Ilusi, Dawkins, Maslow

Dan waktu matahari tenggelam, orang-orang Sisfo udah memenuhi Hotel Panghegar. Kali ini kali terakhir aku ketemu dengan orang2 Sisfo Divre-3 sebanyak itu. Beda dengan orang Network, orang2 Sisfo lebih sering menunjukkan karakteristik sebagai agregat daripada sebagai group, biarpun proyek2 si Sisfo lebih saling berkait satu sama lain daripada misalnya proyek2 di Network. Abis setahun di sana, aku belum nemu juga penyebabnya. Aku buta, atau memang sengaja membutakan diri.

Apalagi minggu2 ini daya analisisku lagi terkacaukan oleh tesis Selfish Gene dari Dawkins :). Aku bukannya memakai analisisnya dia, tapi jadi cenderung membayangkan setiap perilaku makhluk dari dua sisi sekaligus: Dawkinian dan Maslovian.

Haha :), abis sekian tahun, aku masih lebih suka memakai madzab Maslow untuk menyusun framework atas kemanusiaan, khususnya tentang B-value. Tapi sialnya pikiranku sekarang jadi kena dualitas: berpikir dalam dua kerangka sekaligus. Ini nggak aneh sebenernya, soalnya aku belum bener2 mendepak kata2 Bohr, bahwa kalau dua statement (atau apa pun) berlawanan, bukan berarti salah satu harus salah.

Eh, tapi jujur aja, aku lebih seneng Dawkins yang salah, terpeleset, tertipu. Dia banyak pakai analogi. Ya .. ini benar … itu benar … konsekuensinya seperti ini. Keyword semacam konsekuensi itu yang aku bayangin sering bikin orang terpeleset.

Tapi sebenernya aku lagi cerita tentang Sisfo. Jadi malam ini mereka melepas orang2 yang harus dilepas dari Sisfo, termasuk aku. Dan kita bikin kelompok Ikatan Alumni Sisfo (a.k.a. ILUSI — sesuai dengan visinya yang penuh ilusi). Trus kita becanda2 dengan suasana kesisfoan yang ajaib dan sekaligus gamang itu. Dan aku bener2 pingin secangkir kopi abis makan malam.

%d bloggers like this: