Nietzsche: Post Mortem

«There are no facts, only interpretations.» — gitu ditulis Nietzsche. Kata-kata ini, dan banyak tulisan lain, tidak sempat dilantik sebagai buku, hingga akhir hayat Nietzsche. Akhir hayat yang mana — gitu kali pikir kita. Akhir hayat waktu pikirannya tidak lagi kompatibel dengan pikiran mayoritas manusia, atau akhir hayat waktu jasadnya akhirnya tidak berfungsi lagi sekian tahun kemudian.

Tulisan-tulisan Nietzsche yang tidak terpublikasi, konon, memaparkan ide yang lebih tentatif, spekulatif, dan kontroversial. Buku-buku Nietzsche (atau tulisan terpublikasi lain) sudah dipoles dengan berbagai pertimbangan (dan itupun masih …), dan dianggap tidak seotentik yang tidak terpublikasi. Bagaimanapun tidak mungkin sebenarnya mengukur tingkat keotentikan atau tingkat ketepatan teks dengan pikiran, karena di mana pun pikiran selalu dinamik, dan teks selalu tergantung pada interpretasi yang juga dinamik.

Sebagian tulisan tak terpublikasi yang sudah berbentuk manuskrip, kemudian diterbitkan saudarinya setelah Nietzsche wafat, dengan judul Kehendak Berkuasa: Upaya Menilai Kembali Nilai-Nilai.

Kalau Anda merasa baru saja membaca kalimat semacam itu dekat2 sini, Anda nggak salah. Sekian tahun kemudian, ide Nietzsche umwertung aller werte itu diekspans besar-besaran oleh para filsuf Perancis. Dan yang mereka dukung adalah upaya menemukan kembali kehidupan, vivre c’est reinventer la vie, begitulah, kayak yang tertulis di bagian bawah halaman-halaman web ini, dan ditulis di bagian kiri halaman depan: reinventing life.

Anyway, dengan alasan yang cukup rumit dan cukup menghabiskan waktu untuk dipaparkan di sini, aku mau bilang: «Danke, Nietzsche»

%d bloggers like this: