourist, sementara aku bayangin mereka pasti banyakan shopping-nya — tebakan yang nggak salah2 amat. Malamnya kita ketemu lagi, dan aku ketawa aja ngeliat banyaknya bawaan mereka seharian. Trus ternyata kita bakal balik ke Jakarta pada hari yang sama dengan pesawat yang sama. Ya udah deh, sekalian bareng aja. Berhubung bawaanku amat2 sangat sedikit, Pak Yoyo mengajak menggabungkan bagasi, jadi kita kayak keluarga besar. Biar bawaan per kapita nggak overweight. Nice. Aku ngebayangin punya temen ngobrol yang ramah sampai Jakarta :). Sambil diajarin macam2 soal hal2 yang sekarag di Telkom dinamai customer-centric organisation.

Di Jakarta, aku lenggang2 kangkung aja, soalnya segalanya jadi diurusin Pak Yoyo yang pasti udah hafal seluk beluk jalan keliling dunia. Plus memilih jalan keluar yang bebas antri — lewat jalan punya crew. Just lucky to meet them.

Orang STT kayaknya harus dibuka matanya. Orang yang sebegitu mendalamnya soal bisnis telekomunikasi yang bersifat customer-centric, pasti sangat pantas jadi dirut Indosat.

%d bloggers like this: