Noli Me Tangere

Di pintu perjalanan yang lain, membalik2 passport, aku baru menyadari satu hal menarik tahun ini: Filipina. Kunjungan ke negara2 lain tahun ini adalah kunjungan ulang. Tapi Filipina adalah kunjungan perdana. Negeri kepulauan di Pasifik Barat Daya ini seolah kembaran Indonesia: alamnya, masyarakatnya, masalah2nya. Aku jadi ingin bercerita tentang tokoh Filipina: José Rizal.

José Rizal lebih dikenal di Indonesia melalui bukunya, Noli Me Tangere (1887), yang diterjemahkan di Indonesia menjadi Jangan Sentuh Aku (1975). José sendiri lahir di Calamba pada 19 Juni 1861, di negeri Filipina yang waktu itu masih dijajah Spanyol. Konon José adalah polymath yang meminati dan mencakapi banyak bidang ilmu, dan mempelajari banyak bahasa. Tapi ia adalah polymath yang merepotkan, karena sikap intelektual kritis yang ditampakkannya semenjak masa pelajar. Buku Noli Me Tangere aku baca di masa sekolah, dan termasuk buku yang tak dapat cepat dibaca. Gaya berceritanya tajam, benar2 tajam menusuk, memaparkan bagaimana pemerintahan yang kuat diatur oleh agama negara itu terlalu mudah diselewengkan oleh para agamawan, bahkan kalaupun itu bertentangan dengan kehendak penguasa administratif dan masyarakat. Berbeda, namun dengan tekanan yang sama dengan buku2 Indonesia masa penjajahan dulu: menggambarkan semangat yang hidup dalam atmosfer yang penuh tekanan.

Perjuangan José sendiri tidak terlalu ditekankan pada soal ras dan kolonialisme; tetapi lebih ke arah penyelenggaraan tata masyarakat yang lebih adil dan beradab. Sebagai anak yang cerdas, José memperoleh prestasi yang baik di sekolah. Namun ia enggan mengambil kuliah kedokteran di Filipina, karena sikap para paderi yang menurutnya tak menarik. Akhirnya ia malah mendamparkan diri ke Madrid dan mengambil kuliah kedokteran di sana, dilanjutkan dengan mengambil doktor di Paris dan Heidelberg. Adalah di negeri2 Eropa ini ia menulis buku Noli Me Tangere: setengah di Spanyol, seperempat di Prancis, dan sisanya di Jerman. Ia tak anti Eropa. Dalam bukunya, ia menggambarkan negeri Filipina sebagai entitas masyarakat yang terpisah dari Spanyol, namun memiliki ikatan patron yang erat. Dan kalau buku itu kemudian menimbulkan kemarahan oleh pemerintah kolonial, itu karena alur dalam buku itu benar2 mendeskripsikan tekanan yang terjadi pada masyarakat Filipina masa itu.

Ketidaksukaan intelektual José pada praktek agama di Filipina membuatnya meninggalkan jamaah katolik. Alih2 yang disebutnya sebagai beragama ala pengelana Spanyol menggunakan api dan pedang, ia memilih menjalani keimanannya melalui pendekatan kejujuran dan akal sehat. Dengan ini ia meneruskan penentangannya pada perbudakan, pembodohan, dan eksploitasi manusia di negeri jajahan.

Bukan hanya oleh pengaruh Rizal bahwa masyarakat Filipina di masa itu memang dalam tahap kebangkitan menyusun identitas diri dan menentang penjajahan; seperti yang juga tengah terjadi di negeri2 terjajah lainnya.  Rizal menghindar dari tuduhan terlibat pemberontakan2, dengan berangkat ke Kuba untuk turut memberantas penyakit demam kuning. Namun pemberontakan yang menghebat membuat Pemerintah Spanyol merasa harus bersikap keras, yang ditunjukkan antara lain dengan menangkap José Rizal. Faktanya, memang kaum2 yang memberontak itu memperoleh energi dari pesan2 yang disampaikan José melalui buku2nya.

José dihukum tembak. Jenasahnya dihilangkan, tak dikembalikan ke keluarganya. Sebuah monumen untuk mengenangnya didirikan di tempat ia ditembak. Terdapat tulisan di sana: “I want to show to those who deprive people the right to love of country, that when we know how to sacrifice ourselves for our duties and convictions, death does not matter if one dies for those one loves – for his country and for others dear to him.

Filipina sendiri kemudian lepas dari penjajahan Spanyol, tetapi kemudian dijajah Amerika Serikat, lalu diduduki Jepang pada masa Perang Dunia II, dan dimerdekakan setelah perang usai. José Rizal menjadi pahlawan dan simbol nasional Filipina. Hari eksekusinya diperingati setiap 30 Desember. Dan wajahnya menghiasi berbagai artefax Filipina. Koin2 misalnya. Dan kata2nya menghiasi idiom2 Filipina. “There can be no tyrants where there are no slaves.

4 Comments

  1. hmmm….jose rijal di hari lahir. selamat ya! :-)

  2. Hi artikel bagus salam kenal ya …

  3. Agus Supriyadi

    “Noli Me Tangere”, katanya buku ini bagus sekali. Sudah lama saya ingin memiliki buku ini, tapi sampai sekarang belum juga tercapai. Seandainya pak Kun tahu dimana saya bisa mendapatkannya, saya ucapkan banyak terima kasih.

  4. Ya, aku juga punya buku itu, kisahnya menyentuh hati. Buku novel yang bagus, memberikan semangat anti eksploitasi penjajahan Spanyol di Filipina

Trackbacks/Pingbacks

  1. Tweets that mention Kuncoro++ » Noli Me Tangere -- Topsy.com - [...] This post was mentioned on Twitter by Planet Terasi, Edi Indira. Edi Indira said: Kuncoro Wastuwibowo: Noli Me Tangere:…

Leave a Reply

%d bloggers like this: