Korpri

Banyak orang berseragam Korpri hari ini. Heran, masih ada juga :) :). Duh, kebayang waktu masih jadi Korpri. Pakai batik biru untuk offset kabel di jalan (juga ikut tes Bahasa Perancis). Upacara bendera 2 kali setahun (tanda-tangannya sih at least 12 kali). Dan ikutan santiaji Golkar (yang berakhir dengan mencoblos PPP di kotak suara).

Korpri, Golkar, New Order. Setiap rezim ideologik memang selalu membutuhkan massa untuk legitimasi. Massa itu selalu disebut sebagai tonggak, biarpun sebenernya cuman penggembira yang dibayar murah. Kadang cukup dibayar semangat aja. Ekspresi para kaum Bolshevik pendukung Revolusi 1917 ini bahkan tidak menunjukkan semangat revolusi, tapi wajah ketidakpastian. Hari ini mereka jadi tonggak revolusi, menegakkan komunisme (atau Pancasila), kemudian ikutan perang melawan rakyatnya sendiri, dan mati (atau bertahan hidup) sia-sia.

Waktu awal-awal masuk Korpri, aku disuruh baca Sapta Prasetia Korpri. “Nggak bisa,” aku jawab, “Jangankan Sapta Prasetia Korpri yang tujuh biji panjang-panjang. Pancasila yang cuman empat aja nggak bisa hafal.”

Hadapilah kekonyolan dengan ironi. Setiap masalah punya setidaknya satu solusi yang sederhana, singkat, dan salah.

%d bloggers like this: