Revenge of the Sith

«Fear is the path to the Dark Side. Fear leads to anger. Anger leads to hate. Hate leads to suffering.» — Master Yoda to Anakin Skywalker

Yang paling ditunggu dari episode ketiga dari epik “Star Wars” tentulah bagaimana Anakin si pahlawan kemanusiaan itu bisa ditarik ke sisi gelap dan berubah menjadi penjahat yang tak punya nurani. Rentetan plot dari bagian pertama dan kedua sudah membuat kita bisa menggambarkan. Jadi yang menarik dari bagian ketiga ini tentu bukan ceritanya, tapi nuansa-nuansa pertentangan di dalamnya, yang diharapkan menyampaikan hal yang luar biasa.

George Lucas tidak mengecewakan kita.

Dengan latar plot yang beritme lambat (sebenarnya tidak perlu selambat itu, tapi mungkin Lucas menyediakan ruang untuk mereka yang belum lihat bagian 1, 2, dan 4); plot diruncingkan. Tidak diklimakskan, karena pertentangan yang utama justru terjadi di dalam batin Anakin sendiri. Penggambarannya sungguh luar biasa. Angkasa Coruscan memerah, indah, kental, gamang, dengan lalu lintas galaktika terus mengalir di depannya. Anakin terus menatap ke angkasa. Nyaris tanpa ketegangan yang tampak. Tapi gemuruhnya hari terasa. Langit merah bersemu oranye hingga violet. Anakin menunduk, meneteskan air mata. Dan demikianlah segalanya telah ditentukan.

Tentu ada bagian lain yang juga ditunggu. Anakin beralih jadi Darth Vader, dan semua Jedi dimusnahkan (hampir). Trus apakah episode 3 ini jadi cerita kemenangan kejahatan? Kalau tidak, ada prinsip paritas yang dilanggar ;). Pada bagian 1 dan 2, Anakin jadi pahlawan, dan kebaikan boleh menang. Pada bagian 4, 5, 6, Darth Vader jadi manusia kelam, tapi kebaikan tetap menang. Titik balik di bagian 3 ini harusnya kebaikan tetap menang. Tapi kalau Anakin jahat, dan dia tokoh aktif, dan dia survive hingga bagian 6, maka di bagian 3 ini dia harus menang. Maka bagian 3 ini adalah bagian di mana kejahatan boleh menang? Masa? Nggak.

Obi-wan, guru dan sahabat Anakin dalam cerita ini akhirnya mampu mengalahkan Anakin, dalam duel Jedi terseru dan terlama. Dan khusus adegan ini, latihan dilakukan hingga 2 bulan terus menerus. Anakin bukan cuma boleh kalah, dia harus mati, hancur, baru film ini berharga. Dan itulah yang terjadi, dia hancur. Tapi Sith Master mengambil jasadnya yang dalam keadaan hancur dan sekarat. Memasang sistem kehidupan padanya, yang menyelamatkannya, tapi membuatnya jauh dari bentuk manusia. Dan itulah yang kita kenal sebagai Darth Vader di bagian 4 hingga 6.

Adegan ala Faust terjadi beberapa saat sebelum Padme meninggal. Dalam kekancuran hati akibat kehilangan Anakin (kehilangan karena menjadi jahat, bukan karena mati), dia masih bilang bahwa di dalam hati Anakin masih tersimpan kebaikan hati yang tidak bisa dihilangkan. Faust sekali kan? Musik latarnya a-la Requiem, bikin aku agak susah menahan air mata.

Yup, Anda nggak salah baca. Kalau kena keindahan yang samar, aku bisa cengeng mendadak :). Mungkin gara2 musiknya, atau mungkin gara2 pola Faust, di mana manusia yang sesat akibat keputusannya sendiri pun dipercaya akan kembali kepada sinar kemanusiaannya yang mulia.

Seperti Faust, seperti Anakin, seperti juga aku.

%d bloggers like this: